
Lidya menggelengkan kepalanya setelah tanpa sadar mengagumi ketampanan wajah sang suami. Setelah itu dia menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimasak, namun ternyata nihil. Di sana tidak ada apa-apa. Bahkan alat memasak saja tidak ada. Sedangkan di dalam kulkas hanya ada beberapa soft drink. Akhirnya Lidya memutuskan keluar untuk membeli makanan.
Cukup lama lidya menghabiskan waktunya untuk membeli makanan dan beberapa snack. Setelah itu dia kembali ke apartemen suaminya. Dan saat dia sudah berada di depan unit apartemen Billal, Lidya bingung tidak bisa masuk ke dalam karena dia tidak tahu passcode pintunya. Lalu dia menekan bel saja, berharap Billal sudah bangun dan tidak pergi.
Klik
Setelah lama menunggu, akhirnya Billal membuka pintu dengan penampilan yang cukup segar karena baru saja dia selesai mandi. wangi parfum di tubuh Billal menguar memenuhi indra penciuman Lidya. Dan semakin membuat jantung berdegup tak karuan.
“Kamu dari mana?” tanya Billal setelah Lidya memasuki unit apartemen.
“Saya beli makan, Tuan. Maaf saya tadi tidak berani pamit karena Tuan sedang nyenyak tidurnya. Dan saat saya kembali, saya tidak tahu passcode pintu apartemen Tuan.” Jawab Lidya.
“Passcodenya tanggal dan bulan pernikahan kita.” Ucap Billal dan Lidya mengangguk.
“Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Perintah Billal.
Lidya meletakkan makanannya di atas meja berserta beberapa snack yang telah dibelinya. Kemudian Billal memberikan sebuah kartu atm untuk Lidya.
“Pakailah ini, untuk membeli semua keperluan kamu.”
“Tidak perlu Tuan. Saya masih punya uang.”
“Kamu sekarang sudah menjadi tanggung jawabku. Kamu ingat bukan, nasehat ayah kamu setelah pernikahan kita tadi?” Lidya mengangguk dan mau tidak mau dia akhirnya menerima kartu atm pemberian suaminya.
“Dan ada yang ingin aku sampaikan pada kamu mengenai foto tadi. maaf, foto itu hanya rekayasa saja. Semuanya tidak benar, aku tidak pernah malakukan hal seperti itu pada kamu.” Ucap Billal.
Lidya sangat lega mendengarnya. Bukan apa-apa, hanya saja dia tidak ingin berdosa dengan melakukan hal seperti itu sebelum menikah. Namun yang jadi pertanyaan Lidya adalah, apa alasan Billal melakukan itu semua.
“Maaf Tuan, kalau boleh saya tahu, kenapa anda melakukan itu semua?” tanya Lidya.
“Aku, ehm aku. karena aku tahu kamu tidak menghendaki pernikahan dengan pria tua itu. Jadi aku ingin menyelamatkan kamu darinya.” Ucap Billal yang entah kenapa tiba-tiba sangat gugup.
“Tapi, bagaimana anda tahu kalau saya,-“
__ADS_1
“Sudah, makanlah segera. Nanti keburu dingin makanan yang kamu beli itu.” Potong Billal cepat.
“Ehm, saya membeli dua porsi Tuan. Saya siapkan dulu untuk anda.” Ucap Lidya dan segera memasuki dapur.
Billal yang hendak masuk kamarnya ia urungkan setelah mendengar Lidya telah membelikan makan untuknya. Jujur saja dia sangat senang, ternyata Lidya sangat perhatian terhadapnya.
Kini Billal dan Lidya sedang duduk berhadapn sambil menikmati makanannya. Mereka berdua saling terdiam dan tidak ada obrolan sama sekali. Tapi hati dan pikiran mereka masing-masing sedang memikirkan sesuatu yang tanpa seorang pun tahu.
***
Pagi ini Iqbal mengajak istrinya pergi ke rumah sakit untuk cek up keadaan Jenny sebelum berangkat ke luar negeri beberapa hari lagi. Jenny yang awalnya menolak, akhirnya dia pasrah saja setelah suaminya terus memaksanya.
Beberapa saat kemudian Iqbal dan Jenny sudah tiba di rumah sakit. Iqbal sudah mendaftarkan secara online sebelum berangkat tadi. jadi sekarang tinggal menunggu nama istrinya dipanggil.
Dan tak lama kemudian nama Jenny dipanggil memasuki ruangan poli kandungan. Iqbal juga mengikuti istrinya masuk ke dalam ruang itu, karena dia juga sangat ingin tahu bagaimana kondisi kesehatan istrinya.
Setelah menjalani pemeriksaan USG secara menyeluruh, kini Jenny sudah kembali duduk di sebelah suaminya untuk mendengarkan penjelasan dokter.
“Tidak, Dok, saya sudah tidak merasakan sakit lagi seperti dulu.” Jawab Jenny.
“Jadi, apakah itu berarti bisa melakukan hubungan suami istri, Dok?” tanya Iqbal tiba-tiba, dan membuat Jenny sangat malu.
“Sebenarnnya anda sudah boleh melakukannya sejak Nyonya Jenny selesai menjalani istirahat total saat itu. Saya mengerti, mungkin anda takut jika melakukannya akan membuat istri anda sakit, bukan?” ucap dokter sekaligus bertanya pada Iqbal. dan Iqbal mengangguk samar.
“Anda tidak perlu khawatir lagi. Keadaan istri anda sudah sembuh total seratus persen.” Ucap dokter sambil tersenyum pada Iqbal dan Jenny.
“Ini saya beri resep obat pereda nyeri saja, buat jaga-jaga kalau tiba-tiba saja Nyonya merasakan kram. Tapi kalau tidak merasakan kram atau nyeri, tidak usah diminum.” Lanjut dokter, sambil memberikan resep pada Jenny.
“Terima kasih banyak, Dok!” ucap Iqbal.
“Semoga segera mendpatkan kabar baik dengan hadirnya buah hati kalian yang kedua.” Tambah dokter sebelum Iqbal dan Jenny keluar dari ruangannya.
“Aamiin. Terima kasih, Dok atas doanya.” Jawab Jenny.
__ADS_1
Setelah itu Iqbal dan Jenny langsung pulang. Iqbal sangat lega setelah mendengar sekaligus melihat kondisi kesehatan istrinya yang sudah membaik seperti semula. Kini dia tidak perlu takut lagi jika ingin menyalurkan hsratnya.
Sesampainya di rumah, Jenny melihat mobil Billal sudah terparkir di depan rumahnya. Dan di sana terlihat Gita sedang asyik bermain dengan Lidya di teras rumah.
“Om, sudah lama?” tanya Jenny.
“Nggak. Baru saja. Ada apa kamu ke rumah sakit? Apakah kamu masih merasakan sakit setelah operasi?” tanya Billal khawatir.
“Nggak, Om. Aku hanya ingin cek kesehatan saja karena Mas Iqbal sangat khawatir. Terlebih kami akan melakukan perjalanan ke luar negeri.” Jawab Jenny.
“Kalian mau ke luar negeri? Kapan?” tanya Billal terkejut.
“Lusa, Om. Kami akan berkunjung ke rumah Oma dan Opanya Gita.” Jawab Iqbal yang sudah duduk di kursi panjang bersebalahan dengan istrinya.
“Berapa lama kalian akan berada di sana? Jadi aku tidak bisa bertemu dengan Gita sementara ini?” Tanya Billal kecewa.
“Nggak lama kok, Om. Mungkin kurang lebih selama seminggu. Om tidak usah cemas tidak bisa bertemu dengan Gita, Om kan bisa membuat sendiri yang seperti Gita bersama istri Om.” Ucap Jenny menggoda sambil melirik Lidya yang tampak malu mendengarnya.
Billal hanya mencebik saat mendengar ejekan dari Jenny. Jujur saja sampai saat ini dirinya juga belum berani menyentuh Lidya. Karena dia masih canggung dan takut jika Lidya menolaknya.
“Ya, benar apa yang dikatakan oleh istriku, Om. Om bisa membuatnya sendiri yang lebih lucu dari Gita. Karena kita juga proses pembuatan adik Gita.” Ucap Iqbal absurd dan membuat Jenny terbelalak kaget.
Billal hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum saat melihat tingkah pasangan suami istri di depannya itu.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1