
Saat ini mereka berempat sudah berada dalam mobil menuju perjalanan pulang. kedua pria dalam mobil itu tampak terdiam dengan pikiran yang tak seorang pun tahu. Namun satu hal yang pasti, kedua pria itu sama-sama sedang bahagia, meski ada penderitaan yang ikut serta.
Sesampainya di rumah Iqbal, Billal segera berpamitan pulang mengajak istrinya kembali ke apartemen. Karena waktu juga sudah malam. tak lupa membawa parfum yang sudah diberikan oleh Jenny tadi.
“Yakin Om sudah baik-baik saja?” tanya Jenny.
“Iya. Aku sudah nggak apa-apa. Sekali lagi selamat ya buat kalian berdua.” Jawab Billal.
“Iya, Om sama-sama. Selamat juga buat Om dan Lidya. Akhirnya Om akan mendapatkan seorang buah hati yang sudah lama Om harapkan dari istri Om.” Ucap Jenny sambil memeluk Billal dengan haru.
“Sayang, sudah ayo kamu harus minum vitamin pemberian dokter tadi.” Iqbal segera menarik tubuh istrinya yang sedang memeluk Billal. Entah kenapa tiba-tiba Iqbal tidak suka melihat istrinya berpelukan dengan Omnya.
“Jangan lupa nanti Om makan di rumah. tadi kan belum sempat makan.” Ucap Jenny dan diangguki oleh Billal dan juga Lidya.
Setelah Billal pulang dengan istrinya, Iqbal segera mengajak istrinya masuk ke dalam rumah. wajah Iqbal berubah jutek setelah melihat istrinya berpelukan dengan Omnya tadi.
“Mas kenapa sih?” tanya Jenny bingung.
“Minumlah segera vitamin kamu. Setelah itu tidur, karena sudah malam.” jawab Iqbal dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Bukannya masuk ke dalam kamarnya sendiri, Iqbal masuk ke kamar Gita terlebih dulu. Dia merebahkan tubuhnya sejenak sambil memeluk anak gadisnya yang sudah terlelap sambil memeluk boneka kesayangannya.
Iqbal sangat bahagia karena sebentar lagi Gita akan mempunyai seorang adik. Iqbal mengusap lembut kepala Gita, berharap suatu saat nanti anak perempuannya itu bisa menjadi kakak yang baik dan melindungi adiknya.
Cklek
Jenny masuk ke dalam kamar Gita dan menemukan seseorang yang sejak tadi ia cari. Ternyata suaminya sedang menyambangi kamar si anak gadisnya.
“Mas, aku cariin kamu ternyata disini.” Ucap Jenny dan ikut duduk di bibir ranjang.
Tanpa menjawab ucapan istrinya, Iqbal segera bangun dan keluar dari kamar Gita, memasuki kamarnya sendiri. Jenny semakin bingung dengan perubahan sikap suaminya.
Iqbal baru saja mengganti bajunya dengan baju tidur. Dia bahkan tidak mempedulikan istrinya yang sedang duduk sambil menatapnya.
__ADS_1
“Mas, kamu kenapa sih tiba-tiba diemin aku seperti ini? apa yang salah denganku?” tanya Jenny.
“Nggak ada apa-apa. Tidurlah. Ini sudah malam, tidak baik untuk kesehatan janin kamu.” Jawab Iqbal.
“Apa kamu nggak suka dengan kehamilanku yang kedua ini?” tanya Jenny dengan mode setengah marah, lalu keluar dari kamarnya.
“Bukan seperti itu, Sayang. Aku-“
Blammm
Jenny menutup pintu kamar dengan keras saat Iqbal ingin menjelaskan sesuatu pad istrinya. Iqbal mengusap wajahnya dengan kasar. Padahal dirinya yang sedang marah dengan sang istri karena cemburu melihatnya berpelukan dengan Billal tadi. tapi kenapa kini justru istrinya yang marah.
Iqbal keluar mencari istrinya dan akan meminta maaf, namun pintu kamar Gita terkunci dari dalam. Itu berarti Jenny sedang berada dalam kamar itu. Mau mengetuk pun Iqbal urungkan karena takut mengganggu tidur anaknya. akhirnya dia memilih masuk kamarnya lagi dan tidur seorang diri.
***
Sementara itu pasangan Billal dan Lidya kini sedang duduk berdua dengan posisi sangat intim di sofa ruang tengah unit apartemen mereka. Baru saja Billal menyelesaikan makan malamnya yang sempat tertunda dengan minta disuapi oleh Lidya. Sungguh pria matang itu sangat manja sekali dengan istrinya.
“Mas, kita tidur yuk. Sudah malam!” ajak Lidya karena matanya sudah mulai mengantuk.
Lidya pun tidak bisa lagi menolak keinginan sang suami. Jujur saja dia juga sangat senang melihat tingkah suaminya yang seperti ini. itu berarti Billal sangat mencintainya terlebih dengan kehamilannya. Memang Lidya sempat kasihan dengan Billal yang mengalami sindrom kehamilan simpatik, namun ada rasa bahagia dari relung hatinya. Karena ikatan batin mereka berdua sangat kuat.
“Sayang, kamu ingin anak yang dalam kandunganmu ini laki-laki atau perempuan?” tanya Billal.
“Laki-laki ataupun perempuan sama saja, Mas. Asal lahir dengan keadaan sehat dan selamat.” Jawab Lidya mengusap rambut Billal dengan lembut.
“Terima kasih. Terima kasih kamu sudah hadir dalam hidupku. Aku janji akan selalu menjaga kalian dengan sepenuh jiwa dan ragaku.” Ucap Billal.
“Sayang!” panggil Billal karena merasa tidak ada sahutan dari Lidya.
Kemudian Billal menengadahkan kepalanya melihat istrinya ternyata sudah tertidur dengan menyandarkan kepalanya pada sofa. Billal tersenyum tipis melihat istrinya yang dengan cepat tertidur. Lalu dia berdiri dan menggendong Lidya membawanya masuk ke dalam kamar.
Setelah merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang. Billal tak kunjung menutup matanya. dia memandangi wajah ayu sang istri yang belum lama ini mendampinginya. Lalu Billal mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Lidya.
__ADS_1
Cup
Tubuh Billal tiba-tiba seperti tersengat oleh listrik saat mengecup sekilas bibir ranum sang istri. Lalu dia mengulangi kegiatan itu berkali-kali. Dan kali ini gairrah Billal semakin menggebu untuk menyentuh istrinya lebih.
Ngghhh
Merasa terusik tidurnya, Lidya berusaha menyingkirkan sesuatu yang sedang membuat geli lehernya. Namun lenguhan itu semakin membuat Billal tak karuan. Dia mulai menggigit lembut leher jenjang itu sampai meninggalkan beberapa kissmark.
“Mass!!” lirih Lidya saat matanya mulai terbuka.
“Sayang, aku ingin!” ucap Billal dengan suara berat dan sudah tidak mampu lagi menahan gairrahnya.
Nyawa Lidya yang belum terkumpul sepenuhnya kini mendadak mendapatkan serangan dari suaminya. Mulut yang hendak protes pun dengan cepat dibungkam oleh bibir Billal lalu diikuti oleh lumattan yang semakin menuntut.
Lidya hanya bisa menikmati cumbuan yang diberikan oleh suaminya dengan kedua tangannya meremass rambut Billal.
Setelah puas dengan memberikan banyak kissmark pada leher jenjang sang istri, Billal perlahan menyingkap baju Lidya ke atas hingga nampaklah dua bukit yang sudah menantang dan minta ingin segera dilahap.
Akhirnya malam itu Lidya harus melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Walau matanya sudah sempat terlelap, namun dia harus melakukan tugasnya dengan baik. Billal pun sangat puas dengan pelayanan yang diberikan oleh istrinya.
“Terima kasih, Sayang. Maafkan aku yang mengganggu tidur kamu tadi.” ucap Billal setelah mengakhiri drama percintaannya.
“Nggak apa-apa, Mas. Jangan bilang seperti itu. Aku ikhlas melakukannya.” Jawab Lidya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar sang suami. Billal bersyukur sekali memiliki istri yang penurut seperti Lidya.
Dan mereka berdua pun bersiap menuju alam mimpi setelah melakukan pergumulan yang cukup melelahkan namun juga sangat nikmat bagi keduanya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️