
Keesokan paginya, seperti yang diperintahkan oleh atasannya, bahwa hari ini Iqbal harus menjemput anak Nyonya Sarah yang baru saja pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya. Iqbal sudah tampak rapi dan bersiap untuk pergi ke rumah atasannya untuk mengambil mobilnya terlebih dulu.
“Kak Iqbal mau kemana?’ tanya Jenny saat Iqbal sedang memakai sepatunya.
“Aku mau ke bandara menjemput anak atasanku. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal sendiri?” ucap Iqbal.
“Ya Kak. Aku nggak apa-apa.” Jawab Jenny.
Setelah itu Iqbal berangkat menuju rumah atasannya lalu pergi ke bandara. Iqbal menunggu beberapa saat setelah itu orang yang dijemput menampakkan batang hidungnya.
“Kamu yang namanya Iqbal? Asisten Mami Sarah?” tanya seorang perempuan cantik sambil mendorong kopernya.
“Iya, Nona. Apakah anda Nona Farah?” tanya Iqbal sopan dan perempuan itu mengangguk tersenyum.
Setelah itu Iqbal membantu Farah membawakan kopernya untuk dibawa masuk ke dalam mobil. Kemudian mengantar Farah pulang. Iqbal terkejut saat tiba-tiba Farah memilih duduk di depan bersama dirinya. Namun Farah terlihat biasa saja.
“Sudah, biasa saja. Aku memang ingin duduk di depan biar bisa melihat keadaan jalanan kota ini.” ucap Farah.
Akhirnya Iqbal pun hanya bisa menganggukkan kepalanya. Kemudian melajukan mobilnya untuk mengantar majikannya pulang.
“Kamu sudah lama bekerja dengan Mami?” tanya Farah.
“Kurang lebih dua bulan Nona.” Jawab Iqbal sambil fokus menyetir.
“Jangan panggil aku Nona. Panggil Farah saja, sepertinya kita seumuran.” Ucap Farah.
“Maaf Nona, tapi saya rasa itu tidak sopan.” Jawab Iqbal.
“Terserah kamu saja deh. Oh iya apa kamu sudah mempunyai kekasih?” tanya Farah.
“Maaf, Nona. Itu sangat privasi.” Jawab Iqbal.
Entah kenapa Iqbal merasa tidak nyaman dengan sikap perempuan yang bernama Farah itu. Sementara itu Farah hanya bisa mendengus kesal. Padahal dia hanya ingin tahu saja, siapa tahu Iqbal masih jomlo, jadi dirinya bisa dekat dengan Iqbal tanpa ada yang menghalanginya.
Farah melihat jam mahal yang melingkar pada pergelangan tangannya. pantas saja dia sangat lapar, karena waktu sudah siang. Akhirnya Farah meminta Iqbal menghentikan mobilnya di sebuah restaurant terdekat.
Kini Iqbal dan Farah sudah tiba di sebuah restaurant. Seorang pelayan datang membawakan buku menu.
“Kamu mau makan apa Bal?” tanya Farah.
__ADS_1
“Nggak usah Nona. Saya masih kenyang.” Tolak Iqbal.
“Ck, aku nggak jadi makan kalau kamu nggak mau makan.” Ucap Farah lalu meletakkan buku menu ke atas meja.
Iqbal yang merasa tidak enak pun akhirnya ikut makan. Dan membuat Farah menyunggingkan senyum tipisnya.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawakan pesanan makanan mereka. Iqbal tampak menyantap makanannya sambil menundukkan kepalanya. Berbeda dengan Farah yang sejak tadi terus memandangi wajah tampan Iqbal sambil mengunyah makanannya.
Tanpa mereka berdua sadari, ternyata Jenny melihat itu semua. Jenny yang tadinya keluar untuk membeli alat tulis, dia menyempatkan untuk makan siang di sebuah restaurant. Dan dia tidak menyangka kalau akan bertemu Iqbal disana. Apalagi terlihat Iqbal sedang makan siang bersama seorang perempuan cantik.
Entah kenapa Jenny tidak suka melihat Iqbal duduk berdua dengan sorang perempuan. Terlebih sejak tadi perempuan itu terus memandangi Iqbal sambil tersenyum. Hati Jenny merasakan sesak saat teringat Iqbal pernah menciumnya dan kini dengan mudahnya Iqbal jalan berdua dengan seorang perempuan.
“Apakah Kak Iqbal memintaku melupakan kejadian itu gara-gara perempuan itu? Apakah Kak Iqbal melakukan itu juga karena membayangkan perempuan itu?” tanya batin Jenny.
Makanan yang baru saja datang, membuat Jenny enggan menyantapnya karena moodnya sudah buruk. Pandangannya pun masih tertuju pada perempuan cantik yang sedang berhadapan dengan suaminya. Saking sesaknya dada Jenny, membuat air matanya turun begitu saja. Kemudian Jenny memilih pergi dari restaurant tanpa menyentuh makanan itu sedikitpun.
Iqbal dan Farah juga sudah menyelesaikan makan siangnya. Setelah membayar tagihannya, Iqbal melanjutkan perjalanannya mengantar Farah pulang. Namun saat Iqbal baru saja keluar dari restaurant, tidak sengaja dia melihat Jenny yang sedang berjalan di depannya dan menghentikan sebuah taksi.
“Jenny!” panggil Iqbal.
Merasa ada yang memanggil, Jenny menoleh sebentar. Ternyata Iqbal yang memanggilnya. Dan tak lama kemudian ada seorang perempuan yang berjalan di belakang Iqbal dan menarik tangannya.
Jenny enggan menjawab panggilan Iqbal dan lebih memilih acuh lalu masuk ke dalam taksi yang baru saja berhenti. Sedangkan Iqbal tampak heran dengan Jenny yang mengabaikannya begitu saja dengan wajah yang tak biasa.
“Maaf, saya lupa.” Ucap Iqbal dan berusaha melepaskan tangannya yang dipegang oleh Farah.
Dalam perjalanan, Iqbal masih memikirkan Jenny yang sedikit berbeda saat bertemu tadi. kenapa Jenny juga berada disana. Apakah tadi Jenny juga makan di restaurant itu. Tapi kenapa dia mengabaikan panggilanku. Tanya batin Iqbal yang sejak tadi tak hentinya memikirkan Jenny.
Sesampainya di kediaman Nyonya Sarah, Iqbal membwakan koper Farah ke dalam. Setelah itu dia berpamitan pulang.
“Kamu langsung pulang, Bal? nggak mampir dulu?” tanya Farah.
“Maaf Nona. Saya harus pulang sekarang.” jawab Iqbal sopan.
Setelah itu Iqbal mengambil motornya dan pulang ke rumahnya. Sedangkan Farah masuk ke dalam rumah untuk menemui maminya yang sudah menunggu di dalam.
“Mami!!!!” teriak Farah sambil memeluk wanita paruh baya itu.
“Sayang, apa kabar kamu? Mami sangat merindukan kamu.” Tanya Sarah.
__ADS_1
“Farah sehat Mami. Mami juga sehat kan?” tanya Farah masih dalam pelukan maminya.
“Mami sehat Sayang. Ayo Mami antar ke kamar kamu.” Ajak Sarah kemudian.
Farah masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang sudah lama ia tinggalkan namun kondisinya masih sangat rapi dan tidak ada yang berubah sejak dulu. Sarah terlihat senang melihat anaknya sudah kembali ke rumah. sebentar lagi ada yang menemaninya mengurus perusahaan.
“Mami ko’ nggak bilang sih kalau punya asisten ganteng seperti Iqbal?” tanya Farah sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya.
“Memangnya kenapa Mami harus bilang sama kamu?” tanya Sarah menyelidik.
“Jangan bilang kamu naksir sama Iqbal. Dia sudah mempunyai istri. Jangan sekali-kali kamu mencoba mendekatinya ya Farah!” ancam Sarah dengan suara tajam.
Farah terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau Iqbal ternyata sudah mempunyai istri. Padahal sejak awal bertemu tadi dia sudah tertarik pada Iqbal. Mungkin lebih tepatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Kamu ingat kan rumah tangga Mami dan Papi kamu hancur karena hadirnya orang ketiga? Mami nggak mau kamu jadi orang seperti itu. Ingat itu Farah. Kalau sampai terjadi, kamu bukan lagi anak Mami.” Ucap Sarah tegas lalu meninggalkan Farah.
Sementara itu Iqbal yang baru saja sampai rumah, dia langsung masuk dan ingin bertemu dengan Jenny. Dia penasaran ingin menanyakan kenapa Jenny bisa ada di restaurant yang sama dengannya.
“Jen!” panggil Iqbal saat melihat Jenny baru saja keluar kamar.
Namun Jenny kembali masuk kembali ke kamarnya saat melihat Iqbal. Rasanya Jenny masih malas untuk bertemu dengan laki-laki itu.
“Jen, kamu kenapa?” tanya Iqbal yang berhasil mencekal tangan Jenny.
“Nggak apa-apa Kak. Sudah pulang ya kencannya?” tanya Jenny dan langsung melepas tangan Iqbal lalu menutup pintu kamarnya.
.
.
.
*TBC
Yuhuuuu ada yg cemburu nih yeee😍😍
Like, komen, dan vote ya guys🤗😘😘
Happy Reading‼️
__ADS_1