Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 168


__ADS_3

Rupanya karena hal itu yang membuat Dimas seperti dalam masalah berat. Iqbal pun mengerti bagaimana perasaan Dimas, yang sudah lama hidup sebatang kara dan tidak pernah mendapat kasih sayang dari orang tua. Namun saat diketahui ternyata masih mempunyai orang tua dan orang tuanya adalah seorang mafia, bahkan tega menembaknya. Siapa yang tidak kecewa. Siapapun selain Dimas pasti akan sangat kecewa.


“Untuk apa aku memecatmu? Dan tentang Papa kamu yang seorang mafia bahkan kini menjadi seorang narapidana, itu semua tidak ada hubungannya dengan kamu. Dan itu juga bukan kesalahan kamu. Jadi kamu tetap bekerja disini dan menjadi asisten pribadiku.” Jawab Iqbal.


Dimas mendongak menatap wajah atasannya yang menurutnya sangat bijaksana dan berwibawa. Dimas sangat bersyukur memiliki seorang atasan seperti Iqbal yang tidak pernah menilai seseorang dari masa lalunya.


“Terima kasih, Tuan.” Jawaab Dimas.


“Tuan, bolehkan saya meminta pendapat anda?” lanjutnya dengan memberanikan diri bertanya pada Iqbal.


“Katakan! Aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri.” Jawab Iqbal.


Dimas pun menceritakan perihal pesan yang dikirim oleh Raihan. Pengacara Malik. Sampai saat ini pun Dimas belum mengakui bahwa Malik adalah ayahnya. Jadi dia menceritakan pria itu pada Iqbal hanya menyebut namanya bukan panggilan Papa.


“Apakah saya harus datang kesana, Tuan?” tanya Dimas.


“Datanglah. Meskipun aku sendiri juga sempat membenci pria itu karena termasuk komplotan Marvin yang berusaha menghancurkan keluargaku, namun tidak selamanya aku membencinya. Aku bahkan sudah memaafkan Marvin. Karena dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Jadi berusahalah untuk berlapang dada menerima kenyataan bahwa Malik adalah Papamu. Tidak ada di dunia ada istilah mantan orang tua atau mantan anak. Meski kenyataannya perbuatan Papa kamu sangat keji, namun setelah dia mengetahui kamu adalah anaknya dan meminta maaf padamu, setidaknya dia masih mempunyai hati nurani.” Jawab Iqbal panjang lebar.


Dimas dapat menarik kesimpulan dari saran yang diberikan oleh Iqbal. memang semua ucapan Iqbal benar. Selama orang tuanya masih hidup, apa salahnya jika berdamai dengan keadaan dan mencoba menerima semua masa lalu pahit Papanya. Dimas yakin kalau Papanya pasti punya alasan tersendiri hingga bisa terjerat dalam dunia gelap seperti itu.


“Terima kasih banyak, Tuan. Saya besok akan menemuinya.” Ucap Dimas.


*


Keesokan harinya Dimas meminta ijin pada Iqbal untuk tidak hadir ke kantor, karena pagi ini dia akan datang ke lapas sesuai dengan pesan yang dikirm oleh Raihan kemarin.


Dimas memarkirkan motornya lalu bergegas menuju petugas penjaga lapas. Disana banyak pengunjung yang sedang antri untuk menjenguk teman atau bahkan saudara yang sedang menjalani hukuman.

__ADS_1


Setelah Dimas diperiksa dan dinyatakan aman tidak membawa sesuatu yang berbahaya, akhirnya dia dipersilakan masuk. Dan kebetulan Raihan juga sudah ada disana, menunggunya di dalam.


“Tuan Dimas!” sapa Raihan dan menjabat tangan Dimas.


Setelah itu keduanya duduk karena menunggu Malik masih dipanggil oleh salah satu sipir. Tak lama kemudian datanglah pria yang berusia sekitar enam puluh tiga tahun dengan rambut yang sudah memutih, namun badannya masih terlihat bugar.


Malik duduk berhadapan dengan Dimas yang masih setia menundukkan kepalanya. Dimas masih menata hatinya sebelum memandang wajah Papanya dalam jarak yang cukup dekat.


“Dimas Narendra.” Malik memanggil nama Dimas dengan nama belakang nama belakang miliknya. Bukan Dimas Prasetyo.


Seketika Dimas mengangkat wajahnya dan memandang intens wajah tua yang sedang duduk di hadapannya. Raihan memberikan waktu keduanya untuk berbicara sebelum dirinya menyampaikan maksud dan tujuannya pada Dimas.


Dimas tak banyak bicara. Dia hanya mendengar semua cerita masa lalu Malik yang menurutnya sangat menyesakkan. Sesekali Dimas merubah mimik wajahnya saat mendengar cerita Malik. Dan satu hal yang membuat Dimas kembali tertunduk, bahkan air matanya perlahan turun kala mendengar kenyataan bahwa Mamanya sudah meninggal karena bunuh diri akibat tidak tahan dengan sikap otoriter orang tuanya. Dan menurut hasil penyelidikan Raihan, Marissa diketahui bunuh diri sesaat setelah dia memberikan Dimas ke panti asuhan.


“Maafkan Papamu yang tidak bisa menyelamatkan Mamamu, Nak.” ucap Malik dengan sendu.


Kini dia tahu sebab musabab Papanya menjadi seorang yang sangat keji dan terjerat dalam dunia gelap.


Sementara itu pasangan Axel dan Gita pagi ini bangun dalam keadaan badan yang sangat fresh. Bagaiman tidak, semalam keduanya tidur sangat nyenyak karena saling berpelukan. Dan tadi malam adalah pertama kalinya Axel dan Gita tidur dalam satu ranjang dan saling berpelukan. Mereka berddua hanya tidur taanpa melakukan apapun. Sebenarnya Gita sudah mempersiapkan diri walau sebenarnya sangat gugup. Sedangkan Axel memang sengaja tidak meminta haknya terlebih dulu, karena selain alasan Gita baru saja sembuh, dia ingin membuat Gita nyaman dan rileks terlebih dulu dengan menjalin komunikasi yang intens. Mengingat keduanya baru beberapa hari yang lalu memperbaiki hubungannya.


“Pagi Sayang!” sapa Axel saat dia sudah rapi dengan stelan kerjanya. Sedangkan Gita baru saja keluar dari kamar mandi.


“Pagi juga, Mas. Sebentar, aku ganti baju dulu, setelah itu kita turun bareng.” Ucap Gita seraya menuju ruang ganti.


Selesai berganti pakaian dan memoles sedikit wajahnya dengan mekae up tipis, Gita menghampiri suaminya yang sedang duduk dengan wajah yang ditekuk.


“Kenapa, Mas?” tanya Gita heran.

__ADS_1


“Sayang, kamu ikut ke kantor ya? Hari ini harusnya aku menikmati waktuku berdua dengan kamu, tapi justru Papa memintaku ke kantor.” jawab Axel.


“Kalau aku ikut, nanti pekerjaan kamu nggak selesai selesai, Mas. Sudah jangan cemberut, masih banyak waktu untuk kita berdua.” Gita berusaha mengembalikan keceriaan suaminya.


Setelah itu mereka berdua turun untuk sarapan bersama. Namun sebelumnya Axel meminta ponsel Gita terlebih dulu. Dia mengotak-atik sesuatu dan mengembalikannya lagi.


Selesai sarapan, Gita mengantar suaminya ke depan. Sedangkan Felix sudah sejak pagi pergi ke luar kota, maka dari itu urusan kantor diserahkan pada Axel.


“Mas, nanti aku ijin pulang ke rumah Mama sebentar ya?” ucap Gita dan diangguki oleh Axel.


Gita mencium tangan suaminya dengan takzim, setelah itu Axel mengecup kening Gita.


Setelah memastikan sang suami pergi, Gita segera masuk untuk bersiap karena akan pulang ke rumah Mamanya. Namun Gita tidak sendirian, melainkan bersama Mama mertuanya.


Di kantor Axel tampak serius dengan pekerjaannya. Saat jam makan siang pun dia meminta office boy membelikan makan. Karena dia benar-benar sangat sibuk. Namun dia masih ingat dengan seseorang yang beberapa hari ini membuat harinya sangat indah. Yaitu Gita.


Axel menghubungi no ponsel Gita untuk menanykan sudah makan siang atau belum. Namun sayangnya panggilannya sama sekali tidak diangkat oleh Gita. Axel melihat GPS yang tersambung dengan ponsel istrinya kalau saat ini istrinya masih berada di rumah mertuaanya. Dia pun lega.


Seharian bekerja, Axel merasa tubuhnya sangat capek. Dia melihat ponselnya yang sejak tadi tampak tenang karena taka da satupun pesan atau panggilan dari sanga istri. Padahal dia berharap Gita menghubunginya.


Iseng-iseng Axel kembali mengecek keeberadaan sang istri sebelum meneleponnya. Betapa kaagetnya Axel saat mengetahui posisi Gita saat ini. tanpa pikir panjang, Axel bergegas pergi meninggalkan kantor dan menemui istrinya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2