
Saat ini Jenny sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit di kota X. perjalanan yang membutuhkan waktu kurang lebih selama 3 jam. Jenny sejak tadi terlihat sangat cemas memikirkan keadaan Iqbal. lalu dia melirik seorang perempuan yang sedang duduk di sampingnya tampak mengemudikan mobilnya dengan tenang meski kecepatan mobilnya di atas rata-rata.
“Memangnya apa yang terjadi dengan Kak Iqbal?” tanya Jenny memecah keheningan.
“Aku nggak tahu bagaimana kejadian pastinya. Tadi Mami meneleponku dan mengatakan kalau Iqbal mendapat luka di bagian perutnya.” Jawab Farah.
Jenny menutup mulutnya karena terkejut. Dia tidak berani lagi menanyakan lebih lanjut tentang keadaan Iqbal pada Farah. Dia hanya bisa berdoa dan berharap agar tidak terjadi apa-apa dengan Iqbal.
“Tenanglah. Aku yakin Iqbal akan baik-baik saja. Karena dia adalah laki-laki yang sangat kuat.” Ucap Farah dengan nada sedikit menyindir di akhir kalimatnya.
Jenny hanya mampu terdiam setelah mendengar kalimat sindiran Farah. Tapi memang benar kenyataanya seperti itu. Tapi jauh dari lubuk hatinya, Jenny sangat takut jika kehilangan Iqbal. bahkan akhir-akhir ini hubungannya dengan Xavier tidak seperti biasanya.
Pukul 11 malam mobil Farah sudah sampai di depan rumah sakit kota X. dia segera keluar dan diikuti oleh Jenny. Setelah menanyakan ruangan Iqbal dirawat, kedua perempuan itu segera mencari kamar rawat Iqbal.
“Mami!” panggil Farah pada Maminya yang sedang duduk di depan ruang rawat Iqbal.
“Farah, malam-malam begini kamu nekat datang kesini?” tanya Nyonya Sarah khawatir.
“Aku sangat khawatir dengan keadaan Iqbal Mi. ah maksudku keadaan Mami.” Ucap Farah meralat omongannya karena sadar ada Jenny sedang berdiri di belakangnya.
“Nyonya, bagaimana keadaan Kak Iqbal?” tanya Jenny menahan tangisnya.
Nyonya Sarah tampak iba melihat wajah sedih Jenny. Lalau wanita paruh baya itu mendekati Jenny dan memeluknya.
“Suami kamu baik-baik saja. Setengah jam yang lalu dia baru saja dioperasi. Sekarang dia masih tidur karena efek obat biusnya.” Ucap Nyonya Sarah.
“Bagaimana kejadiannya Mi? dan kenapa tangan Mami diperban begini?” tanya Farah.
Kemudian Nyonya Sarah mengajak Jenny dan farah untuk duduk dan menceritakan kronologi dimana dirinya dan Iqbal yang tiba-tiba diserang oleh segerombolan orang tak dikenal. Saat itu Nyonya Sarah dan Iqbal baru keluar dari hotel setelah ada acara makan malam bersama beberapa rekan bisnisnya. Dan saat di tengah perjalanan mobilnya dihadang oelh segerombolan pria. Iqbal pun keluar dari mobil.
Nyonya Sarah melihat Iqbal sedang terlibat adu mulut dengan salah satu pria itu. Dan tak lama kemudian mereka menyerang Iqbal membabi buta. Nyonya Sarah sangat terkejut berusaha menelepon polisi. Namun belum sampai meraih ponselnya, salah satu dari segerombolan pria itu masuk ke dalam mobil dan memintanya keluar.
__ADS_1
Nyonya Sarah mencoba melarikan diri namun naas, justru dirinya didorong oleh pria itu hingga tangannya membentur sebuah batu di pnggir jalan. Dan tak lama kemudian ada sebuah mobil melintas dan menolongnya. Segerombolan pria itu langsung kabur dan terlihat Iqbal sudah tergeletak bersimbah darah.
Jenny mendengar semuanya tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja. Farah yang melihatnya juga tampak iba.
“Tenanglah. Dia sudah melewati masa kritisnya.” Ucap Farah.
“Benar yang dikatakan oleh Farah. Tadi dalam perjalanan pun suami terus memanggil nama kamu. Mungkin dia tidak ingin membuat perempuan yang dicintainya khawatir.” Ucap Nyonya Sarah.
Semalaman penuh Jenny menunggu Iqbal di rumah sakit dengan ditemani oleh Farah. Sementara Nyonya Sarah memutuskan untuk menginap di hotel karena keadaannya juga masih belum sepenuhnya baik.
“Kamu temani saja Nyonya Sarah, biar aku yang menunggui
Kak Iqbal disini.” Ucap Jenny.
“Nggak apa-apa aku akan menemani kamu menjaganya. Aku juga sangat mengkhawatirkan keadaan Iqbal.” jawab Farah.
Entah kenapa Jenny sangat terusik dengan ucapan Farah yang begitu mengkhawatirkan keadaan Iqbal. apakah perempuan itu menaruh hati pada Iqbal. sedangkan Farah tampak biasa saja bahkan lebih bersikap bodoh amat saat melihat wajah murung Jenny setelah dirinya mengatakan menkhawatirkan keadaan Iqbal.
Iqbal terus saja meracaukan nama Jenny dan selalu mengatakan cinta pada istrinya.Farah mendengar semua ucapan dan keluh kesah Iqbal kalau istrinya baru saja menerima lamaran dari kekasihnya di saat hubungannya belum berakhir.
“Kenapa kamu sangat mengkhawatirkan Iqbal?” tanya Farah tiba-tiba.
“Karena dia suamiku.” Jawab Jenny kesal.
“Oh suami kamu. Memangnya ada ya seorang istri menerima lamaran dari pria lain. Sungguh di luar nalar.” Ucap Farah mencemooh.
Jenny terhenyak dengan ucapan bernada sinis dari Farah. Bagaimana perempuan itu bisa tahu tentang lamaran Xavier beberapa bulan yang lalu. Apakah Iqbal menceritakan semuanya.
“Iqbal menceritakan semuanya saat dia sedang mabuk saat itu. Jadi wajar saja aku tahu itu semua. Saranku lebih baik kamu segera akhiri saja hubungan kamu dengan Iqbal daripada terus menyiksa batinnya.” Ucap Farah.
“Tapi aku tidak menerima lamaran laki-laki itu.” Jawab Jenny singkat dan segera keluar dari ruang rawat Iqbal karena tidak sanggup lagi menahan tangisnya.
__ADS_1
Iqbal yang sedang dalam posisi setengah sadar dapat mendengar semuanya. Entah kenapa hatinya sangat lega setelah mendengar sebuah kenyataan bahwa Jenny tidak menerima lamaran Xavier saat itu. Pantas saja dia tidak melihat cincin yang melingkar di jari Jenny. Akhirnya Iqbal memutuskan untuk tidur kembali.
Sedangkan Jenny saat ini sedang duduk seorang diri di ruang tunggu. Dia menumpahkan tangisnya setelah mendengar perkataan Farah yang sangat melukai hatinya. Jenny bingung harus berbuat apa. Tapi yang pasti dirinya tidak sanggup untuk kehilangan Iqbal.
“Mungkin nanti saat aku pulang ke kota J, aku akan memutuskan hubunganku dengan Kak Xavier.” Gumam batin Jenny.
Setelah hatinya sedikit lebih tenang, dia kembali masuk ke dalam ruang rawat Iqbal. ternyata Farah tidak ada disana.
Jenny mendekati Iqbal yang masih setia menutup matanya pasca operasi. Tangan Jenny terulur mengusap wajah Iqbal, lalu dia memberanikan diri mengecup kening Iqbal.
Setelah itu rasa kantuk mulai menyerangnya. Akhirnya Jenny memutuskan untuk tidur di sofa yang dalam ruangan itu.
Keesokan paginya Jenny masih setia menutup matanya di saat Iqbal perlahan mulai membuka mata. Iqbal tersenyum tipis saat melihat Jenny semalam menungguinya. Bahkan dia juga merasakan kalau Jenny telah mengecup keningnya sekilas.
Cklek
“Kamu sudah bangun? Bagaimana keadaan kamu?” tanya Farah yang baru saja masuk.
“Aku sudah baikan. Ehm, bisakah kamu mengambilkan minum.” Ucap Iqbal.
Farah mengangguk dan mengambilkan air minum untuk Iqbal. bahkan Farah juga membantu Iqbal untuk duduk. Jenny yang sudah terbangun tanpa mereka berdua sadari, hatinya mencelos melihat pemandangan di depan matanya.
.
.
.
*TBC
Gimana rasanya, Jen???😂😂
__ADS_1
Happy Reading‼️