Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 52


__ADS_3

Rencana Iqbal untuk mengajak Jenny pulang ke kota J terpaksa dia undur dulu, mengingat dia harus membantu mengurus perusahaan Nyonya Sarah. Jenny juga tidak keberatan akan hal itu.


Seminggu telah berlalu setelah meninggalnya Nyonya Sarah. Saat ini Iqbal dan Jenny sedang di rumah saja menikmati weekendnya. Jenny yang sudah terbiasa memasak, kini perlahan dia sudah mulai membuat sesuatu untuk mengisi waktu weekend-nya. Seperti sekarang, dia sedang tampak sibuk membuat kue brownies.


“Lagi buat apa?” tanya Iqbal tiba-tiba dengan memeluk Jenny dari belakang.


“Eh, Kak Iqbal ngagetin aja sih. Aku lagi mencoba buat brownies.” Jawab Jenny.


“Memang kamu bisa?” tanya Iqbal meledek.


“Kan baru belajar, Kak.” Jawab Jenny cemberut.


“Baiklah. Biar nanti aku yang menilai. Kalau nggak enak kamu dapat hukuman.” Ucap Iqbal.


“Ada-ada saja. Memangnya apa hukumannya?” tanya Jenny dengan tangan masih membuat adonan.


“Kalau rasanya nggak enak, kamu harus cium aku. tapi kalau rasanya enak, kamu dapat hadiah ciuman dari aku.” jawab Iqbal.


“Kalau itu namanya Kak Iqbal mencari untung.” Gerutu Jenny.


“Memangnya aku saja yang untung? Kamu nggak?” tanya Iqbal.


Seketika muka Jenny memerah. Dia malu mau mengakui kalau memang sangat menyukai ciuman dari Iqbal. sedangkan Iqbal yang melihat wajah memerah Jenny semakin tampak gemas.


Beberapa saat kemudian, Jenny sudah selesai membuat Brownies. Dia juga sudah menyipakan kue itu di atas meja dan Iqbal sudah menungunya.


“Ini Kak, silakan dinikmati.” Ucap Jenny dan langsung pergi.


“Kamu mau kemana, hmm? Apa kamu nggak mau aku memberikan penilaian untuk kue yang kamu buat?” tanya Iqbal mencekal lengan Jenny.


“Oh, ehm iya Kak.” Jawab Jenny gugup dan langsung duduk berhadapan dengan Iqbal.


Jenny masih terdiam saat melihat Iqbal mulai mengambil satu potongan kue lalu memakannya dengan perlahan, Jenny tidak berani melihat ekspresi wajah Iqbal saat menikmati kue buatannya. Tapi percuma saja, bagaimanapun rasanya, entah enak atau tidak, dia akan tatap mendapat ciuman dari Iqbal.


“Hmmm…” terdengar suara Iqbal tampak menikmati brownies itu.


“Bagaimana Kak rasanya?” tanya Jenny penasaran.


“Rasanya sangat enak. Sepertinya kamu akan mendapatkan hadiah yang enak juga.” jawab Iqbal.


Jantung Jenny berdegup kencang mendengar jawaban Iqbal. terlebih sekarang Iqbal sudah berdiri dan melangkahkan kakinya menghampirinya. Iqbal berdiri dan meraih tangan Jenny agar ikut berdiri. Dengan perasaan gugup akhirnya Jenny berdiri. Lalu Iqbal mulai mendekatkan wajahnya pada Jenny hingga jarak keduanya semakin terkikis. Namun saat Iqbal akan menempelkan bibirnya, tiba-tiba terdengar suara deringan ponselnya. Sontak saja Jenny langsung menjauhkan wajahnya.


“Kak, ada telepon.” Ucap Jenny.


“Biarkan saja. Aku akan memberi kamu hadiah dulu.” Jawab Iqbal.

__ADS_1


“Tapi angkat dulu, Kak. Siapa tahu sangat penting.” Ucap Jenny.


Akhirnya Iqbal mengalah. Deringan ponselnya juga sejak tadi tidak berhenti. Dengan berat hati Iqbal menerima panggilan itu yang ternyata dari Farah.


“Ya, Far? Ada apa?”


“…..”


“Iya. Kenapa?”


“…..”


“Sekarang? baiklah.”


Iqbal tampak menghembuskan nafasnya kasar setelah menutup panggilan dari Farah. Terlebih setelah Farah memintanya datang ke rumahnya. Otomatis niatnya mau memberi hadiah pada Jenny harus ia tunda dulu.


“Kenapa, Kak? Siapa yang menelepon?” tanya Jenny.


“Bersiaplah. Ayo ikut aku ke rumah Farah.” Jawab Iqbal.


Jenny bersorak senang karena hatinya sedikit lega karena sejak tadi sangat gugup saat akan menerima hadiah dari Iqbal.


“Kamu jangan senang dulu. Kamu masih punya hutang. Nanti aku tetap akan memberikan hadiah untukmu.” Ucap Iqbal sukses membuat muka Jenny memerah.


Setelah keduanya bersiap, kini Iqbal dan Jenny sedang dalam perjalanan menuju rumah Farah. Iqbal sendiri juga tidak mengerti mengapa Farah memintanya datang ke rumah.


“Mereka dari kantor notaris notaris, Bal.” ucap Farah.


Dengan wajah bingung, Iqbal mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. Lalu salah satu pria itu mengeluarkan sebuah map dan bersiap untuk membacanya.


“Kami dari kantor notaris akan menyampaikan wasiat Nyonya sarah pada anak semata wayangnya dan juga asistennya yang bernama Tuan Ganendra Iqbal Bramantyo.” Ucapnya.


Iqbal dan Farah hanya mengangguk. Dan bersiap mendengarkan wasiat yang telah ditulis oleh mendiang Nyonya Sarah.


“Surat wasiat ini telah dibuat oleh Nyonya Sarah sewaktu masih hidup dan dalam keadaan sadar tanpa ada paksaan dari pihak manapun.” Ucapnya lalu membacakannya.


Saya, Sarah Julia ibu dari seorang perempuan bernama Farah Eilnaz. Sekaligus pemilik dari perusahaan F.Eil Corp.


Surat ini saya buat dalam keadaan sehat. Dan surat ini akan dibacakan setelah saya sudah tiada.


Saya akan mewariskan asset kekayaan saya pada anak semata wayang saya. Namun saya juga memberikan pada asisten pribadi saya yang bernama saudara Iqbal. karena dia sudah menyelamatkan perusahaan saya. Selain itu saudara Iqbal juga telah menyelamatkan nyawa saya. Untuk itu saya akan memberikannya satu unit rumah mewah yang ada di jl. XXX, satu unit mobil sport baru dan saham perusahaan senilai 25%.


Saya juga meminta saudara Iqbal menggantikan posisi saya di perusahaan sebagai Ceo untuk memimpin perusahaan, sampai anak saya menikah.


Saya mohon pada saudara Iqbal untuk menerima wasiat saya ini dan tidak menolaknya. Demikian surat ini saya buat. Terima kasih.

__ADS_1


Ttd


(Sarah Julia)


Iqbal terperangah setelah mendengar surat wasiat dari atasannya. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan mendapatkan amanat seperti itu. Tapi Iqbal juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerimanya.


“Laksanakanlah amanat Mami, Bal. dan terima pemberiannya. Pasti Mami juga sangat bahagia jika kamu menerima semua itu.” Ucap Farah.


"Terima kasih, Far.” Jawab Iqbal singkat.


Setelah itu pria dari pegawai notaris itu memberikan dua buah kunci untuk Iqbal. satu untuk kunci rumah dan satu untuk kunci mobil. Kemudian kedua pria itu pamit undur diri. Kini tinggallah Farah, Iqbal, dan Jenny.


“Terima kasih Bal selama ini kamu telah berbuat baik untuk Mami dan perusahaan.” Ucap farah tulus.


Iqbal mengangguk tersenyum. Kemudian Iqbal dan Jenny pun berpamitan untuk pulang.


Dalam perjalanan, Iqbal masih memikirkan wasita yang diberikan oleh mendiang Nyonya Sarah. Iqbal masih tidak percaya kalau dia akan menjadi seorang Ceo di sebuah perusahaan besar. Dirinya kurang percaya diri dan takut tidak bisa mengemban tugas dengan baik.


“Kak Iqbal harus optimis. Aku yakin Kak Iqbal bisa menjalankan amanat Nyonya Sarah dengan baik.” Ucap Jenny memebrikan semangat.


“Terima kasih. Aku harap kamu selalu ada di sampingku untuk menemaniku dan memberiku semangat.” Jawab Iqbal dan Jenny menganggukkan kepalanya.


Sesampainya di rumah, Jenny langsung masuk ke kamar untuk beristirahat. Mengingat waktu masih siang. Jenny masuk ke kamar mandi terlebih dulu untuk membersihkan mukanya seblum tidur siang.


Cklek


Saat Jenny keluar dari kamar mandi, dia tersentak kaget saat tiba-tiba Iqbal sudah berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. mendadak perasaan Jenny jadi was-was saat melihat tatapan mata Iqbal yang begitu intens.


“Kamu jangan melupakan hadiah yang akan aku berikan tadi.” ucap Iqbal dengan tatapan mata sayu.


Jenny tidak bisa mengelak lagi saat Iqbal mulai menyerangnya dengan memberikan kecupan lembut hingga ciuman yang semakin menuntut. Mata Iqbal semakin bergaiirah saat melihat bibir Jenny yang sedikit bengkak akibat ulahnya.


“Aku ingin lebih dari ini.” ucapnya dengan suara serak. Dan Jenny mengangguk samar.


.


.


.


*TBC


Tahannnn....tahannnn....🤣🤣🤣


tidak untuk hari ini. tapi malam nanti saja upnya🤣🤣✌️✌️

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2