Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 47


__ADS_3

Xavier masih tidak percaya dengan pesan yang dikirim oleh Jenny baru saja. Entah kenapa dia mempunyai firasat buruk tentang hubungannya dengan Jenny. Dia menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau kembali merasakan sakit hati ditinggalkan oleh perempuan yang sangat dia cintai.


Baginya sudah cukup terluka saat dulu mendengar kabar pernikahan dadakan Jenny. Namun dia kembali bahagia ternyata Jenny juga mencintainya dan menjanjikan sebuah hubungan setelah bercerai dari suaminya. Dan sekarang setelah membaca pesan adri Jenny yang mengatakan sedang menjaga suaminya di rumah sakit, membuat hati Xavier sakit.


Tok tok tok


Ketukan pintu menyadarkan Xavier dari lamunannya. Setelah itu Xavier mempersilakannya masuk.


“Maaf, Tuan. Anda sudah ditunggu untuk menyeleksi calon sekretaris baru anda.” Ucap salah satu karyawan Xavier.


“Baiklah, saya akan segera kesana.” Jawab Xavier.


Saat ini Xavier sudah menjabat sebagai seorang Ceo di perusahaan milik Papanya. Namun semenjak dirinya resmi diangkat menjadi Ceo beberapa bulan yang lalu, sekretaris yang dulu juga sebagai sekretaris Papanya mengundurkan diri lantaran ingin membuka usaha di kampung halamannya. Jadi selama itu Xavier bekerja tanpa sekretaris. Karena Xavier termasuk orang yang sangat perfeksionis. Sudah beberapa kali membuka lowongan untuk dijadikannya sekretaris tapi tidak pernah sesuai dengan keinginannya. Dan kali ini dia berharap dapat menemukan seseorang yang cocok dan kompeten untuk ia jadikan sekretarisnya.


***


Sementara itu hari ini keadaan Iqbal sudah perlahan membaik. Dan sudah 3 hari ini dia menjalani perawatan di rumah sakit. Dan selama itu juga Jenny dengan sabar menjaga dan merawatnya.


Saat ini Jenny sedang duduk di sofa sambil menyelonjorkan kakinya. Jenny tampak asyik memainkan gadgetnya sambil senyum-senyum sendiri. Iqbal yang baru saja membuka matanya melihat Jenny seperti itu mendadak murung. Mau mengambil ponselnya juga tidak mungkin, tapi dia sangat penasaran dengan siapa Jenny berbalas pesan sampai senyumnya tak pernah surut.


“Ehm”


“Ehm” Iqbal berdeham dua kali Jenny tak juga mempedulikannya. Iqbal sungguh kesal dengannya.


“Jenny!” panggil Iqbal dengan suara tajam.


“Eh iya Kak. Sudah bangun ya? Apa Kak Iqbal membutuhkan sesuatu?” tanyanya sambil menatap ponselnya.


“Nggak. Ya sudah lanjutkan dulu kesenangan kamu.” Jawab Iqbal datar.


Setelah itu Jenny beranjak dari duduknya dan menghampiri Iqbal. sedangkan Iqbal tampak membuang mukanya. Jenny menahan senyumnya saat melihat Iqbal cemberut seperti itu.


“Kak, coba deh lihat. Lucu sekali anak-anak Kak Barra dan Kak Carissa.” Ucap Jenny menyodorkan ponselnya ke hadapan Iqbal.


Iqbal lalu menoleh ke arah Jenny. Dan melihat benda pipih yang ada dalam genggaman tangan Jenny. Disana ada foto bayi kembar laki-laki dan perempuan yang sangat lucu. Pantas saja sejak tadi Jenny tak menyurutkan senyumnya.


“Jadi anak Nona Carissa dan Tuan Barra sudah lahir?” tanya Iqbal.

__ADS_1


“Kak Barra dan Kak Carissa itu kakak ipar kamu Kak. Kenapa masih memanggilnya Tuan dan Nona sih?” gerutu Jenny.


“Iya maaf. Aku lupa. Coba aku mau lihat.” Ucap Iqbal dan segera mearih ponsel Jenny.


Iqbal juga mengulas senyumnya saat melihat dua bayi kembar itu. Jenny yang melihat senyum Iqbal juga ikut tersenyum.


“Mereka menggemaskan ya, Kak? Aku juga ingin memiliki anak yang lucu-lucu seperti itu.” Ucap Jenny.


“Iya, nanti kita akan membuatnya.” Jawab Iqbal sambil tersenyum tipis.


“Eh” Jenny segera menutup mulutnya tak percaya.


Kemudian dia membuang mukanya begitu saja karena sangat malu, bahkan wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus. Dan bisa-bisanya Iqbal menimpali ucapannya.


“Mana Kak ponselku?" Ucap Jenny mengambil ponselnya dari tangan Iqbal.


Bukannya memberikan ponselnya, Iqbal justru menggenggam tangan Jenny. Jantung Jenny berdegup kencang. Kemudian perlahan Iqbal menari tangannya hingga Jenny terjatuh dalam pelukannya.


Cup


“Apakah kamu mau mengandung anak-anakku?” tanya Iqbal.


“Iya, Kak. Aku mau tapi beri aku waktu untuk menyelesaikan semua ini.” jawab Jenny.


“Sampai kapan?” tanya Iqbal sarat akan nada kecewa.


“Aku mohon bersabarlah, Kak. Nanti saat kita pulang ke kota J. aku akan mengakhirinya secara langsung.” ucap Jenny.


Meski Iqbal merasa kecewa dengan jawaban Jenny, namun dia berusaha tetap tenang. Dia yakin kalau hati Jenny tidak mungkin berpaling darinya.


“Kak Iqbal percaya kan sama aku?” tanya Jenny.


“Iya. Aku percaya. Lakukanlah sesuai rencana kamu. Aku janji jika keadaanku sudah pulih, secepatnya kita akan pulang ke kota J.” jawab Iqbal.


“Terima kasih Kak.” Ucap Jenny dan kembali memeluk Iqbal.


***

__ADS_1


Sementara itu semenjak Iqbal dirawat di rumah sakit, Farah terlihat tampak sibuk menggantikan pekerjaan Iqbal. sebenarnya dia ingin sekali menjenguk Iqbal untuk melihat kondisi kesehatan Iqbal. namun Maminya melarangnya.


“Farah, siang nanti kamu wakili Mami meeting dengan klien Mami ya?” ucap Nyonya Sarah.


“Kenapa harus Farah sih Mi? Farah kan tidak tahu apa-apa.” Tolak Farah.


“Ayolah Farah. Kalau nggak gini kapan kamu akan belajar? Lagi pula siapa lagi yang akan meneruskan Mami jika Mami nanti sudah tiada.” Ucap Nyonya Sarah.


“Mami jangan bilang seperti itu dong. Baiklah aku akan mewakili Mami meeting. Harusnya ini tugas Iqbal.” gerutu Farah sambil melenggang keluar dari ruangan Maminya.


Nyonya Sarah menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Lalu wanita paruh baya itu memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Kemudian dia mengambil obat di dalam tasnya untuk segera diminum.


Sesuai dengan perintah Maminya, Farah kini sudah bersiap untuk meeting dengan kliennya yang akan diadakan di salah satu restaurant. Farah memilih berangkat lebih awal sambil mempelajari beberapa berkas yang akan disampaikan saat meeting nanti.


Farah keluar dari kantor dengan menggunakan mobilnya sendiri. Dia sudah terbiasa pergi kemanapun tanpa sopir. Jadi dia bisa bebas pergi kemanapun sesuka hatinya.


Di tengah perjalanan, Farah merasakan keanehan pada mobilnya. Dan tiba-tiba saja mobilnya berhenti di jalan yang cukup sepi.


“Duhh, apa-apaan sih ini.” gerutu Farah lalu keluar dari mobil.


“Mana aku nggak paham soal mesin lagi.” Tambahnya.


Farah bingung mau minta bantuan siapa karena sejak tadi tidak melihat satu pun kendaraan yang lewat. Niat hati ingin mempercepat perjalanannya dengan mencari jalan pintas yang cukup sepi, kini justru membuatnya ketiban sial.


“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya seseorang yang baru saja keluar dari mobilnya.


.


.


.


*TBC


Jangan lupa selalu tinggalkan like dan komentarnya, biar othornya makin semangat halu dan up banyak😂😂✌️✌️


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2