Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 48


__ADS_3

“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya seseorang yang baru saja keluar dari mobilnya.


Farah terkejut saat ada seseorang menghampirinya. Dia mulai waspada, kalau saja orang itu mempunyai niat buruk terhadap dirinya. Lalu Farah menengok ke kanan kiri, jalanan masih sepi dan hanya ada mobilnya dan mobil laki-laki itu.


“Maaf, anda jangan takut. Saya hanya berniat menolong anda.” Ucap laki-laki itu lagi.


“Oh, saya nggak tahu juga kenapa mobil saya tiba-tiba mogok.” Jawab Farah.


“Baiklah, saya coba hubungi salah satu kenalan saya orang bengkel biar mobil Nona diderek kesana.” Ucapnya.


“Lalu bagaimana saya pergi? Di sini juga tidak ada taksi. Saya sedang terburu-buru.” Tanya Farah.


“Kalau anda tidak keberatan, saya bisa mengantar.” Jawabnya.


Karena tidak ada pilihan lagi, akhirnya Farah menerima tawaran laki-laki itu. Dan tak lama kemudian datanglah seseorang yang akan menderek mobil Farah untuk di bawah ke bengkel. Setelah itu Farah dan laki-laki tersebut pergi menuju restaurant dimana Farah akan meeting.


“Berapa no ponsel anda?” tanya laki-laki itu saat mobilnya baru saja turun di depan restaurant.


“Buat apa?” tanya Farah bingung.


“Buat menghubungi anda jika nanti mobilnya selesai diperbaiki.” Jawabnya.


Lalu Farah mengetikkan no ponselnya pada ponsel laki-laki itu. Setelah itu dia mengucapkan terima kasih atas pertolongannya.


“Baiklah kalau begitu saya pergi dulu, Nona.”


“Tunggu, perkenalkan nama saya Farah.” Ucap Farah sambil mengulurkan tangannya.


“Galang.” Jawabnya menyambut uluran tangan Farah.


***


Setelah empat hari dirawat di rumah sakit, hari ini Iqbal sudah diperbolehkan pulang. luka jahit di perutnya sudah kering. Hanya saja dokter menyarankan agar tetap memperbanyak istirahat dan tidak boleh kelelahan.


Kini Jenny sudah menyiapkan tas yang berisi baju-baju kotor Iqbal untuk segera dimasukkan ke dalam mobil. Keadaan Iqbal juga diperbolehkan untuk menyetir sendiri.


“Beneran Kak Iqbal kuat nyetir sendiri?” tanya Jenny.


“Iya. Aku sudah nggak apa-apa. Nanti kita akan istirahat sejenak di rest area. Jadi kamu nggak perlu khawatir.” Jawab Iqbal.

__ADS_1


Akhirnya Jenny hanya mengangguk. Kemudian mereka berdua segera berangkan menuju perjalanan pulang. Iqbal merasa sangat lega akhirnya bisa menghirup udara luar. Beberapa hari dirawat di rumah sakit membuatnya begitu bosan. Namun semua kejadian ternyata ada hikmahnya. Yaitu hubungannya dengan Jenny sudah jelas dan semakin membaik.


“Terima kasih.” Ucap Iqbal sambil memegang tangan Jenny dengan lembut.


“Terima kasih buat apa Kak?” tanya Jenny bingung.


“Terima kasih atas waktu kamu telah merawat dan menjagaku. Dan terima kasih sudah membalas perasaanku.” Jawab Iqbal.


Jenny mengangguk tersenyum. Jujur saja dia juga sangat senang kini hubungannya dengan Iqbal sudah seperti pasangan pada umumnya. Jenny tidak menyangka kalau laki-laki di sampingnya yang menurutnya dulu sangat menyebalkan karena pembawaannya yang dingin dan kaku ternyata diam-diam mencintainya. Cinta memang datangnya tanpa diduga dan terkadang jalannya begitu rumit.


Sudah satu jam lebih perjalanan, Iqbal tak kunjung menghentikan mobilnya untuk istirahat. Akhirnya Jenny lah yang memaksa untuk berhenti istirahat.


“Kita makan di sana dulu yuk Kak!” ajak Jenny menunjuk sebuah foodcourt.


“Baiklah.” Jawab Iqbal mengikuti langkah Jenny.


Jenny memesan dua porsi makanan. Iqbal pun diam saja memperhatikan istrinya. Seulas senyum tersunggung dari bibir Iqbal melihat Jenny yang sedang memesan makanan. Dia sangat bersyukur akan hadirnya seorang istri seperti Jenny. Dia berjanji akan memeprtahankan rumah tangganya sekuat tenaga jika suatu saat nanti akan ada badai menghadangnya.


Selama kurang lebih 30 menit mereka beristirahat, kini Iqbal mulai melanjutkan lagi perjalanannya. Karena perjalanan masih lama, Iqbal meminta Jenny untuk tidur saja. Namun Jenny tidak mau.


Jenny tahu sifat Iqbal yang tidak banyak bicara atau cenderung irit bicara, maka dia tidak segan-segan untuk mengajaknya bicara. Jenny yang termasuk tipe perempuan yang ceria dan mudah akrab dengan seseorang, dia juga pandai mencairkan suasana. Lama-lama Iqbal juga sudah terbiasa.


“Bagaimana kabar perusahaan, Far?” tanya Iqbal.


“Huft, gara-gara kamu betah di rumah sakit Mami jadi menyuruhku meeting dengan beberapa kliennya.” Jawab Farah cemberut.


“Ya maaf. Aku juga tidak ingin berlama-lama di rumah sakit. Memangnya kenapa bukan Nyonya Sarah sendiri yang meeting?” tanya Iqbal.


“Entahlah, Mami bilang supaya aku sambil belajar. Dan keadaan Mami akhir-akhir ini juga kurang sehat.” Jawab Farah.


Jenny hanya diam saja mendengarkan obrolan Iqbal dan Farah. Dan tak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Jenny beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang datang.


“Eh, Kak Galang. Silakan masuk Kak.” Ucap Jenny mempersilakan Galang datang.


“Terima kasih Jen. Bagaimana keadaan Iqbal?” tanya Galang sambil berjalan masuk ke ruang tamu.


“Sudah sehat, Kak.” Jawab Jenny.


“Nona?” ucap Galang tiba-tiba saat melihat ada Farah di rumah Iqbal.

__ADS_1


“Kalian berdua sudah kenal?” tanya Iqbal bingung.


Setelah mempersilakan Galang duduk, laki-laki itu menceritakan kalau sudah mengenal Farah sebelumnya. Tepatnya saat menolongnya tempo hari. Farah tidak menyangka jika laki-laki yang telah menolongnya saat mobilnya mogok ternyata adalah teman Iqbal.


Akhirnya mereka berempat duduk bersama sambil ngobrol santai dan menanyakan keadaan Iqbal. Jenny pun ikut senang dengan kebersamaan seperti ini. sedangkan Galang yang sejak tadi melihat Jenny begitu tampak perhatian pada Iqbal, membuatnya sangat penasaran dengan hubungan sahabatnya itu. Namun dia tidak ingin menanyakannya langsung.


Setelah Farah dan galang pulang. waktu juga sudah malam. Jenny menyiapkan obat yang harus diminum oleh Iqbal.


“Kak Iqbal sekarang istirahat ya.” Ucap Jenny.


“Kamu mau kemana?” tanya Iqbal saat melihat Jenny keluar dari kamarnya.


“Aku, aku juga mau istirahat Kak.” Jawab Jenny menundukkan kepalanya.


“Apakah kamu keberatan jika tidur satu ranjang bersamaku? Aku janji akan menepati janjiku sesuai yang kamu inginkan.” Ucap Iqbal lirih sarat dengan nada memohon.


“Baiklah Kak. Aku akan mengambil air minum dulu.” Jawab Jenny beralasan dan langsung keluar dari kamar Iqbal.


Jenny tampak gugup saat akan masuk kembali ke kamar Iqbal. meski tidak melakukan apa-apa tapi tetap saja nantinya dia akan tidur berdampingan dengan Iqbal. akhirnya setelah menarik nafas panjang sambil merapalkan banyak doa, Jenny membuka kenop pintu kamar Iqbal.


Jenny bernafas lega saat melihat Iqbal ternyata sudah tidur lebih dulu. Setelah itu dia naik ke atas ranjang dengan pelan karena takut menganggu tidur Iqbal.


Grep


Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perut Jenny hingga membuatnya hampir memekik.


“Kenapa lama sekali, hmm?”


.


.


.


*TBC


Harap sabar dulu ya readers😂😂✌️✌️


Belum saatnya unboxing🤣

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2