
Hari ini Gita sudah bersiap pergi ke kampus. Sejak semalam perempuan itu sudah mempersiapkan dirinya untuk sidang skripsi.
Meski Gita termasuk salah satu mahasiswa yang pintar, namun tidak dipungkiri bahwa saat ini dia sedang dilanda kegugupan.
“Sayang, sudah ditunggu Daniel dan Chandra di bawah.” Ucap Jenny yang baru saja memasuki kamar anaknya.
“Iya, Ma. Sebentar.” Jawab Gita sambil memakai jas almamaternya.
“Semoga sukses ya sidangnya! Mama sangat yakin kalau anak Mama yang satu ini pasti bisa menghadapi sidang skripsi nanti dengan baik.” Jenny memberi semangat.
“Terima kasih, Ma.” Jawab Gita lalu memeluk Mamanya dengan erat.
Kini Gita sudah turun ke lantai bawah, dimana Daniel dan Chandra sedang menunggunya. Ya, selain mereka berdua akan mengantar Gita ke kampus, Daniel dan Chandra juga ingin melihat kampus dimana mereka berencana akan kuliah disana.
“Kenapa sih Kak dari tadi diam saja?” Tanya Daniel.
“Lagi nervous tuh kakak kamu.” Sahut Chandra yang sedang duduk di belakang kemudi.
Gita masih diam tak mempedulikan ucapan kedua laki-laki yang sedang duduk di depannya. Bukannya Gita gugup karena akan sidang, namun Gita memikirkan Axel yang sampai saat ini tidak ada kabar. Memang dia sudah meminta Axel untuk pergi menjauh. Namun saat Axel benar-benar menjauhinya, entah kenapa rasanya begitu sakit. Sakit bahwa kenyataannya Axel memang memanfaatkan kelemahannya saat itu hingga terjadilah perstiwa yang sangat menjijikkan baginya.
Gita mengusap keningnya yang tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin. Kebanyakan pikiran hingga membuat fisiknya ikut terdampak. Lalu dia menarik nafasnya dalam mencoba mengontrol emosinya, sebelum mobil yang ia tumpangi berhenti di area kampus.
“Good luck ya, Kak!” ucap Daniel.
“Selamat berjuang cantik! Nanti setelah sidang, makan-makan ya?” sahut Chandra.
“Ok ok thanks ya. Ya udah aku masuk dulu.” Jawab Gita lalu meninggalkan Daniel dan Chandra.
Kurang lebih selama satu jam Gita menjalani sidang skripsinya. Perempuan itu tampak lancar mempresentasikan hasil observasi beserta analisisnya. Bahkan dengan mudahnya dia menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh dosen pengujinya. Kedua dosen penguji itu juga sangat puas dengan hasil kerja keras Gita. Dosen pembimbngnya pun juga salut dengan kemampuan Gita.
Beberapa saat kemudian Gita sudah menyelesaiakn semuanya. Ketiga dosen yang ada di ruangan ujian itu memberi selamat pada Gita kalau dia lolos dalam sidang skripsinya. Gita tampak tersenyum senang sambil menyalami ketiga dosen itu.
Saat keluar dari ruang ujian, Gita sudah disambut oleh beberapa sahabatnya yang sejak tadi sudah menunggu. Bahkan mereka juga memberikan hadiah pada Gita. Ada yang memberikan boneka, buket coklat, dan bunga.
__ADS_1
“Selamat ya, Gita!” ucap Inez.
Gita mendapat pelukan hangat dari para sahabatnya. Tanpa sadar Gita meneteskan air matanya haru, karena masih dikelilingi oleh orang-orang baik.
“Selamat ya Gita!” ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul diantara keramaian Gita dengan sahabatnya.
Laki-laki yang sejak tadi juga menunggu Gita sidang. Bahkan dia sudah membawa sebuket bunga untuk menyambut kelulusan Gita.
“Ehm…ehm… ciee ciee” goda sahabat Gita saat ada seorang laki-laki datang dengan membawa bunga.
“Kak Dimas sejak kapan disini?” Tanya Gita menghampiri Dimas lalu menerima bunga pemberian Dimas.
“Sejak kamu memasuki ruang ujian itu.” Jawab Dimas sambil pandangannya menunjuk ruang ujian.
“Terima kasih banyak, Kak sampai repot-repot datang kesini.” Ucap Gita.
“Yaa untung saja tadi mendapat ijin langsung dari boss, jadi bisa langsung cabut kesini deh. Tapi habis ini aku langsung balik kantor ya. Sekali lagi selamat.” Ucap Dimas.
“Iya, Kak. Terima kasih banyak.”
“Ehm, boleh ganggu waktunya sebentar?” Tanya Axel.
“Oh boleh, ya sudah Git, aku balik kantor dulu. Jangan lupa makan-makannya aku tunggu.” Ucap Dimas sambil mengacak rambut Gita.
Gita melirik ke belakang ke arah sahabatnya seolah memberi kode untuk menunggunya sebentar. Inez dan Fathia hanya mengangguk. Setelah itu Gita berjalan sedikit menjauh dan Axel mengikutinya.
“Selamat atas kelulusan kamu.” Ucap Axel.
“Hmm.. terima kasih.” Jawab Gita singkat lalu pergi meninggalkan Axel.
“Gita tunggu! Please jangan seperti ini.” Ucap Axel setelah berhasil menahan langkahnya.
“Bukannya aku sudah bilang, jauhi aku!“ Gita berbicara tanpa melihat wajah Axel.
__ADS_1
“Aku tidak akan menjauhi kamu. Aku akan bertanggung jawab atas kejadian malam itu.” Ucap Axel dengan suara tegas.
“Tidak perlu ada yang dipertanggung jawabkan. Apa itu hanya alasan kamu setelah memanfaatkan kelemahanku?” Gita menatap Axel dengan sinis.
“Sekali lagi maafkan aku, Gita. Tapi perlu kamu tahu, aku melakukan semua itu bukan karena memanfaatkan kelemahan kamu, melainkan aku MENCINTAI KAMU. Aku nggak mau kamu dimiliki oleh orang lain selain aku.” Ucap Axel dengan suara tegas lalu dia segera pergi meninggalkan Gita.
Tubuh Gita merosot dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipi. Dia tidak menyangka kalau Axel selama ini mencintainya. Cinta yang sesungguhnya, bukan cinta seperti kakak pada adiknya.
Perasaan Gita semakin hancur. Entah apa penyebab pastinya. Akibat kejadian malam itu membuat dirinya menjadi insecure terlebih jika dekat dengan Dimas. Laki-laki yang selama ini sangat baik padanya. Namun di sisi lain dia juga kesulitan melupakan Axel begitu saja. Mungkin jika tidak ada kejadian malam itu dan Axel mengakui perasaannya secara langsung, tidak akan seperti ini jadinya. Antara sakit, kecewa dan entah senang atau apa, Gita tidak bisa menyimpulkan suasana hatinya saat ini. Namun rasa kecewa lah yang lebih mendominasi.
“Gita? Kamu baik-baik saja?” Tanya Inez yang kini sudah menghampiri Gita yang sedang terisak.
“Aku baik, Nez.” Jawab Gita sambil mengusap pipinya yang basah.
Namun Inez tidak percaya dengan ucapan Gita. Sejak tadi dia melihat Gita dari jauh saat sedang berbicara dengan Axel. Dan Inez juga melihat Gita menangis setelah Axel pergi meninggalkannya.
“Ayo ke apartemenku dulu, sepertinya kamu memang sedang butuh waktu sendiri. Aku nggak maksa kamu untuk cerita.” Ucap Inez.
Beberapa saat kemudian Inez sudah mengajak Gita masuk ke unit apartemennya. Sedangkan Fathia memilih untuk pergi karena masih ada urusan.
Inez melihat Gita menangis pilu. Entah apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya itu. Rasa penasaran akhirnya tak bisa Inez tahan untuk menanyakannya langsung pada Gita.
“Git, menangislah jika itu membuatmu lega. Dan berceritalah jika itu bisa membuat hati kamu tidak sakit lagi. Jangan dipendam sendiri seperti ini. Aku mohon!” Inez pun tidak bisa menahan kesedihannya melihat Gita.
“Aku kotor Inez!! Aku sudah tidak suci lagi!!!” teriak Gita dengan air mata yang semakin deras mengalir.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️