
Axel memasuki ruang kerja Iqbal dengan wajah tertunduk lesu. Padahal sebelum datang ke rumah Iqbal, dia begitu semangat. Namun setelah melihat seseorang yang membuatnya semangat justru pergi dengan laki-laki lain membuat mood Axel berantakan.
“Pagi, Om!” sapa Axel saat baru saja memasuki ruang kerja Iqbal.
“Hmm… mana berkasnya?” Iqbal meminta berkas yang memang dia minta dari Felix.
“Duduklah!” ucap Iqbal kemudian.
Iqbal mengecek berkas yang baru saja diberikan oleh Axel. Meski perusahaan Iqbal sudah bekerjasama dengan perusahaan milik Felix, namun Iqbal harus tetap professional dan meneliti berkas itu. Terlebih sekarang ada Axel yang sudah mulai ikut membantu Papanya di kantor semenjak lulus kuliah tiga tahun yang lalu.
Iqbal sudah percaya dengan prestasi yang diraih oleh Axel selama mengenyam pendidikannya. Laki-laki berusia 23 tahun itu terbukti sangat pintar karena di usianya yang baru 20 tahun saat itu sudah berhasil mendapatkan gelar sarjana. Maka harusnya tidak diragukan lagi kemampuan Axel dalam keikut sertaannya menangani perusahaan Papanya. Namun tidak seperti itu yang dipikirkan Iqbal.
Perilaku yang diturunkan Felix pada Axel yakni seorang playboy, membuat Iqbal sedikit kurang percaya pada setiap apa yang dikerjakan laki-laki itu. Masih ada rasa bimbang di hati Iqbal jika Axel benar-benar mampu dalam bidang itu. Takutnya Axel ceroboh.
“Siapa yang pergi ke luar kota besok?” tanya Iqbal.
“Sepertinya Papa sendiri, Om.” Jawab Axel.
“Kenapa bukan kamu saja? justru ini kesempatan buat kamu belajar secara langsung dalam menangani proyek besar itu.” Tanya Iqbal.
“Ehm, tapi Papa sendiri Om yang minta.” Jawab Axel.
“Bilang saja kalau kamu tidak bisa meninggalkan duniamu.” Gerutu Iqbal namun masih bisa didengar oleh Axel.
Axel hanya diam saja. Memang selama ini dirinya terkenal hidup bebas. Dia terkenal karena anak tunggal seorang pengusaha kaya yang bergelimang harta, ditambah wajah tampannya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi kebanyakan kaum hawa. Namun kebebasan itu tidak lantas membuat Axel melakukan perbuatan yang menyimpang dan melanggar norma.
“Nanti aku akan menghubungi Papa kamu dan meminta agar kamu saja yang ikut pergi ke luar kota besok. Sekarang kamu boleh pulang.” ucap Iqbal kemudian.
“Iya, Om. Permisi.” Jawab Axel.
Axel segera pulang. karena hari ini sedang libur bekerja. Namun dia teringat kalau tadi Gita pergi bersama Dimas ke perpustakaan umum untuk mengerjakan skripsinya, jadi Axel memutuskan untuk pergi kesana.
Beberapa saat kemudian mobil Axel sudah tiba di depan perpustakaan. Di luar perpustakaan itu tersedia tempat santai untuk kebanyakan pelajar dan mahasiswa mengerjakan tugasnya. Lalu mata Axel tertuju pada sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang asyik menghadap layar laptop sambil mengerjakan tugas.
Axel memutuskan untuk duduk di tempat yang tidak jauh dari Gita dan Dimas sambil membaca sebuah buku. Sesekali Axel mencuri pandang Gita yang terlihat sedang fokus mendengarkan penjelasan dari Dimas. Ada rasa nyeri dalam hati Axel melihat kebersamaan Gita dan Dimas. Namun Axel tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya terhadap Gita, karena sejak dulu Gita hanya menganggapnya sebagai kakak. Terlebih Gita juga tahu dirinya seorang playboy.
__ADS_1
Tanpa Axel sadari ternyata Dimas sudah mengetahui keberadaannya. Dia lalu berbisik pada Gita untuk memberitahu bahwa Axel juga ada disini.
“Kak!” panggil Gita membuyarkan lamunan Axel.
“Eh iya, Git?” jawab Axel tak enak karena merasa pengintaiannya diketahui.
Gita melambaikan tangannya pada Axel agar ikut bergabung dengannya. Axel pun terpaksa ikut duduk bertiga. Dimas, laki-laki yang pembawaannya hamble itu tersenyum pada Axel walau sikap Axel padanya selalu dingin.
“Tumben nih Kak Axel mainnya kesini?” tanya Gita.
Gita yang tugasnya sudah selesai, dia menutup laptopnya dan memilih ngobrol santai dengan Axel dan juga Dimas.
“Iya. Pingin saja. Lagi tertarik sama buku ini!” Axel menunjuk buku yang sedang ia bawa.
“Oh kirain mau kencan sama pegawai perpustakaan yang cantik itu.” Seloroh Gita sambil tersenyum simpul.
Axel hanya membalas candaan Gita dengan senyuman. Padahal kedatangannya kesini hanya untuk mengintai Gita. Sementara itu Dimas sedang sibuk dengan gadgetnya. Dia tampak serius membalas pesan dari seseorang hingga membuatnya harus pulang terlebih dulu.
“Gita, aku harus pulang sekarang. kamu mau aku antar pulang sekrang atau-“
“Iya deh, Kak. Memangnya ada apa kok Kak Dimas kelihatan panik begitu?” tanya Gita.
“Ini, baru saja dapat kabar dari ibu panti kalau Mimi baru saja jatuh dan lukanya cukup serius.” Jawab Dimas.
“O ya sudah nggak apa-apa, Kak Dimas pulang saja dulu. Nanti aku akan jenguk kesana.” Ucap Gita.
Setelah itu Dimas segera pergi meninggalkan Gita dan Axel. Terlihat wajah cemas Gita saat mengetahui kabar yang baru saja disampaikan oleh Dimas. Namun Axel berusaha mengalihkan perhatiannya.
“Kamu sudah selesai ngerjain tugasnya?” tanya Axel.
“Sudah, Kak. Nanti tinggal lanjutin dikit di rumah.” jawab Gita.
“Ya sudah, yuk cabut. Kita jalan dulu ya, mumpung lagi libur nih.” Ajak Axel dan Gita pun akhirnya menurut.
Axel mengajak Gita jalan ke mall. Dia ingin mengajak Gita makan siang disana, sekalian membeli sesuatu yang sedang ia butuhkan. Dalam perjalanan, Axel melihat Gita tampak sibuk sedang berbalas pesan dengan seseorang. Entah dengan siapa, Axel tidak tahu. Namun menurut feelingnya, Gita pasti sedang berbalas pesan dengan Dimas.
__ADS_1
“Kamu dekat banget ya Git sama Dimas?” tanya Axel.
“Ya gitu deh Kak. Kak Dimas juga orangnya baik dan humble. Dan juga dewasa.” Jawab Gita sambil tersenyum membayangkan laki-laki itu.
“Apa kamu menyukainya?” tanya Axel.
Mendapat pertanyaan seperti itu, bukannya menjawab, Gita justru tersenyum tipis dengan pipi yang sudah merona. Dan hal itu semakin membuat Axel geram. Namun dia harus berusaha untuk biasa saja.
“Hat-hati, yang terlihat baik belum tentu dalamnya juga baik.” Peringat Axel dan membuat Gita semakin tidak mengerti. Saat Gita akan menanyakan maksud ucapan itu, tiba-tiba mobil Axel sudah sampai mall.
“Kak Axel mau beli sesuatu?” tanya Gita.
“Hmm… mau beli baju saja sekalian makan siang.” Jawab Axel.
Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam outlet baju casual. Gita diminta Axel memilihkan baju untuknya. Axel tersenyum melihat sikap Gita yang sangat peduli padanya seperti sedang memilihkan baju untuk kekasihnya.
“Ya sudah, yuk kita makan siang dulu.” Ajak Axel setelah membayar baju yang sudah dibelinya.
Kini mereka berdua sedang duduk berhadapan di sebuah foodcourt yang ada dalam mall tersebut. Saat Gita sedang memilih beberapa menu makanan dan minuman, tiba-tiba saja terdengar teriakan suara perempuan sedang memanggil Axel.
“Axellll!!!! Nggak nyangka kita akan bertemu disini.” Ucap perempuan berbaju seksii itu sambil memeluk Axel yang sedang duduk.
Gita hanya melongo melihat sikap perempuan yang tidak ia kenal itu.
.
.
.
*TBC
Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan votenya ya guys🤗🤗😁😁
Happy Reading
__ADS_1
‼️