Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 129


__ADS_3

“Apa yang terjadi diantara kalian?” tanya Mama Axel.


“Nggak ada apa-apa kok, Ma.” Jawab Axel namun suaranya terdengar gugup.


Iqbal dan Jenny semakin penasaran. Karena tidak biasanya Gita bersikap dingin pada Axel. Mereka tahu kalau hubungan Gita dan Axel sangat akrab seperti adik kakak.


Suasana ruang tengah semakin tidak kondusif lagi. Felix pun sempat berpikir aneh-aneh tentang anaknya. Iqbal yang semakin penasaran, akhirnya meminta Daniel dan Chandra untuk pergi ke ruang makan dulu, karena menurutnya mereka berdua belum sepantasnya ikut dalam masalah orang dewasa.


“Katakan! Kenapa Gita bersikap seperti tadi?” tanya Iqbal penuh intimidasi.


“Mas, tenang dong!” bisik Jenny memperingatkan.


Axel bingung bagaimana cara menceritakan semuanya. Lebih tepatnya menceritakan kejadian di Club tanpa memberitahu apa yang sudah ia lakukan pada Gita.


“Begini, Bal. sebenarnya kedatanganku kemari juga ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting berkaitan dengan Gita.” Ucap Felix.


“Sesuatu apa?” tanya Iqbal.


Felix pun menceritakan kejadian yang dialami oleh Gita sewaktu di Club tempo hari. Dimana Gita saat sedang menghadiri acara ulang tahun temannya, dan Axel melihat gerak-gerik orang mencurigakan yang akan berbuat buruk terhadap Gita. Dan ternyata benar, orang tersebut memang sedang ingin mencelakai Gita bahkan menculiknya. Untung saja Axel bergerak cepat dan segera menolongnya.


Semua orang terkejut mendengarnya. Terutama Iqbal. apakah orang yang akan mencelakai anaknya adalah orang yang sama yang akan menusuk Gita saat di bandara itu. Namun ada sesuatu yang mengusik hati Iqbal tentang apa yang dilakukan oleh Axel pada Gita. Harusnya kalau Axel menyelamatkan Gita, anaknya tidak menampakkan wajah dinginnya saat bertemu Axel baru saja.


“Memangnya apa yang dilakukan pada pria itu terhadap Gita?” tanya Iqbal.


Axel menelan salivanya susah payah. Sepertinya Iqbal sudah mencurigainya. Lalu apa yang harus Axel katakan.


“Oh itu, Om. Orang itu akan membawa Gita pergi. Dan Axel dengan cepat menolongnya saat Gita hampir saja masuk ke dalam mobil pria itu.” Jawab Axel.


“Lantas apa yang sudah dilakukan oleh pria itu jika kamu berhasil menolongnya, kenapa Gita justru bersikap dingin padamu?” Axel semakin mati kutu mendapat pertanyaan seperti itu.


Nia mengusap lengan Axel dengan lembut. Entah apa yang sudah dilakukan oleh anaknya, sepertinya memang telah terjadi sesuatu.


“Orang itu telah berhasil memasukkan obat perangsaang ke dalam minuman Gita, Om.” Ucap Iqbal dengan nada lemah dan membuat Iqbal semakin geram.


Bugh


Satu pukulan dengan cepat mendarat tepat di pipi kanan Axel. Jenny dan Nia berteriak bersama melihat Iqbal tiba-tiba marah. Tidak hanya itu, kini Iqbal mencengkeram kerah baju Axel.


“Kamu menolong Gita dari pria yang yang sudah memasukkan obat perangsaang itu? Katakan! Menolong yang seperti apa?” Iqbal semakin kuat mencengkerang kerah baju Axel, hingga Axel merasa seperti tercekik.


“Mas, lepaskan! Jangan seperti itu. Kita bisa membicarakannya baik-baik.” Ucap Jenny.


“Diam!! Aku ingin mendengarkan secara langsung dari mulut Axel.” Ucap Iqbal dengan nada tinggi.

__ADS_1


Nia sudah mulai menangis melihat anaknya dihakimi seperti itu. Sedangkan Felix mencoba untuk tenang. Dia juga ingin tahu jawabannya langsung dari mulut Axel.


“Maafkan Axel, Om!” ucap Axel sebelum menceritakan kejadian sebenarnya.


Setelah itu Axel menceritakan semuanya. Dia menolong Gita dari pria yang akan menculiknya di saat keadaan Gita sudah dalam pengaruh obat perangsaang. Axel membawa Gita pergi ke apartemennya karena memang itu jarak yang paling dekat. Dia mengatakan kalau menolong Gita dengan cara merendamnya dalam bathtub yang sudah ia isi dengan air hangat, karena Gita terus merasakan badannya panas. Namun tindakan Gita semakin tak terkontrol. Karena efek obat yang berdosis tinggi itu membuat Gita ingin segera disalurkan hasaratnya.


Bugh


Wajah Iqbal merah padam tanda amarahnya sudah memuncak.


“Dan kamu menuruti kemauan Gita? Kamu memanfaatkan kelemahan Gita? Dasar baji***n!!!!” umpat Iqbal.


Bugh


Bugh


“Cukup! Hentikan!” Nia semakin histeris melihat anaknya babak belur. Dan dia berhasil melepaskan Axel dari tangan Iqbal.


“Maafkan Axel, Om. Axel berjanji akan bertanggung jawab.” Ucap Axel sambil berlutut di hadapan Iqbal.


“Setelah kejadian itu, dengan mudahnya kamu ingin bertanggung jawab? Tidak semudah itu.” Ucap Iqbal.


“Tapi, Axel mencintai Gita, Om!” Axel akhirnya mengakui perasaannya pada Gita.


Nia dan Felix semakin sakit melihat sahabat baiknya merendahkan anaknya seperti itu. Felix segera berdiri untuk mengajak Axel pulang. namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Jenny.


“Biarkan Axel bertanggung jawab, Mas. Sebelum terjadi sesuatu dengan anak kita.” Ucap Jenny.


“Aku tetap nggak setuju. Kita tunggu saja kalau Gita tidak hamil, itu berarti baji***n ini tidak perlu mempertanggung jawabkan perbuatannya.” Ucap Iqbal.


Plak


Jenny menampar pipi suaminya.


“Kamu pikir Gita itu apa, Mas? Lantas jika Gita tidak hamil, apakah ada orang yang akan menerimanya?”


“Cukup!!! Ayo kita pulang sekarang!” kali ini Felix yang sudah tidak tahan.


“Boleh kamu melihat masa laluku, Bal! tapi jangan kaitkan semua kenakalanku dulu dengan anakku. Jangan melihat seseorang dari sampulnya. Ayo kita pulang sekarang!” lanjut Felix dan mengajak istri dan anaknya pulang.


Kini di ruangan itu tinggal Iqbal dan Jenny saja. Iqbal merasa sangat bersalah pada sahabatnya sendiri. Namun dia juga masih marah dengan perbuatan Axel. Sedangkan Jenny yang masih marah dengan suaminya, memilih meninggalkan Iqbal sendiri.


Akhirnya makan malam itu gagal.

__ADS_1


*


Jenny memasuki kamar Gita. Terlihat Gita sedang duduk seorang diri di balkon kamarnya. Hatinya sakit melihat anak perempuannya menyimpan beban itu sendirian.


“Gita!” panggil Jenny.


“Eh, iya Ma. Maaf Gita tadi lelah habis beres-beres.” Ucap Gita gugup.


“Sayang, kita sudah tahu semuanya.” Ucap Jenny.


Gita terkejut dengan ucapan Mamanya. Apa maksud sudah tahu semuanya, apakah Axel tadi menceritakan semuanya. Namun Gita berusaha untuk tenang.


“Tahu apa sih, Ma?” tanya Gita.


“Apa yang sudah kalian berdua lakukan.” Jawab Jenny sambil menatap mata Gita dengan intens.


Deg


“Biarkan Axel bertanggung jawab, Sayang.” Ucap Jenny.


Gita menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka semuanya akan terungkap dengan cepat. Bahkan Mamanya membiarkan Axel mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tapi Gita tetap menolak. Karena rasa benci terhadap Axel masih mendominasi.


“Gita nggak mau, Ma. Gita benci dengan Kak Axel.” Tolak Gita.


“Sayang, bagaimana jika setelah kejadian itu ada makhluk kecil yang hadir di rahim kamu?” ucap Jenny.


“Tidak. Tidak mungkin, Ma. Mau Gita hamil atau tidak, Gita nggak mau menikah dengan Kak Axel.” Gita kembali menolak.


“Mau kamu hamil atau tidak, siapa pria yang akan menerima kamu Sayang? Axel juga mencintai kamu. Mama sangat yakin kalau Axel memang jodoh kamu, meski harus dengan jalan seperti ini.” ucap Jenny.


“Tidak!! Gita benci dengan Kak Axel!!” ucap Gita tanpa sadar dengan nada tinggi.


“Kamu sama keras kepalanya dengan Papa kamu!” Jenny tidak dapat lagi membendung air matanya. lalu dia segera pergi dari kamar Gita.


.


.


.


*TBC


Maaf readers, othor up-nya cm 1eps karena lg ga enak badan.🙏🙏 harap sabar ya🙏😘

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2