Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 184


__ADS_3

Axel memasuki kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Gita. disana Gita masih tidur di bawah selimut tebal yang membungkus tubuhnya.


“Sayang, ayo bangun dulu terus sarapan.” Ucap Axel.


“Nanti saja, Mas. Kepalaku pusing. aku masih ingin tidur.” Jawab Gita dengan mata masih tertutup.


“Iya, makan dulu, minum obat baru boleh tidur lagi.” Axel kembali membujuk istrinya.


Akhirnya Gita pun bangun. Meski kepalanya pusing, namun dia juga ingin pergi ke kamar mandi terlebih dulu. Axel dengan sigap memapah istrinya.


“Nggak usah, Mas. Aku bisa sendiri.” Tolak Gita.


“Ya sudah, kalau perlu bantuan panggi aku saja.” Ucap Axel dan Gita hanya mengangguk.


Di dalam kamar mandi Gita mencuci muka dan mengganti pembalutnya. Namun dia heran saat darah menstruasi yang keluar masih sama seperti kemarin. Hanya berupa flek saja. Tidak biasanya seperti ini kalau di hari pertama dan kedua. Ditambah lagi kepalanya juga tiba-tiba terasa begitu pusing sejak semalam setelah pulang dari peseta pernikahan Inez.


Tak ingin berpikiran macam-macam, Gita akhirnya tetap mengganti pembalutnya. Siapa tahu memang sedang tidak lancar, dan nanti akan keluar seperti semestinya.


Cklek


Gita keluar dari kamar mandi, Axel segera menghampirinya. Namun Gita menolak saat melihat Axel akan memapahnya kembali.


“Sayang, wajah kamu pucat. Periksa ke dokter ya?” ucap Axel khawatir.


“Nggak usah, Mas. Aku hanya pusing saja. Setelah makan aku minum obat saja dan tidur.” Jawab Gita.


“Ya sudah duduklah, biar aku suapin.” Ucap Axel kemudian.


Gita yang semula mau menolak pun akhirnya hanya bisa pasrah setelah suaminya memaksa untuk menuapinya.


Kini Axel membiarkan istrinya beristirahat kembali setelah minum obat. Kemudian dia memilih menyibukkan diri untuk mempersiapkan beberapa berkas yang akan diperlukan untuk keberangkatannya ke luar negeri.


***

__ADS_1


Sementara itu, sore ini pasangan pengantin baru Dimas dan Inez sudah check out dari hotel. Mereka berdua segera pergi ke rumah orang tua Inez. Dimas berencana akan mengajak istrinya pulang ke rumahnya besok pagi, karena rumah barunya masih perlu dibersihkan terlebih dulu.


Dimas dan Inez dijemput oleh sopir suruhanh Papa Inez. Inez duduk dengan menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Dia masih merasakan capek setelah melakukan kegiatan panasnya dengan sang suami. bayangan Inez dia bisa beristirahat setelah pagi hari bertempur cukup lama.


Namun ternyata tidak sesuai dengan realita. Pasalnya setelah menyelesaikan sarapan dan mandi bersama, siang harinya Dimas kembali mengulang kegiatan panas itu hingga waktu menjelang sore. Alhasil tubuh Inez terasa semakin remuk.


“Maaf ya Sayang, gara-gara aku kamu jadi seperti ini.” ucap Dimas merasa bersalah.


“Nggak apa-apa kok, Kak. Ini memang sudah menjadi tugas seorang istri yang harus selalu melayani suaminya.” Jawab Inez.


“Ya sudah, berarti setelah sampai rumah kita bisa mengulanginya lagi?” tanya Dimas menggoda.


Inez beringsut dari duduknya dan menjauhkan badannya dari Dimas. Sungguh tega sekali Dimas jika setelah ini akan meminta lagi. Inez juga heran dengan tenaga suaminya yang seperti tidak ada kata lelah.


“Aku hanya bercanda, Sayang.” Ucap Dimas tergelak.


“Mas nggak malu apa didengar Pak Rudi?” tanya Inez sambil melirik sopirnya yang terlihat santai dan merasa tak terganggu.


“Nggak apa-apa, Non. Saya mengerti kok dengan pengantin baru. Seperti dulu saat saya masih muda juga seperti itu.” Pak Rudi menyahut dengan suara tenang. Inez hanya mengangguk begitu juga Dimas.


Setelah bertegur sapa, Inez mengajak suaminya memasukin kamarnya untuk beristirahat. Padahal dia sendiri yang ingin istirahat.


“Tidurlah, aku akan tetap disini.” Ucap Dimas sambil memeluk istrinya.


Tanpa menjawab Inez segera terbang menuju alam mimpinya. Dimas jadi merasa bersalah karena seharian telah membuat istrinya kelelahan. Namun tak dapat dipungkitri kalau dirinya memang sangat menginginkan tubuh Inez dan seolah tidak ada kata untuk berhenti menikmatinya.


Dimas beranjak dari tidur saat ada panggilan dari seseorang. Dia berjalan menuju balkon untuk berbicara dengan seseorang agar tidak mengganggu istirahat istrinya.


Dimas berbicara cukup serius dengan orang tersebut. Setelah selesai, Dimas memutuskan untuk keluar kamar dan menemui Papa mertuanya.


Kini Dimas sudah berada di ruang kerja Tuan Yudhistira. Dimas membicarakan beberapa hal mengenai masalahnya dengan Jerry kemarin.


“Besok Papa diharapkan datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan atas perbuatan Jerry, sebelum dilakukan sidang putusan hukuman yang pantas untuknya.” Ucap Dimas.

__ADS_1


“Iya, besok Papa akan datang. Terima kasih atas informasinya.” Ucap Tuan Yudhistira.


“Dan satu lagi, Pa. Dimas juga akan memproses kasus Jerry yang telah melakukan kekerasan fisik pada Inez. Apakah Papa tidak keberatan?” tanya Dimas. Bagaimanapun juga dia harus meminta ijin. Bisa saja Tuan Yudhistira merasa malu karena nanti berita tentang anaknya terekspose media dan membuat Inez tidak nyaman.


“Maaf, jka Papa tidak berkenan tidak apa-apa, biar kasus ini ditutup saja.” Lanjut Dimas karena melihat perubahan wajah mertuanya yang sangat sedih.


“Bukan seperti itu, Nak Dimas. Papa hanya merasa bersalah pada Inez. Karena Papa, Inez harus menerima kekerasan fisik dari Jerry. Bahkan Inez melakukan semua itu agar perusahaan Papanya tidak bangkrut. Papa gagal menjadi orang tua yang tidak bisa melindungi anaknya.” ucap Tuan Yudhistira sambil mengusap sudut matanya yang berair.


“Ini bukan salah Papa sepenuhnya. Dimas yakin kaau Inez melakukan itu semua karena memang demi Papa. Jadi apakah Papa keberatan jika kasus kekerasan yang dilakukan oleh Jerry akan Dimas usut sampai tuntas?” tanya Dimas.


“Papa sama sekali tidak keberatan. Kalau bisa dia harus menerima hukuman yang setimpal.” Jawab Tuan Yudhistira.


Dimas pun merasa lega. Setelah itu dia keluar dari bruang kerja mertuanya dan kembali ke kamar untuk melihat istrinya yang masih tidur dengan pulas.


Keesokan harinya, seperti yang sudah disepakati, Tuan Yudhistira datang ke kantor polisi untuk memberikan beberapa keterangan mengenai kasus Jerry. Inez juga ikut hadir dengan Dimas. Karena Inez juga harus melakukan visum untuk memperjelas bukti kejahatan Jerry.


Gita dan Axel juga ikut hadir ke kantor polisi, karena mereka berdua juga akan dimintai keterangan. Mengingat mereka berdua mempunyai bukti beberapa foto Jerry dan Fathia saat sedang di mall.


Setelah melakukan visum, kini Inez, Gita sedang duduk di hadapan Jerry dan Fathia yang sedang mengenakan seragam kebanggaan yaitu baju tahanan. Sedangkan Axel dan Dimas berdiri di samping istri mereka masing-masing.


“Nez, maafkan aku selama ini telah banyak menyakitimu.” Ucap Jerry.


“Percayalah, Nez. Sejak dulu aku sangat mencintaimu. Bahkan sampai saat ini rasa itu masih tetap sama. Dan aku melakukan itu semua karena pengaruh dari Fathia, yang sakit hati denganmu.” Lanjutnya.


“Berengsek! Jaga bicara kamu, Jer! Semua itu tidak benar, Nez. Justru aku yang diajak kerjasama dengan Jerry untuk membalaskan sakit hatinya ke kamu.” Ucap Fathia tak terima.


Inez dan Gita yang sejak tadi diam duduk di hadapan Jerry dan Fathia hanya bisa memutar bola matanya jengah. Tanpa mengucapkan sesuatu akhirnya mereka berdua memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Padahal Inez dan Gita berharap mendengarkan permintaan maaf dari Fathia. Namun ternyata tidak ada rasa bersalah sedikitpun dari Fathia.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2