Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 140


__ADS_3

Beberapa anak buah Malik yang beberapa waktu lalu dinon aktifkan karena wajahnya terekam kamera cctv ternyata tidak hanya sekadar diam di markas, melainkan menjalani hukuman yang pantas diterima karena dianggap telah teledor dalam pekerjaannya. Dan salah satu diantaranya ada yang sudah tidak sanggup lagi menjalani hukuman itu, akhirnya mencoba melarikan diri dari markas. Dia masih mempunyai anak dan istri yang masih perlu biaya hidup, jika dirinya masih berada di dalam markas Malik dan menjalani hukuman yang entah sampai kapan, anak istrinya akan mati kelaparan. Dan dia berhasil kabur.


Pria itu kabur dan ingin kembali ke rumahnya untuk bertemu anak istrinya. Namun dia tidak memiliki apa-apa. Lalu dia mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang. Dan pada saat itu, dia melihat sebuah mobil yang terparkir di depan sebuah café. Dan mobil itu dalam keadaan kaca jendelanya terbuka. Mungkin si pemilik mobil lupa atau memang hanya meninggalkan mobilnya sebentar. Pria itu pun mendekati mobil dan melihat di jog depan ternyata ada sebuah laptop dan ponsel yang tergeletak disana. Tanpa pikir panjang, pria itu pun segera mengambilnya.


“Maling!!!!” teriak seorang laki-laki yang diduga pemilik mobil.


Pria itu terkejut dan segera kabur dengan membawa sebuah laptop yang sudah ia bawa.


Bugh


Laki-laki si pemilik mobil segera menendang pria itu dan laptop yang dibawa pun terjatuh. Dan perkelahian tidak bisa dihindarkan lagi. Kedua laki-laki itu saling serang. Ternyata pria yang mencuri laptop itu cukup pandai berkelahi, walau tidak sebanding dengan laki-laki si pemilik mobil. Akhirnya, pria itu terdesak dan menggoreskan pisau tepat mengenai tangan kanannya. Kemudian pria itu segera berlari.


“Niel, cepat tangkap dia! Aku akan menghubungi polisi.” Teriak Chandra saat baru saja melihat Daniel keluar dari café.


Daniel juga tidak bekerja sendiri untuk menangkap pencuri itu. Dia dibantu oleh satpam café yang baru saja mengetahui kejadian itu. Beberapa saat kemudian polisi datang untuk mengamankan pencuri itu. Sedangkan Daniel segera membawa Chandra ke rumah sakit, karena luka di tangannya akibat goresan pisau tadi cukup dalam dan perlu dijahit.


“Kenapa bisa seperti ini?” tanya Iqbal saat sudah mendatangi Daniel dan Chandra yang sedang berada di rumah sakit.


“Aku juga belum tahu pasti kejadiannya, Pa. Chandra masih diperiksa dan lukanya juga perlu dijahit.” Jawab Daniel.


“Ya sudah kita tunggu saja setelah dokter selesai memeriksanya.” Ucap Iqbal kemudian.


Tak lama kemudian dokter dan perawat keluar dari ruangan IGD dimana Chandra sedang menjalani perawatan. Dokter mengatakan kalau luka di tangan Chandra sudah dijahit dan tidak perlu dirawat inap.


“Bagaimana keadaan kamu?” tanya Iqbal.


“Sudah lebih baik, Uncle. Mungkin hanya butuh istirahat beberapa hari saja sudah sembuh.” Jawab Chandra.


Setelah menyelesaikan administrasi dan menebus obat, akhirnya Chandra diperbolehkan pulang. namun tiba-tiba ada seorang polisi datang ingin meminta keterangan pada Chandra. Akhirnya Chandra harus ikut ke kantor polisi dengan ditemani oleh Iqbal dan Daniel.


***


Semenjak perdebatan antara Axel dan Gita saat itu, Gita kini berubah menjadi lebih dingin pada Axel. Meskipun Axel masih selalu mengantar dan menjemputnya, tapi Gita tidak merubah sikapnya. Tidak hanya pada Axel saja tapi denag beberapa rekan kerjanya yang laki-laki. Gita memilih menghindar daripada harus terlibat pembicaraan ataupun kontak fisik. Bagitu juga pada Dimas. Gita hanya menyapa seperlunya saja jika bertemu di kantor.

__ADS_1


Entah kenapa Gita semakin minder dan seperti kehilangan rasa percaya dirinya. Dia masih teringat dengan ucapan Axel kala itu, “andai aku tidak menolong kamu, apa yang akan dilakukan oleh pria jahat itu”. Kalimat Axel itu seolah tertancap dalam pada otak Gita dan dirinya yang menjadi korba justru semakin tersudut.


Weekend ini Gita memilih untuk tetap berada di apartemen saja. Bahkan dia tidak keluar kamar sama sekali. Dan hal itu semakin membuat Axel frustasi. Dia bingung bagaimana cara mengajak Gita berbicara baik-baik dan meminta maaf.


Ting tong


Axel terkejut tiba-tiba terdengar suara bel. Bagaimana jika yang datang adalah salah satu anggota keluarganya. Dan Gita juga sedang mengurung diri di kamarnya. Perlahan Axel mengintip dari celah pintu itu untuk melihat siapa tamu yang datang. Dan ternyata itu adalah salah satu sahabat Gita.


“Permisi! Gita ada?” tanya Inez sopan.


“Ada. Maaf kamu tahu dari mana kalau Gita tinggal di apartemen ini?” tanya Axel sebelum mempersilakan Inez masuk.


“Oh, itu tadi Gita sendiri yang mengirim lokasinya.” Jawab Inez.


Akhirnya Axel mempersilakan Inez masuk dan menunjukkan kamar Gita, karena Gita juga tak kunjung keluar dari kamarnya. Inez awalnya terkejut saat Axel mempersilakannya masuk ke kamar Gita. Bukankah itu privasi. Mungkin nanti akan dia tanyakan langsung pada Gita.


“Gita!!!” ucap Inez lirih saat melihat kondisi Gita yang sangat jauh berbeda dari terakhir dia bertemu dulu.


“Gita? Kenapa kamu jadi seperti ini?” tanya Inez.


Semenjak pernikahan Gita dengan Axel, Inez sudah jarang sekali berbalas pesan dengan Gita. Selain tidak ingin mengganggu kebahagiaan sahabatnya, Inez juga sibuk dengan pekerjaan barunya.


Gita masih terdiam. Hanya tatapan kosong yang dilihat oleh Inez. Dan itu semakin membuatnya miris.


“Apa Axel jahat padamu selama ini?” tanya Inez dan Gita menggelengkan kepala.


“Katakan Gita! Ceritakan semuanya padaku. apa yang sudah terjadi denganmu saat ini?” Inez kembali bertanya.


Bukannya menjawab, Gita justru menjambak rambutnya dengan kuat dengan air mata yang mengalir begitu deras. Inez seketika memeluk Gita dengan erat.


“Aku murahan! Aku hina! Aku jijik dengan diriku sendiri! aku malu, Nez!!” racau Gita di sela-sela isakannya.


Inez mengurai pelukannya dan segera berdiri. Dia ingin memberitahu Axel tentang keadaan Gita saat ini.

__ADS_1


“Jangan!! Jangan temui dia! Aku sangat membencinya.” Teriak Gita mencegah Inez keluar.


“Ok baiklah. Sekarang kamu minum dulu. Setelah itu ceritakan semuanya padaku.” jawab Inez dan Gita mengangguk.


Inez sebenarnya tidak kuat melihat keadaan sahabatnya seperti ini. tapi dia juga bingung harus berbuat apa.


Setelah minum segelas air putih yang baru saja diberikan oleh Inez, kini keadaan Gita sudah lebih baik. Bahkan Inez sendiri tampak bingung dengan sikap Gita yang berubah secepat itu setelah emosinya sempat meluap beberapa detik.


“Aku rindu berkumpul dengan kamu dan Fathia, Nez. Kapan kita bisa jalan lagi seperti dulu.” Ucap Gita.


“Aku dan Fathia juga merindukan masa-masa itu. Tapi aku nggak enak, kan kamu sekarang sudah mempunyai suami.” Jawab Inez.


“Stop, Nez!! Jangan mengatakan hal itu lagi. Aku benci kamu menyebut kata suami.” Emosi Gita kembali meluap.


“Iya, maafkan aku.” ucap Inez dengan nada khawatir.


...***Sekilas info***...


Avoidant Personality Disorder (AVPD) merupakan sebuah pola perilaku yang bertahan lama terkait dengan hambatan sosial, rasa ketidakmampuan, dan sensitivitas terhadap penolakan.


Penderita AVPD kerap merasa tidak berharga atau rendah diri, memiiki rasa malu yang berlebihan, merasa sangat takut berbuat salah dan mendapatkan penolakan. Pada akhirnya, kondisi ini dapat menghambat kehidupan dan pekerjaan orang-orang yang mengalaminya. Rasa malu dan takut salah dapat membuat penderita AVPD menghindari berbagai situasi penting, termasuk enggan berada di dalam situasi sosial atau berada di lingkungan kerja. Kondisi ini bisa berdampak pada relasi mereka dengan orang lain. Penderita AVPD hanya akan berinteraksi dengan orang-orang yang dianggap tidak akan memberikan penolakan.


Penyebab timbulnya gangguan kepribadian tersebut bisa jadi karena pernah mengalami suatu kejadian yang sangat sensitif hingga membuat penderita malu secara berlebihan dan dibayangi rasa bersalah. selain itu bisa juga akibat trauma masa lalu yang tidak pernah mendapatkan penanganan ataupun tidak ada kepedulian dari lingkungan sekitar.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2