
Jenny yang masih merasakan trauma akibat pelecehan yang baru saja dia alami ditambah dengan kenyataan pahit tentang kandasnya rumah tangganya, semakin membuat dia terpuruk dan batinnya tertekan. Saat ini kondisi tubuh Jenny sangat lemah. Dokter baru saja memberikannya obat penenang.
“Sayang, kenapa jadi seperti ini?” gumam Kay sambil mengusap wajah anaknya.
Kay masih tidak percaya dengan pengakuan Xavier tadi. memang pernikahan Jenny dan Iqbal dulu terkesan mendadak. Namun seorang ibu tetap berharap jika suatu saat nanti Jenny dan Iqbal bisa saling mencintai. dan Kay juga tidak tahu kalau selama ini bahkan sebelum Jenny menikah, ternyata anaknya sudah menjalin hubungan dengan Xavier.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Vito yang baru saja masuk ruang rawat Jenny.
“Sepertinya reaksi obat yang diberikan dokter membuat Jenny tidur nyenyak, Mas.” Jawab Kay.
“Mas bagaimana jika yang dikatakan Jenny benar? Bahwa hubungannya dengan Iqbal sudah membaik?” Lanjut Kay.
“Sudahlah, mungkin memang harus berakhir. Kalaupun dilanjutkan, itu justru semakin membuat kedua orang tua Iqbal sakit. Ditambah lagi keadaan Iqbal sampai sekarang belum sadar. Dan Xavier juga telah mengakui semuanya. Mungkin keadaan Jenny saat ini sedang tertekan. Kita harus ikhlas, setidaknya laki-laki yang mencintai Jenny adalah laki-laki baik seperti Xavier.” Jawab Vito.
Kay terdiam. Pemikiran laki-laki dan perempuan memang sangat berbeda. Jika laki-laki berpikir menggunakan logika, berbeda dengan perempuan yang selalu menggunakan hatinya. Namun lagi-lagi Kay tidak sanggup menyangga ucapan suaminya. Selain tahu sifat suaminya yang sulit dibantah, dia juga sedang fokus dengan kesehatan anaknya.
***
Selama seminggu Iqbal dirawat di rumah sakit, selama itupun dia juga belum ada tanda-tanda membuka matanya. bahkan semakin hari keadaannya semakin lemah. Kedua orang tuanya setiap hari selalu memberinya semangat agar Iqbal segera sadar, namun nihil.
“Mas apa mungkin Iqbal ingin dijenguk oleh Jenny?” tanya Desy pelan.
“Kamu jangan bahas Jenny lagi. Ini semua tidak ada hubungannya dengan Jenny. Justru keadaan Iqbal akan semakin memburuk jika Jenny datang kesini, karena akan semakin membuat Iqbal sakit dengan mengingat semua penghianatannya selama ini.” jawab Bram.
Desy hanya mampu terdiam dan tidak berani lagi berucap. Dalam lubuk hatinya dia iba melihat keadaan Jenny saat mengetahui Iqbal sedang koma. Ingin sekali Desy memeluk perempuan yang berstatus menantunya itu. Namun lagi-lagi Desy diingatkan dengan perbuatan Jenny selama ini pada Iqbal.
Sementara itu Bram juga terdiam setelah menjawab pertanyaan istrinya. Dan tanpa sepengetahuan istrinya, Bram kemarin mendatangi Vito. dia meminta pada Vito agar melarang Jenny menemui Iqbal. dengan alasan demi kesembuhan Iqbal.
Cklek
Tiba-tiba dokter masuk ke ruangan Iqbal untuk memeriksa perkembangan Iqbal. Bram dan Desy perlahan mundur dan membiarkan dokter dan perawat itu memeriksa anaknya.
“Maaf Tuan, Nyonya. Keadaan Tuan Iqbal semakin melemah. Saya menyarankan lebih baik Tuan Iqbal segera dibawa ke rumah sakit di luar negeri yang fasilitasnya sangat lengkap.” Ucap dokter.
Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya, Bram langsung menyetujui saran dokter. Dan dia segera mengurus semua administrasi tentang pemindahan Iqbal ke rumah sakit luar negeri.
__ADS_1
Bram bertekat akan membawa Iqbal ke luar negeri. Selain untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik, menurut Bram itu juga salah satu cara untuk menjauhkan Iqbal dengan mantan istrinya.
Setelah mengurus beberapa adiministrasi kepindahan Iqbal, tiga hari kemudian Bram sudah bersiap membawa Iqbal ke luar negeri. Sementara Desy akan menyusul bersama adik Iqbal setelah mengurus kepindahan sekolahnya.
Sebelum berangkat ke luar negeri, Bram menyempatkan diri datang ke kantor Vito, yang tak lain atasannya. Bram akan meminta maaf atas semua kesalahannya sekaligus akan mengundurkan diri dari pekerjaannya.
“Maafkan semua kesalahan Iqbal selama ini, Tuan. Mungkin setelah ini Nona Jenny akan lebih aman dengan orang yang tepat.” Ucap Bram.
“Bram kamu jangan bilang seperti itu. Justru akulah yang harus meminta maaf padamu karena semua ini adalah kesalahan Jenny.” Jawab Vito.
“Dan maaf, mulai saat ini saya akan mengundurkan diri dari perusahaan. Saya beserta keluarga saya akan pindah ke luar negeri untuk mengobatkan Iqbal sekaligus akan menata kehidupan baru kami disana.” Ucap Bram.
Vito terkejut mendengar pernyataan Bram yang terakhir. Mengapa Bram bersikap seolah menghindari keluarganya. Apakah keluarga Bram sangat membenci Jenny hingga berusaha pergi menjauh dengan alasan pengobatan Iqbal.
“Tuan jangan berpikiran buruk. Saya dan keluarga memang fokus demi kesembuhan Iqbal. saya sama sekali tidak membenci Nona Jenny. Saya masih menganggap Nona Jenny anak saya. Anda jangan khawatir.” Lanjut Bram seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Vito.
“Aku tidak bisa berbuat banyak, Bram. Aku hanya bisa mendoakan semoga Iqbal segera mendapatkan pengobatan terbaik dan segera sembuh. Sekali lagi maafkan kesalahan anakku.” Ucap Vito.
Cklek
Barra terkejut saat melihat Bram sedang ada di ruangan Papanya. Bahkan dirinya mengatakan dengan gamblang tentang kedatangan Charles yang tak lain Papa Xavier.
“Om Bram, maaf Barra nggak tahu kalau ada Om disini.” Ucap Barra.
“Nggak apa-apa. Ya sudah kalau begitu say pamit undur diri Tuan Vito.” ucap Bram kemudian.
Bram mengerti yang diucapkan Bara baru saja mengenai kedatangan keluarga Charles. Pasti mereka akan membahas pernikahan Jenny dengan Xavier. Namun Bram tidak lagi peduli. Yang terpenting saat ini fokus penyembuhan Iqbal.
Seminggu berlalu semenjak kepergian Iqbal berobat ke luar negeri, keadaan Jenny semakin terpuruk. Sampai saat ini pun Jenny tidak mengetahui kabar terkini tentang Iqbal. dia juga tidak tahu perihal kalau Iqbal dibawa berobat ke luar negeri.
Seminggu lagi Jenny dan Xavier juga akan menikah. Jenny sudah tidak mampu lagi menolak pernikahan itu. Selain dirinya masih memikirkan Iqbal, perempuan itu juga masih merasakan trauma pasca pelecehan yang dialaminya.
Xavier bahkan tidak peduli dengan keadaan Jenny yang sangat terlihat menolak pernikahan itu. Justru Xavier memanfaatkan kelamahan Jenny untuk segera melangsungkan pernikahannya. Dia juga berjanji pada keluarga Jenny akan membawa Jenny pergi berobat untuk menyembuhkan traumanya.
Jenny menatap pantulan wajahnya dengan tatapan kosong. Dia merasa dejavu dengan kejadian ini. kejadian dimana dulu dirinya akan menikah dengan Iqbal. dan kini dia akan menikah dengan Xavier. Hanya saja bedanya pernikahan ini digelar lebih meriah daripada pernikahannya dengan Iqbal dulu. Meski yang datang hanya keluarga besar saja.
__ADS_1
Jenny masih belum percaya kalau dirinya sudah bercerai dari laki-laki yang sangat dia cintai. Beberapa hari yang lalu datang akta cerai dari pengadilan agama, dan lagi-lagi membuatnya shock.
Ternyata Bram menyewa pengacara untuk mengurus perceraian anaknya. berbekal bukti perselingkuhan Jenny, akta cerai itu pun dengan cepat ia dapatkan.
“Kak Iqbal, aku masih mencintaimu sampai kapanpun.” Ucap jenny sebelum pintu kamarnya diketuk untuk segera melaksanakan akad nikah.
***
3 tahun kemudian.
Tampak seorang laki-laki sedang duduk termenung seorang diri di bebatuan pinggir pantai. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran pria 28 tahun itu. Namun yang pasti hanya ada satu nama yang selalu dia pikirkan.
**
“Pagi Ma, Pa?” sapa seorang perempuan yang baru saja datang.
“Astaga Farah! Kenapa kamu datang tidak mengabarkan pada kami? Tahu gitu biar dijemput Papa kamu.” Ucap Desy.
“Nggak apa-apa Ma. Farah sudah biasa.” Jawab Farah.
“Ya sudah istirahatlah dulu pasti kamu capek. Iqbal sedang pergi ke pantai.” Ucap Desy kemudian.
.
.
.
*TBC
Sorry to say🙏✌️😁😁
Othor penasaran sm wajah kesal kalian baca bab ini dan bab selanjutnya
😁😁🤣
__ADS_1
Happy Reading‼️