
Persidangan Marvin dan Malik hari ini cukup menghadirkan saksi-saksi serta bukti kejahatan mereka berdua. Dan untuk hukuman yang akan diterima oleh mereka akan diputuskan pada sidang berikutnya yang akan diadakan minggu depan.
Ketiga pelaku segera dibawa kembali ke sel tahanan.
Sedangkan Iqbal dan Dimas juga segera kembaali ke perusahaan. Malik menatap nanar punggung Dimas yang baru saja keluar dari ruangan persidangan. Ingin sekali pria itu menghampiri putranya dan bersujud untuk meminta maaf atas semua kesalahannya. Namun saat ini nyalinya belum cukup besar untuk melakukan semua itu.
“Kamu kenapa?” tanya Marvin pada sahabatnya yang sejak kemarin terlihat diam.
“Nggak apa-apa. Aku hanya merasa kurang enak badan saja.” Jawab Malik dengan singkat.
Marvin tahu kalau sahabatnya itu sedang menutupi sesuatu darinya. Namun dia tidak ingin terlalu ikut campur jika itu mengenai masalah pribadinya. Tak lama kemudian, mereka dibawa polisi memasuki mobil dan kembali ke tahanan.
***
Hari ini adalah hari pertama Gita menjalani terapi. Sesuai yang diminta oleh Iqbal, Gita menjalani terapi di rumah dengan memanggil dokter untuk datang ke rumah.
Awal kedatangan dokter Julian, Gita masih ditemani oleh Jenny. Karena Gita kembali diserang rasa ketakutan saat bertemu dengan orang baru terlebih laki-laki. Keringat dingin pun sudah membasahi tubuhnya. Jenny ikut panik dengan reaksi Gita yang baru pertama kali ia lihat.
“Sayang, tenanglah!” ucap Jenny sambil memegang lembut tangan Gita.
Dokter Julian pun segera bertindak. Pertama dia memperkenalkan dirinya dulu dengan Gita. Dengan sabar dokter itu berbicara dengan Gita agar tidak takut padanya. Kemudian dia memberitahu Gita kalau dia tidak berniat jahat padanya, justru akan membantunya dalam mengatasi masalah yang tengah dihadapi.
Perlahan rasa takut yang ada dalam diri Gita menghilang. Karena sikap dokter Julian yang begitu ramah dan dapat meyakinkan Gita. Dokter tampan berusia tiga puluh tahun itu bersikap layaknya seorang teman pada Gita. dan sedikit demi sedikit Gita bisa menerimanya.
Tidak lama dokter Julian melakukan terapi pada Gita di hari pertama ini. dia hanya mengajak Gita berbicara santai agar membuatnya rileks terlebih dahulu. Sehingga besok dan hari selanjutnya dokter Julian bisa memulai terapinya.
“Terima kasih banyak, Dok untuk hari ini.” ucap Jenny saat mengantar dokter Julian ke depan.
__ADS_1
“Sama-sama Nyonya. Ini adalah awal yang bagus, karena Nona Gita bisa dengan cepat beradaptasi dengan orang yang baru dikenalnya.” Jawab dokter Julian.
Setelah itu dokter Julian berpamitan pulang.
Jenny kembali masuk ke dalam menuju kamar Gita. saat ini Gita sedang duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah jendela kamarnya. Entah apa yang sedang dipikirkan Gita setelah melakukan terapi di hari pertamanya.
“Sayang, apa yang kamu rasakan setelah bertemu dengan dokter Julian?” tanya Jenny.
“Dokter Julian orangnya baik, Ma. Walau awalnya Gita tadi masih merasa gugup dan tidak percaya diri.” Jawab Gita.
“Sayang, kamu harus bisa melawan rasa takut kamu dan mengembalikan rasa percaya diri kamu juga. ingat, semua itu demi Axel. Karena semua itu tergantung dari diri kamu sendiri. Semakin cepat kamu sembuh, maka semakin cepat kamu bisa bertemu dengan Axel.” Ucap Jeny memberi semangat pada Gita.
Gita pun mengangguk. Lalu dia kembali teringat dengan Axel. Bagaimana kabarnya saat ini. ingin sekali menghubunginya, namun dia belum bisa di saat kondisinya juga belum stabil. Takutnya akan membuat khawatir Axel.
Sedangkan Jenny juga ikut memikirkan tentang rumah tangga anaknya. dia akan membuat Gita cepat sembuh lalu akan membawanya pergi untuk menemui Axel ke luar negeri. dia tidak mau terjadi hal buruk pada anak dan menantunya seperti yang dulu pernah ia alami.
***
Memang itu bukan haknya untuk ikut campur. Namun sebagai orang tua, baik Felix maupun Nia tidak mau anaknya terus menderita karena mencintai wanita yang tidak pernah mencintainya.
Pernah suatu hari Nia mencoba bicara dengan Axel agar mengakhiri hubungannya dengan Gita. dengan memberikan pengaruh bahwa Gita memang tidak peduli lagi dengan keadaannya. Namun Axel menolaknya. Bahkan dia sangat marah dengan Mamanya. Kemudian tiba-tiba saja Axel memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Nia pun sangat panik melihatnya.
“Jangan sekali-kali Mama memintaku untuk bercerai dengan Gita. sampai kapanpun Axel akan tetap mencintainya.” Ucap Axel sambil memegangi kepalanya.
“Tapi, Sayang. Mama nggak mau kamu mencintainya sendirian seperti ini.” jawab Nia.
“Cukup, Ma! Gita bukannya tidak mencintai Axel. Dia memang belum bisa membalasnya karena Gita sedang mengalami-“
__ADS_1
Brukk
Belum sempat Axel melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja dia sudah terjatuh pingsan. Dan mulai saat itu Nia tidak berani lagi membahas Gita, yang akan semakin membuat Axel sakit.
Sekarang Axel sedang duduk din kursi kerjanya. Dia mulai ikut membantu Papanya di kantor sejak tiga hari yang lalu. Setidaknya dengan mencari kesibukan, dia bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri, karena ada seseorang yang ingin segera dia temui.
“Gita, bersabarlah! Tunggu aku kembali. Maafkan aku belum bisa menemui kamu saat ini. aku juga berusaha untuk sembuh dulu, setelah itu kita akan melanjutkan rumah tangga kita.” Gumam Axel dalam hati. Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya.
Sedangakn Felix yang saat ini berada dalam ruangannya juga sedang tampak serius dengan pekerjaannya. Namun dia selalu memikirkan tentang Axel. Dia sebenarnya tidak terima dengan istrinya yang meminta Axel menceraikan Gita. mungkin nanti jika keadaan Axel sudah benar-benar sembuh dan konddisi perusahaan sudah kembali normal. Secepatnya dia akan mengajak keluarganya kembali ke Indonesia dan menemui keluarga Gita. bagaimanapun juga Iqbal adalah sahabatnya. Dia tidak ingin memutus tali persahabatan itu hanya karena masalah anak-anaknya.
***
Waktu pun berlalu begitu cepat. Pengadilan sudah memberi putusan hukuman pada Marvin, Malik, dan Marco. Mereka bertiga dijatuhi hukuman seumur hidup dan dengan denda yang masing-masing berbeda. Semua asset milik Marvin pun disita karena terbukti hasil kecurangannya selama ini. begitu juga dengan Malik. Namun tidak semua asetnya disita, keculi aset yang terbukti dari jerih payahnya sendiri sebelum masuk dalam dunia gelap itu.
Dan setelah putusan pengadilan saat itu, Malik meminta waktu untuk bertemu dengan Dimas. Awalnya Dimas menolak, karena merasa tidak ada hubungan lagi dengan pria yang pernah menambaknya. Bahkan Dimas sudah mencoba memaafkan pria itu, karena hukum sudah cukup membuatnya jera.
Saat Dimas sudah berada dalam ruangan yang hanya ada dirinya dan Malik. Tiba-tiba saja Dimas terkejut saat melihat pria itu berlutut dihadapannya sambil menangis dan menggumamkan kata maaf.
Dimas segera meminta meminta pria itu berdiri. Namun alangkah terkejutnya saat Malik mengatakan kalau dia adalah ayah kandungnya.
Hingga sampai saat ini Dimas masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dia adalaah anak dari seorang mafia. Bahkan pria itulah yang tega menembaknya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️