
Beberapa saat kemudian mereka menuju ke meja makan untuk makan malam bersama. Gita juga ikut makan bersama. Jenny mengambilkan makanan untuk suaminya. Begitupun dengan Lidya, mengambilkan makanan juga untuk suaminya. Namun saat Lidya baru saja meletakkan mekanan tepat di depan Billal, seketika itu perut Billal mulai bergejolak lagi. Bahkan pria itu sampai lari menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya.
Lidya dengan sigap mengikuti suaminya sambil memijat tengkuknya. Billal terus muntah walau sudah tidak ada lagi yang dikeluarkan. Bahkan kini wajahnya sudah memucat dan beberapa saat kemudian pingsan.
Bruk
“Masss!!” teriak Lidya.
Iqbal dan Jenny seketika berlari mendekat ke arah sumber suara. Jenny sangat terkejut saat melihat Billal sudah tergeletak pingsan dan Lidya kesusahan menyangga beban tubuh suaminya.
“Mas, tolong bantu bawa Om Billal!” ucap Jenny khawatir.
Iqbal segera membantu membawa Billal ke ruang tengah. Dia membaringkan tubuh Billal di sofa ruang tengah, kemudian Lidya mengoleskan minyak angin yang baru saja diberikan oleg Jenny.
“Om Billal sakit?” tanya Jenny pada Lidya.
“Nggak. Tapi akhir-akhir sering seperti ini jika tidak cocok dengan bau masakan tertentu. Terkadang juga pagi hari mual-mual.” Jawab Lidya.
“Apa kamu sudah memeriksakannya ke dokter?” Jenny kembali bertanya.
“Belum. Mas Billal selalu menolak.” Jawab Lidya sembari terus mengoleskan minyak angin.
Jenny sangat khawatir dengan keadaan Omnya. Apalagi Billal tak kunjung membuka matanya, ditambah lagi wajahnya sangat pucat. Akhirnya Jenny meminta Iqbal untuk memanggilkan dokter keluarga agar datang memeriksa keadaan Billal.
Tak lama kemudian dokter pun datang. Billal juga sudah siuman. Namun keadaannya masih lemas. Dia tengah berbaring di kamar yang ada di ruang tamu saat dokter memeriksanya.
“Bagaimana keadaan suami saya, Dok?” tanya Lidya yang sejak tadi sangat cemas.
“Suami anda baik-baik saja Nyonya. Lebih baik anda saja yang sarankan untuk periksa ke rumah sakit.” Jawab dokter itu sambil tersenyum tipis.
Keempat orang yang berada dalam kamar itu tampak bingung saat mendengar ucapan dokter yang menyuruh Lidya memeriksakan keadaannya.
__ADS_1
“Begini, Nyonya. Sepertinya suami anda sedang mengalami sindrom kehamilan simpatik. Dimana saat ini anda yang sedang hamil, namun suami anda yang mengalami morning sickness dan ngidamnya.” Dokter menjelaskan.
Sontak saja Iqbal dan Jenny menahan tawanya. Bagaimana tidak, sungguh kasihan sekali jika saat ini Lidya sedang hamil tapi justru Billal yang menderita. Sedangkan Lidya saat ini perasaannya antara senang dan sedih bercampur jadi satu. Sama halnya dengan Billal yang masih berbaring lemas.
“Kenapa bisa seperti itu ya, Dok?” tanya Jenny penasaran.
“Hal itu wajar dialami oleh semua pasangan, Nyonya. Jika Tuan Billal mengalami kehamilan simpatik, itu tandanya ikatan antara Tuan Billal dan istrinya sangat kuat. Tapi bukan berarti jika tidak mengalami kehamilan simpatik, ikatan antara suami istri itu tidak kuat. Semua orang mengalami gejala yang berbeda-beda. Secara lumrah biasanya sang istri lah yang mengalami ngidam. Seperti tidak suka bau-bau tertentu. Terkadang juga ada yang sangat sensitif dengan bau parfum yang dikenakan suaminya. Dan masih banyak lagi keanehan lainnya.” Ucap dokter panjang lebar.
“Sayang, jangan-jangan kamu juga sedang hamil?” tanya Iqbal saat menyadari keanehan yang dialami oleh istrinya akhir-akhir ini.
Kini mata Lidya dan Billal tertuju pada pasangan Iqbal dan Jenny. Sedangkan Iqbal dan Jenny saling pandang. Antara senang dan juga masih ragu.
“Masa sih, Mas. Aku dulu tidak seperti ini saat sedang mengandung Gita.” Jawab Jenny ragu sambil mengingat tanggal datang bulannya.
“Lebih baik anda periksa juga, Nyonya. Karena bawaan ibu hamil masing-masing berbeda.” Dokter menyarankan.
Setelah kepulangan Dokter. kedua pasang suami istri sudah tidak sabar lagi untuk memeriksakan kandungan istri masing-masing. Bahkan mereka tidak sempat menyelesaikan makan malamnya karena sudah sangat penasaran dan ingin segera pergi ke rumah sakit.
Mereka berempat pergi ke rumah sakit dengan menggunakan satu mobil, karena keadaan Billal masih belum sepenuhnya membaik. Sedangkan Gita di rumah saja bersama art.
Iqbal kini harap-harap cemas saat menunggui istrinya sedang menjalani pemeriksaan USG. Dia berharap kabar baik itu benar adanya.
“Selamat, Nyonya. Anda benar-benar sedang mengandung. Anda bisa melihatnya secara langsung kantong janin Nyonya.” Ucap Dokter sambil menunjuk arah monitor.
Iqbal masih tidak percaya dengan kabar bahagia ini. dia tidak menyangka akan dipercaya Tuhan diberikan momongan lagi. Lalu dia mengusap sudut matanya yang berair.
“Sayang, kamu benar hamil.” Ucap Iqbal sambil memegang lembut tangan istrinya. Jenny hanya mengangguk dengan derai air mata yang sudah membasahi pipinya.
Menurut hasil pemeriksaan dokter, usia kandungan Jenny saat ini sudah berjalan 5 minggu. Dokter kemudian memberikan beberapa resep vitamin untuk Jenny. Iqbal juga menanyakan perihal aneh yang dialami oleh istrinya akhir-akhir ini.
“Hal itu sangat wajar, Tuan. Pembawaan ibu hamil memang berbeda-beda. Jadi anda sebagai suami, mohon untuk bersabar menghadapi ngidam istri anda.” Ucap dokter.
__ADS_1
Kini Iqbal dan Jenny sudah keluar dari ruangan poli kandungan. Sekarang giliran pasangan Billal dan Lidya. Billal sempat ikut bahagia saat mengetahui Jenny memang benar-benar sedang hamil. Namun saat giliran dirinya masuk, perasaannya semakin tak menentu.
Sebelum dokter meminta Lidya bebaring menjalani pemeriksaan USG, Lidya sempat mendapatkan beberapa pertanyaan mengenai siklus datang bulannya. Setelah itu dokter mengangguk paham dan segera meminta Lidya berbaring.
“Selamat, Nyonya. Saat ini anda sedang mengandung. Anda bisa melihat kantong janin anda disini.” Ucap dokter sama seperti yang diucapkan saat memeriksa Jenny tadi.
Dokter menjelaskan bahwa usia kandungan Lidya saat ini sudah jalan 6 minggu. Billal sangat bahagia mendengarnya. Akhirnya dia mendapatkan seorang anak dari wanita yang sangat dicintainya. Mengingat sejak dulu dia sudah sangat mendambakan seorang anak, namun berulang kali disakiti oleh istrinya.
“Lantas kenapa saya sering merasa mual, Dok?” tanya Billal.
“Itu karena anda sedang mengalami sindrom kehamilan simpatik. Jadi istri anda yang hamil, namun anda yang mengalami ngidamnya. Semoga anda bisa bersabar menghadapinya, Tuan. Demi sang buah hati anda.” Jawab Dokter sambil tersenyum tipis.
“Bisanya berapa lama, Dok?” tanya Billal penasaran.
“Tergantung Tuan. Ada yang sampai trimester kedua bahkan ada juga sampai istri anda melahirkan.” Jawab dokter dan sontak membuat wajah Billal berubah sendu.
Setelah dokter memberikan beberapa resep vitamin untuk Lidya, Billal segera mengajak istrinya keluar. Disana sudah ada Iqbal dan Jenny yang sudah tidak sabar menanti kabar bahagia dari Billal.
“Bagaimana, Om?” tanya Jenny.
Namun raut wajah Billal terlihat sendu. Berbeda dengan Lidya yang tampak tersenyum lega. Hingga membuat Iqbal dan Jenny semakin bingung untuk menyimpulkan.
“Aku juga hamil.” Jawab Lidya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Wah hamil barengan nih.. buatnya juga barengan sih😂😂😂✌️✌️
Happy Reading‼️