Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 155


__ADS_3

Malam ini juga Felix mengajak anak istrinya berangkat ke luar negeri. Dia sudah menyerahkan semua urusan perusahaan pada adiknya. Dia juga sudah mengatakan pada Nia kalau kemungkinan akan tinggal di luar negeri dalam waktu yang lama. Selain untuk mengobatkan Axel, dia juga harus mengurus perusahaan Papanya yang ada di sana. Nia hanya mengangguk, walau sebenarnya dia sudah tahu semuanya.


Axel pun sejak tadi tampak tidur setelah diberi obat oleh dokter karena akan melakukan penerbangan jauh. Keadaannya masih lemah, membuat siapa saja pasti iba melihatnya.


***


“Coklat… Kak, mana coklatnya? Beberapa hari kamu nggak ngasih aku coklat.” Ucap Gita yang saat ini sedang duduk di kursi roda dan sedang berada di taman rumah sakit.


Jenny yang sedang berdiri di belakang Gita menahan isakannya saat melihat anaknya sejak tadi memanggil nama Axel dan meminta coklat. Bahkan di kursi taman itu ada beberapa batang coklat yang sudah dia beli untuk diberikan pada Gita. Namun tak satupun Gita terima, karena ingin Axel langsung yang memberinya.


Keadaan Gita sudah membaik secara fisik. Namun dia harus tetap dirawat di rumah sakit untuk menjalani beberapa terapi. Menurut hasil analisa dokter, selain terkena dampak dari zat pssikotropika, sebelumnya Gita juga sedang mengalami Avoidant Personality Disorder yang mengarah pada hilangnya rasa percaya diri. Dokter menjelaskan banyak hal Iqbal dan Jenny. Mereka tidak menyangka kalau Gita sampi mengalami gangguan seperti itu.


“Mana, Kak coklatnya? Kamu bohongin aku, bukannya kamu sudah berjanji akan menungguku.” Ucap Gita lagi.


“Sayang, kita masuk saja ya. Sudah panas juga ini cuacanya.” Ajak Jenny, namun Gita tak menyahut sama sekali.


Jenny pun mendorong kursi roda Gita dan membawanya masuk ke ruang rawatnya. Kemudian dia membantunya berdiri dan pindah ke brankar.


“Ma, kapan kita pulang? aku sudah kangen pada Kak Axel.” Tanya Gita setelah tubuhnya berhasil mendarat di brankar.


“Iya, Sayang. Nanti kalau dokter sudah memperbolehkan pulang, pasti kita pulang kok.” Jawab Jenny.


Gita kembali diam. Sepertia biasa dia akan melamun dengan tatapan mata kosong. Jenny perlahan mengusap sudut matanya. entah seberapa kuat hatinya dengan keadaan seperti ini. perasaan seorang ibu sangatlah peka terhadap sesuatu yang sedang terjadi dengan rumah tangga anaknya.


Jenny merasa seperti ada suatu kesalah pahaman, tapi dia tidak tahu pasti. Karena sampai saat ini keluarga Axel seolah menutup diri dari keluarganya. Mau bertanya pada suaminya juga takut semakin menambah masalah. Karena saat ini Iqbal sedang pulang ke kota B untuk urusan pekerjaan yang sangat penting. Dan berjanji akan segera kembali saat urusannya sudah selesai.


***


Sementara itu Iqbal hari ini tampak sibuk di ruang kerjanya. Sean juga tidak bisa terus menerus membantunya. Dia juga mempunyai tanggung jawab besar terhadap keluarganya sendiri. Asisten pribadinya juga masih belum sembuh dan masih dirawat di rumah sakit.


Meskipun Iqbal sibuk dengan beberapa pekerjaan yang sempat terbengkalai beberapa hari, setidaknya kondisi perusahaan sudah normal kembali setelah berada diambang kebangkrutan karena ulah balas dendam Marvin.


Iqbal teringat, kalau kepulangannya selain untuk pekerjaaan, dia juga ingin memastikan kabar menantunya. Menurut orang suruhannya, Axel sudah tidak dirawat lagi di rumah sakit. Namun dipindahkan ke rumah sakit luar negeri.

__ADS_1


Iqbal terkejut mendengarnya. Apakah separah itu keadaan Axel, sampai harus dibawa ke rumah sakit luar negeri. Namun kenapa Felix tidak mengabarkan itu padanya. Setelah itu Iqbal melihat jam tangannya dan menunjukkan waktu makan siang akan tiba. Dia memilih untuk pergi ke perusahaan milik Felix untuk menanyakan keadaan Axel.


Tidak lama Iqbal berkendara, dia sudah tiba di kantor milik sahabat sekaligus besannya. Dia langsung saja menuju ruangan Felix, karena sudah terbiasa. Namun tetap menjaga adab kesopanan, Iqbal mengetuk pintu terlebih dulu.


Iqbal terkejut saat sudah dipersilakan masuk oleh si pemilik ruangan. Bukan Felix yang menyambutnya, melainkan Kevin adik laki-laki Felix.


“Kevin? Kenapa kamu bisa ada disini?” tanya Iqbal heran.


“Eh, Bang Iqbal, duduklah dulu Bang!” ucap Kevin.


Akhirnya Iqbal duduk. Setelah itu dia langsung menanyakan keberadaan Felix sekaligus keadaan Axel. Namun jawaban Kevin membuat Iqbal sangat terkejut.


“Apakah separah itu keadaan Axel?” tanya Iqbal.


“Setahuku, kondisinya masih lemah, Bang. Disamping itu perusahaan Papa yang ada di luar negeri sedang dalam masalah. Jadi Bang Felix memutuskan untuk tinggal sementara disana.” Jawab Kevin.


“Baiklah, terima kasih atas informasinya. Bolehkah aku minta no ponsel Felix yang bisa dihubungi?” pinta Iqbal dan Kevin pun memberinya.


Meskipun rasa lelah menghinggapi dirinya, namun Iqbal tidak pernah menyerah begitu saja. Hari ini semua pekerjaannya sudah terselesaikan, dan hari ini juga dia akan terbang kembali ke kota J untuk melihat kondisi anaknya.


Iqbal sudah berada di bandara. Sambil menunggu jadwal keberangkatan, pria itu menyempatkan diri untuk menghubungi no ponsel Felix yang baru saja diberi oleh Kevin tadi, dan itu bukan no biasanya. Panggilan pertama tidak dijawab, dan akhirnya panggilan kedua diangkat oleh si pemilik nomor.


“Halo, Felix!” sapa Iqbal.


Felix terdiam. Dia juga tidak menyangka kalau Iqbal akan mengubunginya. Dia juga masih belum memikirkan tentang hubungan Axel dan Gita selama Axel masih menjalani pengobatan.


“Felix!” panggil Iqbal lagi.


“Iya, Bal. maaf.” Jawab Felix dengan nada ragu.


“Ada apa? Kenapa seperti ini?” tanya Iqbal frustasi.


“Maaf, pasti kamu tahu dari Kevin, kalau sekarang aku sedang menangani masalah perusahaan Papa yang ada disini-“

__ADS_1


“Iya. Aku tahu. Tapi kenapa sepertinya kamu menutupi sesuatu dariku dan juga istriku? Bagaimana keadaan menantuku? Apakah lukanya sangat parah hingga harus dirawat di rumah sakit di luar negeri?” tanya Iqbal.


“Aku dan Nia hanya ingin mengingankan pengobatan yang terbaik buat Axel, Bal.” jawab Felix.


“Iya aku paham. Tapi apa kamu tahu bagaimana Git-“


“Maaf, Bal, aku sangat sibuk, lain kali kita sambung lagi.” Potong Felix cepat lalu segera menutup sambungan teleponnya.


Iqbal hanya mendesahh pelan. Kenapa sikap sahabatnya jadi seperti ini. bagaimana jika nanti Jenny mengetahui tentang ini semua. Dia sangat yakin kalau istrinya akan semakin terpuruk. Terlebih dengan keadaan anaknya yang setiap hari mencari Axel.


Tak lama kemudian Iqbal menuju pesawat yang akan membawanya terbang ke kota J. biarlah nanti dia pikirkan lagi tentang Felix. Yang penting saat ini adalah kesembuhan Gita.


Beberapa saat kemudian pesawat yang ditumpangi Iqbal sudah mendarat sempurna di bandara kota J. dia segera memesan taksi menuju rumah sakit.


“Pa, Gita mau pulang. Gita mau menagih janji Gita pada Kak Axel.” Rengek Gita seperti anak kecil.


Iqbal hanya terdiam dan memeluk erat tubuh Gita.


.


.


.


*TBC


Dear emak² reader terseyenk, terima kasih atas komen²nya. dan moon maap yee, tdk semua keinginan emak² bisa othor kabulin. karena ini alur sdh tertata rapi. kalau malas baca gr² merasa kisah emaknya Gita terulang, ydh sokk ga lanjut jg gpp.


dari pnyebab masalahnya aja udah beda. samanya dari mana?🤔🤔 kalau ada kemiripan, ya wajar2 saja sih, judulnya aja msh sama😁😁.


Dah itu aja sedikit curhatan othor. terima kasih buat like, komen, dan yg sllu kasih vote🤗🤗😘😘😘😘


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2