
Setelah pulang dari nonton baik Iqbal maupun Jenny sama-sama tertidur lelap di kamar masing-masing. Hingga saat malam hari mereka berdua terbangun karena merasa cacing dalam perutnya sedang berdemo meminta jatah makan.
Iqbal mengerjapkan matanya melihat jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. dia ingat kalau tadi pulang dari bioskop sekitar pukul 3 sore. Setelah itu dia tidur hingga sampai saat ini. apakah efek dari insiden menempelnya bibir Jenny dengan bibirnya membawa efek yang membuat tidur nyenyak. Entahlah Iqbal juga tidak tahu.
Setelah membersihkan tubuhnya, laki-laki itu keluar kamar hendak mengisi perutnya yang lapar. Namun tanpa dia sadari ternyata Jenny juga beru keluar dari kamarnya. Mereka berdua masih tampak canggung setelah kejadian tadi, khususnya Jenny. Namun Iqbal pandai membawa diri dan mencoba untuk bersikap biasa saja agar Jenny tidak menghindarinya.
“Kamu juga baru bangun, Jen?” tanya Iqbal.
“I iiya Kak.” Jawab Jenny menunduk.
“Aku mau beli nasi goreng di luar, apa kamu mau ikut?” ajak Iqbal.
“Boleh Kak.” Jawab Jenny sambil menganggukkan kepalanya.
Memang tidak ada lagi pilihan selain menyetujui ajakan Iqbal. Mau masak pun dia juga belum bisa dan bahan makanan yang ada pun terbatas, hanya mie instan saja.
Setelah itu Iqbal masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket. Sedangkan Jenny menunggunya di depan. Perempuan itu masih terlihat malu dan canggung tapi melihat Iqbal yang sudah bisa bersikap biasa akhirnya dia juga demikian.
Setelah Iqbal memakai jaketnya, dia langsung mengendarai motornya membonceng Jenny untuk membeli nasi goreng yang di jual di pinggiran jalan. Sebenarnya sudah lama sekali Iqbal tidak pernah makan nasi goreng di pinggiran jalan seperti sekarang ini. terakhir dia melakukannya dulu saat masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Bahkan hampir tiap makam dirinya selalu membeli makanan yang dijual di pinggir jalan seperti ini.
“Apa kamu nggak keberatan aku ajak makan di pinggir jalan seperti ini?” tanya Iqbal saat motornya baru saja berhenti di samping stand penjual nasi goreng.
“Nggak apa-apa Kak.” Jawab Jenny.
“Kamu nggak usah khawatir masalah kebersihannya. Meski tempatnya di pinggir jalan tapi disini sangat menjaga kebersihan dan higienis.” Ucap Iqbal meyakinkan dan Jenny mengangguk.
Akhirnya mereka berdua memesan dua porsi nasi goreng lalu duduk di tempat lesehan yang disediakan di sebelah gerobak penjualnya. Disana juga banyak pembeli yang makan di tempat. Jadi suasananya terlihat sedikit ramai. Apalagi sekarang malam minggu.
Beberapa saat kemudian Iqbal dan Jenny langsung menikmati nasi goreng yang baru saja selesai dimasak. Harum aroma nasi goreng itu seketika membuat Jenny menelan ludahnya karena sudah tidak sabar untuk menyantapnya.
Dan benar saja rasa nasi goreng itu sesuai dengan baunya yang begitu sedap. Bahkan rasanya hampir sama dengan yang pernah dimasak Iqbal. Jenny menyantap nasi goreng itu seperti orang yang belum makan dua hari. Mungkin karena rasanya yang membuat dia seperti itu.
__ADS_1
Iqbal yang melihatnya pun menyunggingkan senyumnya. Dia tahu siapa Jenny dan berasal dari kalangan mana. Harusnya dia tidak mengajaknya makan di tempat seperti ini. tapi mau bagaimana lagi, dirinya sejak dulu sudah dididik untuk hidup sederhana.
“Apakah rasanya enak?” tanya Iqbal.
“Enak banget, Kak. Rasanya tidak kalah sama yang ada di restaurant.” Jawab Jenny.
“Apa kamu nggak keberatan jika aku ajak makan di tempat seperti ini?” tanya Iqbal tidak enak.
“Nggak apa-apa Kak. Tenang saja. Meski ini pengalaman pertamaku, tapi aku sangat senang.” Jawab Jenny antusias.
Selesai makan nasi goreng, Iqbal lantas membayarnya lalu mengajak Jenny pulang. Awalnya dia menawari gadis itu barangkali ingin jalan-jalan terlebih dulu, namun Jenny menolaknya dengan alasan ingin istirahat. Dan Iqbal pun menurutinya.
Keesokan paginya di hari minggu, Iqbal seperti biasa akan jogging keliling area kompleks. Jenny yang baru saja bangun memilih untuk di rumah saja dan membersihkan rumah.
Semenjak Jenny menolak perintah Iqbal agar tidak melakukan pekerjaan rumah, Iqbal juga sudah tidak lagi melarangnya. Iqbal sudah membebaskan Jenny untuk melakukan apapun yang dia suka. Iqbal ingin membuat Jenny nyaman.
Hari ini adalah hari terakhir semua orang menikmati liburan akhir pekan sebelum besok kembali memulai aktivitasnya. Dan seperti yang sudah direncanakan oleh Iqbal dan Jenny bahwa mereka akan belanja kebutuhan bahan makanan, hari ini Iqbal pun mengajak Jenny pergi ke supermarket. Sebenarnya rencana belanja mereka itu kemarin, hanya saja kemarin Jenny harus interview setelah itu nonton. Jadi mereka melupakan niat berbelanjanya.
Hari senin ini adalah hari pertama Jenny bekerja. Sesuai janjinya, Iqbal akan mengantar Jenny ke butik terlebih dulu sebelum berangkat ke kantor. karena memang arah jalannya juga searah.
Jenny sudah menceritakan pada Xavier kalau dirinya sudah diterima bekerja di sebuah butik. Jenny sudah meminta maaf pada Xavier karena sempat mengacuhkannya kemarin dengan alasan menyiapkan diri untuk bekerja di tempat barunya. Dan Xavier pun memakluminya.
“Selamat bekerja ya, Nona Jenny! Semoga betah bekerja disini.” Ucap Bu Shahnaz ramah.
“Baik, Bu. Saya janji akan bekerja dengan sangat baik.” Jawab Jenny sambil tersenyum.
Setelah itu Bu Shahnaz keluar meninggalkan ruang kerja Jenny, lalu masuk ke dalam ruang kerjanya sendiri. Disana sudah ada keponakannya yang sudah menunggu.
“Bagaimana Tan, apa dia bisa bekerja dengan baik?” tanya Galang.
“Baru saja Jenny mulai bekerja. Tapi menurut Tante dia akan bekerja dengan baik. Melihat hasil designnya saja sudah sangat meyakinkan. Tapi sayang,-“ ucapnya terjeda.
__ADS_1
“Kenapa Tan?” tanya Galang penasaran.
“Laki-laki yang mengantarnya interview kemarin adalah suaminya. Tante kira kakaknya, padahal tante berencana akan menjodohkan dengan Kalila.” Ucap Bu Shahnaz pura-pura sedih.
“Ck, cewek bar-bar kayak Lila mau dijodohin sama Iqbal? Seandainya Iqbal masih single pun Galang berani bertaruh kalau Lila nggak akan mau. Kecuali Lila mau belajar pakai rok.” Jawab Galang mencemooh.
“Kamu tuh sama sepupunya sendiri malah seperti itu.” Ucap Bu Shahnaz tidak terima.
Memang kenyataannya seperti itu. Kalila, putri tunggal Bu Shahnaz sekaligus sepupu galang itu adalah perempuan tomboy. Bahkan mamanya membuka butik itu berniat agar kelak diteruskan oleh anaknya, namun Kalila lebih memilih bekerja di sebuah perusahaan yang ada di kota J. dan Bu Shahnaz tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau kemauan anaknya seperti itu.
“Lagi pula Tante juga jangan macam-macam deh dengan Jenny. Apa tante tahu kalau dia itu sebenarnya anak dari seorang pengusaha sukses sekaligus designer terkenal yaitu Nyonya Kayola.” Ucap Galang.
“Apa kamu bilang? Nyonya Kayola?” tanya Bu Shahnaz terkejut dan Galang mengangguk.
“Kayola yang dulu pernah memiliki butik terkenal di kota ini kemudian pindah ke kota J karena mengikuti jejak suaminya?” tanya Bu Shahnaz.
“Sepertinya seperti itu. Apa tante kenal?”
“Bukan kenal lagi. Tante dulu sangat dekat dengannya sewaktu masih sekolah designer. Dan dia memang designer yang sangat pandai.” Ucap Bu Shahnaz memuji.
“Syukurlah kalau begitu Tan, jadi Jenny memang benar-benar designer yang sangat bisa diandalkan.” Jawab Galang kemudian.
.
.
.
*TBC
Yuhuuuu jangan lupa beri like dan komentarnya yaaa, and Vote and gift and read and smile😁😁😁😘😘😘😘😘
__ADS_1
Happy Reading🤗😘