
Sementara itu pagi ini juga adalah pagi yang syahdu dirasakan oleh pasangan pengantin baru yaitu Billal dan Lidya. Saat ini musim hujan baru saja tiba, jadi cuacanya sering mendung dan setelah itu turun hujan. Seperti pagi ini, langit masih enggan memunculkan sinarnya meski waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Billal bangun terlebih dulu dari tidurnya. Lalu pria itu membuka korden kamarnya dan kembali duduk bersandar pada headboard ranjang sambil memegang ponselnya.
Sedangkan Lidya masih sangat nyenyak dalam tidurnya setelah semalam menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri Billal Graham Imtiaz.
Lidya perlahan mulai mengerjapkan matanya. dia melihat seberkas cahaya redup dari luar jendela. Lalu tatapan matanya tertuju pada seorang pria yang sedang bersandar tanpa memakai bajunya, dan tubuh bagian bawahnya masih tertutup oleh selimut tebal.
Billal masih belum menyadari kalau istrinya sudah bangun, karena dia sedang fokus membalas pesan dari asistennya mengenai pekerjaannya hari ini.
Aww…
Lidya meringis saat merasakan ngilu pada inti tubuhnya. Sontak saja Billal langsung menoleh ke arah sumber suara dimana Lidya sedang berusaha bangun dan berjalan.
“Kamu mau kemana?” tanya Billal dengan posisi sudah mendekati Lidya.
“Ehm, aku mau ke kamar mandi, Mas. Tapi ini sakit sekali.” Jawab Lidya dengan suara tertahan.
Dengan gerakan cepat, Billal segera menggendong Lidya dan membawanya ke kamar mandi. bahkan dia sendiri lupa kalau keadaannya juga sedang tidak memakai baju. Lidya menutup matanya saat melihat sang suami menyiapkan air hangat di dalam bathtub.
“Kenapa kamu menutup mata hemmm?” tanya Billal dengan suara berbisik tepat di telinga Lidya.
Tanpa menunggu jawaban Lidya, Billal kembali menggendong istrinya dan masuk ke dalam bathtub bersama. Billal hanya membantu istrinya mandi tanpa melakukan sesuatu yang lebih, karena dia sangat kasihan melihat Lidya yang masih merasakan sakit akibat ulahnya semalam.
“Setelah ini aku akan pergi ke kantor. apa kamu nggak apa-apa jika aku tingal sendirian?” tanya Billal pada Lidya saat keduanya sedang duduk di ruang makan.
“Nggak apa-apa, Mas. Bukankah beberapa hari kemarin aku juga sendirian?” jawab Lidya.
“Iya. Maafkan aku kemarin. Bukan maksudku untuk mengacuhkanmu.” Ucap Billal merasa bersalah.
“Sudah, jangan dibahas lagi. Aku nggak apa-apa. Mas berangkat saja ke kantor. karena hari ini aku akan menghabiskan waktuku untuk tidur saja.” Jawab Lidya menenangkan sambil memegang lembut tangan sang suami.
Billal hanya mengangguk tersenyum lalu melanjutkan makannya. Andai saja hari ini sedang tidak banyak kerjaan, pasti dia akan mengungkung istrinya seharian dalam kamar. bahkan cuacanya saja sekarang sangat mendukung.
__ADS_1
“Ya sudah, aku berangkat ke kantor dulu. Kamu hati-hati ya di rumah.” ucap Billal sambil memberikan tangan kanannya untuk dicium oleh Lidya.
“Iya, Mas juga hati-hati. Semoga pekerjaannya hari ini lancar.” Jawab Lidya lalu Billal mengecup kening istrinya.
Selepas kepergian suaminya, Lidya menutup pintu lalu masuk ke dalam kamarnya. Wanita 25 tahun itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Lalu bayangan malam panasnya semalam kembali terlintas dalam ingatannya. Bahkan Lidya tersenyum sendiri saat membayangkan perlakuan lembut sang suami ketika dirinya berhasil mencapai puncak kenikmatannya.
Ting
“Jangan membayangkan malam panjang kita, nanti sepulang dari kantor kita bisa melakukannya lagi.”
Billal mengirim pesan pada Lidya seolah mengerti apa yang sedang Lidya lakukan saat ini. sementara itu Lidya merasakan pipinya memanas saat membaca pesan yang baru saja dikirim oleh suaminya.
***
Iqbal sangat menikmati lliburannya bersama istri dan anaknya di luar negeri. Hampir setiap hari dia mengajak sang istri pergi jalan-jalan ke beberapa tempat wisata yang ada di sana. Tidak hanya Jenny yang senang, Gita pun sangat senang saat diajak Papanya berkunjung ke wahana bermain khusus untuk anak-anak.
“Mas, kapan kita pulang?” tanya Jenny tiba-tiba saat sedang menunggui anaknya bermain.
“Nggak apa-apa, Mas. Lagi pula kita juga sudah 4 hari di sini. aku juga tidak bisa meninggalkan butik terlalu lama. Apalagi sekarang sudah tidak ada Lidya.” Ucap Jenny.
“Apa nggak sebaiknya kamu cari asisten lagi yang bisa menggantikan Lidya?” tanya Iqbal.
Jenny hanya terdiam. Dia juga bingung karena tidak mudah mencari seorang asisten yang hampir sama dengan Lidya. Kalau merekrut Lidya lagi juga tidak mungkin, karena Omnya pasti akan melarang istrinya kembali bekerja.
“Aku akan pikirkan lagi, Mas.” Jawab Jenny kemudian.
Beberapa hari ini Bram dan Desy sangat senang karena bisa menghabiskan waktunya dengan cucu tercintanya. Namun hari ini Desy mendadak sedih saat anak dan menantunya memutuskan untuk pulang besok. Tapi dia tidak boleh egois, anak dan menantunya juga sama-sama memiliki kesibukan.
“Sayang, kamu jangan terlalu caapek ya. Jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat dulu. Atau kamu mencari baby sitter saja yang bisa menjaga Gita.” Pesan Desy pada menantunya, Jenny.
Desy sangat khawatir dengan kesehatan Jenny setelah diberitahu kalau Jenny baru saja melakukan operasi kista ovarium. Meski Iqbal sudah meyakinkan kalau istrinya sudah baik-baik saja, tetapi Desy masih sangat mengkhawatirkan keadaan Jenny.
“Iya, Ma. Terima kasih. Tapi kalau mencari baby sitter sepertinya tidak dulu. Karena takut jika nanti tidak cocok dengan Gita.” Jawab Jenny.
__ADS_1
“Ya sudah, yang penting selalu jaga kesehatan kamu.” Ucap Desy dan diangguki oleh Jenny.
Hari ini Iqbal dan Jenny beserta anaknya sudah bersiap untuk menuju bandara. Satu jam lagi mereka akan terbang ke Indonesia. Bram dan Desy tak henti-hentinya menciumi pipi gembul cucunya. Bahkan Desy ingin sekali menahan Gita agar tetap tinggal bersamanya. Namun Iqbal tidak mungkin mengijinkan.
Beberapa saat kemudian Iqbal sudah samapi di bandara dengan diantar oleh kedua orang tuanya. Jenny memeluk kedua mertuanya bergantian sebagai tanda perpisahan.
“Kalian baik-baik ya di sana. Tunggu Mama dan Papa beberapa bulan lagi setelah Arsha wisuda.” Ucap Desy.
“Iya, Ma. Kami tunggu kepulangan Mama dan Papa.” Jawab Jenny.
Setelah itu Iqbal mengajak Jenny memasuki pesawat. Gita yang berada dalam gendongan Papanya sejak tadi melambaikan tangannya pada Oma dan Opanya yang semakin jauh semakin tak terlihat. Gadis kecil itu hanya tertawa kegirangan saat memasuki pesawat.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Iqbal pada istrinya.
“Mas tenang saja. Aku baik-baik saja.” Jawab Jenny yang seolah mengerti kekhawatiran yang sedang dirasakan oleh suaminya.
Perjalanan udara yang ditempuh kurang lebih selama 4 jam, akhirnya mendarat sampai tujuan dengan selamat. Dan kebetulan Billal dan Lidya juga sudah standby di bandara menanti kedatangan Iqbal dan Jenny, khususnya Gita.
“Deddiiiii!” teriak Gita saat melihat Billal dari jauh sedang menggandeng tangan Lidya.
“Mas, sepertinya sudah terjadi sesuatu diantara Om Billal dan Lidya.” Bisik Jenny pelan pada suaminya.
.
.
.
*TBC
Jangan lupa selalu tinggalkan like, komentar, dan votenya ya🤗🤗
Happy Reading‼️
__ADS_1