Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 58


__ADS_3

Jenny sudah menaiki taksi yang akan membawanya ke suatu tempat yang sudah ia janjikan pada Xavier. Pikiran Jenny tidak tenang sejak tadi, namun dia juga sendiri bingung apa yang membuatnya tidak tenang.


Ting


“Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Tunggu sebentar, aku akan segera datang. Kebetulan aku masih di rumah Barra.”


Jenny membaca pesan yang baru saja dikirim oleh Xavier. Perlahan Jenny menghembuskan nafasnya pelan. Dia sudah memantapkan hatinya untuk mengakhiri hubungannya dengan Xavier. Bahkan Jenny menyesal selama ini telah menyia-nyiakan seseorang yang mencintainya dengan tulus. Jenny berjanji pada dirinya, setelah ini akan menjalani rumah tangganya bersama Iqbal dengan baik. Karena tanpa dirinya sadari sudah sejak lama semenjak Iqbal mulai menunjukkan perhatiannya, Jenny sudah jatuh cinta pada Iqbal.


“Kenapa berhenti, Pak?” tanya Jenny saat menyadari taksi yang ditumpanginya mendadak berhenti.


“Saya juga kurang tahu, Non. Sepertinya mogok.” Jawab sopir taksi itu.


Akhirnya sopir taksi itu keluar dan mulai mengecek mesin mobil. Jenny yang masih berada di dalam taksi merasa bosan karena sejak tadi tidak mendapat kepastian bahwa taksi itu sudah bisa diperbaiki apa belum.


“Apa masih lama, Pak?” tanya Jenny sudah keluar dari taksi.


“Maaf Nona, sepertinya akan lama. Saya sendiri juga tidak begitu paham dengan mesin.” Jawab si sopir taksi.


“Bilang dari tadi dong, Pak.” Gerutu Jenny dengan muka kesalnya.


Akhirnya Jenny pergi jalan kaki meninggalakan taksi itu dan berniat mencari taksi lain. Dan kebetulan jalan yang dilaluinya cukup sepi dan tidak banyak kendaraan berlalu lalang. Namun tiba-tiba Jenny merasa ada orang yng sejak tadi mengawasinya. Jenny mencoba untuk menengok ke belakang, ternyata ada dua orang pria asing sedang berjalan mengikutinya.


Saat ini yang ada di pikiran Jenny adalah mencari ponselnya untuk menghubungi suaminya. Dia memilih mengirim pesan saja daripada menelepon Iqbal yang akan semakin membuat kedua pria itu mencurigainya.


Setelah berhasil mengirim pesan pada Iqbal, Jenny sudah tidak berani lagi menengok ke belakang. Dia semakin mempercepat langkahnya agar segera sampai jalan umum dan menemukan taksi.


Tak lama kemudian ada sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Jenny pun berhenti sejenak. Namun kedua orang pria yang berjalan di belakang tadi sudah berdiri tepat di belakangnya. Dan kejadian itu begitu cepat, mulut Jenny langsung dibekap lalu digendong dan dibawa masuk ke dalam mobil tersebut.


“Tolong!!!!” teriak Jenny saat tngan pria itu lepas dari mulut Jenny.


Karena Jenny terlalu banyak gerak, hingga menyebabkan salah satu pria itu memkul tengkunya kemudian Jenny pingsan.


“Dia sangat cantik sekali.” Ucap salah seorang pria yang sedang duduk di samping Jenny.


“Ingat, kamu jangan macam-macam. Biarkan bos yang bertindak sendiri.” Sahut pria di sampingnya.


“Aku yakin bos nggak akan tahu kalau kita mencicipinya sedikit.” Ucap pria itu lagi.


“Kalian jangan macam-macam, atau nyawa kalian lah taruhannya.” Ucap pria yang sedang duduk di belakang kemudi.


***

__ADS_1


Sementara itu Iqbal yang baru saja mendapat pesan dari istrinya, dia segera pergi meninggalkan rumah orang tuanya. Bram dan Desy bisa melihat raut wajah cemas anaknya setelah membuka ponselnya.


“Ada apa, Bal?” tanya Bram berlari mengejar Iqbal.


“Maaf, Pa. Jenny sedang dalam bahaya.” Jawab Iqbal cepat lalu menyambar kunci mobil Papanya yang ada di atas meja untuk segera mencari Jenny. Bram pun tidak tinggal diam. Dia juga ikut mengejar Iqbal.


Iqbal melajukan mobil dengan kecepatan penuh sambil memantau GPS yang tersambung di ponsel Jenny. Iqbal tidak ingin menghubungi Jenny. Dia khawatir ponsel Jenny akan berdering dan akan semakin membuat pria asing yang mengikutinya membuang ponsel Jenny.


Sambil mengemudikan mobilnya, Iqbal melihat kemana arah Jenny saat ini. Iqbal semakin panik saat arah GPS itu sudah dengan cepat berjalan keluar kota. Dan itu bisa dipastikan kalau istrinya sudah berada dalam bahaya.


Iqbal semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dan tak lama kemudian nama Papanya muncul melakukan panggilan.


“Katakan, kamu sekarang dimana?” tanya Bram.


“Iqbal sedang dalam perjalanan menyelamatkan Jenny, Pa.” jawab Iqbal.


“Kirim loksainya pada Papa!” perintah Bram dan segera memutuskan sambungan teleponnya.


Setelah itu Iqbal mengirim lokasinya terkini biar memudahkan Papanya mengikutinya. Sementara itu Bram juga tidak tinggal diam. Dia juga menhubungi Vito, namun panggilannya tidak dijawab. Kemudian menghubungi Barra.


Iqbal terus melajukan mobilnya sesuai dengan GPS di ponsel Jenny. Sejak tadi mobil yang membawa Jenny juga tidak lekas berhenti. Bahkan sudah berjalan semakin jauh.


“Sial! Ada sesuatu bergetar dalam tas perempuan ini.” ucap salah satu pria yang hendak mengangkat tubuh Jenny.


“Buang saja ponselnya. Dan pastikan dalam keadaan hancur.” Jawab pria satunya.


Setelah itu Jenny dibawa masuk ke dalam rumah kosong sesuai dengan permintaan bosnya. Dan disana sudah ada seseorang yang menunggunya.


“Pesanan bos sudah datang.” Ucapnya.


“Cepat ikat dia di kursi itu.” Ucap seorang pria yang sedang duduk sambil menyesap rokoknya.


Kedua pria yang menggendong Jenny sudah mendudukkan Jenny pada kursi kayu lalu mengikatnya disana.


“Kalian keluarlah. Dan jaga-jaga lah disana.” Perintah pria itu.


“Baik, Bos.” Jawab dua orang pria itu.


Pria itu kemudian mematikan rokonya lalu berjalan mendekati Jenny yang masih belum sadarkan diri.


“Hei bangun!!!” teriak pria itu.

__ADS_1


Jenny tak juga bangun. Pria itu lantas menepuk pipi Jenny hingga akhirnya Jenny mengerjap.


“Siapa kamu?” tanya Jenny ketakutan.


“Aku orang yang akan memuaskan hasratmu sebelum kamu menemui ajal. Ha ha ha ha” jawab pria itu.


Jenny ketakutan. Dia menggerak-gerakkan badannya berusaha lepas dari jeratan tali yang membelitnya. Namun pria itu tak menyerah begitu saja. Justru kedua tangannya kini mencengkeram kuat rahang Jenny. Lalu mencumbu Jenny dengan rakus.


Cuih


Jenny meludahi wajah pria itu, hingga membuatnya meradang. Pria itu lantas merobek baju Jenny dengan sekali tarikan sampai membuat tubuh Jenny limbung bersama dengan kursi kayu itu.


Tak cukup sampai disitu, pria itu mengulangi perbuatannya dengan kembali mencumbui seluruh wajah Jenny setelah berhasil mengembalikan posisinya seperti semula.


“Wow, ternyata kamu sangat seksii sayang. Biarkan aku menikmati tubuh indahmu dulu.” Bisiknya tepat di telinga Jenny.


Air mata Jenny mengalir deras saat pria itu akan melecehkannya. Lalu tanpa pria itu sadari, tali yang membelit kaki Jenny sedikit longgar hingga bisa menendang ******** pria itu.


“Awwww… shittt!!! Kurang ajar kamu.” Ucap pria itu meringis kesakitan.


Lalu tangannya mengayun kencang menampar Jenny. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali Jenny menerima tamparan itu sampai kedua sudut bibirnya mengeluarkan darah.


Brakkk


“Pergi kau baji***n!!”


.


.


.


*TBC


Waduhh waduhhh semakin greget ga sih? entah greget sama ceritanya atau sm othornya😢😢😂😂


Lope² deh utk semua pembaca setiaku❤️💕


Jangan lupa like dan komentarnya ya,, opps vote-nya juga boleh bgt tuh🤗😘


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2