
Pagi itu juga Jenny, Iqbal beserta Gita dan Billal dengan istrinya terbang ke kota J untuk mengantar Gio ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Dan beberapa menit yang lalu, pesawat yang mereka tumpangi baru saja lepas landas.
Penerbangan dari kota B ke kota J hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Jenny berharap masih bisa melihat jenazah Opanya. Begitu juga dengan Billal. Karena sudah lama dia tidak bertemu dengan pamannya. Terakhir saat pesta pernikahan Jenny saat itu, dan itu pun hanya sebentar.
“Sayang, sudah tenanglah. Aku yakin Opa Gio sudah bahagia disana bersama Oma.” Ucap Iqbal menenangkan istrinya yang sejak tadi masih terisak.
Jenny sungguh terpukul dengan kabar meninggalnya Opa Gio. Dia teringat semasa kecilnya dulu, dia sangat dekat dengan Opanya. Bahkan Jenny seperti cucu emas baginya. Mengingat dirinya adalah cucu perempuan satu-satunya. Meskipun begitu, Opa Gio juga tidak pernah membeda-bedakan Jenny dengan Barra, sang kakak. Hanya saja Opa Gio merasa kalau cucu perempuan itu sangat harus dilindungi, jadi seolah Jenny adalah cucu kesayangan.
“Mas, aku menyesal kita tidak secepatnya berkunjung ke kota J. sekarang begini jadinya. Opa sudah pergi meninggalkan aku.” ucap Jenny.
“Jangan bilang seperti itu. Ini semua sudah takdir dari Tuhan. Aku yakin Opa disana pasti juga bahagia melihat anak cucunya sudah hidup bahagia. Jangan menyalahkan diri sendiri sperti ini.” ucap Iqbal.
Kemudian Jenny bersandar pada pundak sang suami untuk mendapatkan ketenangan. Sedangkan Gita sudah tidur sejak tadi. Iqbal hanya bisa mengusap pelan kepala istrinya. Jujur saja dia juga ikut sedih dengan kabar ini. meskipun Iqbal tidak terlalu dekat dengan Opa Gio. Namun menurut cerita dari Papanya, Opa Gio adalah sosok pria yang sangat ramah dan bijaksana. Selain itu Opa Gio adalah tipikal pria setia. Itu terbukti dia rela hidup berdua dengan putra tunggalnya yaitu Vito setelah kematian istrinya saat usia Vito masih satu tahun.
Sedangkan sepasang suami istri yang sedang duduk bersebrangan dengan tempat duduk Iqbal, juga terlihat sedang bersedih. Terutama Billal. Sejak tadi Billal tampak diam. Dia juga menyesal karena semenjak dirinya dipertemukan oleh pamannya tiga tahun yang lalu, sampai saat ini dia belum bisa berbuat baik pada pamannya. Justru dia yang masih berhutang budi pada pamannya karena sudah ditolong saat nyawanya hampir saja melayang.
“Mas, sudah. Jangan terlalu bersedih seperti ini. kita doakan saja semoga paman Gio bahagia disana.” Ucap Lidya sambil menggenggam lembut tangan suaminya.
“Aku sangat menyesal, Sayang. Aku belum bisa membahagiakan paman yang sudah aku anggap sebagai pengganti mendiang Papa.” Jawab Billal.
“Mas jangan bilang seperti itu. Semua ini sudah takdir Tuhan.” Lanjut Lidya.
Billal menoleh pada istrinya sambil menampakkan senyumnya. Dia sangat beruntung mendapatkan istri seperti Lidya. Wanita yang sangat peduli, perhatian, penyayang, dan juga selalu menenangkan di saat dirinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja seperti ini.
“Terima kasih, Sayang.” Ucap Billal.
Beberapa saat kemudian pesawat yang mereka tumpangi
__ADS_1
sudah mendarat. Lalu mereka segera memsan taksi menuju rumah duka.
Jenny kembali menangis saat taksi yang sudah ditumpangi hampir saja sampai rumah orang tuanya. Sedangkan Gita yang belum mengerti, dia tampak bingung melihat Mamanya terus menangis.
Kediaman Vito, orang tua Jenny kini tampak ramai. Banyak pelayat dari kalangan rekan bisnis Vito dan juga Barra turut hadir mengucapkan bela sungkawanya. Dalam hati Jenny sangat bersyukur karena jenazah Opa Gio belum dikebumikan.
“Mama!” teriak Jenny saat melihat mamanya sedang duduk disamping papanya yang sedang berada tidak jauh dari jenazah Opa Gio.
“Sayang, tenanglah. Kita doakan saja semoga Opa Gio tenang disana.” Ucap Kay sambil memeluk Jenny.
Iqbal menyalami kedua mertuanya bergantian. Dia juga turut berduka atas meninggalnya Opa Gio. Setelah itu disusul Billal. Dia memeluk sepupunya, Vito. Vito pun juga merasakan kalau Billal ikut terpukul dengan kabar meninggalnya Papanya.
Kay melihat seorang wanita yang tidak asing sedang berdiri di belakang Billal hanya diam saja. Mungkin nanti dia akan menanyakannya langsung pada Billal kenapa Lidya juga ikut bersamanya.
Kini Jenny mendekati jenazah Opanya yang sebentar lagi akan dimakamkan. Jenny menahan tangisnya sebentar saat mencium pipi Opanya untuk yang terakhir kalinya. Begitu juga dengan Billal. Pria itu menatap lama wajah pucat dengan mata yang tidak akan terbuka lagi itu. Dalam hati Billal mendoakan kebahagiaan pamannya disana nanti. Dan berharap pamannya bisa bertemu dengan kedua orang tuanya disana.
Beberapa saat lagi jenazah akan diberangkatkan ke tempat pemakaman. Semua keluarga besar juga ikut mengantar jenazah Gio ke tempat peristirahatan terakhir. Kecuali Carissa, kakak ipar Jenny karena harus menjaga kedua anak kembarnya dan juga Gita.
Selesai memakamkan jenazah Gio, kediaman Vito masih tampak ramai beberapa orang yang baru datang untuk berbela sungkawa. Jenny yang baru saja turun dari mobil, dia segera masuk ke dalam rumah terlebih dulu. Karena merasa badannya tidak enak. Namun ternyata kepala Jenny tiba-tiba terasa sangat pusing dan matanya berkunang-kunang.
Bruk
Untung saja Jenny tidak sampai jatuh ke lantai. Karena ada seseorang yang dengan cepat menangkap tubuhnya dan langsung menggendongnya.
“Jenny!” teriak Kay terkejut saat melihat anaknya pingsan.
Sedangkan Iqbal yang baru saja memasuki rumah sudah menampakkan wajah dinginnya saat melihat istrinya pingsan dan berada dalam gendongan sang rival, yaitu Xavier.
__ADS_1
Xavier merebahkan tubuh Jenny di sofa ruang tengah. Pria itu juga ikut khawatir saat melihat wajah pucat Jenny. Carissa yang berada di ruangan itu juga sangat terkejut saat melihat Jenny baru saja digendong oleh kakaknya.
“Jenny kenapa, Kak?” tanya Carissa khawatir.
“Aku nggak tahu. Tiba-tiba saja dia jatuh pingsan.” Jawab Xavier.
Perlahan Xavier memundurkan langkahnya saat melihat Iqbal menghampiri istrinya dengan wajah dinginnya. Dan tak lama kemudian Kay datang dengan membawakan minyak angin untuk Jenny.
“Biar Iqbal saja, Ma.” Ucap Iqbal mengambil minyak dari tangan Kay.
Bukannya mengolesi minyak, Iqbal justru membawa istrinya masuk ke dalam kamarnya. Entah kenapa rasanya Iqbal tidak rela jika Xavier memandangi istrinya. Sedangkan orang yang ada dalam ruang tengah itu cukup heran melihat sikap Iqbal.
“Bagaimana keadaan Jenny?” tanya Kay yang baru saja masuk ke kamar Jenny.
“Belum sadar, Ma. Mungkin ini efek kehamilannya, ditambah lagi Jenny yang sedang kelelahan.” Jawab Iqbal.
“Apa? Jenny sedang hamil?” tanya Kay tidak percaya dan Iqbal mengangguk.
Kay sangat bahagia mendengar kabar bahwa anak perempuannya kini sedang mengandung anak keduanya. Lalu Kay memutuskan keluar dari kamar Jenny dan membiarkan anaknya istirahat. Karena masih banyak tamu di rumahnya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Sekadar info: Kisah Gio ada di novel othor yg pertama dg judul "Mencintai Kekasih Sahabatku"
Happy Reading‼️