Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 109


__ADS_3

Keesokan paginya Jenny merasakan ada sebuah tangan kekar yang sedang melingkar di atas perutnya. Lalu dia menoleh ke belakang ternyata ada sosok tampan yang sedang terlelap damai menyelami sisa-sisa mimpinya.


Jenny teringat kalau semalam dirinya memilih tidur di kamar tamu. Dia juga tidak tahu bagaimana bisa suaminya kini sudah ikut tidur bersamanya. Atau mungkin art-nya sudah memberitahu.


“Kamu mau kemana?” tanya Iqbal saat Jenny melepaskan tangan Iqbal.


“Mas sudah bangun? Aku mau ke kamar mandi.” jawab Jenny.


“Apakah perut kamu masih mual? Maafkan aku. aku tidak tahu kalau tadi malam kamu mual dan muntah.” Tanya Iqbal sambil mengeratkan pelukannya.


Semalam Iqbal cukup lama berada di ruang kerjanya. Saat dia memasuki kamarnya ternyata tidak melihat keberadaan Jenny disana. Lalu dia mencari istrinya di kamar Gita, dan ternyata tidak ada juga. Iqbal pun turun ke bawah dan bertemu dengan art-nya yang kebetulan sedang mengambil air minum di dapur.


“Bi, Bibi tahu dimana istriku?” tanya Iqbal.


“Nyonya Jenny tidur di kamar tamu, Tuan. Maaf, saya lupa menyampaikan kepada Tuan. Tadi Nyonya Jenny mual dan muntah cukup lama. Setelah itu Nyonya memutuskan untuk tidur di kamar tamu karena badannya terasa lemas.” Jawab Bi Lasmi.


Iqbal pun merasa sangat bersalah. Lalu dengan cepat dia menyusul istrinya yang sedang tidur meringkuk sendirian di kamar tamu.


“Nggak, Mas. Aku sudah baikan.” Jawab Jenny.


“Maafkan aku yang tidak mendengarkan penjelasan kamu. Maafkan aku yang lagi-lagi cemburu buta.” Ucap Iqbal sendu.


“Iya, Mas. Aku paham. Tapi sekali lagi tolong percayalah dengan ucapanku. Aku nggak mau cemburumu semakin membuat hubungan kita retak. Terlebih anak ini juga ikut marah saat kamu mengacuhkanku.” Ucap Jenny sambil mengusap perutnya.


“Marah? Apa maksud kamu?” tanya Iqbal bingung.


"Semalam tiba-tiba perutku sangat mual. Dan aku memuntahkan semua isi perutku. Padahal sebelumnya aku tidak pernah seperti ini. mungkin dia juga protes karena Papanya sedang mengacuhkan Mamanya.” Jawab Jenny.


“Maafkan aku. aku nggak tahu.” Iqbal kembali mengeratkan pelukannya.


“Ya sudah sekarang lebih baik kita bangun. Nanti usai sarapan, antar aku pergi ke apartemen Om Billal. Aku mau minta maaf pada Lidya. Aku mau meluruskan kesalah pahaman kemarin.” Ucap Jenny.


Setelah itu mereka berdua bangun. Ternyata Gita sudah bangun lebih dulu dan anak itu juga sudah terlihat segar habis mandi.


“Bi, terima kasih sudah mandiin Gita pagi ini.” ucap Jenny pada Bi Lasmi.


Setelah itu Jenny memutuskan untuk masuk ke kamarnya terlebih dulu. Sedangkan Iqbal duduk santai sambil menemani anaknya, sebelumnya dia tadi sudah mencuci mukanya.


“Sayang, setelah ini kita main ke rumah Daddy sama Mommy ya?” ajak Iqbal pada Gita.


Anak itu terlihat senang saat mendengar akan diajak ke rumah Billal. Karena memang kemarin Gita belum cukup puas bermain dengan Daddynya setelah ada insiden kesalah pahaman yang terjadi diantara orang tuanya.


Kini Iqbal sudah duduk di ruang makan bersama istri dan anaknya. seperti biasa, Jenny makan sambil menyuapi Gita. Dan hari ini Jenny merasa badannya sudah kembali fresh setelah semalam habis mual dan muntah.

__ADS_1


“Mas, kemarin aku sempat memberitahu Lidya kalau kita berencana akan berkunjung ke kota J. barangkali Om Billal mau mengenalkan Lidya kepada Opa dan Mama, Papa.” Ucap Jenny.


“Lalu, bagaimana? Apa Lidya mau?” tanya Iqbal.


“Aku belum tahu, katanya Lidya mau meberitahu Om Billal dulu.”


“Ya. Kalau Om Billal setuju, kita bisa berangkat bersama.”


Selesai sarapan, pagi ini juga Jenny mengajak suaminya pergi ke apartemen Billal. Karena Jenny masih dihantui rasa bersalah pada Lidya. Dia tidak mau Lidya berpikiran buruk terhadapnya.


Sedangkan saat ini Billal sedang duduk di ruang makan. Lagi-lagi dia makan dengan disuapi istrinya. Dalam hati Billal sempat merasa beruntung dengan kejadian kemarin. Karena dia bisa mendapatkan perlakuan seperti saat ini.


“Kenapa Mas tersenyum sendiri?” tanya Lidya.


“Nggak. Nggak apa-apa kok. Ayo Sayang suapi aku lagi.” Jawab Billal mengalihkan perhatian.


Setelah menyelesaikan sarapannya, terdengar suara bel apartemen. Billal mengerutkan kening. Siapa apgi-pagi seperti ini bertamu. Lalu Lidya berdiri dan membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang.


Klik


“Mommy!!!” teriak Gita saat Lidya baru saja membuka pintu.


Gita segera memeluk Lidya. Begitu juga dengan Lidya langsung menyambut pelukan gadis kecil itu. Lalu Lidya melihat Jenny dan Iqbal masih berdiri di depan pintu.


“Lidya, maafkan aku. maafkan kejadian kemarin. Itu hanya salah paham.” Ucap Jenny.


“Hmm… nggak apa-apa. Aku sudah melupakannya.” Jawab Lidya.


Lalu Jenny berhambur memeluk Lidya. Dia merasa kalau Lidya masih belum memaafkannya. Jenny terus mengucapkan kata maaf pada Lidya.


“Sudah, aku sudah memaafkan kamu. Ayo kalian masuklah! Jangan berdiri terus disini.” Ajak Lidya kemudian.


Tak lama kemudian Billal keluar dariu ruang makan karena samar-samar dia mendengar suara Gita. Dan benar saja, Gita beserta mama papanya sudah ada di apartemennya.


“Om, kenapa tangan Om?” tanya Jenny khawatir.


“Nggak apa-apa. Ini kemarin nggak sengaja terkena pecahan kaca.” Jawab Billal.


Jenny tidak ingin bertanya lebih, mungkin telah terjadi sesuatu diantara Lidya dan Omnya. Yang penting sekarang dia bisa melihat hubungan Omnya dan Lidya sudah baik-baik saja.


Akhirnya mereka berkumpul bersama di ruang keluarga. Mereka bercanda bersama sambil melihat tingkah lucu Gita yang semakin menggemaskan. Jenny juga membahas rencananya yang akan pergi ke kota J. dia mengajak langsung Omnya agar ikut kesana.


“Kapan kalian akan berangkat?” tanya Billal.

__ADS_1


“Minggu depan mungkin, Om.” Jawab Jenny.


“Baiklah. Nanti biar aku atur jadwal dulu. Aku juga mau memperkenalkan istriku pada Paman Gio. Karena hanya Paman Gio satu-satunya orang tua yang aku miliki sekarang.” jawab Billal.


Jenny dan Iqbal hanya menganggukan kepalanya. Namun tiba-tiba saja ponsel Billal yang ada di atas meja berdering. Dia segera melihat siapa yang menghubunginya.


“Vito?” gumam Billal dengan heran.


“Papa kamu menghubungi Om, Jen.” Ucap Billal sebelum menerima panggilan itu.


“Ya, halo? Ada apa?”


“…..”


“Apa? Kapan?”


“…..”


“Baiklah, aku segera terbang kesana sekarang juga.” jawab Billal lalu memutuskan sambungan teleponnya.


“Ada apa, Om? Kenapa Papa menghubungi, Om?” tanya Jenny penasaran.


“Papa kamu menghubungi kamu tapi tak kunjung kamu angkat.” Jawab Billal menjeda kalimatnya.


Jenny mengambil ponsel dalam tasnya ternyata ada beberapa panggilan dari Papa dan Mamanya. Begitu juga dengan Iqbal. mereka berdua lupa karena ponsel mereka dalam mode hening.


“Paman Gio meninggal.” Ucap Billal dengan suara lirih.


“Apa??” teriak Jenny tidak percaya.


“Iya, sekitar lima belas menit yang lalu Paman Gio menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kita harus terbang kesana sekarang juga.” ucap Billal.


Jenny yang masih terkejut, belum percaya dengan kabar meninggalnya Opa Gio. Dia terus menangis. Dan menyesal tidak sempat menemani hari-hari terakhir Opanya.


“Sayang, sudah. Tenanglah! Ayo lebih baik kita bersiap.” Ucap Iqbal sambil menenangkan istrinya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2