
Iqbal meletakkan kopernya tanpa membongkar isinya atau menatanya. Dia hanya mengambil satu stel baju santai saja. Karena dia harus segera ganti baju setelah terkena noda es krim tadi.
Iqbal melihat bekas lelehan es krim yang menempel di celananya. Dia kembali teringat dengan sosok anak perempuan kecil tadi. dia menggelengkan kepalanya pelan saat pertama melihat wajah anak itu yang sangat mirip dengan Jenny.
“Tidak mungkin. Itu hanya kebetulan saja.” Gumam Iqbal dan langsung menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, Iqbal merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia meraih ponselnya dan menghubungi kedua orang tuanya untuk memberitahukan kalau dirinya sudah tiba di rumah. namun beberapa panggilan tak juga mendapat jawaban dari Mamanya. Iqbal berpikir mungkin Mamanya sudah tidur. Lantas Iqbal hanya mengirim pesan saja.
Setelah itu Iqbal mengistirahatkan tubuhnya. Rasa lelah setelah perjalanan panjang tak juga membuat matanya terlelap begitu saja. Entah kenapa sekelebat bayangan anak kecil tadi masih teringat jelas dalam otak Iqbal. namun Iqbal lagi-lagi menyangkalnya. Tidak mungkin anak itu adalah anak dari wanita yang sangat dia cintai. Buat apa juga dia tinggal di kota ini.
Rasa lelah memikirkan sesuatu yang tidak mungkin akhirnya mampu membuat mata Iqbal perlahan tertutup dan akhirnya tidur.
Keesokan paginya Iqbal sudah bangun dari tidurnya. Dia keluar kamar setelah mencuci mukanya. Rumah itu tampak sepi karena pembantu yang biasanya membersihkan rumah hanya datang mulai jam 8 pagi sampai pekerjaannya selesai baru pulang.
Drt drt drt
Tiba-tiba ponsel dalam saku Iqbal bergetar. Dia melihat ternyata Farah meneleponnya.
“Ya, Far ada apa?” tanya Iqbal.
“Apa kamu butuh seorang pembantu yang tinggal menetap di rumah kamu?” tanya Farah.
“Sepertinya begitu. Apa pembantu yang biasa membersihkan rumah bisa tinggal disini? Maksudku menetap disini?” tanya Iqbal.
“Bisa. Nanti biar aku beritahu dia sekalian sama suaminya. Karena suaminya juga biasanya ikut membersihkan rumah.” jawab Farah.
“Ya sudahlah aku terserah kamu saja. Oh iya hari ini mungkin aku akan datang ke kantor.” ucap Iqbal.
“Beneran kamu? Aku senang mendengarnya. Kebetulan juga hari ini aku mau ke butik.” Ucap Farah senang.
“Ya sudah, sampai bertemu lagi nanti di kantor.” ucap Iqbal lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Setelah menutup sambungan teleponnya, Iqbal berjalan keluar rumah dan duduk di kursi teras depan rumah. dia memainkan gadgetnya mencari aplikasi delivery makanan. Ini adalah pagi pertama Iqbal tinggal di rumah ya yang telah lama ia tinggalkan. Dia masih ingin menikmati hawa sejuk pagi hari sambil melihat taman bunga di depannya. Maka dari itu Iqbal memilih memesan makanan via online daripada harus pergi keluar rumah.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya pesanan makanan Iqbal datang. Setelah menerima makanan itu Iqbal segera masuk ke dalam dan langsung sarapan. Karena setelah ini dia akan pergi ke kantor.
Setelah mandi dan menyelesaikan sarapannya, Iqbal juga sudah terlihat rapi dan bersiap pergi ke kantor. dia melangkah menuju garasi mobil dimana disana ada dua mobil dan satu motor terparkir. Dua mobil pemberian Nyonya Sarah masih sangat terawat meski tidak pernah ada yang memakainya. Iqbal memilih mobil sportnya saja karena mobil itu tak banyak menyimpan kenangan indah bersama dengan Jenny. Iqbal teringat kalau dia menggunakan mobil itu bersama Jenny hanya beberapa hari saja sebelum kejadian pahit menimpanya.
Kedatangan Iqbal ke kantor untuk pertama kalinya cukup membuat beberapa karyawan terkejut, terutama karyawan lama yang dulu sempat bekerja dengan Iqbal. mereka menyambut kedatangan Iqbal kembali dengan gembira. Pasalnya selama Iqbal bekerja di perusahaan itu, sikap tegas dan wibawanya membawa dampak positif bagi karyawan perusahaan.
“Selamat pagi Tuan Iqbal!” Sapa Olivia terkejut saat melihat kedatangan Iqbal.
“Selamat pagi juga.” jawab Iqbal datar.
Setelah itu Iqbal masuk ke dalam ruangan Farah dimana ruangan itu dulu menjadi ruangannya. Dan disana juga sudah ada Farah dan Galang yang menunggunya.
“Selamat datang kembali Tuan Iqbal!!” ucap Galang memberi selamat pada Iqbal.
“Ck, kedatanganku kesini tidak ingin merebut kursi kamu. Aku hanya akan membantu kamu mengurus perusahaan.” Ucap Iqbal sambil berdecak kesal.
“Tapi aku tidak peduli. Jabatan kamu tetap akan menjadi Ceo di perusahaan ini.” ucap Farah.
“Bukankah Mami kamu dulu berpesan dalam wasiatnya kalau aku akan menggantikan posisinya sampai kamu menikah. Sebentar lagi kamu juga akan menikah. Suami kamu juga yang akan menggantikannya.” Ucap Iqbal sambil melihat ke arah Galang.
“Tapi aku nggak bis-“ ucap Iqbal terhenti saat melihat mata Farah sudah berkaca-kaca.
“Ya sudah aku nggak akan memaksa kamu lagi, Bal. aku yang akan memim-“
“Baiklah aku akan memimpin perusahaan ini.” ucap Iqbal dan membuat Farah tersenyum tipis.
“Terima kasih, Bal.” ucap Farah.
Setelah perdebatan kecil itu, Farah dan Galang berpamitan pada Iqbal untuk keluar. Mereka berdua sudah berjanji akan pergi ke butik memesan gaun pernikahannya. Sementara itu Iqbal mulai duduk di kursi kebesarannya sambil mempelajari beberapa berkas.
Beruntungnya Iqbl termasuk orang yang sangat cerdas dan pintar. Meskipun sudah lama dia tidak pernah bergelut dengan berkas-berkas perusahaan, namun dia sudah cukup paham dan mengerti setelah membacanya sekilas.
***
__ADS_1
Sementara itu Farah dan Galang baru saja tiba di sebuah butik yang cukup terkenal di kota. Farah mendapatkan rekomendasi dari salah satu temannya kalau butik itu sangat bagus dan terpercaya.
“Selamat siang Tuan, Nona! Ada yang bisa saya bantu?” sapa salah satu karyawan butik itu dengan ramah.
“Selamat siang juga. saya mau memesan gaun pengantin.” Jawab Farah sopan.
Karyawan butik itu lalu mengajak Farah dan Galang berkeliling untuk melihat berbagai macam contoh gaun pengantin. Farah sangat takjub dengan hasil design beberapa gaun yang terpajang disana. Dan benar, gaun-gaun itu sangat bagus. Semua model gaun itu sederhana namun sangat elegan.
“Mbak apakah saya bisa pesan yang seperti ini tapi dengan warna berbeda?” tanya Farah sambil menunjuk salah satu gaun.
“Bisa, Nona. Anda tinggal bilang mau warna yang seperti apa, setelah itu akan saya ukur.” Jawab karyawan itu.
“Tapi saya mau pesan langsung pada designernya Mbak. Maksud saya biar designernya sendiri yang mengukurnya, biar nanti saya juga leluasa jika menginginkan tambahn hiasannya.” Ucap Farah.
“Sebelumnya saya minta maaf Nona. Designer sekaligus pemilik butik ini tidak pernah datang ke butik. Jika anda menginginkan seperti itu, nanti akan ada asisten pribadi pemilik butik ini yang akan menuruti semua keinginan anda.” Ucap karyawan itu.
Farah melirik ke arah Galang untuk meminta pendapat. Farah sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu langsung dengan designer sekaligus pemilik butik itu. Tapi Farah juga sudah terlanjur cocok dengan gaun pilihannya.
“Nggak apa-apa, pesan disini saja.” Ucap Galang.
“Ada apa Ren?” tanya seorang wanita yang baru saja datang.
“Kamu?” Farah terkejut saat melihat wanita yang baru saja datang itu.
.
.
.
*TBC
Hmmm... asisten loh ya? kira² asisten siapa?
__ADS_1
Happy Reading‼️