
Iqbal yang kala itu baru pulang dari kantor melihat istrinya sedang duduk melamun di ruang tengah. Entah kenapa dari pandangan Iqbal bahwa, istrinya saat ini tampak sedih. Bahkan Gita bermain sendiri tanpa diperhatikan oleh Jenny.
“Sayang, ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Iqbal.
Mendengar suara suaminya, Jenny menoleh lalu memeluk pria itu dengan erat sambil terisak dalam rengkuhan sang suami.
Iqbal masih diam dan membiarkan istrinya menangis. Mungkin setelah tangisnya reda, wanita itu baru mau menceritakan sesuatu yang telah membuatnya sedih.
Iqbal mengajak Jenny untuk duduk kembali. Lalu dia memanggil pembantunya agar membawa Gita menjauh terlebih dahulu.
“Katakan, ada apa? Kenapa kamu bersedih seperti ini?” tanya Iqbal setelah melihat istrinya berhenti menangis.
“Mas, ini-“ ucapnya terjeda sambil menunjukkan dua amplop kepada suaminya.
“Apa ini?” tanya Iqbal bingung.
“Lidya baru saja mengundurkan diri, Mas. Aku tidak rela dia pergi secara mendadak seperti ini. bagaimana Gita nanti jika mencarinya?”
“Kenapa dia mengundurkan diri? Apakah ada masalah dengan pekerjaannya?”
Jenny menggelengkan kepalanya. Lalu dia menceritakan alasan Lidya mengundurkan diri karena dua minggu lagi mantan asistennya itu akan menikah. Lidya juga mengembalikan uang bonus yang dulu pernah diberikan oleh Jenny karena saat itu Lidya membutuhkan untuk pengobatan orang tuanya.
“Dia mengembalikannya karena dia uang itu tidak benar-benar untuk pengobatan ayahnya, Mas. Aku heran, kenapa Lidya mengembalikan uang itu, padahal aku tidak mempedulikan alasannya. Dan lagi, kalau dia akan menikah, tapi kenapa aku melihat raut mukanya sangat sedih.” Ucap Jenny.
“Sudahlah, jangan terlalu ikut bersedih. Mungkin ada alasan tersendiri kenapa dia seperti itu. Dan untuk uang itu, kita kembalikan saja nanti saat pernikahannya. Bukankah memang uang itu bonus dia?” ucap Iqbal menenangkan istrinya.
“Lalu bagaimana dengan Gita jika mencari Lidya?” tanya Jenny.
“Jangan terlalu dipikirkan. Selama kita masih bisa menemani Gita setiap hari, dia pasti tidak akan menanyakan keberadaan Lidya. Kalaupun mencarinya, kita berikan pengertian untuk dia.” Iqbal kembali menasehati istrinya.
Jenny pun mengangguk. Tapi dalam hatinya masih sangat penasaran tentang apa yang sedang terjadi dengan Lidya. Jenny sangat yakin kalau Lidya sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Malam harinya, Iqbal mengajak anak dan istrinya pergi makan malam di luar. Dia sengaja melakukan itu semua agar istrinya tidak larut dalam kesedihan setelah ditinggal oleh Lidya. Memang Lidya sudah dianggap Jenny seperti saudara sendiri karena, perempuan itu sudah lama bekerja dengannya. Lidya juga orang yang sangat baik dan bisa dipercaya.
“Mau makan dimana?” tanya Iqbal saat sudah memasuki mobil.
“Terserah Mas saja. Yang penting nyaman untuk Gita.” Jawab Jenny dengan pandangan menerawang lurus ke depan.
Iqbal mengangguk saja tanpa berucap. Gita juga tampak anteng dalam pangkuan mamanya sambil bermain. Setelah itu Iqbal melajukan mobilnya menuju salah satu restaurant yng tempatnya sangat nyaman jika sedang mengajak si buah hati.
Beberapa saat kemudian, mobil Iqbal sudah sampai di tempat tujuan. Dia segera mengajak istrinya masuk dengan mengambil alih Gita dari gendongan Jenny. Gita tampak senang saat melihat area bermain yang cukup luas dan aman.
Di sebelah tempat bermain itu ada tempat untuk makan yang memang disediakan untuk para orang tua menikmati hidangan restaurant sambil menemani buah hatinya.
Kini Iqbal sudah mengajak Gita ke tempat bermain itu. Lalu membiarkannya main sendiri bersama anak-anak kecil lainnya. Sedangkan Jenny masih memilih beberapa menu makanan yang akan dia pesan.
“Sayang, bagaimana kalau bulan depan kita berkunjung ke rumah Papa dan Mama ke luar negeri? Sekalian kita liburan.” Ucap Iqbal pada istrinya.
“Apa kamu nggak sibuk di kantor, Mas? Lagi pula kita tidak bisa hanya dua atau tiga hari di sana.” Tanya Jenny memastikan.
“Aku bisa menyerahkan pekerjaan itu pada Galang. Kamu jangan khawatir.” Jawab Iqbal.
“Meskipun tempat tinggalku itu menyimpan banyak luka, aku nggak masalah menunjukkannya pada kamu. Karena orang yang menyembuhkan lukaku kini sedang ada dalam genggamanku dan tidak pernah aku lepas lagi.” Ucap Iqbal sambil menggenggam lembut tangan istrinya.
Tak lama kemudian, pesanan makanan mereka datang. Iqbal dan Jenny menikmati makan malamnya sambil melihat Gita yang sedang asyik bermain. Bahkan gadis kecil itu sejak tadi mengabaikan mama dan papanya karena dia fokus dengan mainan dan teman barunya.
Iqbal sangat lega bisa melihat istrinya kembali ceria lagi setelah tadi tampak murung karena kepergian Lidya. Iqbal dan Jenny menikmati makan malamnya sambil menyunggingkan senyumnya saat melihat tingkah lucu Gita yang sedang bersama seorang anak laki-laki kecil seusianya.
Tiba-tiba saja Jenny terpekik kaget saat melihat Gita tanpa sengaja terkena lemparan mainan dari temannya dan tepat mengenai pelipisnya. Gita langsung menangis keras karena kesakitan. Dan anak kecil yang menemani Gita bermain tadi berusaha menenangkan Gita.
Jenny segera berlari untuk mengajak Gita keluar dari area bermain itu. Dan tangisan Gita juga sempat mengalihkan perhatian beberapa orang tua yang sedang berada di sana. Orang tua dari anak yang melempar mainan itu juga sudah meminta maaf pada Jenny.
“Sayang, sudah jangan nangis lagi ya. Nggak apa-apa nanti akan sembuh” Ucap Jenny sambil menggosok pelan pelipis Gita yang tampak memerah.
__ADS_1
Gita masih terisak dalam pelukan Mamanya. Setelah itu Jenny melihat anak laki-laki kecil itu terlihat sedih saat melihat Gita menangis.
“Hai tampan. Terima kasih, ya sudah menemani Gita bermain.” Ucap Jenny sambil mengusap kepala anak itu.
Tak lama kemudian Iqbal menghampiri anak dan istrinya. Dan bertepatan dengan datangnya orang tua anak laki-laki kecil yang menemani Gita bermain.
“Axcel, ayo pulang Nak!” ucap suara pria yang diyakini adalah Papanya.
“Felix!” panggil Iqbal.
Ternyata anak laki-laki itu adalah putra dari Felix. Sahabat Iqbal yang sudah lama tidak pernah terdengar kabarnya. Mereka berdua sangat terkejut dipertemukan dalam situasi seperti ini. keduanya saling berepelukan melepas rindu. Jenny juga yang dulu pernah bertemu dengan Felix di acara pernikahannya kini saling bersalaman dengan istri Felix.
“Jangan lupa kasih kabar ya, nanti kita reunian bersama anak istri kita.” Ucap Felix sebelum berpisah.
“Baiklah. Atur aja semuanya.” Jawab Iqbal lalu dia juga memutuskan untuk pulang.
***
Sementara itu kini tampak seorang pria sedang duduk termenung di kursi yang ada di balkon apartemennya. Kurang lebih selama seminggu ini Billal tidak datang ke rumah Jenny untuk menengok Gita. Entah kenapa setelah dia memberi ancaman pada Lidya, justru dia tidak ingin lagi melihat wajah Lidya. Tapi dalam hatinya sangat ingin menemui perempuan itu.
Billal benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri. Niatnya memberi ancaman pada Lidya adalah agar perempuan itu tidak menerima perjodohan itu. Jadi dia bisa menahan Lidya agar tidak pergi jauh darinya.
“Lidya!” gumam Billal pelan sambil melihat foto Lidya yang sedang terlelap dalam pelukannya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Ayo gercep Om!😂😂
Happy Reading‼️