
Saat ini Axel sedang berdiri di dekat jendela ruang kerjanya. Dia menghadap luar namun bayangannya tertuju pada sebuah nama. Nama seseorang yang selama ini selalu ada dalam hatinya. Siapa lagi kalau bukan Gita.
Axel sangat bersyukur. Perlahan hubungannya dengan Gita sedikit ada kemajuan. Walaupun sangat sedikit, yang terpenting ada perubahan. Meski sikap Gita terkesan masih dingin dan datar terhadapnya, tapi dia tidak pernah menolak apapun yang diberikan oleh Axel.
Seperti halnya setiap pulang kerja dan dia menjemputnya, Axel selalu memberikan sebatang coklat untuknya. Axel tahu kalau sejak dulu, sejak hubungannya dengan Gita masih baik-baik saja, perempuan itu selalu memintanya coklat di saat bertemu ataupun sedang jalan-jalan. Dan beberapa waktu yang lalu, Axel mencoba memberikan istrinya coklat saat menjemputnya. Dan ternyata Gita menerimanya.
“Tapi kenapa Inez saat itu mengatakan kalau keadaan mental Gita sedang tidak baik.” Gumamnya lirih.
Axel mengingat pertemuannya dengan Inez tempo hari. Setelah beberapa saat lalu Inez sempat meminta no ponsel Axel, dan baru beberapa hari yang lalu Inez mempunyai waktu untuk bertemu dengannya.
Inez menceritakan keadaan Gita saat bertemu dulu. Inez menceritakan semua tentang perubahan sikap Gita yang berubah drastis. Emosinya meluap-luap di saat mendengarkan kalimat yang menurutnya sangat sensitif.
“Aku takut rasa kurang percaya diri Gita akan berdampak pada mentalnya, Xel. Apalagi dia selalu merasa rendah diri.” Ucap Inez kala itu.
Memang Axel tidak serta merta mempercayai ucapan Inez. Dia hanya berusaha bagaimana cara membuat Gita nyaman bersamanya. Memang tidak membutuhkan waktu singkat. Dan sekarang pun dia merasakan hasilnya.
Tok tok tok
Bunyi ketukan pintu dari luar mengakhiri lamunan Axel. Kemudian dia berjalan mendekati kursi kerjanya dan bertepatan pintu itu terbuka sebelum dia menyuruh orang itu masuk.
“Papa? Ada yang bisa Axel bantu?” tanyanya. Ternyata Felix yang datang.
“Papa hanya ingin menyampaikan sesuatu. Besok datanglah ke acara ulang tahun perusahaan Tuan James. Papa tidak bisa hadir karena Mama kamu minta ditemani pergi ke acara temannya.” Ucap Felix.
“Kamu bisa mengajak Gita.” Lanjut Felix.
“Baik, Pa. nanti akan Axel sampaikan pada Gita.” Jawab Axel.
**
Waktu sudah menunjukkan jam pulang kerja. Seperti biasa, Axel akan menjemput istrinya. Dia juga sudah menyiapkan sebatang coklat untuk menyambut kepulangan Gita.
“Nih!” Axel memberikannya pada Gita, setelah perempuan itu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
“Terima kasih. Harusnya nggak perlu repot-repot seperti ini setiap hari.” Ucap Gita. Bahkan kalimat itu sering ia ucapkan setelah menerima coklat dari Axel.
“Kalau kamu nggak mau, kumpulin saja. Nanti bisa dijual lagi. Lumayan kan.” Axel mencoba menjawab ucapan Gita dengan candaan.
“Memang bisa begitu?” tanya Gita serius.
“Ya bisa. Justru kamu nanti akan dapat untung banyak.” Jawab Axel sambil tersenyum tipis.
Gita tidak menjawab dan hanya mencebik kesal. Namun hal itu justru membuat Axel gemas. Hanya saja dia belum berani memeluknya.
“Kita makan di luar yuk?” ajak Axel namun Gita menggelengkan kepalanya.
Setiap hari Axel mencoba mengajak Gita makan di luar atapun sekadar jalan. Namun Gita selalu menolak. Entah alasannya apa, tapi Axel tidak memaksanya. Akhirnya dia lebih memilih membeli makanan saja dan dibawa pulang. membeli makanan pun Gita tidak ikut turun dari mobil. Dari sikapnya yang selalu seperti itu, Axel sedikit mempercayai ucapan Inez kalau Gita kehilangan rasa percaya dirinya. Tapi Axel selalu berusaha memperbaikinya dengan caranya sendiri.
Sesampainya di apartemen, keduaanya langsung masuk ke kamar masing-masing sebelum melakukan makan malam. namun Axel terlebih dulu menyiapkannya sebelum dia mandi.
Selesai mandi, Gita sudah duduk di kursi makan. Dia melihat sajian makanan yang tadi dibeli Axel sudah tertata rapi. Akhirnya Gita hanya membuat dua gelas teh hangat saja.
Beberapa saat kemudian, Axel sudah keluar dari kamarnya. Badannya terlihat sangat segar. Bahkan rambutnya masih terlihat basah. Dan jangan lupakan bau parfumnya. Diam-diam bau parfum itu sangat disukai oleh Gita.
Axel mengucek matanya berkali-kali saat baru saja melihat senyum tipis Gita. Apakah itu benar Gita. Karena sudah lama dia tidak pernah melihat senyum manis itu. Dan baru saja, Gita kembali menampakkan senyum yang sudah lama ia rindukan.
“Kenapa diam?” tanya Gita.
“Ah, nggak apa-apa. Ya sudah ayo makan!” ucap Axel kemudian.
Setelah itu mereka berdua menikmati makan malamnya dengan khidmat. Tidak ada percakapan diantara keduanya. Hanya sesekali terdengar dentingan suara sendok dan piring.
Selesai makan malam, Gita memilih bersantai di ruang tengah. Dan disusul oleh Axel. Mereka berdua setiap hari seperti itu, walau sama-sama sibuk dengan gadgetnya.
“Gita, besok Papa memintaku untuk datang ke acara ulang tahun perusahaan rekan bisnisnya. Dan Papa meminta agar kamu menemaniku.” Axel berkata dengan hati-hati. Ia takut kalau Gita akan marah jika diajak untuk datang ke sebuah acara.
“Ehm, memangnya harus dengan aku? nggak bisa datang sendiri?” tanyanya.
__ADS_1
“Sepertinya bisa. Tapi ini amanat dari Papa. Kalau kamu memang keberatan, nggak apa-apa. Biar nanti aku bilang ke Papa.” Kata Axel.
“Jangan! Aku nggak enak nanti sama Papa. Tapi aku sudah lama tidak pernah keluar untuk acara seperti itu. Aku-“ Jawabnya ragu.
“Jangan takut. Nanti aku nggak akan jauh-jauh dari kamu. Tenang saja. Mungkin nanti kita tidak lama. Hanya sekadar datang dan memberikan ucapan selamat pada rekan bisnis Papa.” Axel berusaha meyakinkan. Dan akhirnya Gita mengangguk.
**
Hari itu pun tiba. Axel sedang menunggu Gita yang sejak tadi tak kunjung keluar dari kamarnya. Dia khawatir dengan keadaan istrinya. Apakah baik-baik saja di dalam sana. Atau Gita sedang berusaha menolak untuk tidak ikut pergi bersamanya. Namun itu semua hanya perasaan Axel saja, karena saat ini Gita sudah keluar dari kamarnya.
“Maaf menunggu lama.” Ucap Gita sambil menundukkan kepalanya.
“Nggak apa-apa.” Jawab Axel sambil matanya memindai penampilan Gita yang meenurutnya sangat cantik. Dengan gaun yang sangat kontras dengan kulit tubuhnya, semakin membuat aura kecantikannya terpancar jelas.
“Ya sudah, ayo!” ajak Axel kemudian.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah tiba di ballroom hotel tempat acara diadakan. Banyak tamu dari kalangan pengusaha sudah datang. Dan suasana sangat ramai. Gita tiba-tiba saja merasakan hawa tidak enak. Bahkan keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. Dia ingin sekali memegang tangan Axel, namun tidak berani. Akhirnya hanya memegang ujung baju Axel.
“Kalau kamu mau, kamu boleh pegangan lenganku.” Tawar Axel.
Dengan memberanikan diri, Gita memegang lengan Axel. Bahkan Axel merasakan cengkeraman kuat tangan Gita.
“Kamu baik-baik saja? Kalau tidak nyaman, kita pulang saja nggak apa-apa.” Ucap Axel khawatir.
“Nggak apa-apa. Ya sudah ayo masuk.” Jawab Gita.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️