Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 165


__ADS_3

Axel mendapat pesan dari Mikko kalau baru saja orang yang hampir menghancurkan rumah tangganya sudah berhasil diatasi. Tadi saat akan pergi ke rumah sakit, Axel meminta bantuan Mikko untuk mencari orang yang telah mengirimkan beberapa foto Gita bersama dokter Julian. Dan Axel tidak menyangka kalau Mikko dengan cepat bisa mengatasi masalah itu. Terlebih pelakunya adalah wanita yang sangat dia kenal. Yaitu Mona.


Axel membersihkan tubuhnya terlebih dulu dan berganti pakaian sebelum kembali lagi ke rumah sakit. Sementara kedua orang tuanya sudah terlebih dulu pergi menjenguk Gita, karena tadi belum sempat berbicara dengannya karena Gita masih tidur.


Terlihat Gita sedang makan disuapi oleh Jenny. Sedangkan Iqbal duduk di sofa sambil memainkan gadgetnya. Dan tak lama kemudian Felix dan Nia masuk.


“Mama… papa…” gumam Gita saat melihat mertuanya masuk.


Jenny melihat kedatangan besannya. Setelah itu dia meletakkan piring di atas meja yang kebetulan Gita sudah selesai makan. Tak lupa memberikan segelas air putih untuk Gita. kemudian Jenny mempersilakan Felix dan Nia untuk berbicara dengan Gita.


“Sayang, bagaimana keadaan kamu?” tanya Nia.


Gita masih diam. Lalu dia merentangkan tangannya agar Nia mendekat dan memeluknya. Gita terisak dalam pelukan ibu mertuanya yang sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Gita terus menggumamkan kata maaf atas semua kesalahan yang pernah ia perbuat khususnya pada Axel selama pernikahannya.


“Sudah, jangan bersedih lagi. Kami sudah memaafkan semuanya. Justru kami yang meminta maaf, karena tidak tahu apa-apa.” Felix berkata setelah Nia mengurai pelukannya.


“Terima kasih, Pa.” jawab Gita, lalu bergantian Felix yang memeluk Gita.


Iqbal dan Jenny ikut senang menyaksikan kedekatan Gita dan mertuanya. Mereka berdua juga sudah saling memaafkan atas semua kesalah pahaman yang sudah terjadi selama ini. kini mereka para orang tua hanya bisa mendokan kebahagian anak-anak mereka dalam menjalani kehidupan rumah tangganya.


“Apa masih ada yang sakit?” tanya Nia yang kini sudah duduk disamping brankar Gita.


“Nggak ada, Ma. Kepala Gita juga sudah tidak pusing.” jawab Gita.


“Kata dokter tadi, kalau malam ini Gita sudah tidak mengeluhkan sakit kepala, besok sudah diperbolehkan pulang.” Jenny ikut menimpali.


“Sykurlah, Mama senang mendengarnya. Nanti pulang ke rumah Mama ya?” pinta Nia.


Gita melirik Mamanya seolah meminta ijin. Jenny pun mengangguk, karena itu sudah menjadi hak Gita mau pulang kemana asal bersama dengan sang suami.


“Iya, Ma.” Jawab Gita.


Beberapa saat kemudian Dimas dan Inez juga datang ingin melihat keadaan Gita. Gita senang melihat kedua orang terdekatnya itu begitu perhatian padanya. Para orang tua kemudian duduk di sofa dan memberikan waktu untuk Dimas dan Inez bersama Gita.


“Kalian ini selalu kompak ya? Datangnya selalu barengan.” Ucap Gita sambil tersenyum ke arah Dimas dan Inez.

__ADS_1


“Kebetulan saja, Git.” Jawab Inez karena memang dia tadi tidak sengaja bertemu Dimas di parkiran.


“Oh iya, bagaimana pertunangan kamu, Nez? Selamat ya, semoga lancar sampai hari pernikahan tiba. Eh terus, mana nih cincin pertunangannya kok ngga ada?” tanya Gita penasaran.


“Oh, aku lupa tadi waktu mandi aku lepas.” Jawab Inez dengan raut wajah setenang mungkin.


Dimas tahu kalau Inez berbohong. Karena sejak kemarin dia tidak melihat Inez memakai cincin pertuangannya. Entah kenapa Dimas merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Inez. Ingin sekali sebenarnya Dimas bertanya, namun dia takut Inez akan beranggapan lain padanya.


Mereka bertiga terlihat asyik bercengkrama. Gita sangat bersyukur karena masih dikelilingi orang-orang baik. Terlebih saat dirinya sedang terpuruk, hanya Inez dan Dimas lah yang selalu setia menemaninya.


Gita melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. sejak tadi dia mengharaapkan kehadiran sang suami yang tak kunjung datang setelah tadi siang berpamitan pulang. padahal Axel tadi bilang akan pulang sebentar. Namun nyatanya sampai jam delapan malam, laki-laki itu tak kunjung kembali.


“Kenapa? Ada yang kamu butuhkan?” tanya Dimas.


“Eh, nggak ada kok, Kak. Aku nggak butuh apa-apa.” Jawab Gita.


Cklek


“Selamat malam semuanya!” ucap seseorang yang baru saja masuk. Dan orang itu lah yang sejak tadi Gita tunggu.


“Bagaimana, Sayang? Apa masih pusing?” tanya Axel begitu perhatian.


“Nggak, Mas. Aku sudah tidak pusing lagi.” Jawab Gita.


Axel tersenyum simpul mendengar istrinya mengganti panggilannya. Terlebih di depan teman-temannya. Itu tandanya Gita sangat menghormati dirinya sebagai suami.


“Duh… yang sudah baikan, romantis banget sih bikin iri.” Goda Inez.


Gita dan Axel hanya tersenyum menanggapi ucapan Inez. Sedangkan Dimas sejak tadi masih diam sejak kedatangan Axel.


“Ya sudah, aku pamit pulang dulu ya, Git. Semoga cepat sehat!” ucap Inez sebelum pamit plang.


“Terima kasih.”


Tak lama kemudian Dimas juga berpamitan. Karena tidak nyaman juga jika berlama-lama disana menyaksikan kemesraan Gita dan Axel.

__ADS_1


Dimas berjalan dengan cepat mengikuti langkah kaki Inez menuju parkiran. Sejak tadi bertemu di parkiran, Dimas melihat wajah Inez tampak berbeda dari biasanya. Namun saat di hadapan Gita, Inez mampu bersikap biasa saja. Dan Dimas rasa saat ini yang tepat untuk menanyakan langsung pada Inez. Biarlah dia dibilang lancang.


“Inez, tunggu!!” panggi Dimas dengan tangan yang sudah mencekal tangan Inez.


Inez menoleh dan terkejut saat Dimas sudah ada di belakangnya. Namun setelah itu dia meringis menahan sakit pada lengan tangannya yang sedang dipegang oleh Dimas. Seketika Dimas melepas genggaman tangannya. padahal dia hanya memegang biasa tanpa menyakiti.


“Maaf, kalau menyakitimu.” Ucap Dimas.


“Nggak apa-apa, Kak. Ehm, ada apa ya?” tanya Inez sambil mengusap tangannya yang masih terasa sakit.


Dimas pun penasaran. Dia kembali meraih tangan Inez lalu melihat tangan Inez. Betapa terkejutnya dia saat melihat luka memar pada tangan Inez.


“Nez, ini kenapa?” tanya Dimas.


“Nggak apa-apa, Kak. Habis jatuh saja.” Jawab Inez dengan berusaha menjauhi Dimas. Namun Dimas semakin penasaran.


“Kalau nggak ada yang dibicarakan, aku pulang dulu, Kak.” Ucap Inez kemudian, dan segera berjalan menuju mobilnya.


Inez pergi begitu saja meninggalkan Dimas. Dan tanpa dia sadari, Dimas masih mengikutinya. Tepat saat Inez akan meraih gagang pintu mobilnya, rambut Inez yang sejak tadi tergerai tiba-tiba tertiup angin yang sedang berhembus ringan. Namun mampu menyibak rambut Inez yang tidak terlalu panjang itu. Dan kebetulan Inez sedang berada di bawah sorot lampu yang sangat terang.


Dimas terkejut saat ada luka lebam di leher Inez tepatnya di bawah telinganya.


“Nez, katakan ada apa sebenarnya?” tanya Dimas membuat Inez terkejut. Kemudian dia berusaha menutupi lukanya dengan membenahi tatanan rambutnya.


Dimas menyibak rambut Inez hingga menampakkan luka lebam itu.


“Katakan! Perbuatan siapa ini?”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2