
Setelah menyuruh anak buahnya untuk mengatasi perusahaan Tuan Marvin atau Papa dari Danisa, Billal memutuskan untuk ke rumah sakit menjenguk Jenny.
Sesampainya di rumah sakit, Billal melihat Iqbal sedang duduk di kursi tunggu depan ruang operasi. Operasi sudah berjalan satu jam dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda selesai juga. Iqbal tampak menundukkan kepalanya sambil mendoakan istrinya yang sedang berjuang dalam ruang operasi.
“Bagaimana? Apa belum selesai juga operasinya?” tanya Billal.
“Belum.” Jawab Billal singkat.
“Semoga semuanya baik-baik saja. Kamu tidak perlu memikirkan tentang wanita yang bernama Danisa, aku sudah mengatasi semuanya.” Ucap Billal.
“Terima kasih Om. Sekali lagi maafkan aku sudah salah paham tentang hal ini sebelumnya.” Ucap Iqbal tulus.
Billal mengangguk sambil tersenyum tipis, karena baru kali ini dia mendengar Iqbal memanggilnya dengan sebutan “Om”. Padahal sebelumnya pria yang berstatus sebagai suami dari keponakannya itu selalu bersikap dingin terhadapnya. Mungkin karena masa lalu itu.
Tak lama kemudian operasi Jenny selesai. dokter dan beberapa perawat baru saja keluar dari ruang operasi. Iqbal diminta dokter untuk masuk ke ruang kerjanya, sementarai Jenny akan dipindahkan ke ruang rawat inap.
“Aku titip istriku!” ucap Iqbal pada Billal.
“Kamu tenang saja. Aku akan menjaganya.” Jawab Billal.
Setelah itu Iqbal melangkahkan kakinya menuju ruang kerja dokter. dia segera memasuki ruangan itu setelah dipersilakan masuk.
“Silakan duduk, Tuan Iqbal. Saya akan menjelaskan beberapa hal mengenai kondisi istri anda pasca operasi.” Ucap dokter.
“Baik, Dok.” Jawab Iqbal lalu duduk di kursi berhadapan dengan dokter.
“Operasi Nyonya Jenny sukses. Kami sudah mengangkat kista yang ada dalam Rahim istri anda. Sekarang keadaan Nyonya Jenny masih dalam pengaruh obat bius dan dalam masa pemulihan. Mungkin Nyonya Jenny akan menjalani perawatan inap di rumah sakit kurang lebih selama 5 hari. Itu pun tergantung dari kondisi pasien. Dan setelah pulang dari rumah sakit, saya minta agar istri anda untuk istirahat total setidaknya selama satu sampai dua minggu. Jangan melakukan pekerjaan apapun dulu.” Dokter itu menjelaskan paanjang lebar.
“Baik, Dok. Terima kasih banyak.” Jawab Iqbal lalu dipersilakan untuk melihat keadaan istrinya.
Iqbal kini sudah merasa lega akhirnya penyakit istrinya sudah diangkat. Setelah ini dia berjanji akan sangat protektif terhadap kesehatan istrinya. Ada rasa menyesal saat dulu ia sering mengabaikan keluhan istrinya saat selalu merasa nyeri pada perutnya ketika kedatangan tamu bulanannya. Dan setelah kejadian ini, Iqbal akan terus memperhatikan kesehatan istrinya.
Iqbal masuk ke ruang rawat istrinya. Disana ada Billal yang sedang duduk di sofa. Sedangkan Jenny masih setia menutup matanya.
“Bagaimana hasil operasinya? Apakah ada yang serius?” tanya Billal.
“Tidak. Operasinya berjalan lancar dan kistanya sudah berhasil diangkat. Sekarang Jenny hanya membutuhkan istirahat total saja selama masa pemulihan.” Jawab Iqbal.
__ADS_1
“Syukurlah kalau begitu. Apa Kay dan Vito sudah kamu beritahu?” tanya Billal.
“Tidak. Istriku melarangnya. Dia nggak mau membuat Mama dan Papa khawatir.” Jawab Iqbal.
Billal pun menggangguk paham. Setelah itu dia mengajak Iqbal duduk di sofa bersamanya. Billal akan membahas masalah Danisa. Billal meminta Iqbal agar memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan Tuan Marvin. Awalnya Iqbal menolak, namun setelah memberitahukan semuanya, terlebih saat ini nilai saham di perusahaan Tuan Marvin anjlok.
“Kenapa harus melibatkan perusahaan Papanya? Apa tidak cukup membuat jera Danisa saja?” tanya Iqbal.
“Tidak. Ternyata selama ini Tuan Marvin melakukan beberapa kecurangan yang tidak disadari oleh beberapa rekan kerjanya. Namun di perusahaan yang kamu pimpin dia tidak melakukan kecurangan karena itu salah satu caranya untuk mendekatkan kamu dengan Danisa. Dan untuk Danisa sendiri besok akan ada kabar mengejutkan yang sangat menggemparkan.” Billal menjelaskan.
Iqbal mengangguk paham. Setelah itu dia menghubungi Galang untuk melakukan tugasnya sesuai dengan saran yang diberikan oleh Billal baru saja.
Sementara itu Jenny kini perlahan mengerjapkan matanya. Iqbal yang lebih dulu menyadari ada pergerakan dari tangan istrinya, langsung melangkah mendekati Jenny.
“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Iqbal.
Jenny masih tampak diam. Dia masih mengumpulkan ingatannya sedang berada dimana saat ini. yang dia ingat tadi masuk ruang operasi.
“Sayang. Ada yang kamu keluhkan? Atau membutuhkan sesuatu?” tanya Iqbal kembali saat melihat istrinya masih terdiam.
Setelah itu qbal mengambilkan air putih untuk istrinya dan membantunya untuk minum. Lalu Jenny kemabli tidur karena mulai terasa nyeri pada area perutnya. Mungkin efek obat biusnya sudah mulai berkurang.
“Apa ada yang sakit?” tanya Iqbal.
“Sedikit nyeri bagian luar saja Mas. Aku nggak apa-apa.” Jawab Jenny.
Billal pun kini menghampiri Jenny. Dia juga sama khawatirnya dengan Iqbal, dengan menanyakan keluhan yang dirasakannya saat ini.
“Terima kasih banyak, Om. Jenny titip Gita ya, Om?” pinta Jenny.
“Kamu tenang saja. Jangan memikirkan Gita dulu. Fokuslah untuk pemulihan kesehatan kamu.” Ucap Billal.
Jenny mengangguk. Dan tak lama kemudian Billal pamit karena masih ada pekerjaan di kantornya yang sedang membutuhkan dirinya.
***
Sementara itu, hari ini tampak seorang pengusaha paruh baya sedang kacau setelah mendengar kabar dari asistennya kalau nilai saham perusahaannya anjlok. Tidak hanya itu, beberapa investor memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaannya hari ini juga setelah mendengar kabar itu.
__ADS_1
“Kumpulkan semua beberapa staff penting untuk meeting setengah jam lagi.” Perintah Tuan Marvin.
“Baik, Tuan. Tapi Tuan ada hal lain yang ingin saya sampaikan bahwa baru saja perusahaan Nona Farah yang dipimpin oleh Tuan Iqbal juga memutuskan kerjasamanya.” Ucap asisten Tuan Marvin.
Tuan Marvin sangat terkejut mendengarnya. Terlebih dia sama sekali belum berhasil mengelabuhi perusahaan itu tapi kini dia sudah ditendang. Tuan Marvin memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. Dia teringat ucapan istrinya semalam yang menceritakan tentang Danisa. Dimana putri tunggalnya itu mengatakan pada teman-teman Mamanya tentang keburukan istri Iqbal.
“Apa semua ini gara-gara Danisa?” tanya batin Tuan Marvin dengan geram.
“Baiklah. Kamu boleh keluar dan tunggu tiga puluh menit lagi saya akan memimpin meeting penting ini.” ucap Tuan Marvin.
Setelah asistennya keluar, Tuan Marvin langsung menghubungi Danisa agar datang ke ruangannya. Dan tak lama kemudian Danisa datang.
“Ada apa sih, Pa?” tanya Danisa yang seolah tidak mau tahu tentang masalah perusahaan.
“Di saat genting seperti ini kamu masih terlihat sangat santai? Coba kamu pikir dulu Nis, sebelum bertindak.” Ucap Tuan Marvin geram.
“Memangnya kenapa, Pa? aku nggak ngerti maksud Papa?” tanya Danisa pura-pura.
Plakkkk
Tuan Marvin menampar Danisa dengan cukup keras hingga membuat pipi perempuan 27 tahun itu tampak memerah.
“Kenapa Papa menamparku?” tanya Danisa marah.
“Kenapa? Kamu tanya kenapa? Ini semua akibat ulah kamu sendiri. Kamu yang sudah merendahkan harga diri istri Iqbal di depan umum, dan kini perusahaan Papa yang kena imbasnya. Sudah Papa katakan berulang kali, jangan gegabah Danisa!!!” ucap Tuan Marvin penuh amarah.
.
.
.
*TBC
Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan votenya🙏🙏
Happy Reading‼️
__ADS_1