Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 145


__ADS_3

Penyelidikan yang dilakukan oleh Sean malam itu terpaksa harus dihentikan dulu. Sean berjanji akan mengusutnya lebih tuntas lagi. Setidaknya dia kini sudah mendapatkan informasi lagi tentang seseorang yang bernama Marvin.


Kecanggihan teknologi yang dimiliki oleh Sean ternyata tidak bisa mengungkap keberadaan Marvin saat ini. tapi sebelumnya dia meminta pada Iqbal dan juga Axel agar lebih berhati-hati terhadap orang baru yang mendekati mereka termasuk Gita.


Waktu sudah menunjukkkan pukul 10 malam. mereka semua segera pulang. begitu juga dengan Axel, dia akan menjemput Gita di rumah mertuanya.


“Kalian kok bisa datang bersama?” tanya Jenny penuh selidik.


“Oh itu, tadi kebetulan mobil Axel beriringan dengan mobil Papa, Ma.” Jawab Axel.


Jenny pun hanya mengangguk. Setelah itu mempersilakan Axel masuk ke kamar Gita, karena Gita sedang tidur. Dalam hati Axel ragu jikia harus menginap di rumah mertuanya. Karena dia juga tidak bisa berada dalam satu kamar dengan Gita. Yang nantinya akan membuat perempuan itu tidak nyaman.


“Sudah, masuk saja. Kayak pengantin baru saja yang malu-malu masuk kamar istrinya.” Ucap Jenny yang tiba-tiba sudah ada di belakang Axel.


“Iya, Ma.” Jawab Axel sambil menggaruk temgkuknya yang tidak gatal.


Cklek


Akhirnya Axel masuk juga ke kamar Gita. Disana terlihat Gita sedang nyenyak dalam tidurnya, hingga Axel tidak berani membangunkannya. Dan terpaksa malam ini dia menginap di rumah mertuanya.


Axel pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan muka terlebih dulu sebelum tidur di sofa. Namun suara gemericik air ternyata membangunkan Gita yang sedang tidur. Perempuan itu beringsut ketakutan saat menyadari kehadiran orang lain dalam kamarnya. Kemudian Gita melirik pintu kamarnya yang tertutup rapat. Dia ingin berteriak namun sadar dengan ruangan kamarnya yang kedap suara.


Gita melirik gelas di atas nakasnya. Dia mengambil gelas itu dan memegangnya kuat. Dia akan melemparkan gelas itu saat orang yang sedang dalam kamar mandinya akan berbuat jahat padanya.


Cklek


Pintu kamar mandi terbuka. Tangan Gita sudah terangkat ke atas dan siap melayangkan gelasnya.


“Jangan mendekat!!!” teriak Gita saat melihat seorang laki-laki berjalan dengan mengusap wajahnya menggunakan handuk kecil.


Axel terkejut dengan suara teriakan Gita. Lalu dia menghentikan kegiatan mengusap wajahnya. Lalu matanya menyorot tajam pada sang istri yang sudah siaga akan melemparkan gelas.

__ADS_1


“Tenang! Jangan takut, Aku Axel.” Ucap Axel pelan.


Meski suasana kamar temaram, namun Gita bisa mengenali suara Axel. Kemudian dia menurunkan tangannya yang sedang membawa gelas. Perlahan Axel berjalan mendekat tapi tidak sampai naik ke ranjang.


“Maafkan aku membuatmu ketakutan. Aku tadi melihatmu tidur sangat pulas, jadi aku tidak berani membangunkanmu.” Ucap Axel.


Tubuh gemetar Gita perlahan surut. Dia tidak menjawab ucapan Axel,tapi tangannya mengembalikan gelas ke atas nakas.


“Apa kita pulang ke apartemen saja? Aku tahu kamu pasti tidak nyaman berada dalam satu ruangan denganku.” Tanya Axel, dan Gita menggelengkan kepalanya.


“Ini sudah malam. nanti malah Mama marah kalau kita pulang malam-malam begini. Nggak apa-apa Kak Axel bisa tidur disini, biar aku yang tidur di sofa.” Jawab Gita.


“Jangan! Biar aku saja yang tidur di sofa. Sudahlah, lebih baik kamu segera tidur. Besok pagi kita harus segera kembali ke apartemen sebelum berangkat kerja.” Ucap Axel.


Keesokan paginya Axel dan Gita sudah bangun dan sudah bersiap untuk pulang ke apartemennya. Mengingat keduanya tidak membawa baju kerja. Namun ternyata Jenny melarang mereka untuk pulang dulu, dia mengajak anak dan istrinya sarapan bersama dulu. Lagi pula Axel dan Gita bekerja di perusahaan milik orang tuanya sendiri, jaadi tidak perlu terburu-buru.


Axel pun akhirnya mengiyakan ajakan Mama mertuanya untuk sarapan bersama. Disana juga sudah ada Sean dan Iqbal. sedangkan Daniel dan Chandra masih nyenyak di alam mimpinya.


“Mama senang bisa berkumpul seperti ini lagi.” Ucap Jenny di sela-sela kegiatan makan mereka.


“Nggak apa-apa, Sayang. Yang penting anak dan menantu Mama baik-baik saja.” Ucap Jenny lagi.


Jenny melihat kalau hubungan antara anak dan menantunya memang terlihat sudah baik-baik saja. Tidak seperti awal pernikahan dulu.


Selesai sarapan, Axel dan Gita berpamitan pulang. karena Axel juga pagi ada meeting bersama beberapa karyawan lain.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Axel pada Gita yang sejak tadi hanya diam saja.


“Iya, Kak. Aku baik-baik saja.” Jawabnya.


“Kalau ada apa-apa, entah kejadian apapun dan dimanapun dan sedang tidak bersamaku, kamu jangan ragu-ragu untuk menghubungiku, ya?” Axel berucap dengan nada cemas.

__ADS_1


“Memangnya ada apa, Kak?” Gita justru semakin curiga seolah akan terjadi sesuatu.


“Nggak ada apa-apa. Aku hanya takut ada kejadian seperti saat di pesta dulu.” jawab Axel.


“Iya.”


***


Sementara itu, hari ini Andreas sedang berada di panti asuhan dimana cucunya dititipkan. Sudah lama sekali dia tidak menjenguk cucunya. Hal itu dikarenakan dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Pekerjaan yang sudah ia rencanakan untuk mewujudkan misi balas dendamnya pada keluarga Iqbal.


Beberapa waktu terakhir ini dia sangat senang karena usahanya masuk ke perusahaan Iqbal berhasil, tanpa ada yang mencurigainya. Bahkan dia juga sudah membuat perusahaan itu mengalami kenaikan nilai sahamnya. Andreas juga sudah merencanakan penculikan Gita dengan usahanya sendiri. Nanti selanjutnya akan dibantu oleh Malik.


“Dimana Cantika sekarang, Bu? Sejak tadi saya belum melihatnya.” Tanya Andreas pada Bu Tiara.


“Oh, dia sedang bersama pengasuhnya di kelas kerajinan, Tuan.” Jawab Bu Tiara.


Setelah itu Andreas diantar oleh Bu Tiara untuk menemui cucunya yang sedang ikut kelas kerajinan. Andreas melihat beberapa anak seusia Cantika dan sama-sama mengalami keterbelakangan mental tampak sedang membuat kerajinan tangan yang diajarkan oleh seorang guru.


Dari balik jendela Andreas melihat Cantika tampak serius mendengar dan mempraktikkan apa yang sedang gurunya sampaikan. Tiba-tiba pelupuk matanya sudah dipenuhi air mata saat melihat kekurangan yang dimiliki cucunya. Dia masih saja keras kepala kalau semua peenyebabnya adalah Iqbal. andai saja Iqbal mau menerima Danisa, pasti tidak akan ada kejadian seperti ini. hingga menyebabkan Danisa gila. Andreas memang bodoh. Hatinya sudah tertutup oleh dendam. Dia bahkan tidak mengingat tentang perilaku Danisa yang sering merusak rumah tangga orang.


“Sebentar lagi Papa akan membalaskan semua sakit yang pernaah kamu rasakan, Sayang. Anak Iqbal juga harus merasakan apa yang dirasakan Cantika saat ini.” gumam Andreas.


Setelah itu Andreas mengetuk pintu kelas Cantika. Dia berniat mengajak Cantika keluar dan mengajaknya bicara sambil bersantai di taman panti. Namun tiba-tiba saja saat Andreas memasuki kelas Cantika, gadis itu berteriak histeris saat melihat Andreas. Bahkan dia segera bersembunyi di balik tubuh gurunya seolah menolak bertemu dengan kakeknya.


“Pergi! Pergi! Orang jahat! Orang jahat!” teriak Cantika ketakutan.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2