
Beberapa saat yang lalu, Gita juga baru saja membuka matanya. Jenny yang kebetulan berada disamping anaknya sangat senang akhirnya Gita sudah bangun. Namun Jenny kembali sedih saat Gita hanya diam tak menjawab ucapannya.
Mata Gita terbuka. Tapi tatapannya kosong. Diajak bicarapun seolah tidak mendengarkan. Jenny masih terus berusaha mengajak anaknya berkomunikasi terlebih dulu sebelum bilang ke dokter kalau Gita sudah bangun.
“Sayang, apa kamu butuh sesuatu? Bilang sama Mama!” ucap Jenny.
Cklek
Pintu kamar terbuka, yaitu Iqbal yang baru saja sampai setelah tadi pamit pulang ke rumah mertuanya. Pandangan Iqbal memindai dari wajah istri dan anaknya. Gita terlihat sudah bangun, Iqbal sangat senang melihatnya. Namun kenapa wajah istrinya tampak begitu sedih.
“Syukurlah, anak Papa sudah bangun.” Ucap Iqbal menghampiri brankar Gita.
“Mas!” Panggil Jenny dengan suara lirih.
Iqbal menoleh ke arah istrinya. Kemudian Jenny langsung berhambur ke pelukan suaminya sambil terisak. Jenny mengatakan kalau Gita sudah bangun beberapa saat yang lalu. Namun sampai saat ini Gita masih belum mengucapkan sesuatu. Justru tatapan matanya kosong.
“Aku takut, Mas. Aku takut terjadi sesuatu dengan anak kita, Mas.” Jenny berkata sambil menahan isakannya.
“Jangan berpikir yang macam-macam. Lebih baik kita doakan saja yang terbaik.” Jawab Iqbal.
Jenny pun mengangguk, menyetujui saran suaminya. Kemudian dia hendak menekan tombol nurse call agar Gita segera diperiksa.
“Axel… Axel… Kak… Kak Axel!” Gita berucap lirih memanggil nama Axel berulang kali.
Iqbal dan Jenny saling pandang. Akhirnya ada kelegaan dalam hatinya saat Gita sudah bisa berbicara, walau memanggil nama orang yang saat ini juga belum mereka ketahui bagaimana keadaannya.
“Axel… Kak, kamu dimana? Tolong aku, ada yang menculikku.” Ucap Gita dengan ketakutan.
Jenny tak kuasa mendengar ucapan Gita yang terdengar pilu. Dia segera menekan tombol itu. Dan tak lama kemudian perawat datang dengan seorang dokter yang menangani Gita.
Iqbal dan Jenny masih menunggu Gita diperiksa. Mereka berharap semoga tidak terjadi sesuatu dengan putrinya, walau Jenny sedikit khawatir dengan keadaan Gita setelah mendengar apa yang diucapkannya tadi.
Cklek
__ADS_1
Dokter keluar dari ruanga rawat Gita bersama dengan seorang perawat yang membawa perlengkapan medisnya.
“Tuan, Nyonya, keadaan fisik putri anda secara keseluruhan sanagt baik. Namun, maaf saya harus menyampaikan hal ini agar pasien juga segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.” Ucap dokter.
“Iya, Dok. Katakan saja, kami siap mendengarnya.” Ucap Iqbal sambil memegang tangan istrinya dengan lembut.
“Efek dari obat yang disuntikkan ke dalam tubuh pasien membuat pasien mengalami halusinasi berlebihan. Namun kondisi itu akan perlahan pulih jika ada seseorang terdekatnya yang mau membantunya untuk sembuh. Tapi ada satu hal lagi yang masih akan saya observasi, karena ada satu sikap pasien saat tadi saya memeriksanya seperti dalam keadaan takut dan tertekan. Apakah selama ini pasien pernah mengalami trauma?” tanya Dokter.
“Tidak, Dok. Selama ini anak saya baik-baik saja.” Jawab Jenny.
“Ya sudah, besok akan saya periksa kembali. Biarkan pasien beristirahat lagi.” Ucap dokter sebelum meninggalakan ruangan Gita.
Iqbal dan Jenny diam merenung. Mereka masih memikirkan ucapan dokter baru saja. Memang selama ini Gita terlihat baik-baik saja. Jadi tidak mungkin anaknya mengalami trauma tentang sesuatu. Atau Gita memang memiliki trauma, namun dia memendamnya sendiri tanpa menceritakan pada siapapun.
Lantas bagaimana besok jika Gita terbangun lagi dan kembali menanyakan keberadaan Axel. Karena sampai saat ini baik Iqbal maupun Jenny masih belum tahu bagaimana keadaan Axel saat ini. terakhir yang mereka tahu sebelum membawa Gita ke kota J, sempat mendengar kalau Axel juga menjalani operasi bersamaan dengan Dimas.
Iqbal juga menanyakan keadaan Axel pada anak laki-lakinya yang saat ini masih di rumah sakit menjaga Dimas, namun Daniel juga tidak tahu.
“Istirahatlah, kamu pasti sangat lelah.” Ucap Iqbal memberikan bahunya untuk Jenny.
“Mas, perasaanku kok nggak enak tentang Axel.” Ucap Jenny tiba-tiba.
“Jangan berpikir yang macam-macam. Kita doakan semoga Axel baik-baik saja.” Jawab Iqbal, meski dia merasakan hal yang sama.
“Bukan itu, Mas maksudku. Sampai saat ini kita sama-sama tidak bisa menghubungi Felix maupun Nia. bahkan Daniel juga tidak bisa. Aku takut mereka sengaja melakukan-“
“Sudah sudah, jangan berpikir macam-macam lagi. Lebih baik kita masuk, menunggu Gita di dalam saja.” Ajak Iqbal kemudian.
***
Keesokan harinya, di dalam sel tahanan Malik masih mendapatkan perawatan akibat luka tembak dan luka lebam di wajahnya. Begitu juga dengan Marvin. Entah sampai kapan mereka akan mendapatkan putusan hukuman. Karena penyidikannya juga belum selesai. tak lama kemudian ada seseorang datang ingin bertemu dengan Malik. Orang itu adalah pengacara Malik.
Malik keluar dari sel tahanannnya dan menuju ruang khusus untuk menemui pengacaranya. Sebenarnya Malik sudah pasrah dengan putusan hukuman yang nanti dia terima. Karena mau mengelak seperti apalagi, semua kejahatannya sudah diketahui oleh pihak kepolisian. Namun ada satu hal yang ingin dia tanyakan pada pengacaranya yang membuatnya semalam tidak bisa tidur dengan tenang.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan, Tuan?” tanya Raihan, pengacara Malik.
“Kamu bisa lihat sendiri.” Jawabnya acuh.
“Bagaimana hasil pencarian kamu tentang laki-laki itu?” tanya Malik.
“Nama lengkapnya Dimas Prasetyo, Tuan. Kemarin dia baru saja menjalani operasi karena luka tembak yang mengenai organ hatinya.” Jawab Raihan.
Deg
Malik sudah tahu kalau nama laki-laki yang tidak sengaja terkena peluru nyasarnya adalah Dimas. Namun saat mendengar nama belakang laki-laki itu membuatnya cukup terkejut. Tidak mungkin jika laki-laki itu memiliki hubungan dengan orang masa lalunya yang sudah merendahkan martabatnya sebagai seorang laki-laki.
“Tuan? Apa saya masih boleh melanjutkan pembicaraaan ini?” Raihan bertanya karena Malik sejak tadi hanya diam.
“Lanjutkan!” perintah Malik.
“Dimas Prasetyo, laki-laki yatim piatu yang saat ini berusia dua puluh lima tahun. sejak kecil ia dibesarkan di panti asuhan Kasih Ibu. Berdasarkan informasi yang saya dapat, Dimas sudah dititipkan sejak dia baru saja dilahirkan. Seorang wanita muda membawanya dengan alasan ingin melindungi anaknya yang memang tidak diharapkan oleh kedua orang tuanya. Wanita itu berjanji pada pemilik panti akan menjenguknya. Namun ternyata itu semua hanya kebohongan belaka. Pemilik panti pun tidak mau mencari tahu, karena hal seperti itu sudah sering ia jumpai.
“Katakan, siapa nama wanita yang membawa bayi itu ke panti?” tanya Malik dengan bibir bergetar.
“Marissa Prasetyo. Anak tunggal dari pengusaha kaya raya, Haris Prasetyo. Apakah anda mengenalnya, Tuan?” tanya Raihan.
“Tidak! Tidak mungkin Dimas anak Marissa. Karena saat aku diusir ayahnya saat itu Marissa sedang tidak mengandung. Atau jangan-jangan saat itu dia sedang mengandung?” gumam Malik dalam hati.
.
.
.
*TBC
Hmmmm..... siapa kmrin yg nebak Dimas anaknya Malik?
__ADS_1
Happy Reading‼️