Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 93


__ADS_3

Hari keberangkatan Iqbal ke luar negeri bersama anak istrinya sudah ia tentukan yaitu minggu depan. Desy dan Bram sangat senang mendengar kabar dari anak dan menantunya yang akan datang mengunjunginya. Karena mereka sangat merindukan cucu kesayangannya yaitu Gita.


Dan hari ini juga Iqbal dan Jenny akan datang ke pernikahan Lidya. Meski perempuan itu tidak mengudangnya secara langsung, namun Jenny yang masih berkirim pesan dengan Lidya memaksa perempuan itu untuk memberikan kabar kapan hari pernikahannya berlangsung.


“Apa kamu sudah siap, Sayang?” tanya Iqbal.


Karena perjalanan ke kota tempat tinggal Lidya membutuhkan waktu lama, Iqbal mengajak istrinya berangkat malam dan berencana menginap di hotel terdekat dengan tempat tinggal Lidya.


Gita tampak ceria sejak dalam perjalanan. Mungkin anak itu sangat senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan Lidya.


Iqbal sudah sampai tempat tujuan. Dia juga sedang menuju hotel yang sempat ia cari saat dalam perjalanan tadi. memang bukan hotel elit, namun setidaknya itu akan membuat nyaman anak dan istrinya. Setelah check in Iqbal mengambil alih Gita yang sudah tertidur dalam gendongan istrinya.


Keesokan paginya, Iqbal dan Jenny sudah bersiap menuju rumah Lidya. Perjalanan dari hotel ke rumah Lidya hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja. Sesampainya disana, Iqbal harus memarkirkan mobilnya di tepi jalan, karena gang masuk menuju rumah Lidya tidak bisa dilewati mobil.


Jenny melihat rumah Lidya yang sedang mengadakan acara pernikahan tidak tampak ramai seperti acara pernikahan pada umumnya. Tidak ada tenda ataupun beberapa tamu undangan dari tetangga terdekat. Karena acara itu hanya dilakukan secara sederhana dan dihadiri oleh keluarga inti saja.


Kedatangan Jenny dan suaminya sempat menarik perhatian beberapa keluarga dekat Lidya. Pasalanya mereka tidak merasa kenal dengan Jenny maupun Iqbal.


“Permisi, Bu. Apakah acara pernikahan Lidya sudah selesai?” tanya Jenny pada seseorang yang terlihat baru keluar dari rumah Lidya.


“Belum. Sebentar lagi akan dimulai, tinggal menunggu calon pengantin wanitanya saja yang masih di dalam kamarnya. Maaf, anda siapanya Lidya?” tanya wanita itu.


“Oh, saya teman Lidya.” Jawab Jenny.


“Ya sudah, silakan masuk saja.” Wanita itu mempersilakan.


Jenny segera masuk ke dalam rumah bersama Iqbal dan Gita. Kedatangannya juga disambut hangat oleh Ayah Lidya.


Sedangkan Ibu Lidya bersikap tidak ramah pada Lidya. Mata jenny memindai mencari sosok calon suami Lidya. Jenny mengerutkan keningnya saat melihat wajah para pria yang ada dalam ruangan itu sudah berusia setengah baya. Lalu dimana calon suami Lidya. Tiba-tiba saja Lidya keluar dari kamar dan segera duduk bersanding dengan pria yang usianya sekitar 50 tahunan.


“Apakah pernikahan ini sudah siap dilaksanakan?” tanya penghulu.


“Siap.” Ucapan mantap itu keluar dari mulut pria yang diyakini adalah calon suami Lidya.


Sontak saja Jenny sangat terkejut. Lalu dia membisikkan sesuatu pada suaminya. Namun Iqbal tampak diam saja. Karena dia juga bisa melihat raut wajah sedih dari Lidya.

__ADS_1


“Ayo, Pak cepat dimulai.” Teriak Ibu Lidya tidak sabar.


Sedangkan Lidya tampak menundukkan kepalanya.


Jenny semakin yakin kalau Lidya tidak menghendaki pernikahan ini, setelah melihat calon suami Lidya yang sudah sangat berumur.


Setelah itu pak penghulu menjabat tangan calon suami Lidya untuk segera mengikrarkan janji pernikahan.


“Saya terima nikah dan kawinnya Lidya Purnamasari binti Mahmud dengan mas kawin tersebut dibayar tun-“


“Tunggu!! Pernikahan ini tidak sah.” Ucap suara lantang dari seorang pria yang baru saja masuk rumah Lidya dan menggagalkan pernikahan itu.


Iqbal dan Jenny sangat mengenal suara itu yang tak lain adalah suara Billal. Sedangkan Lidya langsung mendongakkan kepalanya setelah mendengar suara Billal.


“Hei, Bung! Apa maksud anda? Saya tidak mengenal anda. Dan silakan tinggalkan tempat ini sekarang juga.” ucap Juragan Karta, calon suami Lidya.


“Aku memang nggak kenal dengan kamu. Tapi aku sangat kenal denagn calon istriku, Lidya.” Ucap Billal dan sontak saja membuat semua orang dalam ruangan itu terkejut. Bahkan Lidya dan Jenny. Tapi Iqbal masih tampak tenang.


“Apa maksud kamu? Lidya ini calon istriku.” Ucap calon suami Lidya yang kini sudah berdiri mendekati Billal sambil mencengkeram kerah baju Billal.


“Pernikahan ini tidak sah, karena Lidya sedang mengandung anak saya.” Ucap Billal dan lagi-lagi membuat semua orang terkejut.


“Apa maksud anda Tuan?” kali ini Lidya sendiri yang bersuara.


Lalu Billal mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan beberapa foto dimana dirinya sedang tidur satu selimut bersama Lidya. Bahkan dalam foto itu terlihat Billal tidak memakai baju dan sedang memeluk Lidya. Iqbal dan Jenny membelalakkan matanya tak percaya melihat itu semua.


Plakkkk


Ibu Lidya menampar pipi Lidya sangat keras setelah melihat perbuatan tak senonoh anaknya. Lidya hanya mampu menangis tersedu sambil memegangi pipinya. Jenny dengan sigap menghampiri Lidya lalu memeluknya.


“Apa yang kalian lakukan denganku? Kalian sudah berbohong. Ternyata Lidya tak lebih dari seorang ja***g.” umpat calon suami Lidya penuh amarah.


Bugh


Billal dengan cepat memberikan bogem mentah pada pria kerempeng itu karena tidak terima dengan perkataannya yang sangat merendahkan Lidya.

__ADS_1


“Jaga bicara kamu! Atau kamu menginginkan lebih dari ini.” ucap Billal.


Semua orang kini tampak tegang saat melihat Billal sedang terlibat perdebatan dengan calon suami Lidya. Namun pria kerempeng itu tidak sanggup melawan Billal setelah mendapatkan satu kali pukulan tepat mengenai pipinya yang hampir merontokkan giginya.


“Juragan Karta. Tolong maafkan saya.” Ucap Ibu Lidya.


“Aku tidak terima dengan ini semua. Pernikahan ini batal dan kamu harus membayar hutang kamu dua kali lipat.” Ucap pria itu dan bergegas pergi.


“Berapa hutang orang tua Lidya? Aku akan bayar semuanya?” tanya Billal dan mendapatkan tatapan sinis dari Juragan Karta.


“125 juta. Dan kamu harus membayarnya dua kali lipat menjadi 300 juta.” Ucap Juragan Karta.


“Bodohh! Kamu kira mudah membodohiku?” umpat Billal geram.


Kemudian Billal meraih sebuah cek dan menulis nomial angka sesuai yang diminta oleh Juragan Karta.


“Nih, sesuai yang kamu inginkan! Yang 50 juta buat menyekolahkan otak kamu sang sangat dangkal. Dan cepat angkat kaki dari rumah ini” Billal melempar cek itu tepat mengenai wajah Juragan Karta.


Juragan Karta melihat cek itu dan seketika matanya terbelalak tak percaya. Akhirnya dia segera mengajak seluruh anggota keluarganya pulang meninggalkan rumah orang tua Lidya.


Sementara itu Lidya masih terisak memegangi pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan dari ibunya. Dia juga masih tidak percaya dengan kejadian yang dialaminya hari ini.


“Pak, ijinkan saya meminang putri Bapak sekarang juga.” Ucap Billal dengan mantap pada Ayah Lidya.


.


.


.


*TBC


Wow.... gentle banget ya Daddy Billal😍😍


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2