
Keesokan harinya Axel mengajak Gita jalan ke mall. Semalam dia sudah bisa mengembalikan mood sang istri yang sempat down gara-gara berbuat mesum dalam mobil dan berujung tertangkap polisi. Dengan menggunakan senjata andalan yaitu coklat, mood Gita sudah kembali normal. Namun Axel tetaplah Axel dengan segala kelicikannya. Setelah berhasil memberikan banyak coklat pada istrinya, dia meminta imbalan yang wajib Gita penuhi. Apalagi kalau bukan melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda tadi siang. Gita pun hanya mendengus kesal, namun akhirnya dia tetap melayani suaminya.
Saat ini mereka berdua sudah berada di dalam mall. Mereka segera menuju Timezone. Gita seperti anak kecil yang sangat semangat diajak bermain. Karena memang baru kali ini dia kembali bermain setelah sekian lama vacum.
Axel menggandeng tangan Gita lalu memilih beeberapa permaian yang akan mereka mainkan. Mulai dari Street Basketball, Monster Drop Extreme, Whack and Win, dan lain sebagainya hingga capitan boneka. Gita tampak antusias dalam bermain. Axel pun ikut senang melihat istrinya bahagia dengan cara yang menurutnya sangat simple. Kebanyakan orang yang melihat mereka mungkin menganggapnya kalau Axel dan Gita adalah pasangan adik kakak, bukan suami istri. Karena memang sangat jarang pasangan suami istri kencan ke tempat seperti itu.
“Sudah yuk, Mas! Aku haus.” Ucap Gita.
Axel pun mengangguk dan mengajak istrinya menuju foodcourt. Karena mereka sudah berada di Timezone selama kurang lebih dua jam dan benar saja membuat Gita lelah.
Axel mengajak istrinya ke foodcourt untuk membeli minuman sekaligus makan siang. Dia meletakkan bebeerapa boneka haassil capitan Gita di atas meja. Setelah itu memilih beberapa menu makanan.
“Kamu senang hari ini?” tanya Axel menggenggam tangan Gita.
“Iya, Mas. Terima kasih untuk hari ini. aku sangat senang.” Jawab Gita.
“Aku berjanji. Tidak hanya hari ini saja, tapi seterusnya aku akan membuat hidup kamu bahagia.” Axel kembali berucap sambil menatap mata Gita dengan intens.
Seketika hati Gita meleleh mendengar ucapan romantis suaminya. Gita benar-benar merasa hidupnya bahagia. Dia sendiri tidak menyangka dengan hubungannya saat ini. sejak dulu memang dia sudah sangat akrab dengan Axel. Namun hubungannya hanya sebatas adik dan kakak. Hingga mereka terjebak dalam kejadian yang sangat menyakitkan. Namun akhirnya berujung bahagia seperti sekarang ini.
Beberapa saat kemudian, makanan mereka datang. Axel dan Gita segera menikmati makan siang mereka.
“Mas, bolehkah nanti kita menginap di rumah Mama Jenny?” tanya Gita saat sedang mengunyah makanannya.
“Iya, boleh. Apapun keinginannmu pasti aku akan penuhi selagi itu masih baik.” Jawab Axel.
“Terima kasih, Mas.” Ucap Gita tersenyum.
Saat sedang asyik menikmati makanannya, pandangan mata Gita tidak sengaja melihat sosok laki-laki yang ia kenal. Laki-laki yang telah menorehkan luka pada sahabatnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Jerry.
__ADS_1
Gita berbisik pada suaminya kalau ada Jerry yang baru saja memasuki foodcourt. Axel menengok ke arah keberadaan Jerry saat ini. terlihat Jerry sedang menggandeng seorang perempuan, namun wajahnya tidak begitu jelas. Mereka berdua terlihat sangat mesra.
“Kamu tenang saja. Biar aku ambil foto mereka berdua.” Ucap Axel.
“Tapi bagaimana Mas caranya?” tanya Gita karena memang posisinya tidak begitu dekat dengan keberadaan Jerry.
“Kamu tunggu dulu disini.” Ucap Axel lalu beranjak dari duduknya.
Gita hanya mengangguk dan memperhatikan suaminya yang berjalan mendekati meja Jerry. Dan kebetulan di depan meja Jerry sedang kosong. Axel duduk disana. Dia mengambil buku menu sambil menundukkan kepalanya pura-pura memilih menu. Karena dia juga waspada Jerry mengenalinya. Mengingat dia pernah menghajar Jerry saat sedang menolong Dimas.
Axel berhasil mengambil beberapa foto Jerry dengan wanitanya. Bahkan mereka berdua tak segan-segan mengumbar kemesraan di tempat umum seperti itu. Si wanitanya juga terlihat sedang mencium bibir Jerry. Axel yang melihatnya pun merasa jijik.
“Aku tidak sabar sebentar lagi melihat Inez menderita.” Ucap wanita itu dan sama-samar masih bisa didengar oleh Axel.
Jerry hanya tersenyum sambil mengecup bibir wanita itu tanpa membalas ucapan wanitanya. Setelah itu makanan mereka datang. Axel segera kembali ke mejanya.
Axel mengatakan pada istrinya kalau dia sempat mencuri dengar ucapan wanita yang sedang bersama Jerry. Menurutnya wanita itu juga mengenal Inez. Dan sepertinya masih ada hubungan dengan Inez.
“Sayang jangan gegabah! Kita ikuti saja permainan mereka.” Ucap Axel.
Gita pun kembali ke tempat duduknya dan membenarkan ucapan suaminya. Namun Gita masih shock setelah mengetahui fakta itu. Tega sekali Fathia berbuat jahat pada sahabatnya sendiri.
Selesai makan siang, Gita mengajak Axel untuk langsung pulang ke rumah Mama Jenny. Dia masih memikirkan nasib persahabatannya dengan Inez dan Fathia.
“Sudahlah, Sayang. Kamu juga belum tahu apa penyebab Fathia melakukan itu bukan? Kita lihat saja nanti. Aku juga belum dapat info dari Jendra tentang penyelidikannya semalam.” Axel menenangkan istrinya yang sedang bersedih.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai rumah Jenny. Jenny sangat senang melihat anak dan menantunya datang. Gita memeluk mamanya dengan erat karena sangat rindu.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Jenny menyuruh Gita dan Axel untuk istirahat sejenak. Karena Gita memang sangat lelah setelah seharian jalan dan menghabiskan waktunya bermain bersama Axel.
__ADS_1
***
Sementara itu sore ini sepulang kerja, Dimas sedang duduk di sebuah kursi café sendirian. Tepatnya dia sedang menunggu seseorang yang tadi siang mengirimkan pesan untuk mengajak bertemu.
“Selamat sore Tuan Dimas!” sapa Raihan pengacara Malik.
“Selamat sore. Panggil Dimas saja tidak usah terlalu formal begitu.” Jawab Dimas.
“Maaf, Tuan. Tapi itu tidak sopan.” Tolak Raihan. Dimas pun pasrah.
Setelah memesan minuman, Raihan mengelurakan sebuah map yang berisi beberapa dokumen. Laki-laki yang berstatus pengacara Malik itu ditugaskan untuk menyerahkan perusahaan miliknya pada anaknya yaitu Dimas. Sebelumnya Dimas memang sudah tahu, namun saat itu dia belum memberi jawaban. Karena saat ini dia masih nyaman bekerja di perusahaan milik Iqbal.
“Ini perintah Tuan Malik, Tuan. Mohon untuk menerimanya. Karena perusahaan saat ini sedang memebutuhkan sosok pemimpin seperti anda, setelah sekian lama ditinggal oleh Tuan Malik.” Ucap Raihan.
Dimas masih menimbang-nimbang ucapan Raihan. Memang dia lah penerus perusahaan milik Papanya. Namun Dimas masih bingung bagaimana cara mengatakan semua ini pada atasannya, karena jik dia mengambil alih kepemimpinan perusahaan milik Papanya, otomatis dia harus keluar dari perusahaan Iqbal.
Tiba-tiba saja ada satu ide muncul dalam benak Dimas. Kemudian dia segera meraih bolpoin dan menanda tangani berkas itu.
“Baiklah saya akan menuruti perintah Papa.” Jawab Dimas mantap.
.
.
.
*TBC
Hari ini othor up 3 eps ya... jangan lupa dong kasih dukungannya dengan like, komen, vote, dan giftnya🤗🤗
__ADS_1
Happy Reading‼️