Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 156


__ADS_3

Sudah beberapa seminggu Felix tinggal di luar negeri bersama Nia dan Axel. Felix mulai sibuk dengan perusahaan, sedangkan untuk urusan Axel, ia serahkan pada istrinya. Karena semenjak kedatangannya di luar negeri, Axel langsung dibawa ke rumah sakit dan sampai saat ini masih menjalani perawatan.


Setiap hari Nia menunggu Axel di rumah sakit. Keadaannya pun sudah mulai membaik, walau sekarang sikapnya sedikit berubah lebih cenderung diam. Namun Nia tidak putus asa, dia selalu memberikan semangat untuk sembuh pada Axel.


“Sayang, bagaimana keadaan Axel hari ini?” tanya Felix yang baru saja datang di saat jam makan siang.


“Perlahan keadaannya membaik, Mas. Tapi sekarang Axel menjadi lebih pendiam.” Jawab Nia dengan tatapan sendu mengarah pada brankar Axel.


Felix terdiam. Dia sangat tahu yang dirasakan anaknya saat ini. apalagi yang menyebabkan Axel menjadi pendiam kalau bukan karena Gita. Sampai saat ini pun Felix masih bimbang untuk memilih keputusan apa yang tepat untuk rumah tangga anaknya. walau itu semua bukan haknya, namun dia juga ikut sakit jika anaknya semakin terpuruk.


Melihat keadaan apartemen yang ditinggali Axel dan Gita bagi Felix sudah cukup membuktikan kalau memang hubungan mereka tidak baik-baik saja. Dan apa yang dikatakan oleh istrinya benar, dia tidak tega melihat Axel yang hanya berjuang sendiri dan mencintai sendiri tanpa mendapat balasan. Mungkin nanti jika keadaan Axel sudah benar-benar sembuh, dia akan mengajak Axel bicara serius mengenai hubungan rumah tangganya.


“Kamu yang sabar ya. Mungkin itu semua efek dari luka tembak itu.” Felix mencoba menenangkan istrinya.


“Aku tahu, Mas. Aku tahu apa yang membuat Axel seperti ini. ini semua karena Gita. Bahkan dalam tidur pun dia sering mengigau memanggil namanya. Aku semakin kasihan, Mas. Tapi di satu sisi aku juga tidak ingin mempertemukan Axel dengan Gita.” Ucap Nia.


“Bagaimana kalau kita lebih baik mempertemukan mereka?” usul Felix, namun Nia menggelengkan kepalanya.


“Kalaupun mereka dipertemukan, dan mereka mau memperbaiki hubungan rumah tangga mereka, aku tetap tidak yakin pada Gita, Mas. Bisa saja dia masih bersandiwara karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa. Dan ujung-ujungnya Axel lagi yang tersakiti. Lebih baik, kita harus berusaha keras untuk mengalihkan perhatian Axel agar tidak terus mencari Gita.” Ucap Nia.


Felix membenarkan ucapan istrinya. Namun dari lubuk hatinya yang terdalam dia ingin sekali mempertemukan anak dan menantunya terlebih dulu.


“Ya sudah ayo kita makan siang dulu, kamu pasti belum makan kan? Biarkan Axel beristirahat.” Ucap Felix lalu mengajak istrinya keluar untuk makan siang.


***

__ADS_1


Sementara itu Gita saat ini sedang menjalani terapi. Gita juga masih dirawat di rumah sakit. Dokter belum memperbolehkan Gita pulang sebelum efek dari obat itu benar-benar hilang. Sedangkan untuk masalah gangguan kepribadian yang dialami Gita, dokter menyarankan agar berkonsultasi ke psikiater untuk mendapatkan solusinya.


Saat ini Gita sedang istirahat di ruang rawatnya setelah menjalani terapi. Dia tampak tidur nyenyak setelah meminum obatnya. Kemudian Jenny dan Iqbal keluar dan mendatangi ruangan dokter yang menangani Gita.


“Bagaimana perkembangan kesehatan anak saya, Dok?” tanya Iqbal.


“Keadaan Nona Gita sudah lebih baik dari sebelumnya. Selama terapi ini Nona Gita juga selalu patuh dengan apa yang diperintahkan oleh therapist-nya. Hanya saja terkadang Nona Gita masih sering melamun dengan memanggil nama seseorang.” Jawab dokter panjang lebar.


Iqbal dan Jenny terdiam. Pasti nama yang sering dipanggil anaknya adalah nama Axel. Tapi mereka juga bingung bagaimana cara mendatangkan Axel, yang saat ini juga sama-sama sedang menajalani perawatan.


“Begini, Dok. Saya mau cerita sedikit. Nama seseorang yang dipanggil anak saya adalah nama suaminya. Bukan saya tidak bisa mendatangkan menantu saya, hanya saja menantu saya juga sedang menjalani pengobatan di luar negeri. jadi saya tidak tahu harus berbuat apa.” Ucap Iqbal.


“Tuan dan Nyonya tidak perlu khawatir. Anda harus bisa memberikan semangat pada Nona Gita agar cepat sembuh. mungkin dengan kesembuhannya nanti, anda bisa menjanjikan pada Nona Gita untuk mengajak bertemu dengan suaminya. Saran saya seperti itu.” Ucap Doker.


Beberapa hari kemudian, Iqbal dan Jenny sudah menjalankan saran yang diberikan dokter tempo hari. Iqbal mengatakan pada Gita, kalau mau cepat sembuh, nanti akan diajak bertemu dengan Axel yang saat ini juga sedang dirawat di rumah sakit.


Iqbal sudah menceritakan pada Gita kalau Axel juga sedang menjalani perawatan, akibat dari luka tembak saat menyelamatkannya dari penculikan saat itu. Awalnya Gita sangat terpukul mendengar kenyataan itu, dia semakin bersalah pada Axel karena menurutnya sejak awal pernikahan selalu menyakiti suaminya. Namun Iqbal segera menenangkan Gita. Biarlah terdengar seperti ancaman, namun Gita justru semangat untuk sembuh biar bisa segera bertemu dengan suaminya.


“Pa, bisakah Papa bilang ke dokter kalau Gita ingin pulang. Gita bosan, Pa.” ucap Gita.


Iqbal dan Jenny memang sudah melihat perkembangan kesehatan Gita yang sudah sangat baik. Hanya saja, dia masih sedikit takut dan kurang percaya diri jika bertemu dengan orang-orang baru.


“Baiklah, kamu tunggu disini sama Mama kamu. Biar Papa yang bertanya pada dokter.” jawab Iqbal.


Iqbal juga ingin sekali anaknya segera pulang. karena dia juga sangat sibuk dengan perusahaannya yang tidak bisa ditinggal terlalu lama.

__ADS_1


Beberapa menit berada di ruangan dokter, Iqbal akhirnya bisa bernafas lega karena dokter mengijinkan Gita pulang, walau ada syaratnya. Yaitu tetap harus melakukan terapi di rumah. yang bisa dilakukan oleh kedua orang tuanya. Dan dokter juga menyarankan agar memanggil psikiater untuk menyembuhkan gangguan kepribadian yang sedang dialami Gita.


Iqbal kemudian keluar dari ruangan dokter dan menyampaikan berita baik ini pada anak dan istrinya. Jenny sangat senang, terutama Gita. Iqbal menyampaikan syarat yang diberikan dokter. awalnya Gita keberatan jika Papanya akan memanggil seorang psikiater, namun demi ingin bertemu dengan sang suami. Gita akhirnya setuju.


Setelah menjalani beberapa pemeriksaan secara menyeeluruh, keesokan harinya Gita sudah diperbolehkan pulang seteelah menjalani terapi yang terakhir kalinya.


*


“Mommy senang sekali akhirnya kamu sudah diperbolehkan pulang.” ucap Lidya pagi itu yang menyempatkan datang ke rumah sakit.


Gita hanya tersenyum tipis dengan posisi masih duduk di atas brankarnya. Saat perawat memeriksa tekanan darahnya.


“Terima kasih, Lidya. Itu semua juga karena doa kamu. Sampaikan salamku juga pada suami kamu yang telah banyak membantu kami.” Ucap Jenny dengan tulus.


Beberapa saat kemudian, Gita dan jenny sudah bersiap pulang setelah Iqbal menyelesaikan administrasi. Mereka bertiga segera bertolak ke bandara untuk pulang ke kota B.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2