Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 96


__ADS_3

Hari ini Iqbal, Jenny dan Gita akan berangkat ke luar negeri. Mereka berangkat ke bandara diantar oleh Billal dan juga Lidya. Meskipun Jenny sudah menolak tawaran Omnya, namun Billal tetap kukuh ingin mengantarnya ke bandara. Katanya dia ingin menikmati kebersamaannya dengan Gita sebelum ditinggal selama seminggu.


“Terima kasih banyak, Om.” Ucap Jenny dan mengambil alih Gita dari gendongannya.


“Gita, ayo salim dulu sama Daddy dan Mommy!” ucap Jenny.


“Sayang, Mommy siapa maksudnya?” tanya Iqbal bingung dengan sebutan baru yang dikatakan oleh istrinya.


“Tentu saja Lidya, eh maksudku Tante Lidya. Kan Gita manggil Om dengan sebutan Daddy, jadi sekarang manggil Tante Lidya juga harus Mommy dong.” Jawab Jenny sambil mengerling pada Lidya yang tampak tersenyum malu.


“Boleh juga.” sahut Billal.


Jenny segera mengajak suami dan anaknya menuju ruang tunggu biar Billal dan Lidya segera pulang, karena dia merasa tidak enak mengganggu jam kerja Omnya.


Dan beberapa saat kemudian, pesawat yang ditumpangi Iqbal, Jenny dan Gita sudah lepas landas menuju negara dimana Bram dan Desy tinggal. Gita tampak antusias dalam penerbangannya kali ini. karena ini adalah pertama kalinya dia naik pesawat bersama Mama dan Papanya. Sebelumnya Gita hanya bersama Jenny dan Lidya saja jika sedang bepergian naik pesawat.


“Sepertinya Gita sangat senang, Mas.” Ucap Jenny sambil melihat tingkah anaknya.


“Iya. Mungkin dia bahagia karena kita berdua yang menemaninya.” Jawab Iqbal.


***


Sedangkan kini Billal sedang dalam perjalanan menuju apartemennya setelah mengantar keponakannya ke bandara tadi. Billal akan mengantar Lidya kembali ke apartemen sebelum dirinya berangkat ke kantor. dan seperti biasa, mereka tampak terdiam jika sedang berdua seperti ini.


Mobil Billal sudah memasuki basement apartemen. Namun, dia tidak turun dan ikut masuk karena sebentar lagi dia ada jadwal meeting.


“Kamu masuklah, aku akan pergi ke kantor.” ucap Billal.


“Baik, Tuan. Saya juga minta ijin, nanti saya mau berbelanja ke supermarket.” Ucap Lidya.


“Iya, terserah kamu saja. Lakukan apa yang kamu suka.” Jawab Billal.

__ADS_1


Setelah itu Billal menunggu Lidya keluar dari mobilnya. Namun justru tangan kanan Lidya menengadah ke arah Billal hingga membuatnya bingung. Apakah Lidya akan meminta uang karena tadi pamit mau berbelanja? Bukankah dirinya sudah memberikan kartu atm, lalu apa maksud tangan Lidya menengadah seperti itu.


“Ehm, bukankah kemarin aku sudah memberikanmu kartu-“


Ucapan Billal terpotong saat dengan cepat Lidya meraih tangan kanannya lalu menciumnya dengan takzim. Billal terperangah kaget melihat tindakan Lidya. Namun hatinya seketika menghangat melihat sikap istrinya yang seperti itu.


“Hati-hati di jalan, Tuan!” ucap Lidya lalu segera keluar dari mobil.


Billal masih belum hilang keterkejutannya. Dia terus melihat Lidya berjalan menuju unit apartemennya sampai punggung wanita itu tak terlihat lagi. Entah kenapa perasaan Billal semakin aneh dan cenderung merasakan bahagia. Bahkan rasa ini belum pernah ia dapatkan sebelumnya dari dua mantan istrinya terdahulu.


Setelah itu Billal melajukan mobilnya menuju kantor. hari ini suasana hatinya sangat bahagia, dia berharap semua pekerjaan dan pertemuannya dengan beberapa kliennya berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun.


Sedangkan Lidya yang kini sudah masuk ke unit apartemennya, dia memilih untuk mengambil baju-baju kotornya dan juga milik suaminya untuk dicuci. Setelah itu dia akan pergi berbelanja ke supermarket.


Sore menjelang, Lidya masih berkutat di dapur menyelesaikan kegiatan memasaknya. Tadi dia berbelanja bahan makanan cukup banyak. Tidak hanya itu dia juga membeli beberapa alat memasak yang sekiranya sangat dia butuhkan. Karena dia tidak ingin terus membeli makan setiap hari yang menurutnya adalah pemborosan.


Klik


“Kamu memasak?” tanya Billal saat melihat istrinya sedang memakai apron.


“Iya, Tuan. Saya tidak terbiasa membeli makan setiap hari. Saya terbiasa memasak sendiri, saat dulu bekerja dengan Nyonya Jenny.” Jawab Lidya.


“Apakah sudah selesai memasaknya? Aku sudah lapar.” Tanya Billal sambil duduk di kursi meja makan.


“Sebentar lagi Tuan. Lebih baik anda mandi dulu, saya tadi sudah menyiapkan air hangat untuk anda.” Ucap Lidya tanpa melihat wajah Billal.


Billal pun tak banyak bicara. Dia langsung beranjak dari duduknya meski perutnya sudah terasa lapar. Dia memasuki kamarnya, disana sudah tersedia baju ganti yang sudah disiapkan oleh Lidya. Lagi-lagi hati Billal menghangat dengan sikap perhatian Lidya.


Meski sampai saat ini mereka berdua masih tidur terpisah, namun Lidya selalu melayani kebutuhan pribadinya dengan baik. Setelah itu dia segera masuk ke kamar mandi dan akan mempercepat mandinya karena sudah tidak sabar untuk makan masakan istrinya.


Kini mereka berdua sudah duduk di kursi saling berhadapan dengan piring yang sudah terisi nasi beserta lauknya. Billal segera menyantap makanan itu dengan lahap, dan rasanya memang benar-benar sangat enak. Sungguh Lidya adalah istri yang sempurnya baginya. Cantik, perhatian, dan bisa memasak. Namun seketika Billal merasa minder kala melihat dirinya sendiri yang jauh dari kata sempurna. Masa lalunya yang tak bermoral membuat dirinya merasa tidak pantas mendapatkan istri sempurna seperti Lidya.

__ADS_1


“Maaf Tuan. Apakah masakan saya tidak enak?” tanya Lidya karena melihat Billal terdiam dan tidak melanjutkan makannya.


“Ah nggak kok. Masakan kamu sangat enak. Aku suka. Apa kamu tidak keberatan jika setiap hari memasak untukku?” tanya Billal.


“Sama sekali tidak, Tuan.” Jawab Lidya sambil tersenyum tipis dan membuat Billal terpesona.


Selesai makan, Lidya membereskan bekas piring kotornya. Sedangkan Billal memasuki kamarnya untuk mengambil ponselnya. Dan sepertia biasa dia akan tidur di ruang kerjanya, daripada harus tidur satu ranjang bersama istrinya.


Cklek


Lidya memasuki kamarnya sedikit terkejut saat melihat Billal masih berada di sana. Tepatnya berada di balkon. Laki-laki itu terlihat sedang melakukan obrolan serius dengan seseorang di balik sambungan teleponnya. Kemudian Lidya memasuki kamar mandi sambil membawa baju ganti untuk tidur nanti.


Lidya kini sudah berganti pakaian tidurnya. Dia duduk di bibir ranjang sembari menunggu Billal selesai bicara lewat sambungan teleponnya. Entah kenapa Lidya tiba-tiba sangat gugup saat akan mengatakan maksudnya pada Billal.


Billal menelan salivanya dengan kasar saat melihat pakaian tidur yang dikenakan oleh Lidya. Bukan lingerie, namun kaos oblong kebesaran berbahan tipis dan hotpants hitam cukup membuat jakun Billal naik turun.


“Silakan tidur, aku akan kembali ke ruang kerja.” Ucap Billal tanpa melihat Lidya.


“Kenapa Tuan tidak ingin tidur di kamar ini?” tanya Lidya cepat dan menghentikan langkah kaki Billal.


“Tuan, ijinkan saya menunaikan kewajiban sebagai seorang istri.” Ucap Lidya tertunduk.


.


.


.


*TBC


Wow...wow...wow...😂😂

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2