
Usia pernikahan Axel dan Gita sudah berjalan satu bulan. Dan keseharian mereka masih seperti biasanya. Gita sudah mengembalikan baju-bajunya ke kamarnya setelah beberapa waktu lalu Nia datang menginap di apartemennya.
Axel menghitung usia pernikahannya yang sudah satu bulan ini berharap ada sesuatu hal yang bisa membuat hatinya sedikit senang. Yaitu berharap Gita hamil. Sedangkan Gita tidak berharap sama dengan yang diinginkan oleh Axel. Jika dirinya memang tidak hamil, Gita akan menjalankan rencananya yaitu membuat Axel membencinya hingga laki-laki itu menceraikannya. Karena Gita sendiri tidak tahan hidup seperti ini terus. Selain ingin hidup sendiri tanpa mengenal laki-laki, Gita juga tidak ingin semakin menumpuk dosa pada Axel. Dia berharap Axel mendapatkan wanita yang lebih baik darinya dan bisa memberikan cinta yng tulus.
Dan akhirnya nasib baik belum berpihak pada Axel. Axel terpaksa harus menelan kekecewaan lagi setelah mengetahui bahwa ternyata Gita tidak hamil. Tadi sewaktu menjemput Gita pulang kerja, perempuan itu meminta untuk diantarkan ke minimarket. Dan Axel tahu yang dibeli Gita adalah pembalut.
Gita juga bisa melihat sorot mata Axel yang penuh kekecewaan saat mengetahui barang apa yang dibelinya. Gita juga tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena memang mungkin ini yang terbaik.
“Gita, duduklah sebentar! Aku ingin bicara sesuatu denganmu.” Ucap Axel setelah mereka berdua sudah memasuki unit apartemen.
“Ada apa?” tanya Gita yang sudah duduk di sofa ruang tengah.
“Sampai kapan hubungan rumah tangga kita seperti ini? sampai kapan kamu membenciku seperti ini? setidaknya jika kamu tidak bisa menganggapku sebagai suami, kita bisa memperbaiki hubungan kita seperti dulu, sebagai kakak adik.” Ucap Axel.
Gita terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Axel. Dia sangat membenci momen seperti ini yang seolah menyudutkannya.
“Jika memang masih menyangkut kejadian waktu itu, bisakah kita untuk melupakannya dan memperbaiki hubungan kita dari awal. Pernahkan kamu berfikir, bagaimana jika saat itu aku tidak menolongmu, apa yang akan terja-“
“Cukup!!!” teriak Gita dan kini air matanya sudah mengalir deras.
Axel terkejut melihat reaksi Gita seperti itu. Padahal niatnya hanya ingin memngingaatkan Gita agar otaknya mampu berpikir dengan jernih. Namun kenapa justru Gita seperti itu.
“Gita, maaf. Maafkan aku.” ucap Axel merasa bersalah.
“Jangan lagi ungkit kejadian itu. Memang ini semua salahku. Dan apa aku harus bersyukur setelah kamu menolongku dari orang-orang jahat itu? Kamu nggak tahu yang aku rasakan sampai saat ini. aku muak dengan diriku sendiri. Aku benci dengan diriku sendiri. Aku bahkan tidak mau mengenal laki-laki lagi setelah kejadian itu. Aku jijik dengan diriku sendiri.” Ucap Gita berapi-api diiringi air matanya yang semakin deras mengalir.
“Aku akan membuatmu membenciku sampai akhirnya kamu lelah dan menceraikanku. Setelah itu aku akan hidup sendiri tanpa mengenal laki-laki.” Lanjut Gita.
“Please Gita jangan seperti ini. maafkan ucapanku tadi. jangan berniat membuatku membencimu. Sampai kapanpun aku tidak akan membencimu. Karena aku sangat mencintaimu.” Ucap Axel.
__ADS_1
Axel mendekatkan diri ingin memeluk Gita yang sedang menangis tersedu. Sunguh sakit hatinya melihat Gita terpuruk seperti itu. Ternyata selama ini Gita tidak hanya membenci dirinya, tapi membenci dirinya sendiri dan menganggap dirinya sudah tidak punya harga diri lagi.
“Stop!! Jangan mendekat! Aku nggak butuh dikasihani. Tinggalkan aku sekarang juga!!” teriak Gita.
“Tidak, Gita. Aku tidak akan pergi, aku akan tetap di sisi kamu sampai kapanpun. Sampai kamu bosan membenciku. Lebih baik sekarang istirahatlah.” Ucap Axel.
Axel memilih masuk ke kamarnya terlebih dulu, kemudian Gita pun masuk ke kamarnya. Mungkin efek tamu bulanan Gita yang baru datang, hingga membuat emosinya meluap-luap seperti itu.
Sementara Axel yang sudah ada di dalam kamarnya, kini hanya bisa terdiam. Merenungi tentang apa yang baru saja ia ketahui dari Gita. Axel berpikir keras mencari solusi tentang hubungannya dengan Gita.
Malam itu juga keduanya tidak keluar kamar. Gita juga memilih langsung tidur dan melupakan makan malamnya. Karena efek datang bulan juga membuat selera. Makannya hilang.
Berbeda dengan Axel, tengah malam laki-laki itu keluar kamar untuk makan. Untung saja tadi sepulang kerja dia sudah membeli makanan. Jadi tidak perlu repot-repot keluar atau memesan secara online.
Axel melihat kotak nasi milik Gita maasih utuh. Seketika dia sangat khawatir dengan keadaan Gita yang sampai saat ini belum makan. Ingin sekali mengetuk pintu kamarnya tapi Axel masih belum berani. Takut amarah Gita kembali meluap.
Keesokan paginya, Gita bangun terlebih dulu. Dia keluar kamar sudah berpakaian rapi dan bersiap pergi ke kantor. hari ini Gita memilih naik taksi, karena dia masih belum ingin bertemu dengan Axel.
Axel menghembuskan nafasnya pelan saat baru saja melihat Gita keluar dari apartemen. Dan sudah dapat dipastikan kalau Gita berangkat ke kantor naik taksi. Untung saja Axel sudah memasang GPS pada ponsel Gita beberapa waktu yang lalu setelah mendapat saran dari sahabatnya.
***
Tok tok tok
“Masuk!” ucap Iqbal saat terdengar suara ketuka pintu dari luar.
“Permisi, Tuan. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan.” Ucap Dimas setelah Iqbal mempersilakan duduk.
__ADS_1
“Apa? Katakan!” tanya Iqbal.
Setelah itu Dimas mengatakan kalau baru saja ada email masuk dari salah satu perusahaan yang bergerak di bidang multi nasional. Dimas mengatakan kalau perusahaan itu mengajukan proposal kerjasama dengan perusahaan miliknya.
“Bukankah perusahaan itu perusahaan yang cukup besar dan posisinya masih tinggi dari pada perusahaan ini?” tanya Iqbal.
“Iya, Tuan. Saya sudah menanyakan seperti apa yang anda pikirkan. Kemudian mereka membalas email saya dan mengatakan kalau memang perusahaan itu ingin menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan yang posisinya berada di bawahnya agar lebih cepat berkembang.” Jawab Dimas.
“Baiklah, nanti akan aku pikirkan lagi. Terima kasih banyak atas informasinya.” Ucap Iqbal.
“Sama-sama Tuan. Saya pamit.” Ucap Dimas kemudian.
Setelah itu Iqbal kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda. Di sela-sela kegiatannya, tiba-tiba terdengar deringan ponselnya yang cukup nyaring. Iqbal mengerutkan kening saat melihat nama anak laki-lakinya yang menelepon.
“Ya, ada apa Niel?” tanya Iqbal.
“…..”
“Apa? Di rumah sakit mana? Tunggu sebentar, Papa akan segera kesana.” Jawab Iqbal setelah itu bergegas pergi menuju rumah sakit.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1