
Selesai makan siang, Iqbal berpamitan untuk langsung pulang karena pekerjaannya sudah ia selesaiakan. Dan kebetulan hari ini juga tidak ada jadwal meeting.
“Tumben sekali sih kamu pulang jam segini, Bal?” tanya Galang.
“Iya, badanku masih capek. Kamu tahu sendiri kan kemarin aku baru pulang.” jawab Iqbal segera berlalu.
“Ck, bilang saja kamu sedang ada misi dengan istri kamu.” Gumam Galang namun tidak didengar oleh Iqbal.
“Biarinlah. Biar Gita segera dapat adik.” Sahut Farah.
Galang membenarkan ucapan istrinya. Lalu mereka berdua segera kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya kembali. Galang juga mulai saat ini akan mempelajari beberapa hal mengenai perusahaan sebelum Iqbal menyerahkan jabatan padanya. Sebenarnya kemampuan Galang hampir sama dengan Iqbal. keduanya sama-sama pemimpin yang tidak diragukan lagi kehebatannya. Namun yang membedakan antara Galang dan Iqbal hanya pembawaan mereka saja. Jika Iqbal terkenal dengan wajah datar dan dinginnya, sedangkan Galang berkebalikan dengan Iqbal. dia lebih ramah.
***
Iqbal memilih pulang lebih cepat bukan karena ia benar-benar lelah. Dia hanya kepikiran dengan kalimat istrinya tadi pagi saat sedang melakukan video call. Dan Iqbal akan menuntaskannya sekarang juga, di saat anaknya sedang tidur siang.
Beberapa saat kemudian, mobil Iqbal sudah memasuki gerbang rumahnya. Dia segera memarkirkannya ke dalam garasi. Setelah itu masuk ke dalam rumah.
Rumah terlihat sangat sepi. Iqbal menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Sebelum memasuki kamarnya, Iqbal melihat ke kamar Gita yang terbuka sedikit.
Disana ada Jenny yang sedang menyelesaikan membacakan dongeng untuk Gita. Karena anak itu sudah sangat nyenyak dalam tidurnya. Iqbal sangat yakin kalau sebentar lagi istrinya akan masuk ke kamar untuk tidur siang juga. lalu dengan cepat Iqbal masuk ke kamarnya dan mandi dengan cepat.
Cklek
Jenny sudah masuk ke dalam kamarnya. Dia mencium aroma wangi sabun dan shampoo menguar memenuhi indra penciumannya. Jenny berpikir kalau tidak mungkin ada orang lain masuk ke kamarnya dan menggunakan kamar mandinya. Atau mungkin hidungnya sedang bermasalah.
Jenny menutup pintu kamarnya asal tanpa melihat ada seseorang yang sedang bersembunyi di balik pintu itu hanya dengan membelitkan handuk sebatas pinggang. Siapa lagi kalau bukan Iqbal.
Jenny tersentak kaget namun dia tidak berani menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu kamarnya terkunci. Dia takut ada orang yang berniat jahat padanya. Jenny perlahan berjalan maju namun dia merasa ada langkah kaki yang mengikutinya.
Grep
Dengan cepat Iqbal merengkuh tubuh istrinya dan segera membalikkan tubuh Jenny. Sebelum wanita itu berteriak, Iqbal sudah membungkam bibir istrinya dengan lumattan yang sedikit kasar.
__ADS_1
Lenguhan suara Jenny semakin membuat Iqbal menggila untuk mereguk kenikmatan di setiap rongga mulut istrinya. Jenny yang awalnya terkejut dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba, kini degupan jantungnya sudah mulai mereda. Dan dia pun segera menyeimbangi permainan yang suaminya berikan.
“Aku ingin menagih janjimu.” Ucap Iqbal setelah melepas pagutan bibirnya.
“Kamu bilang akan mengecup bibirku ini di saat aku sedang jutek.” Iqbal mengingatkan Jenny yang tampak bingung.
Dan tidak menunggu lama, Jenny pun menepati janjinya. Dia segera memberikan lumattan lembut pada bibir suaminya. Setelah itu tangan Jenny melepas handuk yang membelit pinggang Iqbal hingga nampaklah benda kokoh yang siap meluluh lantahkan inti tubuhnya.
Jenny mendorong tubuh Iqbal hingga terjatuh ke atas ranjang. Dan dengan gerakan sensual, Jenny memulai permainanny. Dan kali ini Jenny lah yang mendominasi permainan itu. Iqbal hanya pasrah dan menikmati saat istrinya sedang beraksi di atas tubuhnya.
“Terima kasih, Sayang!” ucap Iqbal setelah mengakhiri pergumulan panasnya siang itu.
Jenny hanya mengangguk samar karena badannya benar-benar lelah dan ingin segera tidur. Iqbal pun mengerti, lalu dia menyelimuti tubuh istrinya dan membiarkan Jenny tidur dalam pelukannya. Dan tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya.
***
Beda halnya yang sedang dirasakan oleh Billal saat ini. sejak tadi dia sangat mencemaskan istrinya yang sedang berada dalam apartemen sendirian. Dia sudah berulangkali menghubungi ponsel Lidya namun sampai saat ini tidak ada jawaban darinya, bahkan ponsel Lidya sudah tidak aktif.
“Ada apa, Tuan?” tanya Sean karena melihat atasannya sedang tampak gelisah.
“Apa sudah selesai? dan aku bisa pulang sekarang juga?” tanya Billal mengabaikan peretanyaan Sean.
“Belum, Tuan. Beberapa orang masih istirahat karena hujan masih deras. Memangnya ada apa? Apa ada hal penting yang mengharuskan anda pulang saat ini juga?” tanya Sean penasaran.
“Sejak tadi ponsel istriku tidak bisa dihubungi.” Jawab Billal sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Sean sangat terkejut mendengar atasannya menyebut kata
“istri”. Memang Billal belum menceritakan statusnya pada Sean yang kini sudah tidak lagi duda. Karena Sean baru tadi pagi datang dari kota J setelah beberapa bulan menghandle kantor pusatnya. Dan selama disini Billal juga mempunyai seorang asisten tapi tidak seperti Sean.
“Maksud anda? Istri yang mana Tuan?” tanya Sean bingung.
“Ah iya, aku lupa menceritakan padamu. Beberapa minggu yang lalu aku sudah menikah lagi.” Jawab Billal.
__ADS_1
“Dengan siapa, Tuan? Apakah wanita itu benar-benar mencintai anda? Tidak seperti mantan-mantan istri anda sebelumnya?” tanya Sean khawatir.
“Kamu tenang saja dan jangan khawatir. Nanti kalau ada kesempatan, akan aku kenalkan kamu dengan istriku. Sekarang yang terpenting bagaimana caranya aku bisa pulang. aku sangat khawatir pada Lidya karena sejak tadi tidak bisa dihubungi,” ucap Billal semakin cemas.
“Tunggulah sebentar, Tuan. Setelah hujan reda, anda bisa pulang. biar nanti saya yang menghandle semuanya.” Sean mencoba menenangkan atasannya.
Billal hanya mengangguk, namun tidak bisa mengurangi rasa khawatirnya terhadap sang istri. Dia hanya bisa berdoa semoga hujan segera reda. Karena akan sangat bahaya jika dia tetap nekat pulang menerjang hujan yang masih deras.
Beberapa saat kemudian, Billal mulai menyalakan mobilnya untuk segera pulang. karena hujan sudah reda, tinggal menyisakan rintikan gerimis saja. Billal mencoba untuk tetap tenang mengendarai mobilnya. Dia berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan Lidya saat ini.
Kurang lebih selama satu jam, akhirnya mobil Billal sudah memasuki basement apartemennya. Dengan langkah cepat setengah berlari, Billal masuk ke unit apartemennya.
Klik
Ruangan itu terlihat sangat sepi. Bahkan sangat gelap seperti tak berpenghuni. Perasaan Billal semakin cemas dengan keadaan istrinya. Saat Billal membuka pintu kamarnya, terlihat sesosok wanita yang sejak tadi ia cemaskan sedang meringkuk dalam gelungan selimut tebal.
“Sayang!” panggil Billal.
“Astaga! Badan kamu sangat panas.” Ucap Billal saat tangannya tak sengaja menyentuh lengan Lidya.
“Sayang, bangun!” Billal menepuk pelan pipi istrinya.
“Mas, aku sangat kedinginan.” Gumam Lidya dengan suara bergetar nyaris tak terdengar.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1