Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 146


__ADS_3

Andreas sangat terkejut melihat reaksi Cantika yang seperti itu. Bahkan gadis itu menolak bertemu dengannya dengan sembunyi di balik tubuh gurunya. Dan juga kata-kata yang diucapkan oleh Cantika seolah gadis itu telah diracuni seseorang. Akhirnya dengan berat hati Andreas memilih pergi dari kelas itu, dan menemui Bu Tiara.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Bu Tiara.


“Apa yang anda lakukan pada Cantika? Kalimat apa yang telah anda katakan pada Cantika hingga dia menyebut saya sebagai orang jahat dan menyuruh saya pergi. Bahkan dia sangat ketakutan saat melihat saya. Tidak biasanya dia bersikap seperti ini.” Tanya Andreas menggebu-gebu.


Bu Tiara pun tidak menyangka. Dia juga tidak tahu menahu tentang perubahan Cantika yang seperti itu. Selama ini juga Cantika baik-baik saja. Dan sangat penurut dengan pengasuhnya. Tidak ada kalimat buruk yang diajarkan pada gadis itu.


“Maaf, Tuan. Saya juga tidak tahu. Justru saya sangat terkejut setelah mendengar penuturan dari anda.” Jawab Bu Tiara.


“Ini pasti ada yang tidak beres. Pasti ada seseorang yang meracuni otak Cantika. Sudahlah, saya akan pergi. Kalau masih belum ada perubahan dari Cantika, saya akan tuntut panti ini.” ancam Andreas penuh penekanan.


Bu Tiara hanya menganggukkan kepalanya. Karena belum sempat menyangga ucapan Andreas, pria itu sudah keluar dari ruangannya. Dan ini adalah pertama kalinya Bu Tiara melihat sisi lain dari Andreas. Donatur terbesar di panti asuhan yang selama ini terkenal dengan sifatnya yang begitu rendah hati.


***


Hari-hari Gita diisi dengan kesibukannya bekerja di kantor milik Papanya. Meski dia jarang sekali berinteraksi dengan beberapa teman kerjanya, namun kinerjanya sangat bagus. Iqbal sendiri pun mengakuinya. Bahkan Iqbal berencana akan menggantikan posisi Gita agar tidak lagi di bagian divisi pemasaran. Dan posisi yang pantas yaitu menjadi wakil Ceo, namun sepertinya Gita masih belum bisa. Walau sesekali Iqbal memintanya untuk menggantikan dia meeting.


“Gita, besok ikut Papa meninjau perkembangan proyek baru perusahaan kita yang bekerjasama dengan perusahaan milik Tuan Andreas.” Ucap Iqbal saat dia memasuki ruangan Gita.


“Baik, Pa.” jawab Gita dengan menampakkan wajah malas.


“Ayolah, Sayang jangan seperti ini. kamu juga harus banyak belajar. Karena nanti kamu akan menggantikan posisi Papa. Tidak mungkin adik kamu, karena dia baru saja masuk kuliah.” Iqbal lagi-lagi membujuk Gita.


“Iya Pa.” jawabnya tanpa melihat wajah Papanya.


Sebenarnya Gita tidak masalah jika harus menggantikan Papanya meeting. Dan kali ini diajak secara langsung oleh Papanya, dan Papanya juga ikut hadir. Tidak seperti biasanya yang hanya datang berdua dengan Dimas. Meski sikap Dimas masih tetap hangat seperti dulu, tetap saja membuat Gita tidak nyaman.


Setelah mengatakan itu, Iqbal kembali lagi ke ruangannya. Dan Gita melanjutkan pekerjaannya. Di saat sedang sibuk di depan layar komputer, ponsel Gita bergetar dan memunculkan notif pesan dari Axel.


Gita membaca pesan itu. Ternyata Axel mengajaknya makan siang di luar kanto dan akan menjemputnya nanti. Ini adalah pertama kalinya Axel mengajak Gita makan siang di luar. Dia hanya berusaha saja, siapa tahu Gita tidak menolak ajakannya.


Gita pun membalas pesan Axel dengan jawaban singkat “Ya”.

__ADS_1


Sedangkan Axel yang tampak harap-harap cemas menunggu balasan Gita, kini dia sangat terkejut membaca pesan itu. Gita menerima ajakannya. Sungguh Axel sangat senang dan rasanya seperti sedang mendapatkan lotre.


Jam makan siang pun tiba. Axel sudah tiba di kantor milik mertuanya. Tak lama kemudian Gita keluar dari ruangannyaa dan sudah disambut oleh Axel.


“Aku kira Kak Axel masih dalam perjalanan.” Ucap Gita sambil berjalan menuju basement.


“Nggak. Aku sudah tiba sejak dua puluh menit yang lalu.” Jawab Axel keceplosan.


“Kenapa datang sangat awal sekali? Jadi lama kan nunggunya.” Gerutu Gita.


“Nggak apa-apa kok.” Jawabnya singkat lalu membukakan pintu mobil untu Gita.


Kini Axel dan Gita sedang duduk berhadapan di sebuah restaurant. Axel memilih tempat yang paling ujung dan tidak terlalu ramai, agar Gita merasa nyaman.


“Terima kasih mau menerima ajakanku untuk makan siang di luar.” Ucap Axel.


“Ehm, iya Kak sama-sama. Sebenarnya bukannya aku menolak atau tidak mau, hanya saja aku kurang nyaman jika ke tempat yang sangat ramai.” Jawab Gita.


“Ya sudah lain kali aku akan memilih restaurant yang tidak terlalu ramai untuk kita makan siang ataupun makan malam.” ucap Axel dan Gita pun mengangguk setuju.


Axel pun mengijinkan. Karena Gita tidak pergi berdua dengan Dimas. Apalagi keluar kota, meskipun tidak jauh, tapi kalau membiarkan Gita pergi berdua dengan Dimas, dia kurang setuju.


“Ya sudah selamat bekerja kembali. Nanti aku jemput seperti biasa.” Ucap Axel saat mengantar Gita kembali ke kantornya.


“Iya, Kak. Hati-hati di jalan.” Jawab Gita.


Waktu pun berjalan dengan cepat. Axel sudah menjemput Gita dengan membawa coklat yang akan diberikan untuknya. Namun beberapa saat menunggu, tidak biasanya Gita keluar sangat terlambat. Jika pun dia harus lembur, tapi Gita tidak mengatakan apapun pada Axel. Panggilan Axel pun tidak dijawab.


Akhirnya Axel memutuskan keluar dari mobilnya dan akan masuk ke kantor untuk mencari Gita. Namun semua itu dia urungkan, karena Gita baru saja keluar.


“Maaf, Kak pasti nunggu lama ya?” tanya Gita merasa tak enak.


“Nggak apa-apa kok kalau memang sedang lembur. Tapi panggilanku tidak kamu jawab akhirnya aku memutuskan untuk masuk.” Jawab Axel.

__ADS_1


“Iya, aku nggak fokus dengan ponselku. Tadi tiba-tiba saja ada sedikit hal yang tidak beres. Akhirnya Papa menahanku sebentar untuk pulang.” Gita menjelaskan.


“Lalu bagaimana sekarang?” tanya Axel penasaran.


“Sudah beres. Yasudah ayo pulang.” ajak Gita kemudian.


Setelah itu Axel memberikan coklat untuk Gita.


Axel melihat Gita langsung memakan coklat itu. Biasanya juga Gita akan memasukkan coklat ke dalam tasnya, dan akan memakannya nanti setelah makan malam atau sebelum tidur.


“Enak sekali Kak, setelah pusing dengan kerja seharian lalu makan coklat begini. Semoga besok aku masih bisa menikmati coklat seperti.” Ucap Gita sambil mengunyah coklatnya.


“Nggak perlu khawatir. Akan aku belikan yang banyak sesuai dengan keinginan kamu.” Jawab Axel dengan fokus menyetir.


“Bukan masalah banyaknya coklat maksudku. Hanya saja momen seperti ini yang aku harapkan masih bisa aku rasakan di hari esok dan seterusnya.” Gita memperjelas ucapannya.


Ckiitttttt


Tiba-tiba Axel mengerem mobilnya mendadak karena hampir saja menabrak pengguna jalan yang hendak menyeberang.


“Hati-hati, Kak!!” pekik Gita sambil memegangi dadanya.


“Maafkan aku. tapi itu lampunya hijau.” Ucap Axel sambil menunjuk traffic light di depannya.


.


.


.


*TBC


Jangan lupa like, komen, dan vote nya guys🤗🤗

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2