
Setelah obrolan santai itu, Billal mengajak istrinya pulang ke rumahnya sendiri yang sudah lama tidak pernah ia singgahi.
Billal menolak menginap di rumah sepupunya, karena dia ingin memiliki waktu berdua dengan istrinya. Terlebih sejak tadi ia sudah menahan sesuatu yang ingin segera ia tuntaskan.
“Iya, Sayang. Besok Daddy sama Mommy kesini lagi.” Ucap Billal menenangkan Gita yang sedang menangis minta ikut Billal.
Bukannya diam, anak itu semakin menangis histeris. Iqbal dan Jenny juga berusaha membujuk Gita, karena mereka berdua tahu kalau Omnya ingin mempunyai waktu berdua dengan istrinya. Terlebih Billal juga masih bersedih sepeninggal pamannya.
Hhuuueekk
Billal yang sedang membujuk Gita menaingis tiba-tiba menutup mulutnya rapat kala rasa mual kembali menyerangnya. Pria itu segera berlari ke belakang menuju wastafel. Lidya dengan sigap mengikuti langkah kaki suaminya.
“Kenapa dengan Om kamu?” tanya Kay tampak cemas.
“Itu sudah biasa Ma. Om Billal sedang mengalami sindrom kehamilan simpatik.” Jawab Jenny.
Kay yang awalnya sangat cemas dengan keadaan sepupu iparnya, perlahan wajah cemas itu berubah jadi senyum mengembang. Vito juga demikian. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Billal jika sedang ngidam dan mengalami morning sickness.
“Untung saja suami kamu tidak seperti Billal.” Ucap Kay.
“Nggak lah,Ma. Mas Iqbal nggak seperti itu. Dia hanya suka memakai parfum Jenny saja. Mungkin saking cintanya sama Jenny.” Jawab Jenny sambil mengerling pada sang suami.
Iqbal hanya berdecak sebal. Bisa-bisanya istrinya memutar balikkan fakta. Padahal istrinya lah yang selalu meminta dirinya memakai parfum yng sangat feminim itu.
“Mama dan Papa ikut senang mendengarnya.” Jawab Kay dan membuat Iqbal hanya menghela nafasnya pelan.
Tak lama kemudian Billal dan Lidya sudah kembali ke ruang tengah. Dan Gita juga sudah tidak ada di sana. Bocah kecil itu seperti lupa kalau tadi tidak mau ditinggal oleh Daddynya. Jadi ini kesempatan buat Billal untuk segera pulang.
“Kamu nggak apa-apa, Bil?” tanya Vito.
“Nggak apa-apa. Aku sudah baikan. Lebih aku pulang sekarang saja. Besok aku akan kesini lagi.” Jawab Billal.
“Yakin kamu? Tapi keadaan kamu masih terlihat lemas begitu.” Tanya Kay ikut memastikan.
__ADS_1
“Yakin. Biar nanti diobati sama istriku. Karena hanya dia yang mampu menyembuhkan mual-mual ini.” jawab Billal sambil tersenyum nakal menatap istrinya.
“Cih, dasar ABG tua tukang modus.” Cibir Vito.
Billal tidak peduli. Setelah itu dia berpamitan pulang. Lidya juga berpamitan pada semua keluarga Jenny. Dia menitipkan salam pada Gita, dan berjanji besok akan kesini lagi.
Billal dan Lidya kini sudah berada dalam taksi. Perjalanan menuju rumah membutuhkan waktu sekitar dua puluh lima menit. Lidya tampak merebahkan kepalanya ke pundak sang suami. Jujur saja dia merasakan sangat lelah hari ini. dia ingin segera tidur saja jika nanti sudah sampai rumah.
“Sayang, apa kamu baik-baik saja?” tanya Billal.
“Iya, Mas. Aku hanya sedikit lelah.” Jawab Lidya.
Billal membelai lembut kepala istrinya. Sambil sesekali mengusap perut istrinya yang masih rata. Billal paham kalau istrinya pasti sangat lelah setelah perjalanan jauh. Ditambah lagi harus ikut menemui tamu yang datang berbela sungkawa. Niatnya mengajak Lidya pulang ke rumahnya agar wanita itu bisa beristirahat dengan nyaman.
Tak lama kemudian, taksi itu sudah sampai di depan rumah besar milik Billal. Rumah itu sudah lama tidak pernah Billal singgahi semenjak dirinya membangun perusahaan cabang di kota B.
“Ayo, Sayang kita masuk!” ajak Billal.
Billal menuntun istrinya masuk ke dalam rumah. lalu membawanya ke dalam kamar. kamar yang dulu pernah ia tempati bersama dengan Alia, mantan istri keduanya. Namun Billal sudah menghilangkan semua jejak wanita itu, hingga tak ada secuil pun memori tentang Alia. Billal juga sudah meminta ARTnya untuk mengubah tatanan kamarnya.
“Isirahatlah, pasti kamu sangat lelah. Aku akan berganti baju dulu.” Ucap Billal.
Lidya hanya mengangguk. Dia juga mengambil baju yang ada dalam tasnya dan segera menggantinya. Lidya menelisik isi dalam kamar suaminya yang tampak bersih dan rapi. Namun tiba-tiba saja muncul pertanyaan, apakah kamar ini juga kamar suaminya dengan mantan-mantan istrinya terdahulu. Entah kenapa ada rasa sesak dalam hati Lidya kalau dirinya adalah wanita ketiga yang menempati kamar itu.
Cklek
Billal keluar dari kamar mandi. dia melihat istrinya masih duduk terdiam di bibir ranjang tampak memikirkan sesuatu.
“Kenapa? Katanya tadi lelah?” tanya Billal mendekati Lidya.
“Mas, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Lidya lirih.
“Tanya saja. Ada apa hemm?”
__ADS_1
“Apakah kamar ini adalah kamar kamu dengan mantan-mantan istri kamu?” tanya Lidya.
Deg
Billal tidak menyangka istrinya akan menanyakan hal itu. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak jika istrinya tahu yang sebenarnya. Tapi dirinya tetap harus menjelaskannya pada Lidya.
“Kenapa kamu menanyakan itu? Apa yang kamu pikirkan tentang aku jika memang kamar ini pernah aku tempati bersama mantan istriku yang kedua?” tanya Billal sebelum menjawab pertanyaan Lidya.
Lidya tidak menjawab pertanyaan sang suami, sebab dari pertanyaan itu dia sudah bisa menyimpulkan kalau memang kamar ini adalah kamar yang pernah dipakai Billal bersama istri keduanya. Apalagi dulu Jenny pernah menceritakan sedikit tentang mantan istri Billal yang kedua yang telah menghianatinya, dan usia wanita itu hampir sama dengannya dan juga sangat cantik.
Lidya segera beranjak dari duduknya keluar dari kamar. dia memilih untuk turun ke lantai bawah dimana ada banyak kamar tamu disana. Billal pun dengan cepat menghentikan langkah kaki istrinya.
“Kamu mau kemana? Kamu marah jika memang kamar ini pernah aku tempati dengan mantan istriku? Aku hanya menempati kamar ini beberapa minggu saja, sebelum mengetahui Alia berselingkuh.” Ucap Billal berusaha menjelaskan pada Lidya.
“Aku ingin tidur di kamar tamu saja, Mas.” Jawab Lidya menghiraukan penjelasan Billal.
Billal pun akhirnya mengikuti Lidya menuju kamar tamu. Karena tidak mungkin membiarkan wanita itu tidur sendirian. Yang ada Lidya semakin berpikiran yang tidak-tidak jika dirinya masih tidur di kamar itu.
“Besok aku akan menjual rumah ini. setelah itu aku akan membeli rumah baru di kota B. rumah untuk tempat tinggal bersama anak-anak kita nanti.” Ucap Billal berbisik di telinga Lidya sambil memeluk erat tubuhnya.
Lidya yang belum sepenuhnya tidur, hatinya menghangat setelah mendengar ucapan suaminya. Bukan dia egois, hanya saja Lidya tidak mau suaminya masih terbayang rasa sakit akan penghianatan dari mantan istrinya jika masih tinggal di rumah ini. terlebih masih menempati kamar itu.
Lidya berjanji dalam hatinya, dia akan membuat suaminya bahagia karena telah memilihnya. Dia juga akan mengabulkan ucapan Billal yang akan mengajaknya tinggal di rumah baru bersama anak-anak mereka nanti. Berapapun anak yang Billal inginkan, akan Lidya penuhi permintaannya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1