Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 40


__ADS_3

Malam harinya Iqbal dan Jenny sudah berkumpul di ruang makan bersama Desy dan Bram. Iqbal bersikap seperti biasa seperti tidak terjadi apa-apa diantara dirinya dan juga Jenny. Sementara Jenny justru yang merasa sangat tidak nyaman.


Entahlah, dia merasa jadi orang yang paling bersalah karena secara kasat mata dirinya telah berselingkuh dari pria yang berstatus sebagai suaminya. Tapi di sisi lain Jenny juga sangat kesal melihat kedekatan Iqbal dengan Farah.


“Apa kalian selalu pulang malam kerjanya?” tanya Desy tiba-tiba.


“Nggak sering Ma. Kalau sedang lembur saja Iqbal pulangnya sedikit terlambat.” Jawab Iqbal.


“Jenny juga?” lanjut Desy.


“Kebetulan Jenny juga akhir-akhir ini banyak kerjaan di butik, Ma.” Sahut Iqbal.


“Benar begitu, Jen?” tanya Desy meyakinkan dan Jenny hanya mengangguk samar.


“O ya sudah.” Pungkas Desy.


Bram melirik sekilas istrinya memberi kode agar tidak lagi bertanya sesuatu yang menjadi privasi anak dan menantunya. Pasalnya Desy sejak tadi menungggu kedatangan anak dan menantunya untuk makan malam, nyatanya mereka pulang kerja melebihi jamnya.


Sedangkan Iqbal terpaksa berbohong pada Mamanya agar urusan kemelut rumah tangganya hanya diketahui olehnya dan Jenny saja. Padahal sebenarnya Iqbal sudah pulang kerja tepat waktu. Begitu juga dengan Jenny. Hanya saja Jenny harus bertemu dengan Xavier dulu. Dan lagi-lagi Iqbal menunggunya. Demi menghindari kecurigaan orang tuanya.


“Besok Papa dan Mama akan pulang.” Ucap Bram memberi tahu.


“Kenapa cepat sekali, Pa?” tanya Iqbal heran.


“Ngapain disini lama-lama, toh kalian juga sibuk dengan pekerjaan.” Jawab Desy dengan muka sendu.


“Jangan dengarkan Mama kamu. Papa harus mengantar Tuan Vito keluar kota lusa, dan Arsha juga di rumah sendirian.” Ucap Bram.


Jenny hanya diam saja mendengarkan pembicaraan mertuanya. Sedangkan Iqbal merasa tidak enak dengan orang tuanya. Jauh-jauh datang justru dia abaikan. Tapi bagaimana lagi, dirinya juga bekerja. Jenny pun demikian.


Malam harinya, seperti malam kemarin Iqbal akan tidur lagi di lantai dengan menggunakan kasur lipat. Sedangkan Jenny tidur di atas ranjang. Tidak ada percakapan diantara keduanya. Iqbal sangat malas bicara dengan Jenny jika hanya mendengar perminta maafannya saja.


Keesokan paginya Iqbal dan Jenny sudah bersiap untuk berangkat kerja. Namun sebelumnya mereka akan mengantar Desy dan Bram ke bandara terlebih dulu, karena pagi ini juga akan pulang ke kota J.

__ADS_1


“Jaga istri kamu baik-baik!” ucap Bram pada Iqbal. dan Iqbal mengangguk.


Kemudian Iqbal memeluk Papanya dan bergantian dengan Mamanya. Tak ada kata yang diucapkan Desy untuk Iqbal. entahlah wanita paruh baya itu sejak tadi pagi hanya diam saja. Bahkan sampai saat ini.


Setelah Iqbal melepas pelukannya pada sang Mama, kini Desy memeluk Jenny yang sedang berdiri di belakang Iqbal. Desy mengeratkan pelukannya pada perempuan cantik yang berstatus sebagai menantunya itu.


“Belajarlah menjadi istri yang baik.” Ucap Desy singkat lalu mengecup kening Jenny.


“Papa dan Mama berangkat dulu. Kalian lekaslah berangkat kerja, nanti terlambat.” Ucap Bram dan segera mengajak istrinya pergi meninggalkan Iqbal dan Jenny.


Setelah memastikan Iqbal dan Jenny pergi meninggalkan bandara, Bram mengajak istrinya duduk di kursi tunggu lalu menenangkannya.


“Sudahlah jangan menangis lagi!” ucap Bram menenangkan Desy yang sedang terisak.


“Mas, aku kasihan dengan Iqbal. aku nggak tega melihatnya terus seperti itu. Cepatlah bertindak sesuatu.” Jawab Desy sesenggukan.


“Iya, nanti pasti aku akan segera bertindak. Tapi tidak untuk sekarang. karena saat ini Jenny sangat membutuhkan perlindungan Iqbal.” ucap Bram.


“Sampai kapan, Mas? Apa Mas nggak kasihan sama anak kita?” tanya Desy lagi.


Sementara itu Iqbal kini sudah menghentikan mobilnya tepat di depan butik dimana Jenny bekerja. Seperti biasa, Jenny langsung keluar dari mobil tanpa mengucapkan sesuatu. Jenny masih memikirkan ucapan mama mertuanya tadi yang memintanya untuk belajar menjadi istri yang baik. Jenny masih tidak mengerti kenapa mama mertuanya mengatakan seperti itu.


“Selamat pagi Bu, Mabk Lila!” sapa Jenny ramah saat bertemu dengan pemilik butik.


“Pagi juga Jenny.” Jawab Bu Shahnaz. Sedangkan Lila hanya mengangguk dan tersenyum samar.


Sebelaumnya Jenny sudah meminta ijin pada Bu Shahnaz kalau hari ini datang terlambat karena akan mengantar mertuanya ke bandara. Jadi saat dia tiba di butik, Bu Shahnaz sudah berada di sana.


Sedangkan Lila yang sejak tadi melihat kedatangan Jenny diantar oleh seorang laki-laki tampak terkejut. Pasalnya saat kaca mobil itu terbuka, Lila dapat melihat jelas laki-laki yang mengantar Jenny bukanlah Xavier.


“Siapa Ma yang ngantar Jenny baru saja?” tanya Lila.


“Kenapa memangnya? Jangan bilang kamu naksir ya Lil.” Seru Bu Shahnaz memperingatkan.

__ADS_1


“Ish, Mama ini ditanya malah ngasih peringatan. Lila tanya serius. Siapa laki-laki yang mengantar Jenny tadi?” tanya Lila.


“Suaminya. Dah Mama mau masuk. Kalau kamu mau pergi, sana pergi. Dicariin Galang tuh kamu sejak kemarin.” Ucap Bu Shahnaz lalu meninggalkan Lila masuk ke ruangannya.


Lila sangat terkejut saat mendengar pernyataan mamanya kalau laki-laki yang mengantar Jenny baru saja adalah suaminya. Bukankah kemarin Xavier bilang kalau Jenny adalah kekasihnya. Apakah dia salah orang. Tapi sepertinya tidak. Kemarin saat baru bertemu dengan Jenny, dia berkenalan dan memang Jenny berasal dari kota J. lalu kenapa Xavier bilang kalau Jenny adalah kekasihnya. Sementara Jenny sudah mempunyai suami.


Meski masih dihinggapi rasa penasaran, Lila akhirnya pergi meninggalkan butik dan akan pergi ke apartemen sepupunya yaitu Galang.


Hari telah berganti. Semenjak kepulangan kedua orang tuanya, Iqbal sudah tidak lagi menjemput Jenny. Karena Xavier masih betah berada di kota ini. Jenny juga sering menghabiskan waktunya bersama Xavier saat jam pulang kerja.


Besarnya rasa cinta di hati Iqbal untuk Jenny tidak bisa mengacuhkan perempuan itu begitu saja. Iqbal tetap memantau Jenny kemana pun dia pergi bersama Xavier. Iqbal sadar kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Jadi mau menunjukkan dengan cara apapun tak kan mungkin membuat Jenny merasakan itu semua. Iqbal sendiri juga termasuk laki-laki yang sangat pendiam dan tidak mudah untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung.


Iqbal sampai rumah saat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. sebenarnya dia pulang sudah sejak pukul 5 sore, hanya saja dia mampir dulu ke sebuah restaurant. Bukan untuk makan malam, melainkan untuk mengikuti Jenny yang sedang berduaan dengan Xavier.


Meski hatinya nyeri saat melihat Jenny berduaan dengan Xavier, tapi Iqbal tetap melakukannya, karena dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Jenny. Dan Iqbal segera pulang saat melihat Jenny dan Xavier mengakhiri makan malamnya.


Dan tak lama kemudian, setelah Iqbal baru saja sampai rumah, Jenny juga pulang dengan menaiki taksi. Iqbal yang melihatnya dari dalam bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Beberapa saat kemudian saat Iqbal selesai membersihkan tubuhnya, dia melihat ponselnya barangkali ada pesan masuk yang tidak ia ketahui. Dan benar saja, disana ada pesan dari seseorang.


“Jen, besok aku harus pulang ke kota J. bisakah kamu menyempatkan diri untuk menemuiku di bandara pukul 7 pagi? aku akan memberikanmu sesuatu.”


.


.


.


*TBC


Yuhuuuuu dag dig dug ngg tuh?


jgn lupa like, komen, dan vote ya🤗😘

__ADS_1


Happy Raeding‼️


__ADS_2