Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 84


__ADS_3

Malam ini Iqbal dan Jenny mengajak Gita tidur bersama dalam satu ranjang. Hal itu mereka lakukan untuk menebus rasa bersalahnya karena telah meninggalkan putri kesayangannya selama dua hari. Sedangkan Gita keadaannya sudah membaik kini dia tampak kegirangan bermain lompat-lompat di atas tempat tidur.


“Sayang, sudah jangan lompat-lompat terus!” ucap Jenny.


Bukannya berhenti, anak itu justru semakin melompat tinggi-tinggi sambil berpegangaan tangan dengan Papanya. Jenny pun akhirnya nyerah karena percuma saja menasehati Gita, tapi Papanya justru seolah membelanya.


“Mama.. ayo cini ma. Ompat cama Gita!” teriak Gita namun Jenny menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Kemudian Jenny memutuskan untuk keluar kamar sebentar karena ingin menemui Mama dan Papanya yang sudah menunggu di ruang tengah.


“Kemana cucu Mama?” tanya Kay.


“Di kamar, Ma. sedang bermain sama Papanya.” Jawab Jenny.


Tak lama kemudian Iqbal juga ikut turun dengan menggendong Gita di punggungnya. Gadis kecil itu teriak kegirangan berada di punggung Papanya. Setelah itu Iqbal menurunkannya dan duduk di sofa.


“Mama dan Papa besok sudah harus pulang ke kota J. kalian baik-baik, ya disini.” Ucap Kay.


“Mama dan Papa juga besok akan kembali ke luar negeri. Kasihan Arsha jika sendirian di sana.” Desy ikut menimpali.


Jenny mengangguk paham. Kedua orang tua dan mertuanya juga masih mempunyai urusan. Tidak mungkin jug ajika berlama-lama tinggal di sini. terlebih pada mertuanya. Karena kemarin Arsha memilih kembali terlebih dulu, dan besoknya baru Desy dan Bram yang menyusul.


“Iya, Ma nggak apa-apa. Nanti jika ada waktu luang, Jenny akan mengajak Gita main kesana. Ke kota J dan ke luar negeri. Jenny juga ingin tahu tempat tinggal Mas Iqbal dulu saat jauh dari Jenny dan Gita.” Ucap Jenny.


Setelah perbincangan singkat itu, Kay dan Vito memutuskan kembali ke rumah Jenny. Sedangkan Desy dan Bram masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Sekarang tinggallah Iqbal, Jenny, dan Gita. Gita masih asyik bermain walau waktu sudah malam dan saatnya tidur.


“Mas, bagaimana kalau ruang di sebelah kamar kita dipakai untuk kamar Gita saja?” tanya Jenny.


“Bukankah dulu mau kamu buat untuk ruang kerja kamu?” tanya Iqbal. karena selama ini Gita masih ikut tidur bersamanya semenjak Jenny sudah tinggal di rumahnya.


“Aku bisa pakai ruangan di lantai bawah saja. Lagi pula aku masih menggunakan ruang kerjaku yang ada di rumahku sendiri. Lagi pula Lidya juga kan yang akan menempatinya.” Jawab Jenny.


“Baiklah. Terserah kamu saja. Biar besok bibi dan suaminya yang mempersiapkan semuanya.” Ucap Iqbal kemudian.


Setelah itu Iqbal segera mengajak Gita masuk ke dalam kamar. gadis kecil itu sudah tampak mengantuk karena kelelahan bermain.


***


Keesokan paginya, Iqbal, Jenny dan Gita pergi ke bandara untuk mengantar para orang tua mereka pulang. setelah itu Iqbal mengantar istrinya pulang ke rumah, karena dia juga akan pergi ke kantor. walau sebenarnya waktu cutinya masih ada, namun Iqbal tetap pergi ke sana.

__ADS_1


“Hai, Bal! sudah masuk kamu? Bukankah kamu masih berbulan madu?” tanya Galang saat melihat kedatangan Iqbal.


“Iya. Aku hanya menghabiskan waktu berbulan maduku selama 2 hari saja karena Gita sedang sakit.” Jawab Iqbal.


“Duh kasihan sekali. Begini nih kalau bulan madu telat.” Ucap Galang meledek.


Iqbal tidak peduli. Dia segera masuk ke ruangannya. Galang pun mengikutinya, karena ada beberapa hal yang ingin dia bahas dengan Iqbal mengenai pekerjaan.


“Dimana Farah? Sejak tadi aku nggak lihat dia.” Tanya Iqbal.


“Hari ini dia nggak masuk. Badannya lemas dan mual-mual terus.”


“Apa dia sedang sakit? Kenapa kamu membiarkannya di rumah sendirian?”


“Dia sedang hamil muda.”


Iqbal yang sedang mengecek beberapa berkas sangat terkejut saat mendengar kabar bahagia tentang Farah. Iqbal menyalami Galanga dan memeluknya.


“Selamat ya, Lang. sebentar lagi kamu akan jadi Papa. Aku sangat senang mendengar kabar baik ini.”


“Thanks, Bal. aku harap istri kamu juga segera menyusul.”


***


Usia pernikahan Iqbal dan Jenny sudah dua bulan semenjak acara pesta pernikahan itu diadakan. Setiap hari Jenny masih mengerjakan pekerjaan butik dari rumah seperti biasa.


Sesekali dia juga datang ke butik jika memang sedang membutuhkan sesuatu. Terkadang Jenny juga menyempatkan waktunya untuk membawakan makan siang ke kantor suaminya, jika memang Iqbal sedang tidak ada meeting di luar.


Hari ini Jenny sedang sibuk membuat sketsa gaun di ruang tengah sambil menemani Gita bermain. Dan tak lama kemudian Lidya datang menghampirinya.


“Maaf Nyonya, boleh saya mengganggu waktunya sebentar?” tanya Lidya.


“Ya, Lid. Ada apa? Katakan saja tidak perlu sungkan.” Jawab Jenny.


“Ehm, sebelumnya saya minta maaf Nyonya. Apakah gaji saya bulan ini boleh saya ambil dulu?” tanya Lidya sambil menundukkan kepalanya.


“Boleh. Kalau kamu memang sangat membutuhkannya.”


“Terima kasih banyak, Nyonya. Sekalian saya mau minta ijin untuk pulang ke kampung 2 hari. Karena uang itu akan saya gunakan untuk mengobatkan ayah saya yang sedang sakit.”

__ADS_1


“Astaga, Lidya! Kenapa kamu nggak bilang kalau ayah kamu sedang sakit? Sudah kamu nggak perlu meminta gaji kamu bulan ini. saya akan kasih kamu, anggap saja bonus dari saya. Dan segeralah kamu pulang.”


“Terima kasih banyak Nyonya. Anda selalu baik sama saya. Saya nggak tahu bagaimana cara saya membalas budi baik anda.”


“Sudah, jangan dibahas. Lebih baik segeralah berkemas. Apa perlu kamu diantar Mang Udin pulang?”


“Tidak, Nyonya. Saya akan naik taksi saja untuk ke stasiunnya.”


Tidak lama kemudian Lidya berpamitan untuk mengemasi beberapa bajunya yang akan dia bawa pulang. sedangkian Jenny langsung mengambil ponselnya untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening Lidya.


Setelah Lidya mengemasi bajunya, dia kembali ke rumah majikannya untuk berpamitan. Taksi yang dipesan pun juga sudah menunggunya di depan.


Saat Lidya sudah keluar dari rumah Jenny, kebetulan Billal saat itu juga akan masuk rumah Jenny. Mereka berdua berpapasan. Lidya hanya mengangguk hormat dan segera pergi. Namun entah kenapa Billal merasakan ada yang berbeda dari Lidya saat berpapasan tadi. Lidya tidak menyapanya seperti biasa. Bahkan perempuan itu terkesan menghindari tatapan muka dengan dirinya.


“Dediiiii!” teriak Gita saat melihat Billal masuk ke ruang tengah.


Billal segera menggendong Gita dan menciuminya. Dia sangat merindukan gadis kecil itu, karena semenjak Gita sakit saat itu sampai sekarang Billal baru bisa menemui Gita.


“Kamu sedang sibuk, Jen?” tanyanya basa-basi.


“Ya seperti biasa sih Om. Bekerja sambil momong Gita.” Jawab Jenny.


“Biasanya Gita kan sama Lidya kalau kamu sedang sibuk seperti ini. kemana dia? Tadi tidak sengaja aku berpapasan dengannya di depan.”


“Oh, Lidya baru saja meminta ijin untuk pulang ke kampungnya. Ayahnya sedang sakit katanya.”


“Kamu tahu, dimana kampung Lidya tinggal?” tanya Billal penasaran.


“Di kampung Delima kota XX, Om. Kenapa memangnya?” tanya Jenny namun tidak mendapat jawaban dari Billal.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2