Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 151


__ADS_3

“Sayang, jangan bilang seperti itu. Gita juga menantu kita dan seperti anak kita sendiri. Axel melakukan itu semua karena sangat mencintainya.” Ucap Felix.


“Mas nggak tahu saja kalau yang mencintai itu hanya Axel. Tapi Gita tidak. Dan aku sangat tidak terima kalau sampai terjadi sesuatu dengan Axel, anak kita satu-satunya.” Nia berucap dengan marah.


Felix kemudian memeluk istrinya agar tidak lagi tersulut emosinya. Jujur saja dia belum mengerti apa maksud istrinya yang mengatakan kalau hanya Axel saja yang mencintai Gita, tapi Gita tidak. Mungkin nanti jika keadaan lebih tenang, dia akan mencari tahu sendiri jawabannya.


Felix juga sampai saat belum bertemu dengan salah satu anggota keluarga Iqbal. mungkin mereka juga sedang sama-sama khawatir dengan keadaan Gita.


Operasi itu dilakukan selama kurang lebih dua jam. Setelah itu tim dokter dan beberapa perawat keluar. Felix pun langsung menanyakan keadaan Axel.


“Operasinya berjalan lancar. Dan untuk sementara waktu pasien akan dipindahkan ke ruangan ICU sambil menunggu bagimana perkembangan selanjutnya.” Ucap dokter.


Nia kembali menangis setelah mengetahui kalau anaknya akan dipindah ke ruangan ICU yang menurutnya keadaan Axel belum benar-benar membaik. Kemudian mereka berdua mengikuti brankar Axel yang didorong menuju ruangan ICU.


Sementara di ruangan operasi lainnya, dimana Dimas sedang menjalani operasi pengambilan peluru yang menembus hatinya. Di luar ruangan itu sudah ada Chandra dan Daniel yang menunggu. Dan tak lama kemudian dokter dan beberapa perawat keluar setelah operasi itu selesai.


“Bagaimana keadaan pasien, Dok?” tanya Daniel.


“Operasinya berjalan lancar. Namun pasien akan dipindahkan ke ruangan ICU terlebih dulu agar kami bisa mengawasinya secara intensif bagaimana perkembangannya pasca operasi.” Jawab dokter.


***


Di kantor polisi saat ini Marvin sedang dicecar banyak pertanyaan mengenai semua perbuatannya. Di dalam ruangan berbeda juga ada Malik yang sama-sama sedang dinterogasi oleh anggota kepolisian setelah beberapa saat lalu tangannya diobati akibat luka tembak. Sedangkan Marco langsung dijebloskan ke dalam penjara, karena memang dia hanya anak buah Malik. Untuk putusan hukuman akan menunggu hasil dari penyidikan yang dilakukan pada Malik.


Polisi menghentikan sementara penyidikan terhadap Malik karena keadaan Malik yang begitu lemah. Namun dia harus ditahan dulu sampai putusan hukuman ditentukan.


Malik diijinkan untuk menemui pengacaranya yang sedang menunggu di luar. Mereka berdua berbicara serius. Malik meminta bantuan pengacaranya agar bisa meringankan hukumannya nanti.


“Satu lagi, aku mau meminta bantuan padamu.” Ucap Malik.


“Baik, Tuan. Katakan saja.” Jawabnya.

__ADS_1


“Tolong cari tahu seseorang yang bernama Dimas. Aku tidak tahu dia memiliki hubungan apa dengan Iqbal. yang penting cari semua informasi tentang laki-laki itu.” Ucap Malik dan diangguki oleh pengacaranya.


Sejak digelandang ke kepolisian tadi, Malik masih memikirkan laki-laki yang ia tembak. Padahal niatnya akan menembak Gita, namun tiba-tiba ada laki-laki bernama Dimas yang melindungi Gita dengan merentangkan tangannya. dan saat itu juga dia berhasil menarik pelatuk pistolnya.


Tatapan mata Dimas yang tanpa sengaja menatap Malik membuatnya sedikit terkejut. Meski sebelumnya dia sudah saling baku hantam dengan Dimas. Namun dia sama sekali tidak melihat wajah Dimas dengan intens. Dan saat dia menembak Dimas tadi. Malik melihat sorot matanya seperti seseorang yang entah dimana keberadaannya sekarang.


“Semoga bukan dia.” Gumam Malik sebelum memasuki sel tahanan.


***


Gita sudah tiba di kota J dan langsung dibawa menuju rumah sakit. Dalam perjalanan, Jenny terus menangis melihat kondisi anaknya yang masih menutup matanya. hati wanita paruh baya itu sangat teriris, setelah kemarin baru saja melihat hubungan anak dan menantunya sudah tampak hangat.


Namun sekarang justru ada musibah seperti ini. semoga Gita bisa bertahan. Hanya itu satu-satunya doa yang diucapkan Jenny dalam hati.


Sedangkan Iqbal juga merasakan kesedihan yang sama. Terlebih dia sendiri yang menolong anaknya dari penculikan tadi, meski belum sempat melihat Gita diberi suntikan itu. Iqbal berjanji akan menuntut hukuman seberat-beratnya pada pelaku. Apalagi mereka sudah hampir saja membahayakan nyawa tiga orang sekaligus.


Mengingat nyawa tiga orang yang sedang dalam bahaya, Iqbal jadi ingat Axel, menantunya. Dia tadi menyaksikan sendiri bagaimana peluru yang ditembakkan oleh Marvin tepat mengenai . Iqbal berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan Axel.


Di sela-sela menunggu Gita, Iqbal mendapat panggilan dari anak keduanya, yaitu Daniel. Dia memberitahukan tentang keadaan Dimas yang sudah selesai operasi. Iqbal bersyukur mendengarnya. Namun saat dia menanyakan keadaan Axel, Daniel menjawabnya tidak tahu.


“Ya sudah, nanti biar Papa yang tanya sendiri. Papa minta tolong urus semua keperluan Dimas.” Ucap Iqbal sebelum mengakhiri panggilannya.


“Kenapa, Mas?” tanya Jenny.


“Daniel mengabarkan kalau Dimas sudah selesai operasi.” Jawabnya.


Iqbal ingin menghubungi Felix untuk menanyakan keadaan Axel. Namun ia urungkan saat dokter yang menangani Gita baru saja keluar dari ruangannya.


“Bagaimana keadaaan anak saya, Dok?” tanya Iqbal.


“Pasien masih tidur, setelah saya berikan beberapa suntikkan. Nanti kalau sudah bangun, akan dilihat dulu bagaimana reaksi obat yang sudah saya berikan untuk pemeriksaan lebih lanjut.” Jawab dokter berkaca mata itu.

__ADS_1


“Terima kasih, Dok.” Ucap Iqbal kemudian.


Tak lama kemudian, saat Jenny dan Iqbal masih setia duduk di kursi tunggu, datanglah seorang wanita paruh baya seusia Jenny. Wanita tampak sangat khawatir setelah mendengar kabar buruk tentang Gita.


“Jen, bagaimana keadaan Gita?” tanya Lidya.


Setelah itu mereka berdua berpelukan dengan sama-sama terisak. Jenny tidak bisa menjelaskan secara langsung. sedangkan Lidya masih tidak bisa menghentikan tangisnya.


“Sudah, kalian jangan menagis lagi. Lebih baik duduk dulu, kita tunggu dan berdoa semoga keadaan Gita baik-baik saja.” Ucap Iqbal.


Kemudian kedua wanita itu segera duduk. Jenny lantas menceritkan semua kronologi bagaimana Gita bisa seperti ini. Lidya pun kembali bersedih setelah mendengar cerita dari Jenny.


“Kalian tunggu disini dulu, aku akan membeli minuman." Ucap Iqbal dan diangguki oleh istrinya.


Iqbal lalu berjalan menuju kantin rumah sakit untuk membeli minuman dan makanan ringan buat istrinya. Setidaknya bisa mengganjal perutnya yang sejak tadi belum makan.


Sebelum Iqbal kembali ke tempat istrinya, Iqbal teringat dengan keadaan Axel. Akhirnya dia meraih ponselnya dan menghubungi Felix untuk menanyakan langsung bagaimana keadaan menantunya saat ini.


Beberapa kali Iqbal melakukan panggilan itu. Panggilannya tersambung namun tidak diangkat. Apakah begitu parah keadaan Axel sampai Felix tidak sempat menerima panggilannya. Lalu Iqbal memberi jeda sebentar dan kembali menghubungi Felix.


Iqbal sungguh terkejut saat menghubungi Felix yang terakhir kalinya. Ponsel Felix sama sekali tidak bisa dihubungi, dan no nya justru diblokir. Tidak cukup sampai disitu, Iqbal lalu menghubungi Nia, istri Felix. Dan hasilnya pun sama. Nihil.


“Sepertinya ada yang tidak beres.” Gumam Iqbal.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2