Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 85


__ADS_3

Entahlah apa yang sedang ada dalam pikiran Billal. Saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju kota XX lebih tepatnya menuju kampung Delima dimana Lidya tinggal. Sejak dirinya berpapasan dengan perempuan itu saat di rumah Jenny tadi, Billal melihat ada gurat wajah aneh pada Lidya. Billal sangat penasaran dan akhirnya mengikuti Lidya pulang.


Perjalanan selama kurang lebih tiga jam telah ditempuh Billal menggunakan mobilnya. Sedangkan Lidya yang menaiki kereta api juga tiba di jam yang sama dengan Billal.


Lidya mengusap air matanya setelah turun dari angkot lalu berjalan kurang lebih lima ratus meter untuk sampai rumahnya. Rumah padat penduduk dan juga sangat kecil.


Lidya memasuki rumah orang tuanya yang selama hampir dua tahun ia tinggalkan karena mengadu nasib di kota sebagai asisten sekaligus seorang baby sitter.


“Sudah pulang, kamu?” tanya Ibu Lidya tak ramah.


Lidya hanya mengangguk lalu mencium tangan ibunya dengan takzim. Dan tak lama kemudian ayahnya keluar dari kamar setelah mendengar suara anak sulungnya.


“Ayah, bagaimana kabar ayah?” tanya Lidya.


“Ayah sehat, Nak. maaf kami selalu merepotkan kamu, Nak.” ucap Ayah Lidya.


“Ayah kenapa bilang seperti itu? Harusnya memang begitu. Sekarang waktunya Lidya membalas budi kepada kita yang telah merawat dan menyekolahkannya. Oh iya, apa kamu sudah membawa uang untuk membayar hutang ke juragan Karta?” tanya Ibu Lidya.


Lidya tak banyak memberi komentar. Memang sejak dua tahun terakhir, hubungan dirinya dan sang ibu kurang baik. Tapi tak membuat Lidya menjadi anak yang durhaka. Lalu Lidya mengeluarkan uang dari tasnya dan memberikannya pada ibunya. Setelah itu Lidya langsung masuk ke kamarnya untuk istirahat.


“Tunggu dulu, ada yang ingin Ibu sampaikan pada kamu. Kamu tahu kan kalau hutang keluarga kita ke juragan Karta sangat banyak. Untuk kebutuhan sehari-hari dan dua adik kamu yang masih sekolah, ditambah lagi kesehatan ayah kamu yang sudah tidak bisa bekerja lagi. Kami sudah menyetujui permintaan juragan Karta untuk menjadikan kamu istrinya yang ke 3. Dan bulan depan akan dilangsungkan pernikahan itu. Ibu tidak menerima penolakan dari kamu.” Ucap Ibu Lidya panjang lebar.


Lidya hanya tertunduk tanpa menjawab. Karena percuma saja kalau dia berbicara terlebih menolak permintaan ibunya itu. Lalu dia masuk ke dalam kamarnya.


Tanpa seorang pun tahu, ternyata sejak tadi Billal mendengar semua percakapan itu.


***


Sementara itu Jenny kini sedang makan malam bertiga bersama anak dan suaminya. Pasangan itu sangat harmonis menjalani kehidupan rumah tangganya. Terlebih dengan adanya putri cantik mereka yang sangat lucu dan menggemaskan.


“Sayang, minggu depan ada undangan ke pesta pernikahan anak salah satu rekan bisnisku. Persiapkan diri kamu untuk menemaniku ke acara itu.” Ucap Iqbal.


“Iya, Mas. Aku pasti akan menemani kamu.” Jawab Jenny.


Setelah menikmati makan malam itu, tiba-tiba Jenny merasakan perutnya kram. Dia bahkan terlihat sangat pucat. Dan Iqbal yang melihatnya juga sangat khawatir.

__ADS_1


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Iqbal.


“Perutku sakit, Mas. Aku akan ke kamar dulu. Tolong temani Gita main sebentar.” Ucap Jenny lalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Tak lama kemudian Jenny masuk ke kamar mandi. dia melihat ada noda darah yang berarti tamu bulanannya datang. Jenny segera mengganti cel*na dalamnya dan memakai pembalut. Dalam hatinya sedikit kecewa karena dia tak kunjung diberikan momongan lagi.


Setelah itu Jenny keluar dari kamar mandi dan mengambil obat Pereda nyeri seperti yang biasa dia minum ketika tamu bulanannya datang.


Cklek


Iqbal masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan istrinya. Wajahnya terlihat sangat cemas teringat muka Jenny yang sangat pucat tadi.


“Sayang, bagaimana? Apa masih sakit? Ayo kita periksa ke dokter.” Tanya Iqbal.


“Sudah lumayan baik, Mas setelah aku minum obat.” Jawab Jenny dengan raut wajah sendu.


“Kamu serius? Tapi kenapa kamu seperti sangat sedih begitu? Ayo lebih baik kita periksa ke rumah sakit.” Ucap Iqbal.


“Nggak usah, Mas. Aku sedang datang bulan. Seperti biasa perutku kram. Maafkan aku, Mas.” Ucap Jenny dengan mulai mengusap sudut matanya yang berair.


“Maaf, aku belum bisa memberikan adik buat Gita. Kamu pasti sangat mengharapkan anak kedua dariku, tapi sampai saat ini aku belum bisa.” Jawab Jenny terisak.


“Sttt…. Sudah jangan bilang seperti itu lagi. Aku nggak mempermasalahkan hal itu. Kehadiran kalian sudah cukup membuat hidupku bahagia.” Ucap Iqbal sambil merengkuh tubuh istrinya.


“Terima kasih, Mas.”


“Apa benar kamu nggak apa-apa? Nggak perlu diperiksakan?” tanya Iqbal lagi dan Jenny menggelengkan kepalanya.


“Aku sudah terbiasa seperti ini. sebentar lagi juga sembuh. Aku pakai istirahat saja, tolong Mas temani Gita saja.” Jawab Jenny meyakinkan suaminya.


Setelah itu Iqbal mengecup kening istrinya dengan lembut sebelum meninggalkannya turun untuk menemani putri cantiknya yang sedang bermain.


Hari berlalu. Dan weekend ini seperti yang diucapkan oleh Iqbal bahwa dia akan menghadiri acara pernikahan salah satu anak rekan bisnisnya.


Jenny sudah siap dengan dandanan yang sangat cantik. Meskipun gaun yang ia kenakan sederhana, namun terlihat sangat elegan. Iqbal saja sangat terpesona dengan kecantikan istrinya itu. Bahkan setiap hari dia seperti semakin dibuat jatuh cinta oleh istrinya.

__ADS_1


“Lid, tolong jaga Gita ya! Aku dan Mas Iqbal akan pergi dulu.” Ucap Jenny.


“Baik, Nyonya. Anda jangan khawatir.” Jawab Lidya sambil menunduk hormat.


Tak lama kemudian Iqbal bersama Jenny menaiki mobil menuju salah satu hotel berbintang dimana acara itu diselenggarakan.


Iqbal dan Jenny mamasuki ballroom hotel yang sudah sangat ramai oleh tamu undangan yang hadir. Iqbal menggandeng mesra istrinya sambil menyapa beberapa rekan bisnisnya yang ikut hadir di sana. Lalu dia mengajak Jenny menaiki pelaminan untuk memberikan selamat pada mempelai pengantin.


“Tuan Iqbal, apakah istri anda ini pemilik Brigita’s Boutique?” tanya Nyonya Risma istri Tuan Jordi.


“Iya, benar Nyonya.” Jawab Iqbal tersenyum. Begitu juga dengan Jenny.


“Wah suatu kebanggaan bagi keluarga saya, karena gaun pernikahan anak saya ini dipesan secara langsung dari butik anda, dan kebetulan anda juga hadir di acara ini.” ucap Nyonya Risma senang.


Iqbal dan Jenny hanya menjawabnya dengan senyuman. Setelah itu mereka berdua turun dan berbaur dengan beberapa tamu lainnya sambil menikmati hidangan.


Iqbal tampak berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya. Sementara itu Jenny diajak oleh Nyonya Risma untuk menemui teman-temannya sekaligus mengenalkan Jenny sebagai designer gaun pengantin anaknya.


“Wah, kalau begitu nanti saya akan memesan di butik anda untuk acara pertunangan anak saya dua bulan lagi.” Ucap salah satu teman Nyonya Risma.


“Terima kasih, Nyonya. Silakan datang ke butik saya.” Jawab Jenny.


“Apa Mama tahu, designer terkenal ini adalah wanita yang merebut calon menantu Mama dari tanganku?” ucap seseorang tiba-tiba dan sontak saja membuat Jenny terkejut.


.


.


.


*TBC


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya guys. votenya juga boleh😁😁🤗


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2