Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 82


__ADS_3

Puas berjalan-jalan di pesisir pantai hingga matahari sudah tak nampak lagi di peraduannya dan kini berganti dengan sinar rembulan, Iqbal dan Jenny memutuskan untuk makan malam di sebuah resto yang tak jauh dari resort dan masih di kawasan pesisir pantai.


Mereka berdua menikmati makan malam romantis tepat di bawah sinar rembulan. Iqbal sejak tadi menggenggam erat tangan istrinya, meski pelayan resto datang membawakan buku menu makanan.


“Mas, tangannya lepasin dulu.” Ucap Jenny merasa tak enak.


“Kenapa? Apa kamu nggak suka seperti ini?” tanya Iqbal heran.


“Malu ih dilihatin orang.” Jawab Jenny lalu melepaskan tautan tangannya sambil tersenyum ramah pada pelayan resto itu.


Pelayan resto itu hanya mengangguk samar. Baginya sudah terbiasa menghadapi pelanggan yang kelewat romantis seperti itu. Dia sudah cukup kuat mentalnya melihat keuwuan pasangan pengantin baru.


Setelah pelayan itu mencatat semua pesanan makanannya, ia lantas pergi meninggalkan pasangan Iqbal dan Jenny.


“Apa kamu kenal dengan pelayan resto itu?” tanya Iqbal penuh selidik.


Jenny mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan aneh dari suaminya. Jenny menggelengkan kepalanya tak mengerti.


“Lantas kenapa tangan kamu tidak mau aku genggam? Apakah kamu menyukai pelayan pria itu?” tanya Iqbal lagi.


Jenny mebelalakkan matanya mendengar pertanyaan konyol suaminya. Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu. Padahal niat Jenny tidak mau digenggam tangannya lantaran dia sangat malu dilihat pelayan tadi. tapi suaminya sungguh salah mengartikan semuanya.


“Aku tadi kan hanya bilang kalau aku malu, Mas. Nggak enak kita mesra-mesraan dilihatin orang.” Jenny mencoba menjelaskan pada Iqbal.


“Alasan saja kamu!” Gerutu Iqbal.


Tak lama kemudian, pesanan makanan mereka sudah datang. Iqbal dan Jenny segera melakukan makan malam romantis itu. Sebagian orang yang melihat kemesraan Iqbal dan Jenny ada yang iri, ada juga yang ikut bahagia. Tapi mereka berdua tidak terlalu mempedulikan itu semua.


Selesai makan malam, mereka berdua memutuskan kembali ke resort. Karena waktu juga sudah malam.


Sesampainya di kamar, Jenny segera masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya sebelum tidur. Sementara Iqbal sedang menerima telepon dari seseorang sambil berdiri di balkon kamarnya.


Jenny keluar dari kamar mandi sudah berganti pakaian dengan pakaian haramnya. Dia melangkah mendekati suaminya yang sejak tadi masih berdiri di balkon. Jantung Jenny berdegup kencang saat tak sengaja melihat pantulan dirinya dengan pakaian yang nyaris tanpa bahan itu. Namun bukan itu saja yang membuatnya sangat gugup. Ini adalah pertama kalinya dia yang akan memulai permainan panasnya dengan sang suami. Jadi membuat Jenny sedikit kurang percaya diri.

__ADS_1


Iqbal masih bergeming sambil menatap indahnya langit malam hari di pesisir pantai. Entah apa yang sedang ia pikirkan hingga tidak menyadari kalau Jenny sudah berdiri tepat di belakangnya.


Grep


Jenny segera mendekap tubuh kekar suaminya dari belakang. Dia menutup rapat matanya karena rasa malu dan gugup bercampur jadi satu. Jenny berharap suaminya tidak menertawakan aksinya yang begitu menggelikan.


Sementara itu Iqbal cukup terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Dia tersenyum tipis saat menyadari istrinya memeluknya dengan erat.


Namun saat tangannya meraih tangan Jenny, dia merasakan kulit mulus istrinya dan tanpa tertutup kain sama sekali. Lalu Iqbal melepaskan diri dari pelukan istrinya dan membalikkan badan hingga posisinya kini saling berhadapan dengan Jenny.


Iqbal sungguh terkejut sekaligus terpesona saat melihat Jenny sudah memakai lingerie yang semakin membuat tubuh Jenny terlihat sangat seksii dan menggoda. Susah payah Iqbal menelan salivanya saat melihat pemandangan itu.


Namun berbeda dengan Jenny. Dia masih sangat malu dan matanya juga masih terpejam. Iqbal yang melihatnya hanya tersenym tipis. Dia tahu kalau istrinya berniat memulainya, namun masih sangat malu. Kemudian tiba-tiba Jenny bergidik saat merasakan hembusan nafas hangat suaminya.


“Buka mata kamu, Sayang!” bisik Iqbal dengan suara berat menahan gairaah.


Jenny masih enggan membuka matanya. Iqbal pun tak tinggal diam terus mencoba agar istrinya mau membuka mata dan tidak malu lagi. Iqbal menahan nafasnya sambil melepas tangan Jenny yang sejak tadi ia pegang. Jenny merasakan tubuh suaminya seperti menjauhinya. Dalam hati dia kecewa, apakah suaminya tidak suka dengan pakaiannya seperti ini. lalu perlahan Jenny membuka matanya. dan,


Ternyata sejak tadi Iqbal berdiri tepat di hadapannya dengan posisi badan sedikit membungkuk. Dan saat mata Jenny terbuka, Iqbal segera membungkam mulut istrinya dan meluumatnya dengan kasar. Tidak hanya itu. Iqbal segera menggendong istrinya bak koala, sambil memperdalam ciumannya.


Jenny yang awalnya terkejut, perlahan dia bisa menyeimbangkan permainan suaminya. Mereka berdua masih asyik dengan lumataannya dan berdiri di balkon. Kedua tangan Iqbal menopang tubuh istrinya sambil sesekali meremmas ****** sintal Jenny yang sangat menggemaskan.


Sedangkan Jenny menekan kuat kepala suaminya untuk memperdalam ciumannya.


Iqbal melepaskan ciumannya sejenak saat menyadari istrinya mulai kehabisan pasokan oksigen. Nafas mereka berdua sama-sama tersengal, namun dengan mata yang saling memancarkan cinta dan gaairah.


“Apa kamu sudah siap?” tanya Iqbal dan Jenny mengangguk samar.


Setelah itu Iqbal membawa masuk istrinya ke dalam dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Iqbal kembali menciumi istrinya sebelum melakukan inti permainan. Tubuh Jenny semakin tak karuan saat menerima setiap sentuhan suaminya yang sangat menggila. Meskipun mereka sudah sering melakukannya, namun tetap saja Jenny merasa seperti pengantin baru terus.


Akhirnya malam itu, mereka kembali melakukan penyatuan yang entah sudah berapa kali di tempat dan suasana yang berbeda. Iqbal mengeratkan pelukannya setelah pelepasannya yang terakhir. Demikian juga Jenny. Tubuhnya yang sangat lelah dengan peluh keringat, dia masih bisa membalas pelukan hangat suaminya.


***

__ADS_1


Sementara itu pagi ini Gita masih enggan terbangun dari tidurnya. Terlebih dalam pelukan Daddy-nya. Ya, semalam Billal terpaksa harus tidur di rumah Jenny saat mendapat kabar bahwa Gita terus menangis mencari Mama dan Papanya. Walau di rumah ada dua oma dan opanya, tetap saja gadis kecil itu tidak mau berhenti menangis. Bahkan Lidya pun tidak mampu mengatasinya. Akhirnya Kay menghubungi Billal dan meminta bantuannya untuk menenangkan Gita. Dan benar saja, Gita langsung berhenti menangis saat berada dalam gendongan Billal.


Billal melihat jam dinding dalam kamar tamu rumah Jenny sudah menunjukkan pukul 7 pagi. dia teringat kalau jam 10 nanti ada meeting dengan salah satu rekan bisnisnya.


“Gita, sayang! Bangun yuk. Sudah pagi nih.” Billal perlahan membangunkan gadis kecil itu.


“Astaga badan kamu hangat.” Ucap Billal terkejut.


Billal langsung keluar kamar mencari keberadaan Lidya dan Kay agar membawa Gita ke rumah sakit karena badannya hangat.


“Ada apa, Tuan?” tanya Lidya saat berpapasan dengan Billal.


“Gita badannya hangat, cepat bantu aku untuk membawanya ke rumah sakit.” Jawab Billal cemas.


“Nggak perlu dibawa ke rumah sakit, Tuan. Biar nanti saya beri obat penurun panas saja.” Jawab Lidya tenang.


“Kamu itu jangan mengandalkan obat saja. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Gita? Apa kamu mau aku tuntut?” bentak Billal.


Lidya sangat terkejut saat baru pertama kalinya dibentak oleh Billal. Namun setelah itu dia menundukkan kepalanya sambil berjalan menuju kamar dimana Gita sedang tidur.


.


.


.


*TBC


Ehm ehm.... yg lagi honeymoon, lupa sama anaknya😂😂😂


Btw, Daddy Billal lebay bgt yak😂😂


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2