
Untung saja tidak ada kendaraan lain yang melintas di belakang mobil Axel. Hingga tidak terjadi apa-apa. Kondisi jalanan pun memang agak lengang. Axel pun akhirnya minta maaf pada Gita karena telah membuatnya syok.
Kini mereka berdua sudah sampai apartemen. Gita langsung masuk ke kamarnya untuk mandi. begitu juga dengan Axel. Beberapa menit kemudian, Axel sudah keluar kamar terlebih dulu dan bertepatan dengan pesanan makanan datang.
“Biar aku yang siapin, Kak!” ucap Gita yang kini sudah ada di dapur.
Gita menyiapkan makan malamnya dan juga membuat teh hangat dua gelas untuk dirinya dan juga Axel. Setelah itu mereka berdua menikmati makan malamnya.
Suasana makan malam kali ini begitu terasa hening dan berbeda dari biasanya. Semenjak keluar dari kamar Gita tampak diam. Dan sekarang pun dia makan sambil menundukkan kepalanya. Axel heran dengan perubahan Gita. Apakah dia telah melakukan kesalahan. Atau ada sesuatu yang ingin Gita ungkapkan tapi tidak bisa mengatakannya.
“Apakah makanannya tidak enak?” tanya Axel memecah keheningan.
“Nggak kok, Kak. Rasanya enak.” Jawab Gita lalu kembali menyuap makanannya.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah menyelesaikan makan malamnya. Axel tidak segera beranjak dari duduknya, dia masih menunggu Gita yang masih sibuk mencuci piringnya.
“Gita, duduklah sebentar!" Perintah Axel dengan suara pelan.
“Kenapa dari tadi kamu diam terus?” lanjutnya.
Gita masih diam, namun tangannya terus meremat ujung roknya. Entah kenapa dia jadi gugup seperti ini.
“Kak. Maaf!” satu kata yang keluar dari mulut Gita membuat Axel semakin bingung.
“Maaf untuk apa?” tanya Axel.
“Sampai saat ini aku belum bisa menjadi istri yang baik. Maafkan aku. maafkan aku terlalu dalam melukai perasaan kakak. Aku memang nggak layak untuk dicintai.-“ Gita terisak tidak dapat melanjutkan ucapannya.
“Ssttt…. Jangan bilang seperti itu. Aku nggak masalah, yang terpenting kamu selalu ada disampingku, karena aku sangat mencintaimu.” Jawab Axel.
“Kenapa Kak? Kenapa Kak Axel mencintaiku? Kak Axel tahu sendiri kan kalau beberapa waktu yang lalu sikapku benar-benar diluar kendali…
Gita tiba-tiba menceritakan semua yang dialami selama ini. termasuk sikapnya yang dia rasa sendiri berada di luar kendali. Terkadang marah-marah, dan sangat sensitif. Dia pun merasa kehilangan kepercayaan diri dan enggan bertemu dengan seseorang. Terlebih setelah kejadian dimana saat dia menyerahkan mahkotanya pada Axel.
__ADS_1
“Sudah, jangan dipikirkan lagi. Aku menerima semua kekurangan dan kelebihanmu. Dan aku akan berusaha mengembalikan rasa percaya diri kamu lagi. Jangan khawatir.” Ucap Axel.
“Kak Axel terlalu sabar menghadapi sikapku seperti ini. Bolehkah aku meminta sesuatu, Kak?” pinta Gita.
“Katakan! Apapun akan aku lakukan.” Jawab Axel.
“Maukah Kak Axel menungguku sampai aku benar-benar bisa membalas cinta kakak?” pinta Gita.
“Heii jangan meminta hal seperti itu. Sampai kapanpun aku akan sabar. Walaupun kamu nantinya tidak bisa membalas cintaku, asalkan kamu selalu ada disampingku. Aku berjanji akan menemanimu dalam suka maupun duka. Dan aku akan melakukan yang terbaik untuk kamu.” Ucap Axel dengan serius sambil menggenggam tangan Gita.
“Terima kasih, Kak.”
***
Keesokan paginya Axel dan Gita sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. seperti yang dikatakan oleh Gita, bahwa hari ini dia akan ikut Papanya meninjau proyek yang ada di luar kota.
“Kak, nanti pulangnya nggak usah dijemput. Takutnya pulang malam. biar diantar Papa saja.” Ucap Gita saat sudah berada di dalam mobil.
“Baiklah. Nanti kabari aku terus kalau ada apa-apa.” Axel berpesan, dan Gita hanya mengangguk.
*
Kini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Dimas duduk sendiri di depan, karena dia yang menyetir. Sedangkan Gita duduk di belakang bersama Papanya. Perjalanan yang mereka tempuh membutuhkan waktu kurang lebih dua jam.
Perjalanan sudah hampir satu jam. Tiba-tiba ponsel Iqbal berdering dan ada panggilan dari sekretarisnya. Iqbal tampak berbicara serius. Bahkan raut wajahnya mendadak muram seolah sedang ada berita tidak baik.
“Dimas, tolong menepi sebentar.” Pinta Iqbal.
“Ada apa, Pa?” tanya Gita heran.
“Di kantor ada masalah. Karyawan bagian keuangan meminta meeting dadakan karena diduga ada penyelewengan dana. Tadi Reta meminta Papa untuk ikut hadir langsung. kamu dan Dimas lanjutkan saja perjalanannya, biar Papa naik taksi saja.” Ucap Iqbal.
Gita dan Dimas juga ikut cemas. Pasalnya kemarin maslah itu terlihat sudah baik-baik saja. Dan sekerang kenapa mendadak ada kabar seperti itu. Akhirnya Gita menyetujui ide Papanya. Dia yang akan melanjutkan perjalanannya bersama Dimas.
__ADS_1
“Ya sudah kalian hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa kabari Papa, Gita.” Ucap Iqbal.
Dimas mengangguk. Begitu juga dengan Gita. Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanannya setelah Iqbal sudah masuk ke dalam taksi.
***
Sementara itu saat ini Axel juga tampak sibuk di kantornya. Hari ini juga dia sedang meeting dengan salah satu klien Papanya, yang dilaksanakan di salah satu restaurant. Sikap wibawa Axel sangat meyakinkan semua klien yang ingin bekerjasama dengan perusahaan milik Felix. Seperti saat ini saja, dengan mudahnya kliennya itu setuju dan menandatangani kontrak kerjasama.
“Saya tidak menyangka dengan kemampuan anda Tuan Axel. Di usia yang masih sangat muda, sudah mampu membuat klien anda sangat yakin untuk menjalin kerjasama. Bahkan saya juga sering mendengar kalau anda sering memenangkan tender besar.” Ucap Tuan Gerald.
“Terima kasih, Tuan. Saya hanya menjalankan apa yang sesuai dengan kemampuan saya.” Jawab Axel.
“Benar sekali. Jujur saja, baru kali ini saya mendapatkan rekan bisnis yang murni dan benar-benar bekerja sessuai porsi dan sama-sama saling menguntungkan.” Ucap Tuan Gerald.
“Maksudnya, Tuan?” tanya Axel.
“Anda tahu sendiri, perusahaan saya ini baru saja bangkit kembali setelah sekian lama bangkrut akibat ulah rekan bisnis saya yang bermain curang. Awalnya saya benar-benar tergiur dengan kontrak kerjasama yang mereka janjikan. Padahal perusahaan itu posisinya berada di atas perusahaan saya, dan menawarkan kerjasama dengan perusahaan saya. Saat itu saya memang benar-benar teledor. Ternyata itu semua akal liciknya untuk membuat perusahaan saya semakin terinjak dan akhirnya bangkrut.” Tuan Gerald tiba-tiba curhat panjang lebar.
“Kenapa anda tidak menuntutnya atau ambil jalur hukum untuk mengatasi masalah itu?” tanya Axel, namun Tuan Gerald menggelengkan kepala.
“Tidak semudah itu. Mereka sangat pintar dan licik, hingga saya tidak bisa mengambil jalur hukum. Jadi hanya bisa terima keadaan.” Sesal Tuan Geral.
“Kalau boleh tahu, itu perusahaan apa Tuan?” tanya Axel.
“Perusahaan itu bergerak di bidang multi nasional. Dan dipimpin oleh Tuan Andreas. Apakah perusahaan anda juga pernah bekerjasama dengannya?” tanya Tuan Gerald.
“Tidak.” Jawab Axel pelan. Tapi ingatannya tiba-tiba menuju pada perusahaan milik mertuanya. Sepertinya Axel tidak asing dengan nama itu. Dan pernah sekali Gita menyebutnya. Untuk memastikannya, Axel pun menghubungi Gita. Namun betapa terkejutnya saat dia melihat ponselnya ada pesan dari Gita yang sedang meminta tolong.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️