
Gita semakin mencengkeram kuat lengan Axel saat sudah memasuki ballroom. Axel yang mengerti kondisi Gita saat ini, dia segera menemui si pemilik acara untuk memberikan selamat. Setelah itu mengajak Gita pulang.
“Tuan James, selamat! Semoga perusahaan anda semakin berkembang dengan baik.” Ucap Axel.
“Wah ternyata yang datang putra Tuan Felix. Padahal saya juga berharap Papa kamu sendiri yang datang. Ya sudah nggak apa-apa. Terima kasih atas doanya.” Jawab Tuan James.
“Iya, mohon maaf Tuan. Papa sedang ada acara.” Lanjut Axel.
Tiba-tiba saat Axel ingin berpamitan undur diri, ternyata datang beberapa orang yang juga memberikan selamat pada Tuan James. Dan Axel juga mengenalnya. Akhirnya dia urung berpamitan. Namun sebelumnya dia melirik Gita apakah baik-baik saja. Dan Gita pun mengangguk seolah paham yang dimaksud Axel.
“Cantik sekali istri Tuan Axel. Perkenalkan saya Mike, salah satu rekan bisnis teman mertua kamu juga.” ucap seorang pria bernama Mike, yang usianya seumuran Felix.
Gita hanya mengangguk sambil tersenyum tanpa menyambut uluran tangan pria itu. Axel pun meminta maaf dengan alasan kalau istrinya sedang tidak enak badan. Tapi tanggapan Tuan Mike sedikit berbeda.
Axel pun ikut berbaur dengan teman-teman rekan kerja Papanya. Sebagian juga ada yang seusia dengannya. Dan selama itu pula Gita selalu berada disampinya dengan tangan masing memegang lengannya.
Tiba-tiba Gita merasa tenggorokannya kering. Dia ingin sekali minum, namun tidak berani membuat Axel terganggu karena sedang berbincang dengan rekan bisnisnya. Dia melihat tempat hidangan terlihat sepi. Hanya ada satu dua orang perempuan yang sedang mengambil minum. Akhirnya dia memilih untuk mengambil minum sendiri.
“Aku ambil minum sebentar, ya?” Bisik Gita pelan.
“Aku antar ya?” tawar Axel tapi Gita menolak.
Gita pun menuju tempat minuman. Lalu dia mengambil segelas minuman dingin dan segera meminumnya di tempat. Rasa dahaga yang sejak tadi ia tahan akhirnya hilang sudah setelah meminum segelas lemon tea.
“Apakah anda sangat haus Nona cantik?” tanya seorang pria yang tiba-tiba ada di belakangnya.
Ternyata itu adalah suara Tuan Mike. Gita hanya mengangguk samar dan segera pergi meninggalkan pria itu.
“Tunggu dulu! Kenapa buru-buru?” tanya Tuan Mike dengan senyum devilnya. Bahkan kini tangannya sudah berhasil memegang lengan Gita.
“To...tolong lepaskan.” Ucap Gita gugup.
“Hei Nona, jangan gugup seperti itu. Aku hanya ingin berbincang santai denganmu.” Ucap Tuan Mike.
__ADS_1
Tubuh Gita sudah bergetar hebat. Dia melepas tangan Tuan Mike dengan kasar lalu mundur beberapa langkah hingga menabrak meja tempat beberapa minuman tersaji.
Pyarrr
Bunyi beberapa gelas terjatuh ke lantai akibat meja yang tertabrak Gita. Lalu Gita mengambil salah satu gelas dan memecahkannya.
“Jangan mendekat!! Atau aku akan membunuhmu!” Gita mengancam Tuan Mike sambil menodongkan gelas yang sudah ia pecahkan tadi.
Seketika suasana mendadak gaduh. Pria bernama Mike itu juga terkejut melihat respon Gita yang menurutnya sangat berlebihan. Setelah itu Axel segera menghampiri Gita untuk menenangkannya.
“Jangan mendekat!” teriak Gita lagi saat Axel mendekat.
“Tenanglah! Ini aku Axel. Aku nggak akan berbuat apa-apa denganmu.” Ucap Axel dan dengan cepat tangannya mengambil pecahan gelas yang dibawa Gita. Lalu segera memeluknya.
“Sepertinya istrimu mulai gila ya Tuan Axel?” ucap Tuan Mike.
“Jaga bicara anda!” bentak Axel dan seketika Tuan Mike terdiam.
Sesampainya di dalam mobil, tubuh Gita masih gemetaran. Axel pun masih mengeratkan pelukannya. Dia tidak tahu kejadian apa yang dialami istrinya tadi bersama Tuan Mike. Tapi yang membuatnya terkejut adalah melihat respon Gita yang seperti saat ini. tiba-tiba hatinya terasa teriris melihatnya. Apakah benar yang diucapkan Inez. Kenapa Gita jadi seperti ini. terlebih ini semua adalah dampak dari kejadian malam itu.
“Maafkan aku Gita. Maafkan aku. aku lalai menjagamu. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu.” Ucap Axel lirih sambil mengusap pelan kepalanya.
“Aku takut. Dia..dia menyentuhku… dia kurang ajar!!” ucapan Gita yang awalnya lirih kini semakin histeris dengan diiringi tangis.
“Sampai seperti ini reaksi tubuhmu saat ada yang menyentuhmu sedikit saja. Maafkan aku Gita. Ini semua karena aku.” gumam Axel dan semakin mengeratkan pelukannya.
Axel tak kunjung menyalakan mesin mobilnya. Bahkan cukup lama dia berada dalam mobil bersama Gita. Perlahan isakan Gita mulai menghilang. Dan tubuh yang sejak tadi bergetar kini mulai melemah karena Gita sudah tertidur. Setelah itu Axel merebahkan Gita di kursi sebelahnya dan sedikit mengatur kursinya agar membuat tidurnya nyaman.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di apartemen. Axel cukup lama membangunkan Gita. Namun sama sekali tidak ada respon. Akhirnya dengan hati-hati dia menggendongnya masuk ke dalam unit apartemennya, dan merebahkannya di kamar Gita sendiri.
Saat ini Axel sedang duduk termenung sendirian di sofa ruang tengah. Dia bingung apa yang harus dilakukan. Kelihatannya Gita memang butuh penanganan khusus. Tapi bagaimana caranya. Apakah dia tidak akan semakin marah. Mengingat tadi Tuan Mike sempat mengatainya gila.
Keesokan paginya Gita sudah terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba saja dia merasa sangat kesepian. Seingatnya semalam dia berada dalam pelukan hangat seseorang. Setelah berhasil mengumpulkan memorinya, Gita teringat dengan kejadian semalam saat ada seorang pria menyentuh tangannya. setelah itu datang Axel untuk menenangkannya.
__ADS_1
Tok tok tok
“Gita, apa kamu sudah bangun?” tanya Axel di balik pintu.
Tanpa menjawab, Gita bergegas bangun dan membukakan pintu kamarnya. Seketika itu dia langsung berhambur ke pelukan Axel.
“Jangan tinggalkan aku! aku takut dengan pria itu.” Ucap Gita yang saat ini berada dalam pelukan Axel.
“Tenanglah. Kamu akan aman. Dan aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu.” Jawab Axel.
Harusnya Axel bahagia karena Gita perlahan mau menerimanya. Bahkan tidak segan-segan memeluknya seperti ini. namun pelukan ini terasa beda. Pelukan di saat Gita sedang terpuruk keadaannya. Hati Axel kembali sakit mengingat kejadian semalam.
“Ya sudah, lebih baik sekarang kamu mandi dulu. Setelah itu kita sarapan bersama.” Ucap Axel setelah mengurai pelukannya.
Gita mengangguk patuh lalu kembali masuk ke dalam kamarnya. Sementara Axel menunggu pesanan makanannya datang.
Kini Gita sudah duduk di ruang makan bersama Axel. Gita mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Bahkan dia begitu lahap makannya, mengingat semalam dia belum sempat makan apapun. Axel tersenyum melihatnya.
“Terima kasih, Kak. Terima kasih semalam telah menolongku.” Ucap Gita setelah menyelesaikan makannya.
Air mata Axel tiba-tiba memenuhi pelupuk matanya saat mendengar ucapan tulus dari mulut Gita. Bahkan Gita memanggilnya dengan sebutak “Kak”. Kata yang sudah lama sekali tidak pernah diucapkan oleh Gita.
Kemudian Axel mengangguk sambil memegang lembut tangan Gita.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1