Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 132


__ADS_3

Baru kali ini Elvan mendengar suara lemah sahabatnya. Biasanya sahabat yang ia kenal itu selalu kuat setiap menghadapi masalah hidup. Karena yang ia tahu, selama ini Dimas hidup sebatang kara tidak pernah merasakan hangatnya sebuah keluarga. Lantas apakah gara-gara satu perempuan saja bisa membuat Dimas lemah seperti itu. Sebegitu berartinya kah Gita buat Dimas?


“Tenanglah, Dim! Dia memnag bukan jodoh kamu. Mau berusaha sekuat apapun kalau memang Gita tidak ditakdirkan untuk kamu, tetap saja dia tidak akan bisa bersamamu.” Elvan bingung mau menasehati seperti apa lagi, karena memang dirinya tidak berpengalaman dengan hal-hal seperti ini.


“Selama ini kedekatanku dengannya aku kira cukup membuktikan kalau dia mempunyai perasaan padaku. Ternyata aku salah.” Ujar Dimas dengan pandangan lurus ke dapan.


“Hidup memang tidak melulu tentang wanita, Dim. Dari kejadian ini, bisa kamu gunakan sebagai pelajaran penting dalam hidup kalau tidak selamanya yang kamu genggam akan menjadi milik kamu. Aku yakin Tuhan telah menyiapkan jodoh terbaik buat kamu.” Lanjut Elvan.


Dimas terdiam. Memang benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Tapi untuk saat ini hatinya masih hancur dengan kenyataan bahwa Gita akan bertunangan dengan Axel. Dia berusaha menekan kuat rasa sesak di dadanya untuk bisa mengikhlaskan semuanya.


***


Hari pertunangan Axel dan Gita akhirnya tiba juga. malam ini Gita sedang duduk di depan cermin meja riasnya. Tidak ada rasa deg-degan seperti kebanyakan orang jika sedang melalui proses seperti ini. pandangan Gita menghadap cermin, namun hatinya entah kemana.


Selama persiapan pertunangannya, Gita sama sekali tidak pernah bertemu dengan Axel. Berulang kali laki-laki itu ingin mengajaknya bertemu, namun Gita tetap mengacuhkannya. Dan hari ini, malam ini keduanya akan dipertemukan untuk menjalin sebuah ikatan suci sebelum menuju pernikahan.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu menyadarkan lamunan Gita. Dia mencoba untuk bersikap biasa saja di depan semua orang.


“Iya, Ma. Gita sudah siap.” Ucap Gita setelah membuka pintu kamarnya.


“Cantik sekali anak Mama.” Ucap Jenny tersenyum tipis pada Gita.


Jenny menggandeng Gita menuruni tangga. Di ruang tamu sudah ada Axel beserta kedua orang tuanya. Memang acara pertunangan ini dilangsungkan secera sederhana dan dihadiri oleh keluarga inti saja.


Axel mengembangkan senyumnya saat melihat calon istrinya datang. Begitu juga dengan kedua orang tuanya. Gita pun bersikap ramah kepada kedua orang tua Axel.


Setelah semuanya berkumpul, acara pun dimulai. Felix yang sebagai wali Axel menyatakan maksud kedatangannya yaitu untuk melamar Gita. Iqbal dan Jenny menerima lamaran itu. Gita tanpa berucap apapun dan hanya menganggukkan kepala tanda setuju, membuat semua orang ikut lega. Lalu Nia memakaikan cincin pertunangan ke jari manis Gita, dan sebaliknya, Jenny memakaikan cincin pertunangan di jari manis Axel.


Sebelum acara itu ditutup dengan makan malam, semua orang memanjatkan doa dengan khidmat berharap acara selanjutnya yaitu pernikahan dapat berlangsung dengan lancar. Setelah itu mereka semua menuju meja makan untuk makan malam.


Axel duduk tepat di sebelah Gita. Kedua orang tua mereka tersenyum melihatnya. Bahkan Gita mengambilkan makanan untu Axel.


“Duh calon mantu perhatian sekali!” celetuk Nia.

__ADS_1


Semua orang tersenyum senang. Begitu juga dengan Axel. Sedangkan Gita hanya tersenyum tipis tanpa mengucapkan sesuatu.


Selesai makan malam diisi dengan obrolan santai. Kedua orang tua Axel dan Gita telah sepakat menentukan hari pernikahan mereka satu bulan lagi lebih tepatnya dua hari setelah Gita wisuda. Si calon mempelai pengantin mengangguk setuju. Setelah itu Axel dan Gita memutuskan untuk bersantai di teras rumah. kedua orang tua mereka pun mempersilakan.


“Terima kasih telah menerima lamaranku, Git!” ucap Axel mengawali pembicaraan.


“Jangan senang dulu. Aku melakukan semua itu demi kedua orang tuaku.” Jawab Gita dengan suara datarnya.


Axel terdiam beberapa saat walau sebenarnya dia terkejut dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Gita. Dan kini dia bisa menyimpulkan kalau sejak tadi Gita hanya bersandiwara.


“Terlebih jika ada janin dalam rahimku, yang akan semakin membuat keluargaku malu.” Lanjut Gita.


“Tidak masalah jika alasan kamu menerima lamaran ini dan pernikahan kita nanti karena keluarga kamu. Bagiku yang terpenting adalah kamu akan menjadi milikku. Terserah kalau kamu mau bersandiwara di hadapan kedua orang tua kita. Aku akan mengikuti alurmu.” Jawab Axel dengan suara tegas.


Gita tidak menyangka dengan tanggapan Axel. Dia pikir Axel akan menolak alasannya dan mengemis cinta padanya. Tapi tekat Gita sudah bulat. Dia sudah menutup hatinya untuk Axel atau siapapun itu. Dia masih merasa jijik melihat dirinya sendiri, walau Axel sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya.


“Dan satu lagi, setelah menikah nanti aku ingin kita tinggal di apartemen milik Papa. Dan aku akan bekerja di perusahaan Papa.” Ucap Gita.


“Terserah! Lakukan saja apa yang membuatmu senang.” Jawab Axel singkat lalu bergegas masuk ke rumah.


***


Keesokan paginya Gita sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor Papanya. Semalam dia sudah mengatakan kalau mulai hari ini akan bekerja. Dia juga sudah mengatakan kalau Axel sudah menyetujuinya.


“Apa nggak lebih baik kamu ikut bekerja di perusahaan Om Felix saja, Sayang?” tanya Jenny saat sedang berada di meja makan.


“Nggak, Ma. Nanti malah Gita nggak bisa bekerja dengan serius.” Jawab Gita sambil tersenyum tipis.


“Ya sudahlah terserah kamu saja. Asal Axel sudah mengijinkan.” Sahut Iqbal.


Setelah itu Gita berangkat ke kantor bersama Papanya. Dalam perjalanan, Gita sudah mengajukan beberapa hal pada Papanya agar tidak diperlakukan istimewa nanti saat bekerja. Dan Gita juga tidak mau ditempatkan di posisi enak. Dia ingin merasakan seperti kebanyakan karyawan baru.


“Nanti Papa akan tanyakan pada Dimas, posisi apa yang sedang kosong.” Ucap Iqbal.


Gita hanya mengangguk, karena dia tahu kalau sekarang Dimas telah menjadi asisten pribadi Papanya. Jadi wajar saja jika Papanya akan menanyakan posisi apa yang sedang kosong untuk dirinya tempati.

__ADS_1


Sesampainya di kantor, Dimas segera masuk ke ruangan atasannya. Dia terkejut saat bertemu Gita. Lalu dia hanya mengangguk samar sambil tersenyum.


“Dimas, posisi apa saat ini yang sedang kosong?” tanya Iqbal.


“Maaf, Tuan. Untuk apa anda menanyakan itu?” tanya Dimas sebelum menjawab pertanyaan Iqbal.


“Mulai sekarang Gita akan bekerja di perusahaan ini.” jawab Iqbal.


Setelah itu Dimas mengatakan kalau posisi divisi pemasaran saat ini sedang kosong. Karena salah satu karyawannya ada yang resign beberapa hari yang lalu. Dimas pun belum sempat mencari penggantinya. Dan Gita pun setuju di tempatkan di posisi itu.


Saat ini Gita sedang duduk di kantin perusahaan untuk makan siang. Dia tidak sendiri, melaainkan dengan Dimas. Tadi Dimas mengirim pesan pada Gita dan mengajaknya makan siang bersama.


“Selamat atas pertunangan kamu, Gita.” Ucap Dimas menatap intens mata Gita.


“Ehm, terima kasih Kak.” Jawab Gita gugup.


“Gita, ada yang ingin aku sampaikan pada kamu. Walau ini terlambat, tapi setidaknya aku sudah mengatakan ini dengan jujur.” Ucap Dimas.


“Apa, Kak?” tanya Gita tak mengerti.


“Aku mencintaimu Gita. Sudah lama aku menyimpan perasaan ini. Bahkan aku berencana akan melamar kamu nanti setelah kamu wisuda. Tapi ternyata aku terlambat. Semoga kamu bahagia dengan pasangan kamu.” Ucap Dimas sambil pandangannya tak lepas dari mata Gita.


Tanpa sepengetahuan mereka berdua, ternyata ada sepasang mata yang meilhat dan juga mendengar itu semua.


.


.


.


*TBC


Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan votenya guys🤗🤗😘


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2