
Iqbal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal setelah melihat tingkah aneh Jenny. “Kencan” satu kata yang diucapkan Jenny semakin membuat Iqbal tidak mengerti. Bukankah tadi dirinya sudah berpamitan akan menjemput anak atasannya ke bandara. Tapi kenapa Jenny malah menuduhnya kencan.
Iqbal pun akhirnya memutuskan masuk ke kamarnya untuk istirahat. Mungkin nanti dia akan menanyakan lagi pada Jenny.
Sedangkan Jenny di dalam kamarnya lebih memilih memainkan ponselnya daripada harus bertemu dan melihat wajah Iqbal. Jenny tiba-tiba teringat lagi tentang kejadian dimana Iqbal menciumnya. Setelah itu hatinya begitu sakit menginggat tadi siang Iqbal sedang berdua dengan seorang perempuan.
“Mengapa rasanya sakit seperti ini? bukankah aku juga menganggap Kak Iqbal seperti kakakku sendiri.” Tanya batin Jenny.
Jenny tidak pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya. Dia juga tidak tahu apa nama perasaan ini. karena dengan Xavier, dia tidak pernah merasakan hal aneh seperti ini.
Sore harinya Jenny keluar kamar setelah menyelesaikan ritual mandinya. Dia memilih masuk ke dapur dan akan memasak. Akhir-akhir ini dia sudah mulai giat belajar memasak, walau rasanya belum sempurna. Tapi dia pantang menyerah.
Jenny membuka kulkas dan mengambil bahan masakan yang ada. Dia akan memasak tumis kacang panjang, dicampur sama daging. Karena kebetulan bahan itu yang ada di dalam kulkas. Dan hasil masakannya nanti akan ia gunakan sebagai menu makan malam.
Sejenak sibuk dengan aktivitas dapur membuat Jenny sedikit melupakan kegundahan hatinya tentang Iqbal. dia sangat asyik melakukan kegiata itu tanpa disadari kalau Iqbal sedang berdiri tak jauh dari tempat Jenny memasak.
Tiba-tiba saja Jenny mencium aroma parfum Iqbal di dalam dapur. Kemudian dia menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya di saat seperti ini justru bayangan Iqbal yang tengah menciumnya terlintas kembali.
Aww
Tangan Jenny yang sedang sibuk memotong kacang pancang tanpa sengaja terkena pisau. Dan tiba-tiba saja dengan cepat Iqbal berlari menghampirinya. Laki-laki itu tidak mengucap sepatah kata pun. Tindakannya cepat meraih tangan Jenny dimana jarinya mengeluarkan darah setelah terkena pisau.
Jantung Jenny berdegup kencang saat Iqbal memasukkan jarinya ke dalam mulut lalu menghisap darah yang terus keluar itu. Bahkan mata Iqbal menatap mata Jenny dengan intens. Jenny yang semakin gugup pun akhirnya membuang mukanya dan berusaha melepas jarinya yang masih berada dalam mulut Iqbal.
“Sudah, Kak. Aku nggak apa-apa.” Ucap Jenny.
“Tapi darah kamu masih keluar.” Jawab Iqbal setelah mengeluarkan jari Jenny dari mulutnya.
“Nggak apa-apa. Nanti akan sembuh sendiri.” Jawab Jenny masih membuang muka.
Bukannya melepas, Iqbal justru menggenggam erat tangan Jenny dan menuntunnya untuk duduk di kursi meja makan. Lalu dia berjalan masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Jenny masih bingung harus berbuat apa. Dan tak lama kemudian Iqbal keluar dari kamarnya dengan membawa kotak obat.
Pria itu duduk berjongkok di bawah Jenny sambil membersihkan lukanya. Dengan telaten Iqbal melakukan itu. Dan setelah itu dia memplester luka pada jari Jenny.
__ADS_1
“Sudah. Kamu duduk saja disini, biar aku yang melanjutkan masaknya.” Ucap Iqbal.
Jenny masih bergeming. Lalu tubuhnya menoleh melihat ke arah Iqbal yang dengan sigap menyelesaikan masakan yang sempat tertunda tadi.
Kini Iqbal sudah menyiapkan masakannya di atas meja. Jenny merasa tidak enak karena sejak tadi dia hanya duduk manis saja, akhirnya berdiri untuk mengambilkan air minum.
“Jangan berdiri! Kamu duduk saja.” Ucap Iqbal dan Jenny pun menurut.
Setelah itu Iqbal mengambil satu piring dan mengisinya dengan nasi. Jenny pun akhirnya mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Tapi lagi-lagi Iqbal mencegahnya.
“Sudah kamu diam saja. Biar makannya aku suapin.” Ucap Iqbal.
“Tapi aku bisa makan sendiri Kak. Lagi pula yang terluka jari tangan kiriku.” Tolak Jenny yang menuruttnya Iqbal sangat berlebihan.
“Sudahlah Jen, jangan membantah!” ucap Iqbal dengan suara tegas.
Jenny pun akhirnya menurut. Sesuai dengan ucapannya, Iqbal menyuapi Jenny. Namun Jenny tidak mau jika hanya dirinya saja yang makan. Akhirnya Iqbal juga ikut makan dengan piring dan sendok yang sama. Uhhh so sweet 😂😂😂
Selesai makan, Iqbal tidak lantas berdiri untuk membereskan sisa makanannya. Dia ingin bicara serius dengan Jenny mengenai kejadian tadi siang.
“Sudahlah Kak. Lupakan saja.” Jawab Jenny dan memilih berdiri. Namun Iqbal mencegahnya.
“Nggak bisa. Aku minta penjelasan kamu. Kenapa kamu mengira kalau aku tadi sedang berkencan? Bukankah aku sudah bilang akan menjemput anak atasanku ke bandara. Tadi dia juga minta ditemani untuk makan siang.” Ucap Iqbal panjang lebar.
“Ya sudahlah Kak, aku juga nggak masalah kok. Maaf jika aku tadi berlebihan. Aku juga baru ingat kalau hubungan kita memang sebatas adik kakak meski dalam ikatan pernikahan.” Ucap Jenny dan langsung meninggalkan Iqbal.
Sungguh Iqbal semakin tak mengerti dengan maksud ucapan Jenny. Jika memang tahu hubungannya sebatas kakak adik, kenapa sikapnya seperti itu. Seolah dirinya sedang tertangkap basah sedang berselingkuh.
“Apa mungkin Jenny cemburu saat melihat aku dengan Farah tadi?” tanya batin Iqbal.
Iqbal menarik sudut bibirnya ke atas hingga membentuk sebuah senyuman tipis. Tapi sedetik kemudian senyum itu pudar. Mengingat Jenny saat ini tengah menjalin hubungan dengan pria lain, yang dua minggu lagi akan menyambanginya ke kota ini.
“Terlalu percaya diri sekali aku jika menganggap Jenny cemburu.” Gumam Iqbal sambil tersenyum getir.
__ADS_1
Setelah makan malam, baik Iqbal maupun Jenny memilih untuk masuk ke dalam kamar masing-masing. Entah apa yang mereka berdua lakukan. Yang pasti mereka enggan untuk bertemu satu sama lain. Terutama Jenny.
Keesokan paginya, mereka berdua sudah bersiap untuk memulai aktivitasnya seperti biasa. Setelah sarapan yang terkesan hening, Iqbal kini sudah mengambil jaketnya untuk berangkat ke kantor. namun tiba-tiba saja terdengar suara klakson mobil yang berhenti tepat di depan rumah.
Kebetulan Jenny yang sangat denkat dengan pintu, akhirnya dia membukakan pintu depan untuk memastikan siapa yang datang pagi-pagi seperti ini.
“Selamat pagi! apa benar ini rumah Iqbal?” sapa seorang perempuan cantik yang kemarin Jenny temui saat di restaurant bersama Iqbal.
“Pagi. iya benar.” Jawab Jenny.
“Nona Farah? Ada apa pagi-pagi Nona kesini?” tanya Iqbal yang sudah muncul diantara Jenny dan Farah.
“Oh ini tadi sekalian aku menghampiri kamu untuk pergi ke kantor.” jawab Farah.
“Tapi saya bisa pergi sendiri naik motor, Nona. Anda tidak perlu repot-repot seperti ini.” ucap Iqbal.
“Nggak apa-apa. Naik mobil ini saja. Lagi pula setelah ini mobil ini akan jadi milik kamu, dan bisa kamu gunakan untuk bekerja.” Ucap Farah.
Iqbal semakin tidak mengerti dengan ucapan Farah. Bagaimana mungki perempuan itu memberikan mobilnya tanpa ada maksud tertentu. Sementara Jenny masih terdiam mengamati interaksi kedua orang di hadapannya itu.
“Kamu jangan berpikir macam-macam. Ini semua perintah Mami. Kalau nggak percaya nanti kamu bisa tanyakan langsung pada Mami. Dan apakah dia istri kamu Bal? kamu bisa sekalian mengantarnya bekerja.” Ucap Farah sambil tersenyum pada Jenny.
.
.
.
*TBC
Yok yok give ur like and comment🤗😘
Sabar ya readers ikutin alurnya
__ADS_1
😍😍