Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 130


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar Gita, Jenny melihat suasana rumah sangat sepi. Dia menghampiri kamar anak laki-lakinya. Disana ternyata ada Daniel dan Chandra yang sedang asyik main game.


“Ma, ada apa?” tanya Daniel.


“Kalian berdua temani Mama ke butik.” Ucap Jenny singkat.


Daniel melirik sekilas pada Chandra. Daniel sudah mengerti maksud Mamanya jika malam begini minta ditemani ke butik, itu tandanya Mamanya akan tidur disana. Dan Chandra pun tidak keberatan.


Beberapa saat kemudian Jenny pergi ke butik tanpa sepengetahuan suaminya. Karena Iqbal saat ini sedang berada di ruang kerjanya. Jenny memilih butik untuk tempatnya menyendiri. Dan mungkin dengan ini, hati anak dan suaminya perlahan melunak.


“Mama baik-baik saja?” tanya Daniel saat melihat mamanya masih terisak lirih.


“Mama nggak apa-apa.” Jawab Jenny.


Sementara Chandra hanya diam saja. Dia juga tidak mau ikut campur terlalu jauh dengan masalah keluarga Jenny, meski sedikit banyak dia sudah tahu apa yang sudah terjadi.


***


Sementara itu saat ini Axel sedang duduk di sofa kamarnya. Nia juga sedang disana. Wanita itu tampak telaten mengompres luka memar di pipi Axel akibat ulah Iqbal tadi.


Rasa sakit di seluruh wajahnya sudah tidak bisa dia rasakan lagi. Karena saat ini hatinya sangat kalut setelah mendengar langsung penolakan Iqbal saat dirinya hendak mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Gita. Tidak hanya itu saja, bahkan Papanya juga sangat marah dengan sahabatnya sendiri. Axel semakin takut jika Papanya juga tidak mendukungnya.


“Sudah, sekarang buatlah istirahat. Minum obat penghilang nyeri ini dulu.” Ucap Nia.


“Ma! Bagaimana jika Papa tidak merestui Axel?” tanya Axel.


“Apa kamu benar-benar mencintai Gita?” Nia bertanya.


“Iya, Ma. Sejak lama memang Axel sudah mencintainya. Tapi Gita selalu menyalah artikan perhatian Axel. Gita juga sedang dekat asisten pribadi Om Iqbal. bahkan Axel mendengar sendiri kalau laki-laki itu berniat melamar Gita setelah wisuda nanti.” Ucap Axel.


“Jadi karena itu kamu melakukan perbuatan itu pada Gita?” tanya Nia memastikan.


“Memang ini salah, Ma. Tapi Axel tidak mau Gita dimiliki orang lain. Maafkan Axel, Ma jika cara Axel memperjuangkan Gita harus dengan cara yang salah.” Jawab Axel.

__ADS_1


Nia kembali terdiam. Dia memahami apa yang dirasakan anaknya saat ini. tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Axel sepenuhnya. Mungkin setelah ini dia akan mengajak suaminya bicara baik-baik.


“Ya sudah, lebih baik kamu istirahat dulu. Nanti biar Mama yang bicara sama Papa kamu.” Ucap Nia.


“Terima kasih banyak, Ma.”


Nia masuk ke kamarnya. Ternyata suaminya juga sedang menunggunya. Mungkin inilah saat yang tepat untuk membicarakan masalah yang tengah dihadapi oleh anaknya.


“Mas, bagaimana menurut Mas tentang anak kita dan Gita?” tanya Nia.


“Aku juga masih bingung, Sayang. Tapi aku masih tidak terima karena Iqbal menilai Axel seperti itu. Di sisi lain, aku juga menginginkan Gita sejak dulu untuk menjadi menantu kita.” Jawab Felix.


Felix masih ingat saat dulu sering bercanda ingin menjodohkan Gita dengan Axel. Namun Iqbal dengan tegas menolaknya. Bukan menolak dalam artian yang sebenarnya, melainkan membiarkan anak-anaknya menentukan pasangannya sendiri. Sejak saat itulah Felix membiarkan hubungan Axel dan Gita hanya sebatas adik kakak saja.


“Kalau menurutku, lebih baik tunggu situasi yang tepat dulu, Mas. Mungkin Iqbal tadi sedang emosi jadi dia mudah sekali tersulut emosinya. Siapa yang tidak marah jika mengetahui anak perempuannya diperlakukan seperti itu. Walau tadi Axel sudah mengakui perasaannya pada Gita.” Ucap Nia.


“Dan Axel melakukan tu semua bukan karena memanfaatkan kelemahan Gita saat sedang dalam pengaruh obat. Melainkan karena Axel tidak ingin Gita dimiliki laki-laki lain. Dia mendengar sendiri kalau akan ada laki-laki yang melamar Gita setelah wisuda nanti.” Ucap Nia.


Felix mengangguk dan memilih mengikuti saran yang diberikan oleh istrinya. Setelah itu dia mengajak istrinya untuk tidur karena waktu sudah malam.


***


Sedangkan Gita juga tidak berani melihat wajah Papanya. Dia tahu kalau Papanya masih dalam mode marah. Entah marah siapa. Tapi hati Gita juga sedang dihinggapi rasa bersalah pada Mamanya karena sudah membentaknya semalam.


“Selesai makan, Papa tunggu di ruang kerja.” Ucap Iqbal.


“Baik, Pa.” jawab Gita sambil tertunduk.


Tidak lama kemudian, Gita memasuki ruang kerja Papanya. Hati Gita semakin tak karuan. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh Papanya setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Karena Gita sama sekali tidak tahu apa yang sudah terjadi semalam di ruang tengah.


“Ada apa, Pa?” tanya Gita.


“Papa akan menyetujui Axel untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.” Jawab Iqbal.

__ADS_1


“Tapi, Pa. Gita nggak mau. Gita benci dengan Kak Axel karena telah memanfaat-“ ucapan Gita terpotong.


“Cukup Gita!! Papa nggak mau ada penolakan. Apa kamu pernah berpikir jika terjadi sesuatu akibat ulah Axel itu? Apa kamu akan mempermalukan keluarga ini?” ternyata Iqbal baru menyadari kalau Gita juga sama keras kepalanya dengan dirinya.


“Disini Gita yang menjadi korban, Pa. kenapa Gita harus terpojok seperti ini?” Gita mencoba menahan isakannya.


“Baiklah kalau kamu menolaknya. Berarti kamu sudah siap kehilangan Mama kamu yang sudah dipastikan tidak akan kembali lagi ke rumah ini. tidak hanya menolak bertemu dengan kamu, tapi dengan Papa juga. silakan lakukan apa yang kamu inginkan. Kalau kamu memang lebih suka melihat keluarga kita selamanya seperti ini.” ucap Iqbal dengan suara tegas lalu meninggalkan Gita yang masih diam di ruang kerjanya.


Akhirnya Iqbal bisa meredam egonya. Setelah semalaman berdiam seorang diri tanpa adanya sang istri di sampingnya, perlahan hati Iqbal melunak. Dia tidak bisa didiamkan istrinya terlalu lama. Semalam saja rasanya sudah sangat lama. Walau dia tahu dampaknya akan membuat Gita semakin sakit, tapi dia akan mencoba membujuk Gita agar mau menerima Axel. Dan semua itu tidak akan lepas dari campur tangan istrinya.


Kini Iqbal memilih pergi ke butik istrinya daripada pergi ke kantor. karena dia sudah menyerahkan pekerjaannya pada Dimas, si asisten pribadinya.


Iqbal melihat butik masih belum buka, karena memang masih pukul setengah 8. Disana juga ada sebuah mobil yang digunakan oleh Daniel untuk mengantar mamanya semalam.


“Dimana Mama kamu?” tanya Iqbal saat melihat Daniel dan Chandra sedang duduk di sofa lantai bawah.


“Di kamar ruang kerjanya, Pa.” jawab Daniel.


Tak butuh waktu lama, Iqbal segera menuju lantai dua memasuki ruang kerja istrinya. Disana tampak Jenny sedang berdiri menghadap jendela yang sedang terbuka.


Grep


Iqbal segera memeluk tubuh istrinya dari belakang. Dia tidak kuat jika diacuhkan seperti ini oleh wanita yang sudah menjadi tulang rusuknya itu.


“Sayang, pulanglah! Maafkan aku.” ucap Iqbal.


“Ayo kita sama-sama meyakinkan Gita agar mau menerima Axel.” Lanjut Iqbal.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2