Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 115


__ADS_3

Hari ini Billal dan Lidya sudah berdandan rapi untuk pergi ke acara pesta ulang tahun Gita yang ke 3. Perut Lidya yang sudah membesar membuat Billal sangat khawatir jika mengajak istrinya pergi ke sebuah acara tertentu. Seperti hari ini saja, sebenarnya Billal tidak memperbolehkan istrinya ikut, namun Lidya memaksa karena tidak mungkin melewatkan pesta ulang tahun Gita begitu saja.


“Mas, kandunganku masih 8 bulan. Aku tidak apa-apa jika pergi ke acara seperti ini.” ucap Lidya.


“Tapi aku takut nanti kamu kelelahan, Sayang. Kamu di rumah saja ya, cukup aku saja yang datang. Jenny dan Iqbal pasti mengerti kok.” Jawab Billal.


“Ya sudah terserah, Mas saja. Pergi sana! Pasti Mas ingin bertemu dengan wanita cantik di luar sana yang badannya masih langsing tidak sepertiku.” Ucap Lidya dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Billal mengusap wajahnya dengan kasar. Ngidam yang dialaminya sudah berakhir semenjak usia kandungan Lidya memasuki trimester kedua. Namun kini justru Lidya yang sikapnya hampir sama dengan Jenny. Mudah sekali menaruh curiga terhadap dirinya.


“Sayang, please jangan mencurigaiku seperti itu. Aku nggak pernah melirik wanita lain. Aku suka dengan tubuh kamu yang seperti ini.” ucap Billal menghentikan langkah Lidya.


“Sudahlah, Mas. Aku pusing dengan sikap kamu yang selalu melarang-larang aku. bilang saja kamu sudah bosan denganku.” Ucap Lidya yang semakin tidak jelas.


“Ya sudah aku nggak lagi melarang kamu. Ayo kita berangkat ke pesta Gita sebelum terlambat.” Ucap Billal akhirnya.


Lidya pun kini sudah menampakkan senyumnya kembali. Billal berusaha sabar menghadapi sikap istrinya. Lagi pula tinggal satu bulan lagi Lidya akan melahirkan. Dia juga sudah tidak sabar menanti kehadiran buah hatinya yang diketahui berjenis kelamin laki-laki itu.


Suasana rumah Iqbal saat ini tampak meriah, karena sedang diadakan pesta ulang tahun putrinya. Semua keluarga besar Jenny dan Iqbal sudah berkumpul disana. Para sahabat Iqbal beserta istri anaknya juga ikut diundang.


Gita yang sudah didandani cantik bak princess itu tampak semakin menggemaskan. Dia sangat senang melihat rumahnya ramai seperti ini, terlebih banyak kado yang sudah menumpuk di meja sebelah kue tart berkarakter kuda poni.


“Selamat ulang tahun, Gita!” ucap Axel sambil memberikan sebuah kado untuk Gita.


Axel yang usianya satu tahun lebih tua dari Gita itu tampak senang saat kadonya diterima oleh Gita. Bahkan setelah menerima kado itu Gita langsung mencium pipi Axel. Sontak saja semua orang yang ada di sana tertawa melihat tingkah lucu dua bocah kecil itu. Dan hal itu tidak luput dari pandangan Felix, Papa Axel. Bahkan Felix sejak tadi mengabadikan momen itu dengan mengambil beberapa foto mereka berdua.


Acara pun dimulai. Gita ikut bernyanyi saat semua orang menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Setelah selesai menyanyi, Jenny memotongkan kue tatrt itu dan memberikannya pada Gita. Jenny ingin tahu kue itu akan Gita berikan untuk siapa. Dan lagi-lagi Axel, orang pertama yang diberi kue oleh Gita.


Tepuk tangan meriah mengiringi peringatan hari jadi Gita yang ke tiga. Semua orang satu per satu mencium Gita sambil mendoakan kebehagiaan untuk Gita. Bagitu juga dengan Billal. Pria yang akrab dipanggil Daddy oleh Gita itu cukup terharu saat mencium pipi Gita.


“Selamat ulang tahun ya, Sayang! Daddy selalu mencintai Gita sampai kapan pun.” Bisik Billal.

__ADS_1


Selesai acara pembagian kue tart itu, kini semua orang dipersilakan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Iqbal si tuan rumah juga ikut bahagia melihat anaknya kini sudah berusia tiga tahun. Dia bersyukur memiliki putri cantik seperti Gita, walau dia terlambat mengetahui keberadaannya karena kesalah pahaman itu. Mulai sekarang Iqbal berjanji akan melindungi dan menyayangi keluarganya. Dia tidak ingin kejadian pahit itu terulang kembali.


...End Season 1...


***


19 tahun kemudian.


“Kak! Bangun Kak! Sudah jam 8 ini.” ucap Daniel sambil menggoyang-goyangkan badan kakaknya yang masih nyenyak dalam tidurnya.


“Apaan sih, Niel? Kakak masih ngantuk!” Gita kembali meraih selimutnya.


“Kak Dimas sudah nunggu tuh. Katanya Kakak ada janji. Kalau nggak jadi biar aku suruh pulang saja.” Jawab Daniel dan lekas meninggalkan sang kakak.


“Eh tunggu!! Bilang sama Kak Dimas. Aku mandi dulu.” Jawab Gita dan segera masuk ke kamar mandi.


Sementara itu di ruang tamu tampak seorang pemuda tampan berusia 25 tahun sedang berbincang dengan si tuan rumah yang tak lain adalah Iqbal. pemuda yang bernama Dimas itu adalah satu satu karyawan yang bekerja di perusahaan milik Iqbal. Iqbal sudah kenal lama dengan Dimas, maka dari itu dia tidak melarang Dimas berteman dengan putri sulungnya. Karena kebetulan Dimas juga salah satu pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial bersama dengan Gita.


“Baik, Om!” jawab Dimas sopan.


Tak lama kemudian Gita menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi. Kemarin dia sudah membuat janji dengan Dimas untuk pergi ke perpustakaan umum sekaligus meminta bantuan pada Dimas untuk mengerjakan skripsinya.


“Ayo, Kak kita berangkat sekarang saja.” Ajak Gita.


“Beneran berangkat sekarang. apa kamu sudah sarapan? Bukannya kamu baru saja bangun?” tanya Dimas.


“Gampang kak. Nanti saja beli makan di luar. Nggak enak juga Kak Dimas sudah lama nunggu aku.” jawab Gita.


“Nggak apa-apa Git, kamu sarapan dulu sana. Aku tadi sudah sarapan bersama adik-adik panti.” Jawab Dimas.


Akhirnya Gita tidak punya pilihan lain. Dia terpaksa membuat Dimas menunggunya lagi karena dia harus mengisi perutnya terlebih dulu sebelum pergi.

__ADS_1


Daniel yang juga akan pergi bersama temannya, harus ia tunda dulu karena tidak enak membiarkan Dimas sedang duduk sendirian. Daniel juga suah akrab dengan Dimas.


Mereka berdua sedang berbincang-bincang santai sambil menunggu Gita selesai sarapan. Dan tak lama kemudian ada tamu yang datang.


“Eh, Kak Axel. Tumben Kak pagi-pagi gini ke rumah?” tanya Daniel basa-basi.


“Oh, aku ada perlu sama Om Iqbal.” jawab Axel sambil melirik laki-laki yang sedang duduk bersama Daniel.


Dimas hanya mengangguk ramah pada Axel. Tapi Axel mengabaikannya. Setelah itu Gita muncul ke ruang tamu dan bersiap untuk pergi bersama Dimas.


“Ayo Kak, aku sudah selesai.” ucap Gita sambil menenteng tas yang berisi laptop.


“Kamu mau kemana, Git?” tanya Axel penuh selidik.


“Aku akan pergi ke perpustakaan sama Kak Dimas. Oh iya, Kak Axel sudah ditunggu Papa tuh di ruang kerjanya. Yuk, Kak!” jawab Gita.


Setelah itu Gita segera pergi bersama Dimas menggunakan motor. Axel hanya bisa melihat kepergian Gita bersama Dimas dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


“Woy Kak!! Sudah ditunggu Papa tuh!” teriakan Daniel membuyarkan lamunan Axel.


.


.


.


*TBC


Di season 2 ini othor akan memberikan cerita yg sedikit berbeda dari season 1 ya guys... sedikit lebih mendebarkan dan nggak terlalu mellowwww😂😂. So, ikutin terus ya ceritanya, jgn sampai terlewatkan apalagi sampai UNFAV 😢😢 jangan!! karena itu rasanya sangat sakit😢😢😂✌️


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2