
Gita menangis pilu dalam pelukan Inez. Inez sendiri masih diam. Dia masih belum percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh sahabatnya baru saja.
“Aku ini wanita hina, Nez! Aku benci dengan diriku sendiri.” Racau Gita.
“Sttt… jangan bilang seperti itu. Maaf, aku masih belum paham sepenuhnya dengan ucapan kamu.” Inez memberanikan diri bertanya pada Gita.
Gita mengurai pelukannya. Lalu menceritakan semua kejadian yang dia alami bersama Axel saat sedang merayakan pesta ulang tahun Patricia. Inez membelalakkan matanya tak percaya. Karena memang saat itu suasana Club sempat ricuh setelah terdengar suara tembakan dan disusul dengan kedatangan polisi.
Inez bahkan lupa dimana keberadaan Gita setelah perempuan itu pamit ke toilet. Dan ternyata Gita sedang dalam bahaya. Inez perlahan ikut meneteskan air matanya, karena merasa ikut bersalah tentang kejadian itu.
“Lalu sekarang bagaimana?” tanya Inez.
“Aku nggak tahu, Nez. Yang pasti aku sangat membenci Kak Axel. Dia telah memanfaatkan kelemahanku dari kejadian itu.” Jawab Gita.
Inez kembali memeluk Gita dan menenangkannya. Dia tidak ingin semakin membuat Gita terpuruk. Meski dalam hati Inez tidak sepenuhnya menyalahkan Axel. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Axel tidak menyelamatkannya. Dan Gita benar-benar berhasil dibawa kabur oleh pria asing itu.
“Lalu ada apa Axel tadi menemui kamu?” tanya Inez.
“Semenjak kejadian itu, aku memintanya untuk menjauhiku. Tapi dia selalu bilang akan mempertanggung jawabkan semuanya. Tapi aku menolak. Lagi pula tidak ada yang perlu dipertanggung jawabkan. Aku tidak mau lagi mengingat kejadian itu.” Jawab Gita.
“Maaf Git, bagaimana kalau dari kejadian itu kamu hamil?” Inez bertanya dengan hati-hati.
Gita menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau kalau seandainya hal itu terjadi. Sekali lagi Gita meyakinkan dirinya sendiri kalau itu tidak mungkin terjadi, karena dia melakukannya hanya sekali.
“Nggak mungkin, Nez.” Jawab Gita.
“Tapi setidaknya kamu juga harus memikirkan jika hal itu benar-benar terjadi, Git.” Ucap Inez.
“Nggak, Nez. Aku sudah sangat membencinya dari kejadian itu. Jika hal itu benar terjadi, aku akan menggugurkannya.” Jawab Gita dengan suara tegas.
Akhirnya Inez diam. Dia tidak mau terlalu membuat pikiran Gita semakin kacau. Walau sesungguhnya sangat tidak setuju dengan jalan pikiran Gita.
Sementara itu saat ini Axel sudah berada di sebuah Club dimana dia menyelamatkan Gita dari bahaya. Memang Club belum buka. Dan kedatangan Axel bukan untuk nongkrong, melainkan untuk melihat rekaman CCTV.
__ADS_1
Tadi setelah Axel memberikan ucapan selamat atas kelulusan Gita, dia mendapatkan telepon dari Papanya dan memintanya untuk datang ke Club milih teman Felix. Dan setelah itu Axel menghubungi Mikko dan Jendra, untuk ikut kesana.
Axel meminta manager Club untuk membukakan komputer dan mencarikan jejak rekam sesuai tanggal dimana peristiwa itu terjadi.
“Gila! Sepertinya memang dalang dibalik kejadian itu bukan orang sembarangan. Rekaman CCTV itu sudah langsung hilang. Dan hilangnya tepat saat kejadian itu.” Ucap Jendra.
“Coba cari rekaman di tempat lain!” perintah Axel.
Setelah cukup lama mengotak-atik komputer itu, akhirnya Mikko yang berhasil menemukan jejaknya. Namun sama saja tidak menampkkan dengan jelas wajah pria itu.
Mikko melihat rekaman CCTV yang ada di parkiran. Dimana
saat mereka mengejar dua orang pria yang dicurigai telah memasukkan obat ke dalam minuman Gita. Dan disana hanya terlihat Dimas yang sedang dihampiri seseorang. Wajah orang itu tidak terlihat, karena sedang dalam posisi membelakangi kamera. Namun Mikko berhasil mendapatkan satu bukti, yaitu ada tattoo mariyuana pada tangan kanan pria itu. Mungkin akan sulit menemukannya, namun setidaknya bukti itu akan sedikit membantunya.
Setelah mengucapkan terima kasih pada manager Club, Axel segera mengajak kedua temannya pergi meninggalkan tempat itu. Dan saat ini mereka bertiga sudah berada dalam apartemen Axel.
“Apa kamu tidak menceritakan semua ini pada orang tua Gita saja, Xel?” tanya Mikko.
“Entahlah. Mungkin nanti aku akan bicara dulu dengan Papa. Sementara ini, biar aku melindungi Gita di belakangnya.” Jawab Axel.
“Kenapa harus di belakangnya?” tanya Jendra sambil menautkan kedua alisnya. Begitu juga dengan Mikko yang sangat penasaran.
“Karena Gita membenciku. Tepatnya setelah kejadian malam itu.” Jawab Axel frustasi lalu berdiri menghindar dari dua sahabatnya.
Ternyata benar dugaan Mikko dan Jendra kalau malam itu telah terjadi sesuatu antara Axel dan Gita. Dan sekarang mereka bisa melihat raut wajah sendu Axel yang kini dibenci oleh Gita.
“Bodoh!! Harusnya saat itu aku bisa menahan diri untuk tidak menuruti kemauan Gita. Harusnya aku bisa menolaknya. Tapi ternyata aku melakukan itu semua.” Ucap Axel sambil mengacak rambutnya frustasi.
“Apa kamu benar-benar mencintai Gita?” kini Mikko yang bertanya.
“Meskipun aku mencintai Gita, nyatanya itu tidak membuat Gita percaya. Dia justru menuduhku memanfaatkan kelemahannya. Tapi itu salah. Aku melakukan itu karena aku tidak ingin Gita dimiliki oleh laki-laki lain.” Jawab Axel.
Mikko dan Jendra juga tidak bisa memberi komentar lagi. Mungkin mereka berdua akan melakukan hal yang sama jika berada dalam posisi Axel. Namun untuk solusianya, baik Mikko dan Jendra tidak bisa memberikannya.
__ADS_1
“Aku sudah mengatakan padanya, kalau aku akan bertanggung jawab. Tapi lagi-lagi Gita menolakku.” Lanjut Axel.
“Sekarang tinggal menunggu satu hal saja.” Ucap Jendra
seolah mendapatkan solusi jitu.
“Apa?” tanya Mikko penasaran.
“Tunngu Gita hamil. Jadi Axel bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya.” Jawab Jendra.
Axel masih diam. Walau dia tidak yakin, tapi dia juga menyetujui solusi yang diberikan oleh Jendra. Setidaknya jika ada janin yang hadir dalam rahim Gita, Axel bisa memperbaiki kesalahannya.
***
Sementara itu saat ini Andreas alias Marvin sedang berada di sebuah rumah mewah milik sahabatnya, Malik Narendra. Seseoraang yang sangat disegani dan diagungkan oleh banyak orang khususnya dalam jaringan kelompok kejahatan di dunia gelap.
Malik adalah sahabat Marvin yang telah menolongnya dari keterpurukan beberapa tahun silam. Bahkan Marvin menyerahkan semuanya pada Malik, termasuk misi balas dendamnya pada Iqbal.
“Anak buahku memang bodohh. Melakukan pekerjaan seperti itu saja gagal.” Ucap Malik.
“Maafkan aku. aku akan menambah orang lagi yang untuk segera menculik perempuan itu.” Lanjut Malik.
“Terserah kamu saja. Yang penting aku ingin perempuan itu menderita, sama seperti yang dialami Danisa saat itu. Dan di saat perempuan itu sudah berada dalam genggaman kamu, aku yang akan masuk ke perusahaan Iqbal dan menghancurkannya tanpa sisa.” Jawab Andreas dengan sorot mata tajamnya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1