
Pagi harinya Lidya terbangun lebih dulu. Dia melihat sang suami yang masih tampak pulas dalam tidurnya. Lalu Lidya keluar kamar setelah mencuci mukanya. Dia memasuki dapur karena ingin membuat susu hangat.
“Selamat pagi, Nyonya! Ada yang bisa saya bantu?” sapa ART yang bekerja di rumah Billal.
“Oh, itu Bi saya mau buat susu hangat.” Jawab Lidya.
Art itu lalu membuatkan susu untuk Lidya namun Lidya menolaknya. Dia ingin membuatnya sendiri. Setelah itu Lidya berbincang-bincang dengan wanita paruh baya itu yang diyakini telah tinggal lama di rumah Billal ini. Lidya berencana akan membawa wanita itu jika rumah ini benar akan dijual oleh suaminya.
Beberapa saat kemudian Billal sudah bangun dan sudah rapi. Begitu juga dengan Lidya. Mereka berdua berencana akan kembali ke rumah keluarga Vito setelah menyelesaikan sarapannya. Karena Billal yakin masih banyak tamu yang datang untuk mengucapkan bela sungkawanya.
Hari berganti. Baik Billal maupun Iqbal tidak bisa berlama-lama tinggal di kota J. mereka yang notabene sama-sama pengusaha, tidak bisa meninggalkan perusahaannya dalam waktu lama. Akhirnya di hari ke 4 meninggalnya Gio, Iqbal dan Billal memutuskan untuk pulang ke kota B.
“Iqbal, jaga Jenny baik-baik ya. Terlebih anak dalam kandungannya.” Ucap Kay sebelum anak dan menantunya itu pergi ke bandara.
“Iya, Ma. Pasti.” Jawab Iqbal.
“Kamu juga, Billal. Jangan sering membuat capek istrimu yang sedang hamil muda.” Kay memperingatkan.
Billal mengerutkan keningnya bingung. Selama ini dia tidak pernah menyuruh istrinya mengerjakan sesuatu yang membuat Lidya kelelahan. Lantas kenapa sepupunya itu bicara seolah dirinya menyiksa Lidya.
“Aku tidak pernah membuat Lidya capek. Justru aku sering membuatnya en-“
Dengan cepat Lidya membungkam mulut suaminya yang akan mengucapkan kalimat tak lazim. Karena itu akan semakin membuatnya malu. Cukuplah dia dan suami yang mengetahui kenikmatan dalam bercinta, tidak perlu dipublikasikan pada orang lain, walau itu saudara sendiri dengan maksud hanya bercanda.
“Ya maksudku itu. Kurangi kegiatan itu, karena usia kandungan Lidya masih sangat rentan jika kalian sering bercinta.” Ucap Kay dengan entengnya.
“Ck, apa kamu sudah menasehati menantu kamu? Jenny juga sedang hamil muda.” Jawab Billal melimpahkan pertanyaan pada Iqbal.
“Sudah-sudah kalian jangan berdebat lagi. Nanti keburu ketinggalan pesawat. Yang penting kalian harus menjaga istri kalian dengan baik dalam masa kehamilannya.” Potong Vito mengakhiri perdebatan kecil itu.
Setelah itu mereka segera pergi menuju bandara. Kay melepas kepergian putrinya dengan sedih. Karena dia masih merindukan Jenny dan juga Gita cucunya. Tapi mau bagaimana lagi, menantunya juga masih mempunyai kesibukan. Kay berjanji nanti jika ada waktu luang akan terbang ke kota B mengunjungi keluarga Jenny.
__ADS_1
Pesawat yang ditumpangi Iqbal, Jenny, Billal dan juga Lidya telah sampai di kota B setelah melewati kurang lebih satu jam perjalanan. Kedua pasangan suami istri itu berpisah saat di bandara.mereka akan pulang ke rumahnya masing-masing.
“Mas, tolong kamu gendong Gita. Kasihan dia masih ngantuk kalau disuruh jalan sendiri.” Ucap Jenny pada suaminya saat baru saja turun dari taksi.
Jenny berjalan lebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Dia merasakan perutnya sedikit kram saat baru turun dari pesawat tadi. tapi dia tidak berani bilang pada suaminya yang akan semakin khawatir. Lebih baik dibuat istirahat saja pasti nanti akan sembuh sendiri.
Sore harinya perut Jenny masih terasa sakit. Akhirnya dia bilang pada suaminya dan memintanya untuk diantar periksa ke dokter.
“Kenapa nggak bilang dari tadi?” Iqbal begitu khawatir melihat wajah istrinya seperti menahan sakit.
“Aku kira setelah aku pakai istirahat akan lebih baik, Mas. Maaf.” Jawab Jenny tak enak.
Akhirnya Iqbal mengantar istrinya periksa kandungan ke rumah sakit. Dan kebetulan saat itu dokter yang biasa menangani Jenny sedang mengambil cuti dan digantikan oleh dokter baru.
“Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?” sapa dokter laki-laki itu dengan ramah.
Iqbal dan Jenny sangat terkejut melihat dokter itu, yang ternyata adalah pria yang pernah menolong Jenny saat kakinya terkilir waktu jalan-jalan pagi tempo hari. Dan bisa dipastikan kalau laki-laki itu tinggal di kompleks yang sama dengannya.
“Ehm, saya mau memeriksakan kandungan saya dok.” Jawab Jenny dengan canggung, lalu memberitahukan keluhannya.
Setelah cukup mendengar keluhan Jenny, dokter Satria segera meminta Jenny untuk tidur di brankar, karena akan dilakukan pemeriksaan USG.
“Tunggu! Apa yang akan anda lakukan pada istri saya?” tanya Iqbal saat dokter Satria akan memeriksa perut istrinya.
“Mohon maaf, Tuan. Saya akan memeriksa kandungan istri anda.” Jawab doter Satria dengan ramah.
“Tidak! Saya nggak rela anda menyentuh perut istri saya.” Ucap Iqbal dan membuat Jenny, dokter Satria dan perawatnya terkejut.
“Mas, kamu apa-apaan sih? Kamu mau terjadi sesuatu dengan kandunganku?” ucap Jenny dengan nada berbisik.
“Bukan seperti itu, Sayang! Please aku nggak rela-“
__ADS_1
“Dok, anda bisa memeriksa saya sekarang juga.” ucap Jenny cepat mengabaikan sang suami yang sudah menekuk wajahnya.
Dokter Satria dan perawatnya hanya tersenyum simpul, lalu dengan segera memeriksa kandungan Jenny. Pemeriksaan itu dilakukan dengan serius. Bahkan wajah dokter Satria terlihat serius.
“Apakah anda mengeluarkan flek darah, Nyonya?” tanya dokter Satria dan Jenny menggeleng.
Dokter Satria mengakhiri pemeriksaan itu dan meminta Jenny kembali duduk, lalu menjelaskan tentang hasil pemeriksaan baru saja.
“Hampir saja anda mengalami keguguran, Nyonya. Untung saja anda segera memeriksakan kandungan anda dan tidak sampai mengeluarkan flek darah.” Ucap dokter Satria.
Baik Jenny maupun Iqbal sangat terkejut mendengarnya. Ada rasa menyesal dalam hati Jenny tidak mengatakan pada suaminya sejak di bandara tadi. tapi dia juga bersyukur karena janinnya masih aman.
“Saya akan memberikan obat penguat kandungan untuk Nyonya. Dan saya minta anda untuk bedrest total sampai kandungan anda benar-benar sudah membaik. Nanti kalau obat ini sudah habis, anda bisa kembali lagi kesini. Saya akan memeriksa kondisi janin anda.” Ucap dokter Satria.
“Baik, Dok. Terima kasih.” Ucap Jenny.
Setelah itu mereka berdua keluar dari ruangan poli kandungan. Iqbal ikut cemas setelah mengetahui keadaan akndungan istrinya.
“Sayang, mulai sekarang kalau ada keluhan apa-apa lebih baik segera bilang. Jangan disimpan seperti ini. apa jadinya jika tadi kamu nggak bilang kalau perut kamu sakit?” ucap Iqbal saat sudah berada di dalam mobil.
“Maafkan aku, Mas. Aku hanya tidak mau membuatmu khawatir.” Jawab Jenny sambil menunduk.
“Kalian semua itu sudah menjadi tanggung jawabku. Wajar kalau aku khawatir. Itu semua demi keselamatan anak kita. Tolong, aku nggak mau kejadian seperti ini terulang lagi.” Ucap Iqbal dengan berusaha tetap tenang.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️